
Suara sorak sorai orang yang menikmati wahana biang lala saat itu.
Aku, Leon beserta Kak Joon tengah asik menikmati pemandangan dari puncak biang lala. Leon juga tampak sangat menikmati pemandangan, terlihat sekali bahwa ini pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan seperti ini. Bisa berkumpul bersama keluarganya, bersama orang terkasihnya.
Yang sebelumnya ia hanya merasakan kenyamanan itu hanya dari Mansion nya saja bersama para pelayannya. Mungkin karena kesibukkan Kak Joon yang selama ini tak terlalu memperhatikan anak semata wayangnya. Dan aku yang melihat matanya yang berbinar-binar saat ini, ikut merasa bahagia.
"Leon, apa kamu senang?." Tanyaku pada Leon.
"Senang, Mom." Senyum yang tak pernah luput dari wajah Leon dari awal menaiki wahana ini.
Dan akhirnya setelah setengah jam lamanya berada di atas wahana, kamipun akhirnya kembali turun. Dan kami bertiga kemudian menghampiri suster Eka yang ada di bangku taman.
"Sus, Ratna mana?." Tanya ku pada suster Eka yang melihat ketidak beradaan Ratna di dekatnya.
"Tadi Nona Ratna ke sana katanya mau beli es krim. Tapi sampai sekarang belum kembali-kembali, Non." Jawab suster Eka sambil menunjuk arah Ratna pergi kepada ku.
Aku pun mencari-cari keberadaan Ratna dari kejauhan sesuai arah yang ditunjukkan suster Eka. Namun aku tak menemukan petunjuk keberadaannya, hingga aku memutuskan untuk menyusulnya ke stand es krim yang ditunjuk.
Namun di sana lagi-lagi tak menemukan keberadaan Ratna, lalu aku pun menghubungi nomor ponselnya saat ini. Sayang sampai ke tiga kalinya ku hubungi, Ratna tak kunjung menjawabnya. Aku mulai memiliki perasaan aneh, aku sangat yakin ada sesuatu yang terjadi kepada Ratna.
"Ada apa?." Tanya Kak Joon yang menghampiri ku yang tengah gelisah di depan stand es krim.
"Ratna tak dapat dihubungi." Jawab ku.
"Kamu tenanglah!. Biar aku coba hubungi dia!." Kak Joon mulai menghubungi Ratna juga. Namun sayang Kak Joon tak dapat menghubunginya sama seperti diri ku.
"Coba kita mencarinya di bagian informasi." Lalu kami pun menuju bagian informasi untuk mencari keberadaan Ratna. Namun sampai menjelang sore hari Ratna tak kunjung menjawab panggilan kami.
Aku semakin merasa kalut, pasalnya aku tahu Ratna tengah dalam pelarian. Dan aku yakin saat ini Ratna sedang dalam bahaya.
"Kak, lebih baik cari tahu di mana posisi suami Ratna. Karena aku yakin saat ini Ratna sedang diculik oleh orang-orang suaminya." Pinta ku pada Kak Joon.
"Baiklah!. Aku harus menghubungi Dimas terlebih dahulu. Aku harus memastikan semua ini benar perbuatannya." Lalu Kak Joon pun menghubungi Dimas dan hari itu juga Kak Joon meminta melacak keberadaan Jalal, suami Ratna.
Tak sampai satu jam Dimas berhasil mendapatkan informasi keberadaan Jalal. Dan saat itu pun aku dan Kak Joon bergegas melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian agar Ratna dapat ditemukan sebelum esok hari.
***
Di sebuah rumah tua.
"Hei!. Bangun!." Suara teriakan seorang wanita.
"Byurr!." Wanita itu menyiram air ke arah wanita yang ada di depannya.
Lalu wanita yang tengah dalam kondisi tangan terikat di sebuah bangku itu akhirnya terbangun karena siraman air dari si wanita.
"Akhirnya bangun juga!." Ucap wanita itu seraya bersedekap di hadapan wanita yang ia siram.
Ya, wanita yang sedang bersedekap itu adalah Gisel dan yang sedang di sekap itu dan disiram air olehnya adalah Ratna yang sudah diculik oleh orang suruhan Gisel.
"Gi.. Gisel?." Ratna yang terkejut ternyata orang yang menculiknya adalah Gisel.
"Kenapa?. Kamu heran?. Kamu terkejut?." Ucap Gisel dengan tatapan nyalang nya ke arah Ratna.
"Aku gila?. Heh!. Aku hanya tidak suka orang lain menyentuh milik ku!."
