
Pagi itu kantor seakan sunyi aku tak melihat kedatangan Darren di lobby perusahaan yang biasanya selalu kutemui pagi hari berbarengan dengan kedatangan ku. Namun untuk hari ini aku tak menemukan tanda-tanda kehadirannya pagi itu. Apa ia tidak masuk kerja?. Pikir ku.
Tapi semua pikiran itu ku tepis, aku masih percaya bahwa Darren tak mungkin berpikiran sedangkal itu.Lalu aku pun melangkah kembali ke dalam kantor tanpa berpikir aneh mengenai Darren.
"Ckitt!!."
Lalu tiba-tiba saja bunyi mobil sport berhenti tepat di belakang ku saat itu, dan aku tahu mobil tersebut milik siapa?. Ya, mobil itu milik Darren yang baru saja sampai di lobby perusahaan. Kemudian tak lama sekretarisnya menemuinya dengan tergesa-gesa untuk menyambut kedatangannya.
Aku yang mengetahui hal tersebut langsung memutar tubuh ku seketika untuk memastikan bahwa apa yang kudengar dan ku lihat adalah benar Darren yang telah datang. Aku pun memposisikan diri untuk ikut menyambutnya karena biar bagaimana pun Darren tetaplah atasan ku.
"Pagi semua!." Sapaan ramah yang selalu ia lontarkan kepada semua bawahannya.
Namun pagi itu raut wajahnya seketika berubah begitu melihat diri ku yang ikut berjajar rapih diantara para bawahannya. Dan ia pun setelah itu melenggang pergi tanpa mau menatap dan menyapa ku seperti biasa, hari ini sikapnya sungguh sangat berbeda.
Semua orang yang melihat itu juga ikut terkejut dengan sikapnya yang berubah terhadap ku.
"Apa mungkin Darren serius dengan perkataannya?." Batin ku.
Darren terus melaju menuju lift tanpa melihat ke belakang. Dan aku yang melihat itu berusaha bersikap biasa saja dan ikut karyawan lain menuju lift lainnya yang khusus untuk staf biasa.
Sesampainya di tempat duduk ku, aku dikejutkan dengan adanya rangkaian bunga yang sangat banyak entah datangnya dari mana karena tidak ada satupun dari rangkaian bunga itu yang menandakan pengirimnya. Aku pun memeriksa satu persatu rangkaian bunga tersebut dan kembali memeriksa siapa tahu pengirimnya menulis sebuah tanda.
"Jieeee.. Ada Secret Admire!." Goda Septi yang melihat semua karangan bunga yang berada di meja ku.
"Ini tidak salah kirim kan?. Rangkaian bunga ini benar untuk ku?." Tanya ku pada Septi.
"Ya benar lah!. Namanya aja Soraya Larasati!. Siapa lagi kalau bukan kamu?." Tegas Septi.
"HHmm... bilang pak Asep singkirkan semua bunga ini!. Ini bukan milik ku!." Pinta ku.
"Ihh!. Sayang banget sik bunga cantik gini kok dibuang?." Tolak Septi.
"Aku gak ngerasa memiliki bunga-bunga ini, Sep!. Dan lagi tak jelas juga pengirimnya siapa?." Tegas ku.
"Yaudah sih, terima aja. Kapan lagi dapat bunga gratis?. Apalagi mahal begini?. Coba kamu ingat-ingat siapa cowok yang lagi dekat sama kamu?." Ucap Septi yang seketika membuat ku teringat akan seseorang.
"Lalu aku pun mengirim sebuah pesan kepada Kak Joon untuk menanyakan perihal bunga-bunga tersebut. Karena mungkin saja dialah yang mengirim bunga-bunga ini." Batin ku.
-Pesan-
Pengirim : Raya
"Kamu mengirim bunga-bunga ini?."
Lalu aku pun menyertakan foto bouquet bunga yang ada di meja ku. Dan tak lama Kak Joon pun membalasnya.
-Pesan-
Pengirim : Joon Woo
"Tidak. Darimana bunga itu?."
Aku pun terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Kak Joon. Lantas siapa lagi yang berani mengirim kan bunga itu kepada ku?. Lalu aku pun membalas pesan dari Kak Joon kembali.
-Pesan-
Pengirim :Raya
"Bunga-bunga ini mendadak berada di meja ku pagi hari ini. Dan aku tak tahu siapa pengirimnya."
Dan dalam waktu cepat pula Kak Joon membalas pesan ku.
-Pesan-
Pengirim : Joon Woo
"Buang saja!. Bila kamu tak tahu itu dari siapa lebih baik kamu singkirkan bunga-bunga itu!. Aku takut ada orang yang berniat jahat kepada mu."
