Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 5 : Kepergian Ayah



Di kelas saat itu pandangan orang-orang kembali aneh terhadap ku. Aku pun sudah terbiasa dengan tatapan itu hanya menganggap angin lalu. Dan aku berpikir semua akan baik-baik saja jika aku tak mempedulikannya.


Hingga Genk Gisel pun datang dan mulai mengeluarkan suara mereka untuk menyindir ku.


“Eh kamu tahu gak?. Kalau Oppa kita akan segera menikah?.” Ucap ketua genk dari kelompok mahasiswi itu.


“Oh ya benar kah?. Kapan itu?.” Tanya anggota genk lainnya.


“Aku dengar setelah acara wisuda Oppa, Oppa akan melamar Jane secepatnya.” Ucap Gisel dengan keras agar aku mendengarnya.


“Yah, walaupun aku pernah menyukai Oppa, tapi aku sekarang mendukung mereka seratus persen.” Ucap Gisel yang masih dengan nada tinggi agar aku mendengarnya.


Aku pun  hanya duduk terdiam mendengar ocehan mereka, aku tetap berusaha berpura-pura tak mendengarnya. Hingga jam kuliah usai pun aku berusaha keluar secepat kilat agar dapat menghindari mereka.


Tapi sayang mereka tahu gelagat ku yang mencoba menghindari mereka, dan akhirnya aku terjebak oleh genk mereka di pintu luar kelas.


“Hei!. Mau ke mana?.” Hadang salah seorang mahasiswi yang ada di Genk Gisel.


“Kamu dengar kan apa yang kami ucapkan tadi?.” Ucap mahasiswi itu di hadapan ku.


“Dengar, trus kenapa memangnya?.” Tanya ku menantang mahasiswi itu.


“Apa kamu tahu kalau peluang sudah nol persen?. Jadi gak usah mengharap Oppa lagi!.” Ucapan mahasiswi itu yang seolah ingin aku menyerah akan Kak Joon.


“Mau dia menikah atau tidak?. Itu sudah bukan urusan ku!.” Ucap ku tegas.


“Eh ini anak!. Malah nyolot ya!.” Mahasiswi itu mulai menarik baju ku dengan kasar.


Hingga seorang mahasiswi menghentikan perdebatan kami, ternyata mahasiswi itu adalah Jane yang kebetulan lewat di lorong jurusan kami.


“Hei, ada apa ini?.” Teriaknya yang langsung menghentikan aksi genk Gisel.


“Hei Jane!.” Sapa Gisel yang seperti memiliki keakraban dengan Jane.


Siapa yang tidak kenal Jane, seorang mahasiswi transfer baru dari jurusan sastra Indonesia yang kecantikannya sangat populer di kampus.


“Aku melihat tindakan pembullyan di sini. Apa aku tidak salah lihat?.” Tanya Jane dengan tatapan nyalangnya ke arah Gisel dan kawanannya.


“Jane, kami hanya sedikit memberikan pelajaran kepada perempuan tidak malu ini yang selalu berusaha mendekati Oppa. Maksud kami kekasih mu, Jane.” Ucap Mahasiswi yang tadi menarik baju ku.


Aku tidak memiliki banyak teman di kampus, sehingga aku banyak tidak mengetahui nama mereka satu per satu. Kecuali teman sebangku dan mantan teman satu SMA ku, karena aku merupakan sosok yang tertutup dan tidak mudah berteman.


Namun Jane berbeda, dengan mudahnya ia mendapatkan teman, hampir semua anak di fakultas kami mengenalnya. Ia memang terlihat sangat ramah, tapi entah mengapa bagi ku tindakannya yang seperti ini di artikan seperti sebuah rasa kasihan oleh ku.


Aku sungguh tak menginginkan perlakuannya yang seolah membela ku.


“Cukup!.” Teriak ku hingga membuat semua orang menatap ku dengan heran.


“Maaf Jane, tolong jangan campuri urusan ku. Dan aku tidak mengenal mu, aku tidak memerlukan belas kasihan mu!.” Ucap ku tegas kepada Jane saat itu, iapun tak dapat berkata-kata mendengar kata-kata penolakan dari ku.


Aku pun pergi dari hadapan orang-orang yang membully ku, lalu aku berhenti di hadapan Jane.


“Selamat atas pernikahan mu!. Sampaikan pada Kak Joon karena mungkin aku tidak akan sempat mengatakannya.” Setelah mengucapkan kata-kata itu aku pun pergi meninggalkan Jane yang masih terdiam menatap ku.


Hati ku merasa sedikit lega karena telah mengucapkannya dengan lantang. Aku harus berusaha menahan air mata ku jangan sampai terjatuh saat itu.


