
Di Ruang Dosen aku dan Dokter Fadil menceritakan kisah pengalaman kami saat masih sama-sama kuliah, dan sampailah pada satu titik di mana ia mulai menanyakan seputar kedekatan ku dengan Kak Joon dan juga Leon.
"Aku dulu kuliah di sini, tapi sayang saat memasuki semester ke 3 aku harus pindah ke luar negeri untuk ikut orang tua." Ucap Dokter Fadil.
"Dokter tinggal di mana?." Tanya ku.
"Di Amerika, aku ikut orang tua ku karena Ayah bekerja di sana." Jawab Dokter Fadil.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Dokter saat kita sedang berdua seperti ini." Tegas Dokter Fadil yang tak ingin aku bersikap formal terhadapnya.
"Maaf, aku lupa." Ucap ku.
"Laras, boleh aku bertanya sesuatu padamu?." Tanya Dokter Fadil.
"Silahkan, Dok... maksud ku... Mas Fadil." Ucap ku yang lagi-lagi menyebut Dokter Fadil dengan sebutan Dokter.
"Mas?. Boleh juga." Dokter Fadil seraya merekah kan senyumannya karena panggilan baru ku kepadanya.
"Bagaimana kamu bisa dekat dengan Leon?." Tanya Dokter Fadil yang langsung membuatku sedikit terdiam.
"Oh, Leon. Dia adalah anak Mr. Joon, bos di perusahaan ku." Jawab ku tanpa menyembunyikan kenyataan yang ada.
"Joon Woo bos mu?." Tanya Dokter Fadil yang mulai ingin tahu hubungan ku dengan Kak Joon dan Leon.
"Ya, sebuah kebetulan aku dekat dengan Leon saat kami sama-sama bertemu di perusahaan beberapa minggu yang lalu." Jawab ku.
"Sepertinya Leon sangat menyukaimu bahkan dia tersipu malu saat menatap mu." Ucap Dokter Fadil yang membuat ku sedikit terperangah. Pasalnya aku tak pernah tahu hal itu, yang aku tahu Leon hanya bisa memanggil ku dengan panggilan " Wanita Jelek" setiap kali dia bertemu dengan ku.
"Tidak!. Tidak mungkin... maksud ku anak itu selalu memasang wajah masamnya saat di dekat ku." Ucap ku menanggapi pernyataan Dokter Fadil yang menurutku tidak masuk akal itu.
"Sungguh!. Aku bisa melihat dari tatapannya." Ucap Dokter Fadil lagi.
"Mas Fadil bisa saja!." Aku yang mencoba untuk berpura-pura tak mengerti ucapannya.
"Dan apa kamu mengenal Joon?. Aku mendengar kamu memanggil dirinya dengan sebutan Kak Joon." Tanya Dokter Fadil seraya menatap wajah ku dengan tatapan menyelidiknya.
"Mana mungkin!. Dia hanyalah bos ku dan aku tak berani menanggilnya seperti itu!." Lagi-lagi aku berusaha mengelaknya.
"Apa aku yang salah dengar?. Tapi sepertinya aku tak salah dengar." Tanya Dokter Fadil memastikan.
"Benar Mas Fadil." Jawab ku yang berusaha untuk menutupi kebenaran yang ada.
"Kalau begitu mungkin aku yang salah mendengarnya." Ucap Dokter Fadil yang sedikit kecewa akan jawaban ku.
Dan setelah dua jam lamanya aku bersama Dokter Fadil di ruang dosen tersebut, akhirnya Dokter Fadil menemani ku berkeliling kampus sampai sore hari. Dan iapun kemudian mengantarkan ku pulang ke apartemen ku menggunakan mobilnya seperti malam lalu.
***
Keesokan Harinya
"Laras!." Panggil Septi kepada ku yang sedang sibuk dengan Komputer ku.
"Ya!. Ada apa?." Jawab ku.
"Bu Fatma memanggil mu." Ucap Septi yang menyuruh ku untuk ke ruangan Bu Fatma.
"OK!." Jawab ku kemudian menuju ke ruangan Bu Fatma saat itu juga.
