Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 73 : Curhatan Joon Woo



POV Raya


Sore itu aku dan Darren pergi ke rumah sakit tempat korban kecelakaan tadi pagi berada, seperti janji Darren untuk mengantar ku ke sana. Aku harus memastikan sendiri bahwa orang yang tertabrak itu adalah Sherly adik dari Ratna. Kalau memang benar tentunya Ratna akan merasa senang bila dapat kumpul bersama keluarganya.


Dan sampailah kami ke rumah sakit Bunda tempat di mana korban kecelakaan kemarin dirawat. Aku langsung bergegas menuju ke receptionist yang ada dan bertanya di mana korban kecelakaan pagi tadi berada.


"Maaf, Saya ingin melihat korban kecelakaan di jalan XXX tadi pagi berada. Apa benar ia dirawat di sini?." Tanya ku pada Receptionist itu.


"Maaf, anda keluarganya?." Tanya Receptionist tersebut.


"Ya, bisa dibilang begitu." Jawab ku.


"Sebentar saya cek dulu." Receptionist itu pun mengecek data sang pasien.


"Korban bernama Sherly Pratama?." Tanya Receptionist itu pada ku.


"Ternyata benar dia." Batin ku begitu mendengar nama itu disebutkan.


"Iya benar. Di mana dia mba?." Tanya ku.


"Dia ada di IGD nona, sedang diberikan perawatan intensif." Ucap Receptionist tersebut.


"Baiklah, bolehkah kami melihatnya?."


"Oh tentu boleh. silahkan!. Tapi gunakan masker dan peralatan yang ada sebelum masuk." (bahasa inggris)


Lalu aku beserta Darren menuju ke ruangan IGD yang ditunjuk receptionist itu.


"Laras, kenapa kamu sangat penasaran dengan gadis itu?. Apa hubungan mu dengannya?." (bahasa inggris) Tanya Darren tiba-tiba.


"Sulit untuk dijelaskan, karena kamu tidak tahu permasalahannya." (bahasa inggris) Jawab ku.


"Iya. aku tahu tapi aku akan sangat penasaran bila kamu tidak memberitahunya." (bahasa inggris) Ucap Darren yang langsung membuat aku menghentikan langkah ku saat itu.


"Aku punya teman dekat saat di Indonesia. Dan orang ini kemungkinan adiknya yang telah lama menghilang, jadi aku harus memastikannya." (bahasa inggris) Jawab ku.


"Teman?. Adik?." (bahasa inggris) Ucap Darren yang masih tak mengerti karena ia tak pernah bertemu Ratna sebelumnya. Saat Ratna di Perusahaan pun Darren sama sekali tak tahu.


"Ya, begitulah. Saat ini Ratna berada di Mansion Kak Joon." (bahasa inggris)


"Jangan bilang selama ini kau dan Joon Woo tinggal bersama?." (bahasa inggris) Tebak Darren.


"Ya, begitulah!." (bahasa inggris) Kemudian berjalan kembali mencari di mana ruangan IGD berada.


"Kau gila, Laras!. Kalian bahkan belum menikah!." (bahasa inggris) Kesal Darren yang merasa dibohongi oleh ku.


"Dar, sudahlah!. Permasalahan ku sudah cukup banyak!. Jangan menambahnya lagi dengan keegoisan mu!." (bahasa inggris) Kesal ku.


"Hey!. Aku egois?. Apa kamu tak salah?. Justru kamulah..!." (bahasa inggris)


"Sstt!. Ini rumah sakit!." (bahasa inggris) Lalu aku pun masuk ke ruangan IGD tempat di mana Sherly berada.


"Anda siapa?." Tanya suster yang ada di dalam ruangan.


"Saya keluarganya, Sus."


"Silahkan pakai peralatan yang kami sediakan di samping. Mari!." Lalu suster itu pun menunjukkan tempat di mana kami bisa memasang peralatan yang sudah disediakan di samping ruangan.


Lalu aku beserta Darren masuk ke dalam ruangan di mana Sherly saat itu sedang tertidur.