“Ya Tuhan, ini sungguh berat untuk ku. Cepatlah lupakan dia!.” Batin ku yang masih berusaha untuk melupakan semuanya dan mencoba mengikhlaskan.


***


Di rumah, Ayah sedang mengemas beberapa pakaiannya untuk pergi ke Jerman seminggu lagi. Ya, Ayah ku harus ke Jerman lebih dulu di banding diri ku, karena masih ada skripsi yang harus aku selesaikan sebelum menyusul Ayah ke Jerman.


Aku pun membantu merapihkan beberapa perlengkapan Ayah untuk di bawa ke Jerman.


“Ayah sudah meminta tolong Bi Shanti untuk menemani mu di sini. Kebetulan anaknya sedang pergi ke luar kota untuk bekerja jadi dia sendirian di kota ini. Dan Ayah menawarkan pekerjaan untuknya, dan ia pun menyetujuinya.” Ucap Ayah yang masih saja mencemaskan ku di detik-detik terakhir dirinya yang akan pergi jauh.


“Sebenarnya itu tidak perlu Ayah, aku sudah cukup dewasa untuk tinggal sendiri.” Ucap ku yang tak ingin Ayah mencemaskan ku.


“Sudah terima lah niat baik Ayah, sayang!. Ayah hanya tidak ingin kamu kesepian!.” Ucap Ayah yang seketika membuat ku terdiam. Entah kenapa hati ini tiba-tiba terasa hampa mendengar kata kesepian dari Ayah.


“Ayah sudah tahu semuanya. Joon akan menikah, bukan?.” Ucap Ayah sambil menatap punggung ku.


Ia tahu bahwa aku selama ini merasakan kesepian. Apa ia tahu selama ini Kak Joon bukan lah Kak Joon yang dulu?.


“Ayah sudah tahu bahwa hubungan mu dan Joon Woo tak seperti dulu. Ayah menyadarinya sejak Bunda mu meninggal. Ayah tak pernah mendengar kamu membicarakan Joon lagi seperti dulu.” Ucap Ayah yang seketika membuat air mata ku menetes.


“Menangis lah sayang kalau itu terasa berat untuk mu.” Ucap Ayah yang langsung membuat tangisku pecah saat itu.


Ternyata Ayah menyadarinya, setelah sekian lama aku tutupi ternyata Ayah tahu.


“Lupakan dia sayang!. Ayah yakin di luar sana pasti ada lelaki yang akan menyayangi mu sepenuh hati.” Pelukan Ayah yang hangat membuat ku sesaat melupakan perasaan ku terhadap Kak Joon.


***


Hari itu hari di mana Kak Joon wisuda, hari yang biasanya aku selalu tunggu dengan segenap hati. Di mana aku selalu memantapkan hati untuk menyatakan perasaan ku pada Kak Joon. Namun untuk kali ini aku memilih berdiam diri di rumah dan tak berniat sedikit pun untuk keluar rumah.


Hari itu aku menghabiskan waktu dengan mendengarkan lagu dan sedikit melakukan hobi lama ku yaitu mendesign bangunan.


Aku selalu memimpikan membuat sebuah rumah cantik yang akan aku tinggali dengan Kak Joon. Impian ku adalah sebuah rumah Cinderella seperti yang ada negeri dongeng. Namun sepertinya impian ku sia-sia, tapi aku memilih untuk tetap men-designnya karena itu impian ku sejak kecil sebelum bertemu dengan Kak Joon. Ya, aku memutuskan untuk menempuh pendidikan arsitektur di Jerman. Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil mendapat beasiswa penuh, karena design ku sebelumnya lulus kualifikasi. Dengan ini aku memutuskan untuk fokus menata masa depan ku tanpa bayang-bayang Kak Joon.


Aku mengguratkan pensil ku dan mulai fokus membuat sketsa ku di kamar. Saat itu secara tidak sengaja aku melihat Kak Joon yang pulang dari acara wisuda dari jendela kamar ku.


Aku melihat Kak Joon bersama dengan Ayahnya dan juga Jane keluar dari dalam mobil. Dan secara tidak sengaja mata ku beradu dengan Kak Joon yang juga tak sengaja menatap ku di Jendela. Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku dari nya.


“Apa ini?. Rasanya aku seperti maling yang tertangkap basah karena telah mencuri barang.” Batin ku yang merasa bodoh karena ketahuan.


Aku tahu aku sudah tak boleh mengharapkannya lagi, dan aku tahu ia akan segera menjadi milik orang lain.


“Ikhlaskan, Raya!. Kamu bisa!.” Dan aku pun menutup jendela kamar ku agar pemandangan di luar tidak terlihat.


