
"Daddy!." Teriak Leon yang sudah ada di depan ruangannya saat ini.
"Tuan Kecil, Mister sedang sibuk saat ini." Dimas yang berusaha untuk membuat Leon pergi dari sana karena melihat mood bosnya yang tidak memungkinkan.
"Kenapa kau menghalangi ku menemui Daddy ku?. Minggir!." Teriak Leon pada Dimas yang menghalanginya menuju ruangan Joon Woo.
"Tidak Tuan Kecil, hanya saja saat ini Mister sedang tidak bisa ditemui." Ucap Dimas mengingatkan Leon kembali.
Bagaimana tidak?. Dimas berusaha agar Tuan Kecilnya itu tak menjadi sasaran amuk Bosnya, pasalnya beberapa jam yang lalu bosnya itu telah mengusirnya pergi dengan kasar. Ia tak ingin sampai kejadian itu terjadi kepada Tuan Kecilnya oleh karena itu sebisa mungkin dirinya mencegahnya menemui Daddy nya itu.
"Dimas!. Sekali lagi aku bilang minggir!." Teriak Leon yang semakin kesal melihat Dimas berusaha menghalanginya.
"Ada apa ini?." Tanya Joon Woo yang sudah ada di hadapan mereka.
"Oh Mis... Mister..." Ucap Dimas yang terkejut dengan Joon Woo yang sudah keluar dari ruangannya.
"Leon?. Mau apa kamu datang kemari?. Kamu tidak tahu kalau ini adalah jam kerja?." Tanya Joon Woo yang menatap anaknya itu dengan tatapan yang tajam.
"Da.. Daddy aku hanya ingin menemui mu saja." Ucap Leon yang sangat terlihat bahwa ia tengah berbohong.
"Menemui ku?." Tanya Joon Woo sambil menatap manik mata Leon dan melihat adanya kebohongan di dalamnya.
"Suster, apa sebenarnya yang terjadi?." Tanya Joon Woo yang ingin penjelasan dari suster Eka.
"Ini Mister, Tuan Kecil ingin bertemu dengan Nona Laras." Ucap Suster Eka mengatakan yang sebenarnya kepada Joon Woo.
"Suster!. Apa yang kau katakan!." Teriak Leon kesal karena Suster Eka tak bisa bekerja sama.
"Diam Leon!. Daddy sedang bertanya kepada Suster Eka!." Teriak Joon Woo yang kesal karena omongannya disela oleh Leon.
"Laras?." Tiba-tiba saja wajah Joon Woo berubah menjadi suram begitu mendengar nama itu tersebut dari mulut Suster Eka.
"Daddy!." Leon yang berusaha merajuk kepada Daddy nya.
"Pergilah!. Kamu sudah tak memiliki urusan dengan wanita itu!." Ucap Joon Woo yang berusaha mengusir Leon untuk kembali ke rumah.
"Daddy!. Kau tak bisa mengusir ku, kalau tidak aku akan mogok makan selama 1 hari bila aku tak diizinkan menemuinya." Ancam Leon lalu Joon Woo malah pergi begitu saja meninggalkan Leon tanpa menanggapinya lagi.
"Mis.. Mister!." Teriak Dimas yang merasa ditinggal oleh Joon Woo.
"Dimas!. Kamu tak perlu mengikuti ku aku hanya ingin sendiri saat ini. Urus lah anak itu jangan sampai ia pergi menemui Laras." Ucap Joon Woo kepada Dimas.
Entah mengapa hari itu perasaan Joon Woo masih tak karuan, mungkin saja efek dari pagi hari tadi ia sudah melihat pemandangan yang membuat hatinya berantakan. Ingin rasanya mencabik-cabik lelaki itu, namun apa daya Joon Woo bukanlah lelaki yang bertindak gegabah. Namun yang terjadi dirinya malah gundah gulana karena pertanyaan demi pertanyaan yang tak terjawab dari Raya, kali ini Raya sungguh membuatnya tak karuan.
"Tuan Kecil, pulanglah!. Mister sudah menyuruh saya untuk memastikan bahwa anda segera pulang." Pinta Dimas.
"Tidak!. Sebelum aku bertemu dengan wanita jelek itu!." Teriak Leon yang masih tetap pada pendiriannya.
"Tuan Kecil, saya mohon jangan membuat saya berada dalam kesulitan." Pinta Dimas memohon pada Tuan Kecilnya, karena bisa saja karena Tuan Kecilnya yang tak ingin pulang itu dirinya menjadi kesulitan.
"Tuan Kecil, ayo kita pulang saja!." Suster Eka yang mencoba membujuk Tuan Kecilnya.
"Leon?." Teriak Raya yang melihat Leon tengah bergumul dengan Dimas dan Suster Eka, dan pas kebetulan saja saat itu Raya tengah dalam perjalanan dari ruangan Darren ia tak sengaja melihat Leon yang berada di depan ruangan Joon Woo.
"Wanita Jelek!." Teriak Leon lalu berlari menghampiri Raya yang tengah berdiri menatapnya dari kejauhan.
"Leon!." Raya yang kemudian menangkap dan memeluk Leon yang menuju ke arahnya saat ini.
"Wanita jelek!. Aku.. " Ucap Leon dengan wajah yang memerah.
"Apa kamu merindukan ku?." Ucap Raya menggoda Leon.
