Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 29 : Semalam dengan mu



"Raya, aku tunggu malam ini!." Ucap Kak Joon yang mengantarkan diri ku hingga ke hotel sore itu.


"Baik, Mister!. Terima kasih telah mengantarkan saya." Ucap ku sebelum melangkahkan kaki menuju hotel.


Dan setelah itu Kak Joon pergi meninggalkan ku di lobby hotel melaju pergi dengan kendaraannya.


Selepas kepergiannya aku pun merutuki kebodohan ku yang telah menerima permintaan Kak Joon untuk menemaninya malam ini.


"Kamu sudah gila Raya!." Aku yang memukul kening ku dengan kencang karena kebodohan ku saat itu.


Aku pun kemudian langsung masuk ke dalam hotel setelah melihat mobil Kak Joon hilang dari pandangan.


Sesampainya di kamar hotel aku melemparkan semua barang ku ke sembarang tempat karena banyak hal yang membuat ku lelah.


Pertama karena kesalahan telah melamun selama pertemuan dengan klien, kedua karena lagi-lagi melamun di depan lobby hingga membuat Kak Joon terluka dan terakhir karena kesalahan ku yang ke dua akhirnya aku harus mengabulkan permintaan Kak Joon untuk melayaninya selama lengannya terluka.


Lagi-lagi aku memijat kening ku mengingat kesalahan-kesalahan itu, niat ingin menghindar justru aku semakin di dekatkan dengan orang yang paling aku hindari 8 tahun ini.


Dan tak lama terdengar bunyi ponsel yang ada di dalam tas milik ku. Dan aku melihat nama Ayah yang tertera di layar ponsel ku.


"Halo, Ayah." Jawab ku.


"Raya, apa kabar kamu sayang?." Sapa Ayah.


"Aku baik, Yah." Jawab ku.


"Bagaimana keadaan di Jakarta?. Kamu makan dengan benar kan?. Maaf sayang, Ayah baru menghubungi mu karena perusahaan Ayah sedang banyak orderan belakangan ini."


"Tidak apa-apa, Ayah. Aku mengerti."


"Raya, kamu sedang sakit?." Tanya Ayah.


"Tidak, hanya sedang banyak pekerjaan saja." Jawab ku yang tak ingin Ayah khawatir.


"Sayang, jangan bohong sama Ayah."


"Benar, Ayah. Aku hanya sedikit lelah."


"Benarkah?." Tanya Ayah memastikan.


"Benar." Jawab ku lagi.


Ayah mungkin tahu bahwa aku tak bisa berbohong, namun sepertinya ia lebih memilih mengalah dan tak lagi menanyakan keadaan ku.


"Oh iya. Darren bilang bulan depan ia akan datang ke Jakarta." Ucap Ayah.


"Iya, aku tahu." Jawab ku.


"Raya, Ayah harap kamu kembali memikirkan pertunangan mu dengan Darren." Ucap Ayah yang mengingatkan diri ku dengan pembahasan yang aku paling hindari.


"Ayah, jangan lagi memulai pembicaraan itu." Ucap ku yang sedikit kesal.


"Keluarga Achilles sudah banyak membantu kita. Lagipula kamu sudah menjelang 30, Nak. Ayah ingin sekali melihat mu berkeluarga." Ucap Ayah yang lagi-lagi membahas soal umur.


"Ayah, Raya terlalu lelah untuk membahas hal ini. Raya sekarang hanya ingin istirahat."


"Baiklah, sayang. Tapi Ayah mohon pikirkan lah kembali tawaran Ayah." Pinta Ayah.


"Baiklah, Ayah. Aku akan memikirkannya kembali."


Aku menghela nafas ku kasar, seolah ingin melepaskan semua beban yang ada. baru saja aku dihadapkan dengan masalah ku dengan Kak Joon, kali ini aku dihadapkan dengan masalah di mana aku harus mengabulkan permintaan Ayah ku.


"Apa yang harus ku lakukan, Tuhan?." Kembali aku menarik nafas ku dan membuangnya dengan kasar.


***


Akhirnya malam datang dengan sangat cepat, kini aku sudah berada di Mansion milik Kak Joon yang berada di Busan. Mansion yang sangat besar bahkan lebih besar dari miliknya yang ada di Jakarta, di sana pun terdapat banyak sekali penjaga yang ada di depan gerbangnya, bahkan saat ini aku kesulitan untuk memasukinya.