Biarlah Kak Joon menganggap ku tidak ada mulai detik ini. Aku harus menjadi diri ku yang berbeda, diri ku yang tidak lagi menangisi pria seperti orang gila. Dan diri ku yang selalu kuat walau apapun yang terjadi.


***


Akhirnya hari di mana Ayah pergi meninggalkan ku telah datang, hari itu aku mengantar Ayahku ke bandara. Aku tak ingin melibatkan orang lain untuk hal ini, karena bagi ku di dunia ini hanya Ayah yang terpenting untukku. Aku tidak peduli dengan yang lain, dapat berdua saja dengan Ayah di dunia ini tidak mengapa asalkan itu dengan Ayah.


“Raya!. Baik-baiklah di sini sayang!.” Pesan Ayah kepada ku saat di bandara.


“Ayah, aku akan secepatnya menyelesaikan urusan di Jakarta, lalu setelah itu menyusul mu ke Jerman.” Ucap ku pada Ayah.


“Kamu tidak perlu terburu-buru, Ayah tahu.” Jawab Ayah sambil mengelus pucuk kepala ku.


“Raya, ingat jaga kesehatan!. Makan dengan teratur!. Dan kalau kesepian hubungi Ayah. Ayah 24 jam standby selalu untuk mu, Sayang.” Nasehat Ayah yang diberikan kepada ku sebelum kepergiannya.


“Aku mengerti, Ayah.” Jawab ku sambil memeluk Ayah sebelum melepas kepergiannya.


“Sudah, Ayah harus segera pergi.” Ayah yang melepas pelukan ku lalu segera pergi menuju arah gate.


“Air mata ku ikut turun seiring diri ku yang melepas kepergian Ayah saat itu. Aku berpikir, Apa aku sanggup menjalani semua ini tanpa Ayah?.


“Kamu harus bisa, Raya!.”Batin ku yang menyemangati diri ku sendiri.


***


Sesampainya di rumah Bibi Shinta sudah berada di rumah ku dan sedang melakukan tugasnya bersih-bersih rumah.


“Neng Raya, apa kabar?.” Sapa Bi Shanti kepada ku yang dilihatnya baru saja tiba di rumah.


“Eh Bi Shanti udah lama?.” Jawab ku.


“Baru juga, Neng. Udah lama ya Bibi gak ke rumah ini, kurang lebih sudah delapan tahun. Kan waktu itu Neng masih cilik, masih suka nangis kalo si Joon belum datang.” Ucap Bi Shanti yang seketika membuat ku teringat kembali dengan Kak Joon yang dulu masih sangat dekat dengan ku.


“Si Joon itu masih tinggal di rumah sebelah kan Neng?.” Tanya Bi Shanti.


“Ohh masih Bi.” Aku pun menjawab seadanya dan tanpa ekspresi, yang sebenarnya aku enggan untuk menjawabnya.


“Bi, saya ke kamar dulu ya!. Capek habis nyetir.” Ucap ku untuk mengalihkan perhatian.


Dan aku pun langsung pergi secepat kilat menghindari Bi Shanti yang sepertinya masih ingin melontarkan pertanyaan lebih dalam soal Kak Joon.


Aku menutup pintu kamar ku dengan sedikit kasar, rasanya lelah fisik tak seberapa dengan lelahnya hati ini melupakan orang yang sudah sepuluh tahun bersemayam terlalu dalam di lubuk hati. Hati ku mulai kembali gusar karena pertanyaan yang dilontarkan Bi Shanti kepada ku.


Sepintas aku teringat kembali kenangan di mana Kak Joon selalu hadir dalam hari-hari ku saat ku kecil. Saat itu Kak Joon selalu memperlihatkan senyumnya yang sangat tulus kepada ku, hingga aku pun merasakan limpahan kasih sayang yang diberikan Kak Joon pada ku saat itu.


Ia selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi ku sepulang sekolah. Kami bermain tangkap bola kesukaan ku, dan ia juga kerap kali membantu menyelesaikan PR ku. Bahkan kami sering tertangkap tertidur di ruang tamu karena kelelahan mengerjakan tugas.


Bahkan saat aku baru memasuki SMP, Kak Joon sering mengantar ku hingga ke gerbang sekolah menggunakan sepeda miliknya. Aku rindu Kak Joon yang memperlakukan ku seperti itu, dan apa ini?. Air mata ku mulai menetes tak terbendung. Dada ku sesak, aku tak kuasa menahan tangis, dan di balik pintu aku mulai menangisi kembali kenangan ku bersama Kak Joon.


“Pliss Tuhan, bantu aku lupakan dia!.” Batin ku yang memohon untuk melupakannya.