"Kau jahat Wanita Jelek!. ke mana saja kau!. Kau sudah janji akan pergi bermain lagi bersama ku!. Apa kau lupa?." Ucap Leon mengingatkan Raya pada janjinya.
"Tentu saja!. Maafkan aku yang sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku janji akan menemui mu, tapi aku punya syarat untuk itu!." Ucap Raya yang ingin Leon berjanji kepadanya.
"Apa itu?." Tanya Leon.
"Kau harus berjanji memanggilku aunty..." Pinta Raya yang memberikan jari kelingkingnya kepada Leon.
"Hhmm.. baiklah!. Aku janji!." Setelah berpikir Leon pun menyetujui permintaan Raya dan membuat janji jari kelingking bersama Raya.
"Eits!. Bukan Kau tapi Aunty!." Tegas Raya.
"Ia maksud ku Aunty." Leon mengucapkannya sambil berbisik saking malunya
"Tunggulah di sini aku harus ke ruangan ku untuk mengambil beberapa barang." Pinta Raya meminta Leon untuk menunggunya.
"Baiklah!." Akhirnya Leon menuruti permintaan Raya untuk menunggunya.
Dan Raya pun pergi ke ruangannya untuk izin pulang cepat dan mengambil barang-barangnya.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Raya kembali menemui Leon dan menepati janjinya dengan Leon.
"Ayo kita pergi!." Ajak Raya sambil menggandeng lengan Leon pergi meninggalkan kantor.
"Kita mau ke mana?." Tanya Leon.
"Tentu saja kita akan bermain." Ucap Raya.
Mereka pun pergi ke sebuah Mall besar yang ada tak jauh dari perusahaan JF milik Joon Woo.
***
POV Raya
"Wah..!!. Banyak sekali mainannya!." Teriak Leon yang sangat senang melihat begitu banyak mainan di hadapannya.
"Apa Leon tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?." Tanya ku pada Suster Eka.
"Belum Nona, Tuan Kecil lebih sering menghabiskan waktunya di rumah." Ucap Suster Eka.
"Apa ia tak pernah diajak ke tempat seperti ini oleh Daddy nya." Tanya ku yang masih penasaran.
"Tidak Nona." Ucap Eka yang seketika membuatku terenyuh dengan jawabannya, pasalnya Leon masih anak dibawah umur sudah sepantasnya ia mendapatkan perlakuan layaknya seorang anak kecil. Mungkin karena kesibukan Kak Joon hingga membuatnya tak dapat menemani Leon bermain.
"Wanita Je.. maksudku Aunty. Ayo kemari!." Ajak Leon yang menarik ku ke area bermain.
"Baiklah!. Pelan-pelan Leon!." Pinta ku agar Leon tak ceroboh dalam melangkah.
Gelak tawa mengisi ruang tempat kami bermain, aku bermain bersama Leon hingga tak sadar bahwa hari sudah menjelang malam. Dan aku pun yang menyadari itu ingin segera mengantar Leon kembali ke rumahnya agar Kak Joon tak mengkhawatirkannya. Namun tiba-tiba saja kepala ku terasa sangat pusing dan pandangan ku mulai kabur dan seketika pandangan ku menjadi buram. Sekilas aku melihat Leon dan Suster Eka yang menghampiri ku setelah itu aku tak mengingat apa-apa lagi.
***
Aku membuka mata dan menyadari saat ini aku tengah berada di kamar yang asing bagi ku. Dan aku pun melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa ada seorang pria yang tertidur di samping ku.
"Aku di mana?. Siapa dia?." Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benakku.
"Kamu sudah bangun?." Tanya pria yang sebelumnya tertidur di samping ku, dan ternyata pria itu adalah Kak Joon.
"Kak Joon?." Aku yang terkejut bagaimana akhirnya aku bisa berada di rumah Kak Joon?. Dan aku pun mengingat kebersamaan ku dengan Leon sebelumnya dan aku juga mengingat kejadian di mana aku tiba-tiba tak sadarkan diri di area bermain itu.
"Apa kamu baik-baik saja?. Bagaimana kepala mu?. Apa masih pusing?." Tanya Kak Joon yang memeriksa kening ku dengan punggung tangannya.
Seperti biasa Kak Joon memperlakukan ku dengan sangat baik, hal inilah yang aku rindukan beberapa hari ini. Kak Joon yang selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan ku. Tapi tentu saja aku tak ingin berharap lebih dari ini, karena aku tak tahu perasaannya setelah kejadian di Korea terakhir kalinya.
"Kak, aku baik-baik saja." Ucap ku sambil tertunduk malu karena perlakuan Kak Joon saat itu.
"Apa ada yang ingin kamu minum atau makan?." Tanya Kak Joon yang masih dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Mi.. num?." Ucap ku ragu-ragu.
"Kau ingin minum apa?." Tanya Kak Joon.
"Minum air putih saja." Jawab ku.
"Baiklah!. Kamu tunggulah di sini!. Jangan pergi ke mana-mana!." Pinta Kak Joon yang seolah takut aku pergi dari pandangannya.
Tingkah Kak Joon yang seperti ini membuatku merasa bahagia. Ya, aku mengakui hal inilah yang selama ini aku inginkan darinya, perhatiannya, kepeduliannya dan kekhawatirannya, aku tersadar dan aku pun begitu menginginkannya tapi apalagi yang yang memberatkan diri ku untuk menerima cintanya?.