Melihat pesan dari Kak Joon, aku berniat untuk membuang bunga-bunga itu. Hingga notifikasi ponsel ku kembali berbunyi, dan begitu aku lihat itu datang dari Leon. Dan pesan pun berubah menjadi sebuah panggilan video.
"Mommy!. Apa kau sudah menerimanya?." Tanya Leon.
"Bunga-bunga itu. Itu yang ada di meja mu?." Leon yang mengarahkan tatapannya kepada bunga-bunga mawar merah yang ada di meja ku.
"Bunga-bunga ini?." Aku punĀ ikut menunjuk bunga-bunga itu untuk menegaskan kepada Leon.
"Ya, bunga-bunga itu." Ucap Leon membenarkan ku.
"Apa ini benar dari mu?." Tanya ku yang masih tak percaya dengan hal tersebut.
"Ya, benar. Aku merangkai itu sendiri dan aku minta maaf mengenai sikap kasar ku tempo hari. Bunga mawar itu khusus ku berikan untuk mu sebagai tanda maaf ku." Ucap Leon dengan sungguh-sungguh, ia sangat menyesali sikapnya yang pernah bersikap kasar karena bunga mawar merah yang ku petik di taman beberapa minggu lalu.
"Untuk apa, sayang?."
"Setidaknya aku bisa menebus rasa bersalah ku pada mu. Aku tahu Mommy sangat menyukai bunga mawar merah."
"Siapa yang mengatakannya?." Tanya ku penasaran.
"Dari Daddy.. ups!. Aku keceplosan!. Maaf.. Mommy tidak boleh memberitahukan hal ini pada Daddy!. Janji ya!." Pinta Leon yang tak ingin rahasianya bersama Daddy nya itu ketahuan oleh ku.
"Apa saja yang sudah Daddy katakan padamu tentang ku?." Tanya ku yang mencoba mencari tahu lebih banyak tentang rahasia yang disembunyikan Ayah dan anak ini.
"Tidak ada lagi!. Suerrr!." Ucap Leon yang tampak menutupi kebohongan dari raut wajahnya.
"Hhmmm.... baiklah!. Aku tidak akan mengatakannya pada Daddy mu!. Tapi kamu harus berjanji." Ucap ku membuat sebuah negosiasi kepadanya.
"Apapun itu akan ku lakukan asal kau tak mengatakannya." Ucap Leon.
"Ceritakan apa yang Daddy mu katakan tentang ku nanti!." Ucap ku.
"Bagaimana mungkin?." Ucap Leon tak percaya dengan permintaan ku.
"Tentu bisa!. Karena Daddy mu tidak akan pernah mengetahuinya bila kamu menceritakannya pada ku. Karena Daddy mu sangat mempercayai ku." Ucap ku meyakinkannya.
Setelah lama bernegosiasi akhirnya Leon menuruti permintaan ku dan aku pun tak lama memutuskan panggilan video ku saat itu.
Kemudian aku pun kembali menuliskan sebuah pesan yang ku tujukan pada Kak Joon.
-Pesan-
Pengirim : Raya
"Bunga itu dari Leon."
Lalu setelah menunggu beberapa menit pesan itu baru terbalas.
-Pesan-
Pengirim : Joon Woo
"Leon?. Untuk apa anak itu melakukan hal itu?."
Aku pun tersenyum melihat pesan itu dari Kak Joon karena ternyata Kak Joon tak pernah tahu sisi manis Leon yang seperti ini.
-Pesan-
Pengirim : Raya
"Anak mu sangat pintar berurusan dengan wanita sangat berbeda dengan Daddy nya."
Seraya tersenyum aku menuliskan kata-kata yang membuatnya sedikit kesal.
-Pesan-
Pengirim : Joon Woo
"Beraninya kamu membandingkan ku dengan seorang anak kecil?. Tunggu saja pasti aku akan melakukannya jauh lebih berkesan dari Leon!."
Balas Kak Joon yang tak mau kalah dengan anaknya sendiri. Aku pun yang melihat pesan-pesannya membuat ku tak henti menyunggingkan senyuman, hingga membuat orang disekitar ku menatap aneh dengan diri ku yang seperti itu.
Memang benar cinta itu memang luar biasa, sebuah kata yang aneh saja sudah bisa membuat kita tersenyum seperti orang gila. Harus aku akui bahwa hanya Kak Joon yang bisa membuat ku seperti ini, bahkan saat masa-masa ku di sekolah dulu, aku selalu membayangkan hidup berdampingan dengannya walau cintaku saat itu masih bertepuk sebelah tangan.