Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 65 : Kisah Baru Pohon Manggis



"Hai, Dedek Kenzo apa kabar mu?." Tanya Leon yang akhir-akhir ini mempunyai mainan baru yaitu Kenzo anak dari Ratna.


"Halo, Abang. Apa kabar." Suara Ratna menirukan suara Kenzo.


"Kamu gak bosan makan bubur terus?." Tanya Leon yang melihat menu makanan Kenzo setiap hari hanya dihidangkan menu bubur bayi.


"Tentu tidak dong, Abang. Karena menu ku ini sangat sehat." Ratna yang lagi-lagi menirukan Kenzo.


"Aunty, kapan Kenzo bisa berjalan lalu menemani ku bermain?." Tanya Leon yang sudah tidak sabar ingin memiliki teman bermain.


"Sabar, Leon. kenzo itu baru 6 bulan. Kurang lebih satu tahun lagi ia baru bisa berdiri dengan benar." Namun itupun dia belum bisa berlari seperti diri mu." Ucap Ratna.


"Tapi kata Suster Eka, aku sudah bisa berjalan dan berlari saat umur ku baru memasuki satu tahun."


"Tidak semua anak perkembangannya sama sperti diri mu. Ya, anggaplah kamu sudah bisa berjalan saat itu. Tapi tetap saja masih belum stabil dan butuh bantuan orang dewasa untuk memperlancar jalan mu."


"Orang dewasa?. Maksudmu Orang tua?."


"Ya, seperti itu."


"Tapi aku tak pernah dibantu orang tua ku berjalan. Bahkan di saat aku bermain, hanya suster Eka yang selalu setia menemaniku." Ucap Leon yang seketika membuat Ratna terenyuh. Pasalnya ia tak pernah tahu bahwa Leon adalah anak yang kesepian.


"Pantas saja Leon sangat senang ada kami di rumah ini?. Ternyata ia kesepian." Batin Ratna.


Dan saat itu Ratna dan Leon melihat Raya yang sedang berjalan bersama Joon Woo mendekatinya yang sedang bersama dengan Leon.


"Hai Leon!. Ratna!." Sapa Raya.


"Mau ke mana kalian?. Tumben siang-siang gini udah mau pergi?. Ini kan Weekend?." Tanya Ratna yang melihat Raya dan Joon Woo memakai baju casual rapih.


"Hhhmm.. kami akan kencan." Jawab Raya.


"Daddy, akhir-akhir ini kau sering membawa Mommy pergi. Aku jadi kesepian!." Protes Leon.


"Apa yang salah?. Lagipula kau sudah ada Aunty Ratna dan juga Kenzo yang menemani mu!." Dalih Joon Woo.


"Tapi aku tidak hanya butuh Aunty Ratna dan Kenzo. Aku juga butuh Mommy menemani ku!."


"Sudah!. Sudah!. Leon!. Kak Joon!. Tenanglah!."


"Tapi..." Ucapan Joon Woo yang seketika di interupsi oleh Raya.


"SSttt!. Kak biarkan aku yang bicara!." Tegas Raya.


"Leon sayang. Hari ini Daddy dan Mommy sedang ada urusan mendadak. Lain kali aku akan menemani mu seharian."


"Benarkah?."


"Iya sayang. Mommy janji."


"Asiikk!." Leon yang jingrak-jingrak kesenangan karena janji dari Raya untuknya.


"Baiklah!. Kalau begitu kami pamit ya!. Na, tolong jaga Leon untuk kami!." Pesan Raya.


"Baiklah!. Hati-hati kalian di jalan!." Balas Ratna.


Kemudian Raya dan Joon Woo pun pergi meninggalkan mereka dan pergi menuju lobby.


***


POV Raya


Hari itu aku dan Kak Joon hendak pergi mengunjungi makam bunda. Kak Joon memang selama ini belum pernah sekalipun datang ke sana, karena saat itu ia masih dingin terhadap ku. Andai saja dirinya mengakui perasaannya sedari dulu mungkin saja kami sudah sering mengunjungi makam bunda.


"Bunda, apa kabar mu?. Pasti baik kan?. Kali ini aku datang tidak sendiri. Aku bersama Kak Joon, pasti Bunda masih sangat mengenalinya?." Ucap ku sambil mengusap pusara bunda.


"Nyonya Samira, aku Joon Woo. Apa kabarmu?."


"Aku yakin anda mungkin pernah menganggap ku anak yang tidak baik. Karena telah bersikap jahat terhadap Raya. Tapi hari ini aku datang untuk meminta maaf kepada mu atas semua perlakuan ku dulu." Ucap Kak Joon seraya berlutut meminta ampunĀ  di pusara Bunda.


"Kak... berdirilah!." Pinta ku yang tak tega melihat Kak Joon yang berlutut seperti itu.