"Maaf, saya ingin bertemu Mister Joon. Saya Laras, Arsitek dari perusahaannya." (bahasa Korea) Ucap ku pada salah satu penjaga yang ada di sana.


"Sebentar, Nona. Akan saya tanyakan kepada Mr. Joon." (bahasa Korea) Lalu penjaga itu menanyakan melalui alat komunikasi yang menyambungkannya ke dalam Mansion.


Lalu setelah memastikan dan menanyakan langsung, aku pun diantar oleh penjaga yang ada menuju ke dalam Mansion. Aku sempat terkesima dengan kemewahan yang ada di dalamnya. Aku tak menyangka bahwa Kak Joon yang ku kenal adalah orang yang sekaya ini, aku selama ini hanya berpikir bahwa Kak Joon adalah lelaki sederhana yang tinggal di sebelah rumah ku. Walaupun rumahnya lebih besar dari rumah milik ku saat itu, namun tak sebesar Mansion ini yang sudah terlihat seperti istana kenegaraan saja.


Lalu aku pun diantar masuk hingga ke dalam ruang tengah yang seperti ruang keluarga, hanya tiga kali lipat lebih besar dari ruang tamu milikku yang ada di Jerman.


"Apa kamu kesulitan untuk masuk?." Tanya Kak Joon yang tiba-tiba sudah berada di belakang ku saat ini.


"Ya, sedikit." jawab ku.


Dan aku sedikit dibuat terkejut karena saat itu, Kak Joon sudah mengenakan piyama tidur. Aku yang melihat itu, sedikit menahan malu, pasalnya dada bidangnya sangat terlihat saat dirinya mengenakan piyama itu.


"Ayo, ikut aku!." Kak Joon yang langsung menarik ku pergi dari ruangan itu.


Aku pun hanya bisa menuruti apa yang dilakukan Kak Joon saat ini. Dan kami pun berhenti di sebuah ruang makan keluarga yang sangat besar, aku seperti melihat sebuah ruangan yang hanya ada di film Disney itu ternyata bisa aku lihat dengan mata kepala ku sendiri.


"Kenapa kamu diam saja?." Tanya Kak Joon yang saat ini sedang melihat ku yang sedang terperangah dengan kemewahan ruang makan tersebut.


Kak Joon kini terlihat menduduki salah satu kursi yang ada di meja makan besar itu. Dan kemudian para pelayan menyajikan makanan mewah yang jumlahnya sangat banyak, dan terakhir masuklah koki dengan membawa satu menu di tangannya, lalu ia menyajikannya tepat di hadapan Kak Joon.


"Apa aku bermimpi?. Tenang Raya!. Ayo pastikan kalau ini bukan mimpi!." Lalu aku pun mencubit sedikit lengan ku untuk memastikan bahwa ini semua bukanlah mimpi.


"Aw!." Aku yang akhirnya tahu bahwa yang ada di hadapan ku saat ini bukanlah sebuah mimpi.


"Ayo duduk!." Pinta Kak Joon pada ku yang melihat diri ku yang masih terdiam di posisi ku.


Lalu aku pun menarik kursi yang ada di hadapan ku.


"Duduk lah di sini!." Pinta Kak Joon yang mengarahkan ku untuk duduk tepat di sebelahnya.


Lalu aku pun menuruti perintahnya untuk duduk di sebelahnya saat ini.


Setelah itu iapun menyuruh semua pelayan beserta koki yang ada untuk meninggalkan kami di dalam ruang makan itu berdua saja.


Aku pun mulai berpikir yang tidak-tidak atas tindakan Kak Joon saat ini, pasalnya ini semua di luar pikiran ku. Aku hanya berpikir aku di sini hanya untuk membantu Kak Joon saja tidak lebih.


"Mulai lah sekarang!." Ucap Kak joon yang menatap diri ku dengan lekat seakan ia akan melakukan tindakan mesum terhadap ku.


Aku pun menutupi bagian dada ku untuk menghindari tatapannya.


"Apa yang kamu pikirkan?. Ambillah piring dan sendok itu dan mulai suapi aku!." Pinta Kak Joon yang menunjuk sebuah sendok dan piring yang ada di sebelah ku.


"Kamu sungguh bodoh!." Aku yang merutuki otakku saat ini karena telah berpikir yang tidak-tidak.