"Milik mu?. Maksudmu apa Joon Woo?." Tanya Ratna sambil menerka-nerka yang dimaksud Gisel.
"Siapa lagi memang?." Jawab Gisel dengan percaya dirinya.
"Sejak kapan Joon Woo jadi milik mu?." Ucap Ratna yang masih tak mengerti dengan pikiran tak masuk akal Gisel.
"Lagipula Joon Woo tidak ada hubungannya dengan ku." Tanya Ratna, pasalnya Raya lah kekasih Joon Woo pikirnya dan semua ini tak ada hubungan dengannya.
"Tentu saja ada!. Karena kamu teman dari Raya, wanita yang merebut Joon Woo dari ku." Jawab Gisel.
"Gisel, otak mu memang sudah tak beres!. Joon Woo tak pernah menyukaimu!. Kau harus sadar itu!." Tegas Ratna.
"Sayang..." Tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki dari kejauhan yang mulai mendekat ke arah mereka berdua yang tengah bersitegang. Dialah Jalal suami dari Ratna yang merupakan otak dibalik penculikan Ratna.
"Kamu sudah datang?." Tanya Gisel seraya membalas kecupan mesra yang datang dari Jalal.
"Jalal?." Ucap Ratna seraya menatapnya dengan raut wajah yang ketakutan.
"Apa kabar istri ku?." Sapaan Jalal kepada Ratna dengan tak tahu malunya.
Ratna yang tak bisa berkata-kata di hadapan Jalal, ia hanya bisa bungkam dengan wajah yang masih diliputi rasa ketakutan yang mendalam. Ratna seketika teringat dengan semua perlakuan Jalal kepadanya selama ia masih tinggal serumah dengannya karena Jalal telah menyiksa batin dan fisiknya hingga tak ada perasaan sedikitpun yang tersisa untuk lelaki itu.
"Apa kamu bisu, hah?. Kamu selalu saja seperti itu saat di dekat ku?." Jalal yang mendekati Ratna dan membelai rambutnya seolah-olah ia sangat merindukan Ratna istrinya. Tapi yang ada Ratna semakin dibuat ketakutan dengan sikap Jalal yang seperti itu.
"Jalal, sepertinya istrimu takut dengan mu." Ucap Gisel yang melihat reaksi Ratna.
"Tidak, ia hanya rindu kepada ku. Ia kan sayang?." Tanya Jalal berbisik ditelinga Ratna yang seketika membuat bulu kuduk Ratna merinding dibuatnya.
"Gisel, beri kami ruang berdua dengan istri ku ini. Aku sudah begitu rindu dengannya, kami butuh waktu untuk melepas rindu." Ungkap Jalal dan Gisel pun setelah mendengar itu pergi dari kamar lalu segera menutup pintu. Ia tahu Jalal butuh waktu untuk bermain-main dengan istrinya. Dan senyum merekah Gisel pun mengembang saat tahu apa yang akan dilakukan Jalal pada Ratna.
"Rasakan itu jal**g!." Perkataan puas Gisel sambil berjalan menjauh dari kamar.
***
"PlaKK!. Pergi kamu!." Ratna yang berusaha menyingkirkan Jalal yang mendekati dirinya.
"Apa kamu tidak rindu kepada ku?." Ucap Jalal seraya menarik rambut Ratna dengan kasar.
"Kau gila!. Bagaimana aku bisa rindu dengan orang yang sudah menyiksa ku, Jalal!." Ucap Ratna seraya berusaha untuk melepaskan diri dari Jalal.
"PlakKK!." Lagi-lagi Ratna berhasil menampar wajah Jalal. Namun Jalal terlihat marah dan seketika menampar dan melempar tubuh Ratna hingga terbanting di sudut ruangan.
Ratna pun berusaha bangkit dengan tubuh yang kesakitan akibat terlempar. Melihat itu Jalal tak tinggal diam, ia kemudian menerjang Ratna kembali, kini tubuh Ratna sudah terkunci di bawah tubuh Jalal. Lalu Jalal pun membawa Ratna ke atas tempat tidur yang ada di kamar itu, lalu menciumnya dengan paksa.
Ratna masih berusaha menggigit dan mencakar tubuh jalal, namun sayang tubuh Jalal sangat besar berbanding terbalik dengan tubuh Ratna yang kecil dan mungil itu. Dan akhirnya Ratna tak bisa melawan Jalal, kini Jalal telah berhasil menodai Ratna berkali-kali di ruangan itu.
Di bawah kungkungan Jalal, Ratna hanya bisa menangis sejadi-jadinya, karena ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berdoa semoga ada orang yang menyelamatkannya dari siksaan Jalal saat ini.