"Sherly?." Ucap ku begitu melihat Sherly dari dekat seakan tak percaya bahwa ia sudah berhasil kutemukan.


"Sepertinya aku mengenal wanita ini?. Tapi siapa?. Rasanya tidak asing." (bahasa inggris) Batin Darren yang menatap wajah Sherly dengan intens.


"Aku harus segera memberitahu Ratna soal ini." (bahasa inggris) Ucap ku lalu kemudian bergerak keluar dari ruang IGD itu berada.


"Kamu mau ke mana?." (bahasa inggris) Tanya Darren.


"Tentu saja aku harus menghubungi Ratna." (bahasa inggris) Jawab ku.


"Siapa Ratna?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang memang tidak pernah mengenal Ratna sebelumnya.


"Panjang ceritanya, Dar. Nanti akan aku ceritakan kalau sudah waktunya." (bahasa inggris)


"Baiklah." (bahasa inggris)


Akhirnya kami pun keluar ruangan itu bersama tanpa menunggu Sherly bangun terlebih dahulu.


***


Di tempat lain ada Dokter Fadil yang sedang menemani pasiennya di taman belakang rumah sakit.


"Dokter, apa dokter sudah punya pacar?." Tanya pasien wanita tersebut.


"Inginnya." Jawab Dokter Fadil sambil mendorong kursi dorong milik pasien itu.


"Kenapa, Dok?. Kan Dokter tampan?." Tanya pasien itu lagi sambil melirik ke arah Dokter Fadil.


"Karena belum ada yang cocok, Bu." Senyum Dokter Fadil mengiringi perkataannya.


"Fadil?." Panggil seseorang dari kejauhan.


"Siapa?." Akhirnya Dokter Fadil pun menoleh ke arah suara itu berasal.


"Joon?." Ku pikir siapa?." Ucap Dokter Fadil yang tidak menyangka kalau Joon Woo akan datang di sore har8i seperti ini.


"Bu, bagaimana kalau hari ini kita sudahi jalan-jalannya?. Karena sudah sore." Pinta Dokter Fadil pada pasiennya.


"Baiklah!. Dokter pasti sedang ada urusan dengan lelaki tampan itu kan?." Bisik pasien itu.


Dokter Fadil pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Lalu ia pun pergi bersama Joon Woo menuju ke dalam rumah sakit.


**Di Ruangan Dokter Fadil. **


Di ruangan itu Dokter Fadil melihat Joon Woo dengan wajah lesunya duduk di di sofa ruangannya. ia tahu pasti ada masalah berat yang ada di dalam pikiran Joon Woo saat ini. Dan Dokter Fadil langsung bertanya pada intinya.


"Ada apa kamu kemari?." Tanya Dokter Fadil.


"Apa Omma sudah kemari?." Tanya Joon Woo.


"Ya." Jawab Dokter Fadil.


"Apa yang dia katakan padamu?." Tanya Joon Woo penasaran.


"Hey!. Hey!. Tenang kawan!." Ucap Dokter Fadil yang tak ingin Joon Woo tergesa-gesa.


"Aku hanya ingin segera tahu jawabannya saja."


"Seperti yang kau pikirkan. Dia hanya ingin mengawasi Jane."


"Sudah kuduga."


"Apa maksudmu?." Tanya Dokter Fadil yang sedikit tak mengerti ucapan Joon woo.


"Ya, ia selalu khawatir berlebihan bila soal Jane."


"Apa dia masih terobsesi dengan Jane?." Tanya Dokter Fadil sambil mengerutkan dahinya.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja kali ini Jane sudah seperti orang yang kehilangan akal. Beberapa waktu lalu ia nekat ke kantor ku untuk mengajakku rujuk. Betapa gila wanita itu!."


"What??." Ucap Dokter Fadil tak percaya.


"Ya, dia sudah gila. Apalagi saat ini karirnya tengah diambang kehancuran. Aku takut Leon dan Raya akan terlibat." Ucap Joon Woo sambil meregangkan dasinya seakan kekhawatirannya itu seolah-olah akan terjadi.


