Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 51 : Lamaran Darren



Aku dan Kak Joon sudah berada di hadapan Leon saat ini. Kami bertiga sudah berada di ruangan keluarga tempat di mana Leon melakukan kegiatan sehari-harinya. Di sana wajah kami sudah sama-sama tegang, pasalnya saat ini adalah saat di mana aku dan Kak Joon akan membuat pengakuan besar kepada Leon.


"Ada apa Daddy dan Aunty kemari?." Tanya Leon seraya menatap kami dengan wajah penasaran.


"Hhmm.. Daddy dan Aunty akan membicarakan sesuatu dengan mu. Ah tidak tepatnya Daddy sendiri yang akan mengatakannya." Ucap Kak Joon yang memilih membicarakannya sendiri dengan Leon.


"Kak.." Ucap ku yang ingin ikut andil dalam hal ini namun dicegah oleh Kak Joon.


"Sudahlah. Percayalah padaku!." Tegas Kak Joon.


"Baiklah!. Daddy." Ucap Leon.


"Daddy dan Aunty Laras menjalin sebuah hubungan." Ucap Kak Joon yang seketika membuat Leon terdiam.


"Hubungan?. Maksud Daddy kalian berteman?." Tanya Leon.


"Bukan hubungan yang seperti itu. Daddy dan Aunty Laras akan menikah." Seketika Leon kembali terdiam namun kali ini wajahnya mulai memucat. Entah apa yang hendak ia katakan aku sangat dibuat penasaran akan reaksinya.


"Apa itu artinya aku akan memiliki ibu lagi?." Tanya Leon seraya memandang kami.


"Ya, itu maksud Daddy."


"Baguslah!. Setidaknya aku tidak kesepian di sini. Dan apa mulai sekarang aku harus memanggil mu Mommy?." Tanya Leon seraya tersenyum kepada ku.


Aku tak menyangka dengan reaksi Leon saat ini, kupikir dengan trauma yang di deritanya ia akan memaki ku dan menolak hubungan ini. Namun aku salah, reaksi Leon justru sebaliknya. Aku pun merasa sangat lega, karena akhirnya Leon merestui hubungan kami berdua.


"Terima kasih, sayang." Aku kemudian memeluknya saat ini seraya mencium pucuk kepalanya.


"Aku yang berterima kasih. Karena kau sudi menerima Daddy ku yang seperti ini. Aku pikir ia tak akan pernah menikah lagi dengan sikapnya yang seperti itu." Ucap Leon yang terkesan menggoda Daddynya.


"Bocah!. Apa yang kau katakan padanya?." Kesal Kak Joon yang mendengar ucapan anaknya.


"Apa aku boleh memanggilmu, Mommy?." Tanya Leon.


Aku pun menjawab dengan anggukan kemudian memeluknya kembali. Setelah percakapan kami, aku pun kemudian kembali berduaan dengan Kak Joon dan melanjutkan pembicaraan kami.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?." Tanya ku pada Kak Joon.


"Ya, tentu saja mendapatkan izin ke dua orang tua kita." Jawab Kak Joon, namun perkataannya sedikit membuat ku cemas, pasalnya semenjak keputusan ku untuk meninggalkan Indonesia, Ayah mulai tak menyukai Kak Joon. ia berpikir Kak Joon adalah sumber kesedihan ku dan sejak itu ia selalu menjodohkan ku dengan Darren.


"Sepertinya itu terlalu cepat Kak. Bagaimana bila kita menundanya sedikit lagi."


"Ditunda?. Raya, kamu ingin menyiksa ku?."


"Bukan Kak, hanya saja ini terlalu mendadak. Dan Ayah ku masih mengira bahwa kau menyia-nyiakan Ku." Ucap ku yang langsung membuat Kak Joon terdiam.


"Benar, aku telah melakukan kesalahan yang fatal kepadanya. Maafkan aku, aku tak memikirkan hal itu."


"Kak, berikan aku waktu."


"Baiklah!. Tapi sebelum itu kamu harus menyelesaikan permasalahan mu pada bule itu."


"Darren?. Ada urusan apa aku dengannya?."


"Baiklah!. Aku akan mencobanya." Ucap ku.


***


Dua hari setelah pengakuan kami kepada Leon aku kembali dalam rutinitas ku yaitu bekerja sebagai seorang arsitek. Hari ini adalah hari di mana aku harus mengakui hubungan ku dengan Kak Joon kepada Darren sesuai janji ku.


"Dar, kamu di ruangan?." (*************bahasa inggris*************) Tanya ku pada Darren melalui sambungan telepon.


