Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 54 : Masak Bersama



Satu Minggu Kemudian


Terlihat seorang wanita menyisir rambutnya dengan gemulai, rambut hitamnya terurai indah. Matanya tajam menatap cermin seolah cermin adalah pendosa yang telah berani menatap dirinya.


Diam-diam sosok lelaki menghampiri wanita tersebut dan membelai rambut indahnya yang sedang ia tata. Iapun menghentikan kegiatannya karena lelaki tersebut. Lalu memutar wajahnya seraya meletakkan jemari lelaki itu di wajahnya. Wanita itu adalah Gisel yang ada di sebuah hotel bersama dengan pria simpanannya.


"Kau masih kesal?." Tanya lelaki tersebut.


"Tentu saja, wanita itu telah melemparkan kotoran di wajah ku!." Kesal Gisel.


"Sabar sayang...!. Memang wanita seperti apa dia?. Aku penasaran." Ucap lelaki tersebut.


Lelaki itu lalu memeluk dan mengecup bibir Gisel dengan manjanya. Seolah mereka adalah pasangan yang halal. Pasalnya saat ini lelaki itu adalah lelaki beristri dan sudah memiliki anak.


"Dia teman ku saat SMA dan kuliah, namanya Raya. Dan dia pun membawa antek-antek yang selalu membuntutinya setiap waktu, Ratna. Aku selalu benci terhadap mereka!. Bahkan 8 tahun sudah berlalu ia masih saja merebut milikku!." Ucapan tak tahu malu dari Gisel.


Namun lelaki itu hanya bisa terkekeh mendengarnya.


"Ratna?. Aku teringat akan istri nakal ku yang hilang saat ini." Ucap lelaki itu.


"Kamu kenal dia?." Tanya Gisel penasaran.


"Tapi mungkin saja dia adalah Ratna yang berbeda. Karena wanita seperti itu tak mungkin bergaul dengan orang seperti teman mu." Ucapan hina yang keluar dari lelaki itu terhadap istrinya Ratna.


Ya, lelaki dengan perawakan besar dan bertato itu adalah suami Ratna yang bernama Jalal dan merupakan anak dari seorang rentenir yang dijodohkan dengan Ratna lebih tepatnya di nikahi paksa sebagai penebus hutang.


"Mengapa namanya bisa sama?. Aku semakin membenci istrimu itu!." Kesal Gisel mendengar nama Ratna disebut.


"Tenang saja, sayang. Dia tidak ada apa-apanya dengan mu. Bahkan aku sudah muak melihat wajahnya. Aku masih belum menceraikannya karena masih ada hartanya yang belum Ayah ku sita. Dan hanya dia yang tahu di mana Ayahnya simpan." Ucapan Jalal yang tak tahu malu.


"Kau pikir kenapa aku tidak meninggalkanmu?. Ya, sudah pasti karena harta mu itu!. Kau sudah sangat tahu kalau aku sangat menyukai pria beruang." Ucap Gisel dengan angkuhnya.


"Selama kamu senang aku akan memberikan apapun yang kau mau. Asal kau bisa memuaskan ku, sayang." Ucap lelaki itu seraya mencumbui Gisel dengan rakusnya.


"Hari ini kau sudah melakukannya dua kali." Gisel yang menatap marah kepada Jalal.


"Tapi aku ingin lagi." Rayu Jalal seraya mencium ceruk Gisel dengan penuh nafsu.


"Baiklah!. Tapi berikan aku uang bulanan dua kali lipat dari bulan lalu!." Pinta Gisel yang menginginkan sebuah imbalan.


Dan mereka pun melakukan hal terlarang itu yang ke tiga kalinya.


***


POV Raya


"Bagaimana hari ini?." Tanya ku yang menatap Ratna dengan penuh penasaran.


"Tadaaa!." Ratna yang memperlihatkan hasil kue buatan pertamanya kepada ku.


"Wahhh!. Ternyata kamu berbakat juga, Na." Aku yang takjub dengan wujud kue buatannya.


"Ayo!. Langsung kita cicipi!." Pinta Ratna sambil membawa kue buatannya ke meja.


"HHmmm..." Wah!. Mommy apa yang Mommy masak?. Aku mau!." Teriak Leon yang mencium bau harum kue dari arah dapur.


"Sini!. Duduk!." Pinta ku seraya menarik keluar tempat duduk yang ada di meja.


"Aku mau!. Aku mau!." Ucap semangat Leon yang ingin segera mencicipi kue buatan Ratna.


Ratna pun memotong kue tersebut menjadi beberapa bagian, lalu membagikannya kepada kami berdua. Dan kami pun mencicipi kue itu dengan lahapnya.