"Tidak, Raya. Aku bersalah terhadap mu dan juga seluruh kelurga mu!. Karena aku sudah ingkar janji. Maafkan aku. Hiks!." Ucap Kak Joon sambil terisak.


"Aku minta maaf Nyonya!. Mungkin minta maaf saja tidak dapat menebus rasa bersalah ku pada kalian!."


"Kak.. sudahlah!." Ucap ku seraya mengusap punggungnya.


"Nyonya, kali ini aku kemari bukan hanya ingin meminta maaf kepada mu. Tetapi juga ingin menebus semua kesalahan-kesalahan ku terdahulu. Aku ingin melamar Raya menjadi istri ku. Dan aku janji tidak akan pernah menyia-nyiakannya sampai kapan pun." Ucap Kak Joon dengan yakin.


"Raya dan aku akan hidup bersama selamanya. Jadi aku mohon izin anda Nyonya Samira. Aku yakin anda pasti setuju dengan ini."


Setelah itu kami pun mengirim doa kepada Bunda, lalu pergi meninggalkan pusara menjelang sore hari. Selepas dari pusara bunda Kak Joon tak langsung membawa ku kembali pulang ke mansion tetapi ke SMA ku dulu berada. Entah apa maksud Kak Joon membawa ku ke sana.


"Kak, kenapa kita kemari?." Tanya ku.


"Kamu ikut saja!." Aku pun hanya bisa mengangguk dan mengikuti Kak Joon yang menarik ku pergi masuk ke dalam sekolah. Hingga akhirnya kami berada di taman belakang yang aku sangat tahu bahwa tempat itu adalah kenangan di mana aku diam-diam memandangi Kak Joon yang sedang tertidur dan di sini jugalah Kak Joon menolakku yang ke dua kalinya.


"Ayo!. Kenapa kamu diam saja?." Pinta Kak Joon yang mengarahkan ku untuk ke bawah pohon manggis tersebut.


"Baiklah!." Aku pun mengikutinya hingga berada tepat di bawah pohon manggis itu.


"Kak.. " Baru saja aku hendak membuka suara Kak Joon menahan ku suara ku dengan jari telunjuknya.


"Raya, kali ini biarkan aku yang bicara!." Aku pun menjawabnya dengan sebuah anggukkan.


"Raya, aku tahu mungkin dulu sudah kesekian kalinya aku menolak mu tanpa perasaan. Tapi itu semua bukanlah sebuah kejujuran, aku hanya menghindari takdir, takdir kita yang seharusnya. Aku saat itu bodoh karena tidak yakin dengan cinta kita." Ucap Kak Joon dengan mata penuh kesungguhan.


"Namun kali ini, aku akan menyambung takdir kita kembali. Di sinilah tempat diri ku menolak mu. Dan disini jugalah tempat akhirnya aku menerima perasaan mu dengan melamarmu." Kalimat itu seakan menjadi sebuah kalimat yang telah lama kunantikan. Di mana akhirnya Kak Joon menerima perasaan ku.


"Kak..." Air mata ku akhirnya mulai terjatuh, aku terharu dengan kalimat itu.


"Raya, maukah kamu hidup bersama dengan ku sampai maut memisahkan?." Ucap Kak Joon seraya mengeluarkan sebuah kotak cincin dan bersimpuh di hadapan ku.


Aku semakin tak kuasa menahan air mata kebahagiaan yang keluar begitu saja dari pelupuk mata ku.


"Raya... kenapa kamu diam saja?. Jawab lah!." Kak Joon yang tak mengerti dengan diri ku yang hanya bisa menangis tanpa bersuara melihatnya bersimpuh.


"A.. a.. a... ku.... hiks!. Hiks!."


"Raya." Kak Joon pun memeluk ku yang tak kuasa menahan air mata, entah mengapa bibir ini sulit untuk berkata-kata.


"A.. aku tak tahu harus berkata apa... hiks. Terima kasih Kak.. Akhirnya aku mendengarnya. Terima kasih." Ucap ku yang masih terisak dipelukan Kak Joon.


"Dengarkan aku Raya, aku pasti akan membahagiakanmu. Aku janji." Ucap Kak Joon yang menggenggam erat tangan ku dan mengusap air mata yang mengalir di pipi ku saat itu.


"Jadi apa jawaban mu?." Tanya Kak Joon sekali lagi.


"Baiklah, Kak. Ayo kita menikah." Kak Joon yang kemudian memeluk kembali setelah mendegar jawaban dari ku.


"Terima kasih, Raya."


Dan hari itu Pohon manggis yang dulu menjadi saksi bisu di mana diri ku ditolak oleh Kak Joon, berubah kisah menjadi saksi bisu dimana diri ku dilamar olehnya.