Sesampainya di ruangan, aku menanyakan maksud dan tujuan Bu Fatma memanggil ku ke ruangannya.
"Maksud dari saya memanggil mu untuk ke ruangan saat ini adalah untuk memberitahu bahwa kamu akan dikirim ke Korea Selatan selama dua minggu untuk meninjau project selanjutnya." Ucap Bu Fatma yang langsung membuat ku sedikit terperangah, pasalnya project kami tidak berhubungan dengan negara tersebut.
"Maaf kalau boleh saya bertanya, bukankah project ini tidak ada hubungannya dengan negara Korea?." Tanya ku yang ingin penjelasan.
"Kami tahu, tapi kami membutuhkan seorang designer khusus untuk membantu kami, apalagi cabang perusahaan kami ada di sana. Dan kami tahu kalau kamu menguasai bahasa Korea." Ucap Bu Fatma yang langsung membuatku sedikit tak mengerti.
"Maaf sebelumnya apa hal ini masuk ke dalam kontrak kerja saya?." Tanya ku memastikan.
Dan Bu Fatma pun mengeluarkan isi kontrak kerja sama yang telah ditanda tangani oleh perusahaan FX. Dan di sana tertulis bahwa selama kontrak Designer yang telah dikirim akan mengikuti perintah dari perusahaan yang ditunjuk, selama itu diperlukan dalam project yang sedang berlangsung. Dan aku pun yang melihatnya tak berhak untuk mengelak, namun hal ini membuat ku menyesal karena tidak membaca kontrak dengan baik saat menandatanganinya.
"Bisakah saya tahu, siapa yang bersama saya selama di sana?." Tanya ku.
"Mr. Joon. Kamu akan menemaninya selama dua minggu di Korea Selatan." Jawaban Bu Fatma yang seketika membuat ku terkejut, pasalnya aku tak pernah menyangka hal yang paling ku hindari yaitu berdekatan dengan Kak Joon terjadi juga. Apalagi harus selama dua minggu?. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya aku?.
Dan aku tahu lambat laun hal ini pasti terjadi, tapi sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Aku hanya bisa menjalaninya, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak terkecoh lagi dengan perasaan ku.
"Bagaimana?." Tanya Septi yang melihat ku keluar dari ruangan Bu Fatma dengan wajah yang lesu.
"Aku harus pergi ke Korea." Jawab ku.
"Wah, dari dulu aku sangat ingin pergi ke sana." Ucap Septi seraya memancarkan wajah berseri-serinya mendengar kata Korea yang keluar dari mulut ku.
"Yah, bagus buat mu." Ucap ku lesu.
"Ya, bagaimana aku bisa senang?. Aku harus menemani lelaki itu selama dua minggu?." Jawabku yang sedikit kesal dengan pertanyaan yang diajukan Septi.
"Kamu pergi dengan siapa memang?." Tanya Septi penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Mr. Joon." Rasanya aku ingin menangis saat ini.
"Yang benar?. Wah bukannya malah Jackpot ini?. Kapan lagi kamu bisa ditemani dengan duren kayak dia?. Kalau aku sih YES!." Ucap Septi yang membuat ku terkejut dengan istilah DUREN yang ia sematkan terhadap Kak Joon.
"Duren?." Tanya ku.
"Iya Duda Keren!." Jawaban Septi yang langsung membuat ku terperangah, pasalnya aku tak pernah tahu bahwa Kak Joon telah menjadi duda.
"Kamu gak tahu?. Ihh!. Mr. Joon itu duda, alias udah divorce!. Dan sudah hampir lima tahun menduda!." Ucap Septi yang sekali lagi membuat ku terperangah.
"Apa yang terjadi dengan Kak Joon dan Jane?. Bagaimana mereka bisa berpisah?." Tanya ku dalam hati.
"Udah!. Anggap aja ini kesempatan kamu buat dekat sama si Duren!." Septi yang menepuk bahu ku untuk menyemangati ku.
"Ya Tuhan!. Cobaan apalagi ini?." Batin ku yang kembali resah karena disudutkan dengan situasi yang ada.
***
Di Mansion milik Joon Woo.
"BRaaAkk!." Suara barang terjatuh.