"Wahh..!. Enak Aunty!." Ucap Leon yang puas dengan kue buatan Ratna.


"Iya enak banget!. Aku penasaran sejak kapan kamu bisa buat kue?. Setahu aku kamu paling tidak suka masak." Ucap ku memuji Ratna.


"Sejak Papa ku keuangannya mulai terombang-ambing aku mulai belajar membuat kue, karena ingin membangun bisnis kecil-kecilan untuk membiayai aku dan adik-adik ku." Ucap Ratna yang seketika mengingat kenangannya dulu.


"Na, maaf aku tidak menemani saat-saat kamu dalam kesulitan." Maaf ku untuk Ratna.


"Tidak apa-apa, Raya. Justru aku tak ingin kamu melihat ku di saat-saat seperti itu. Aku lebih senang berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain." Ucap Ratna dengan nada lirih.


"Nah, bagaimana kalau setelah ini kita masak menu makan malam?." Ucap Ratna.


"Kan sudah ada Mbok Sari." Ucap Leon yang tahu kalau itu tugas asisten rumah tangga.


"Menu kali ini sangat berbeda dari biasanya. Aunty jamin kamu akan puas!. Bagaimana?." Ucap Ratna untuk meyakinkan Leon.


"Benarkah?. Kalau begitu aku mau!." Ucap Leon dengan penuh semangat.


"Tapi kamu ikut bantu ya!." Pinta Ratna.


"Apa yang bisa ku bantu?." Tanya Leon yang masih dengan semangat yang sama.


"Potong sayur-sayur ini!." Pinta Ratna seraya membawa beberapa sayur mayur ke hadapan kami berdua.


"Tapi aku tak tahu bagaimana memotong sayur ini." Tolak Leon.


"Tenang saja!. Ada aku." Ucap ku menyemangati Leon.


"Oke!." Dan kami pun bahu membahu untuk membuat menu dinner malam ini.


Di sela-sela kami yang memasak datang Kak Joon yang tergiur oleh bau masakan yang kami masak.


"Hhhmm... Bau apa ini?." Kak Joon yang menghampiri dan memeluk ku dari belakang tanpa kusadari.


"Eh... kapan kamu datang?." Tanya ku begitu melihat kedatangannya.


"Baru saja." Jawabnya.


"Kamu sedang apa?." Tanya Kak Joon.


"Kami sedang membuat makan malam." Jawab ku.


"Daddy, lihat aku berhasil memotong wortel ini!." Ucap Leon dengan penuh semangat karena berhasil memotong sayuran itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?." Tanya Kak Joon yang tak menyangka bahwa Leon ikut memasak bersama kami.


"Mr. Joon, bagaimana kabar anda hari ini?." Sapa Ratna.


"Tidak pernah sebaik ini!. Apa lagi aku disambut dengan bau harum masakan kalian." Ucap Kak Joon memuji masakan kami.


"Masakan saja belum jadi, bagaimana bisa kamu bilang enak?." Tanya ku.


"Dari harumnya aku sudah menduganya, sayang." Ucap Kak Joon seraya mencium kening ku dihadapan Ratna dan Leon.


"Daddy, kau tak bisa melihat anak kecil di sini?. Kau sungguh tak tahu malu!." Kesal Leon karena Daddy tak tahu tempat.


"Oh ternyata aku baru menyadari bahwa kau masih kecil." Ucap Kak Joon yang menyindir anaknya itu.


"Daddy!." Protes Leon.


"Sudah!. Sudah!. Kalau kalian tidak berhenti bertengkar kapan masakan ini akan jadi?." Tegas ku.


"Baiklah!. Tapi aku ada sesuatu yang harus ku sampaikan pada Ratna." Ucap Kak Joon.


"Apa itu, Mr. Joon. Aku mendengarkan." Ucap Ratna yang menghentikan kegiatan memasaknya seketika.


"Aku sudah menemui pengacara untuk kasus mu. Dan lusa ia akan segera menemui mu di sini." Terang Kak Joon.


"Bagaimana pendapatnya mengenai kasus ku?." Tanya Ratna.


"Untuk saat ini ia harus mempelajarinya terlebih dahulu berkas-berkas yang kita berikan. Dan untuk selengkapnya aku akan bicarakan setelah kita makan malam nanti." Terang Kak Joon.


"Baiklah Mr. Joon."


"Baiklah!. Lanjutkan pekerjaan kalian!. Aku harus bersih-bersih terlebih dahulu." Ucap Kak Joon yang kemudian pergi ke arah kamarnya.


Wajah Ratna saat ini terlihat lebih cerah dari sebelumnya, dan aku yang melihatnya turut merasa senang. Pasalnya akhirnya ia menemukan titik terang dari semua masalah yang dihadapinya.