"Tenang saja, Joon. Ia memang saat ini menggila tapi aku cukup tahu wanita itu. Ia tak mungkin melakukan tindakan nekad." Ucap Dokter Fadil yang ingin Joon Woo tenang.


"Ya, aku tahu. Dulu dia wanita yang anggun dan cerdas seperti anggota keluarganya yang lain. Kalau bukan karena diri ku mungkin dia tidak akan menjadi seperti ini." Ucap sesal Joon Woo.


"Hey!. kenapa tiba-tiba kau menyalahkan dirimu?."


"Ya, tapi itulah yang terjadi karena ia menyukai ku maka ia jadi seperti ini. Andai saja dulu aku tak menikahinya mungkin ia tidak akan seperti ini. Aku yang salah."


"Lantas kau mau kembali rujuk kepadanya untuk menebus rasa bersalah mu?." Tanya Dokter Fadil yang langsung dapat tatapan tajam dari Joon Woo.


"Kau gila!. Aku tak akan mengulangi kesalahan  ke dua kali. Memang aku ini keledai?."


"Ya, anggap saja seperti itu. Lantas apalagi yang membuat mu menemui ku kalau bukan ada masalah dengan Raya?." Ucapan Dokter Fadil yang seketika membuat rait wajah Joon Woo menjadi suram.


"Itu..."


"Hah!. Benar dugaan ku. Lagi-lagi kau gagal!."


"Tidak!. Hanya saja... "


"Ayahnya tidak merestui mu?." Pertanyaan Dokter Fadil yang tepat pada sasarannya.


"Bagaimana kau tahu?."


"Ya, aku sudah menduganya. Mana ada orang tua yang membiarkan anaknya melakukan kesalahan yang ke dua kali. Apalagi untuk kembali ke orang yang pernah membuang anaknya begitu saja."


"Aku tidak membuangnya, hanya tak membalas perasaannya saja."


"Apa bedanya dengan membuangnya?. Kau pikir dengan kau memilih Jane saat itu Raya akan baik-baik saja?. Buktinya tidak kan?."


"Iya, aku tahu. Tapi aku akan memperbaiki semuanya."


"Kalau begitu buktikan!."


"Buktikan?."


'Buktikan kalau kamu memang lelaki yang tepat untuknya. Hah!. Joon kalau saja aku tak menghargai mu, mungkin sudah mengejarnya." Ucap Dokter Fadil yang langsung dapat tatapan tajam dari Joon Woo kembali.


"Apa katamu?."


"Bercanda!. Buktikan saja ucapan mu itu!. Aku tahu Raya itu wanita yang baik. Banyak lelaki di luar sana yang menyukainya, kalau kau telat sedikit saja Raya sudah menjadi milik orang lain!."


"Fadil!." Lagi-lagi Dokter Fadil membuat Joon Woo berada dibatas kesabarannya karena kata-kata darinya.


Hari itu Joon Woo benar-benar mencurahkan segala isi hatinya kepada Dokter Fadil. Seperti hari-hari saat kuliah di Amerika dulu, Fadil tak pernah bosan mendengar ocehan lelaki keras kepala itu. Ia tahu karakter Joon Woo ia selalu teguh pada pendiriannya, sama seperti dirinya yang hanya menyukai satu wanita saja dalam hidupnya yaitu Raya. Ia yakin bahwa Joon Woo tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan dirinya.


Memang nasib bila dirinya selalu terselip oleh saudara tirinya itu, dari mulai karir bahkan sampai urusan asmara. Dalam keluarga pun ia sudah tak masuk di dalam daftar ahli waris, bahkan kali ini ia harus mengikhlaskan cinta pada pandangan pertamanya untuk Joon Woo. Ya, Dokter Fadil sudah menyukai Raya dari pandangan pertama, saat itu ia terpesona dengan seorang wanita yang sedang memeriksakan alerginya kala itu. Ia berharap wanita itu adalah jodohnya, namun apa daya setelah tahu bahwa kakak tirinya itu juga menyukainya maka dia bisa apa?.


Begitulah Dokter Fadil yang hanya bisa menjadi pendengar setia hingga saat ini. Nasib... nasib...