"Baik, Mister." Aku pun mengambil piring dan sendok yang ada di sebelah ku lalu mendekati Kak Joon untuk mulai menyuapinya.


"Akhh...!." Suapan pertama berhasil aku berikan Kak Joon.


Aku sedikit tersenyum melihat Kak Joon yang persis seperti Leon dalam keadaan seperti ini. Kak Joon melahap semua makanan yang kuberikan seperti anak kecil, dan aku teringat dengan Leon yang memakan semua es krimnya dengan lahap.


"Ada yang lucu?." Tanya Kak Joon.


"Tidak, hanya anda persis seperti Leon."


"Benarkah?." Tanya Kak Joon.


Dan aku yang tak sadar bahwa saat ini posisi kami sangatlah dekat, tatapan kami bertemu kembali persis seperti beberapa waktu lalu. Bahkan kali ini lebih dekat, hingga aku dapat merasakan hembusan nafas milik Kak Joon.


DEG


"Apa rasanya seperti ini dulu?." Tanya Kak Joon tiba-tiba.


"Maksud anda?."


"Saat di mana kita masih saling dekat?." Tanya Kak Joon yang masih menatap ku dengan lekat saat ini.


"Saya tidak mengerti maksud anda, Mister?." Aku yang langsung menghindari tatapannya saat itu.


"Raya, tolong jangan menghindari ku!." Pinta Kak Joon.


"Maaf, tapi sungguh saya tidak mengerti maksud anda?." Saat itu aku benar-benar tak ingin membalas tatapannya, juga tak ingin menjawab semua pertanyaannya.


"Mister, ada telpon penting." Tiba-tiba saja pelayan datang membawa berita penting, dan Kak Joon pun pergi meninggalkan ku dan mengikuti pelayan itu.


Untung saja pelayan itu datang di waktu yang tepat, dan aku terselamatkan dari semua pertanyaan itu.


***


"Aku sudah bilang aku sedang banyak urusan!. Omma tak perlu mengunjungi ku!." (bahasa korea) Pinta Kak Joon pada seseorang di sebrang ponselnya.


"Bagaimana bisa kamu melakukan itu pada ibu mu sendiri?." (bahasa korea) Ucap seorang wanita yang sepertinya ibu dari Joon Woo.


"Sudah kubilang aku tak menerima kunjungan mu!. Dan jangan ganggu aku untuk saat ini!." Ucap Kak Joon yang kemudian mengakhiri percakapannya dengan terburu-buru.


"Apa yang Omma ingin kan?. Aku tak ingin kau membuat ku kembali pada wanita itu!." (bahasa korea) Joon Woo yang memijat keningnya saat ini.


Lalu Joon Woo pun pergi mencari keberadaan Raya di dalam Mansion, namun ia tak menemukan Raya di ruang makan tadi. Ia pun menanyakan keberadaan Raya kepada para pelayan yang ada di Mansion nya.


"Tadi saya menyuruhnya untuk menunggu anda di ruangan anda, Mister." Pinta salah satu pelayan lelaki yang ada di Mansion.


Joon Woo pun bergegas pergi ke ruangannya untuk melihat keberadaan Raya dengan tergesa-gesa seakan tak ingin Raya menunggunya terlalu lama.


Lalu iapun membuka pintu ruangan miliknya, dan kemudian mendapati Raya yang tengah tertidur pulas dalam keadaan duduk di sofa miliknya.


Joon Woo menghampiri Raya dengan langkah perlahan takut membangunkan Raya yang tengah tertidur. Iapun kemudian membenarkan posisi Raya, dan merebahkannya di sofa itu dengan posisi tidur lalu menyelimutinya.


Kemudian Joon Woo memandangi wajah Raya yang terlihat sangat polos saat sedang tertidur. Ia sangat merindukan saat-saat seperti ini di mana Raya kembali ke sisinya.


"Raya, apa perasaanmu sudah berubah?." Gumam Joon Woo.


Ingin rasanya mencium bibir merah milik Raya yang tersaji lezat tepat di hadapannya. Tapi sayangnya Joon Woo bukanlah orang yang berani melakukan hal itu tanpa izin dari pemiliknya.


Tapi akhirnya Joon Woo tak dapat menahannya, ia pun mencium kening Raya sebagai ganti bibirnya.


"Anggap saja ini sabagai DP ku sebelum dirimu resmi menjadi milikku nanti." Gumam Joon Woo sambil tersenyum.