"Tak!. Tok!. Tak!. Tok!." Suara heels seorang wanita yang menaiki tangga Mansion menuju ke arah kamar Leon berada.
Terlihat Leon yang sedang melempar kan semua barang-barang di kamarnya.
"Aku bilang aku tidak ingin belajar!." Teriak Leon kepada wanita yang ada di hadapannya.
Leon terlihat menatap wanita dihadapannya dengan tatapan nyalang seakan ingin wanita itu pergi dari hadapannya secepatnya!.
"Tuan Kecil, anda harus belajar kalau tidak nanti Daddy anda marah." Ucap wanita itu.
Wanita yang menatapnya seolah dia sangat peduli dengan Leon. Namun di sisi lain terlihat seperti ingin menguasai Leon.
Wanita yang terlihat cantik dengan baju kemeja ketat yang dibiarkan terbuka di area depannya, sehingga menampakkan bagian dadanya. Wanita yang sangat kita kenal dengan nama Gisel, yaitu mantan sahabat karib Raya saat di SMA dan juga kuliah.
"Pergi kau Wanita gil*!." Teriak Leon pada wanita itu.
"Tuan Kecil saya tahu ini tidak boleh dilakukan!. Tapi maafkan saya kalau saya melakukan ini, karena anda harus menuruti kata-kata saya jika tak ingin Daddy anda marah." Ucap Gisel yang tampak mengancam Leon dengan kata-katanya.
"Coba saja kalau kau berani!. Aku tak takut denganmu!." Teriak Leon lagi.
Dan di saat itu terjadi, bertepatan dengan kedatangan Joon Woo yang baru saja kembali dari kantornya. Ia yang mendengar teriakan Leon langsung menuju ke lantai atas untuk memeriksanya.
"Apa yang terjadi?." Tanya Joon Woo yang melihat seluruh isi kamar Leon yang berantakan.
"Mister, Tuan Kecil tidak mau belajar. Saya hanya berusaha membujuknya." Ucap Gisel yang membuat seolah-olah ia adalah korban dari Leon.
"Leon!. Sudah Daddy katakan jangan pernah membuat Nona Gisel kewalahan karena mu!." Pinta Joon Woo yang memasang wajah marahnya kepada Leon.
"Tapi aku tidak bersalah!. Aku hanya tak ingin di ajar oleh Wanita Gil* ini!." Ucap Leon menjelaskan.
"Tuan Kecil salah saya apa?." Ucap Gisel yang sudah memasang wajah tak berdosa.
"Minta maaf!." Ucapan Joon Woo yang selalu ia katakan kepada anaknya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Leon.
"Tidak mau!." Teriak Leon yang kemudian pergi menjauh dari Joon Woo dan Gisel.
Dan suster Eka yang ingin menghampiri Leon saat itu lagi-lagi dihalangi oleh Joon Woo.
"Biarkan saja!. Nanti juga dia akan baik dengan sendirinya!." Ucap Joon Woo yang selalu tak ingin pusing dengan sikap anaknya.
"Tapi, Mister." Suster Eka yang ingin membantah perintah Tuannya.
"Biarkan saja!." Joon Woo yang sekali lagi memberikan perintah kepada suster Eka yang akhirnya dituruti olehnya.
"Maafkan Leon, Gisel. Aku yang bersalah karena tak bisa mendidiknya dengan baik." Ucapan maaf yang keluar dari mulut Joon Woo karena rasa bersalahnya terhadap Gisel.
"Tidak apa-apa, Mister. Saya tahu anda sudah berusaha mendidiknya." Ucap Gisel seraya menatap wajah Joon Woo dengan tatapan menggodanya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Suster Eka tolong suruh mbok Yati untuk membersihkan kekacauan ini!." Pinta Joon Woo yang kemudian pergi kembali menuju ke kamarnya.
Gisel yang melihat Joon Woo yang pergi menjauh itu masih menatapnya dengan tatapan yang sama, seolah-olah Joon Woo adalah mangsanya yang empuk.
"Kita lihat saja!. Kau pasti akan menjadi milikku!." Suara hati Gisel yang sangat menginginkan Joon Woo.