"Ada apa ini?. Tumben sekali kamu menghubungi ku pagi-pagi seperti ini?." (bahasa inggris) Tanya Darren penasaran.


"Ada yang ingin kubicarakan." (bahasa inggris) Ucap ku.


"Hari ini sepertinya aku sibuk. Tapi nanti malam aku bisa. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?. Bukankah sudah lama kita tidak melakukannya?." (bahasa inggris) Pinta Darren.


"Hmm.. malam ini?." (bahasa inggris) Ucap ku ragu-ragu.


"Apa kamu sudah ada janji?." (bahasa inggris) Tanya Darren penasaran.


"Tidak!. Tapi kali ini kamu tidak menjebak ku kan?. Jangan bilang makan malam kali ini juga untuk memutuskan hubungan mu dengan wanita?." (bahasa inggris) Tanya ku yang tak ingin kejadian lalu terulang kembali dimana aku harus terjebak dalam sandiwara Darren.


"Tidak, percayalah pada ku!. Di negeri ini sungguh sulit memperdaya wanita seperti itu. Dan sudah ku katakan bahwa sekarang kamulah wanita satu-satunya bagiku!." (bahasa inggris) Ucap Darren.


"Jangan bercanda, Dar. Itu tidak lucu!." (bahasa inggris) Kesal ku dengan candaannya.


"Kenapa kamu sama sekali tidak mempercayai ku Laras?. Datang lah malam ini akan ku buktikan kesungguhan ku. Aku akan memberikan alamatnya segera!." (bahasa inggris) Lalu Darren memutuskan teleponnya saat itu.


Aku semakin dibuat penasaran dengan perkataan Darren, pasalnya aku tak pernah yakin bahwa Darren memiliki perasaan yang dalam terhadapku, rasanya aku tak percaya, karena selama ini yang kutahu yang ia lakukan hanyalah bersenang-senang dengan semua wanita di luar sana. Aku pun memilih tak mempercayai semua ucapannya saat ini dan menunggu hingga malam nanti saat pertemuan kami tiba.


Malam harinya aku sudah tiba di sebuah restoran bintang lima di mana di dalam restoran ini hanya tersedia menu western sesuai selera ku. Ternyata Darren masih melakukan ini untuk ku, ia juga sangat tahu bahwa aku tak dapat memakan makanan laut.


Aku pun berjalan dengan percaya dirinya ke dalam restoran itu, padahal pada saat itu aku hanya mengenakan stelan kantor yang sangat sederhana. Namun aku tak peduli, aku merasa inilah aku seorang Raya yang apa adanya dan aku tak pernah peduli dengan omongan orang lain.


Dan sampailah aku ke meja yang sudah direservasi oleh Darren, namun meja itu sekarang kosong. Darren belum sampai, ini sungguh aneh, tak biasanya Darren membiarkan diri ku menunggu seperti ini.


Namun aku tetap duduk di sana sambil menunggu Darren yang tak kunjung terlihat. Lalu aku pun mengirim sebuah pesan kepadanya melalui ponsel ku tapi tak kunjung mendapatkan jawaban darinya. Hingga tak lama terdengar suara musik yang suaranya lama kelamaan terdengar mendekat ke arah ku seiring dengan beberapa karyawan restoran yang membawa satu set kue dan champaign dengan trolly ke arah ku.


Dan Darren muncul di balik para karyawan restoran itu membawa sebuah bouquet bunga mawar merah kepada ku. Aku pun terkejut dengan apa yang dilakukannya, pasalnya aku tak menyangka Darren akan melakukan ini kepada ku.


"Ini gila!." Pikir ku.


Aku yang melihat perlakuan Darren hanya bisa terdiam dan tak bisa melakukan apa pun. Dan Darren pun mengeluarkan sebuah kotak lalu iapun berlutut di hadapan ku yang sedang duduk itu.


"Bangun!. Kamu sudah gila!." (bahasa inggris) Bisik ku pada Darren. Namun Darren tak menggubris ku, lalu ia membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah cincin. Ini membuat ku semakin tak bisa melakukan apa pun, Darren benar-benar sudah melakukan sesuatu yang di luar perkiaraan ku.


"Pliss, Dar. Apa yang kamu lakukan?." (bahasa inggris) Bisik ku yang lagi-lagi mengingatkan Darren kalau ia sudah bertindak gila.


"Menikahlah dengan ku, Laras!." (bahasa inggris) Perkataan Darren yang langsung membuat ku terperangah.


Dan tiba-tiba...


"PranKK!!." Terdengar suara pecahan gelas di tengah-tengah lamaran Darren pada ku.