
“Kring!. Kring!.” Suara sepeda tua memenuhi pagi hari di sebuah sudut kota di negeri Jerman.
Aku sore itu mengelilingi sudut kota dengan menggunakan sepeda tua milik Bunda. Aku sengaja membawanya dari Indonesia untuk menemani hari-hari ku di sini. Sudah lama rasanya aku tak selega ini, setelah satu bulan lamanya aku berkutat dengan design akhirnya aku diperbolehkan cuti selama satu minggu oleh perusahaan.
Dan waktu satu minggu aku gunakan untuk mengambil beberapa foto menggunakan kamera lama milik Ayah. Semenjak sekolah design, aku menggeluti hobi baru yaitu fotografi dan beberapa tahun ini aku aktif menampilkan semua karya ku di sosial media. Dan akun sosial media ku itu sudah banyak mendapatkan followers, dan sempat mendapat beberapa tawaran pekerjaan karenanya. Namun aku ingin fokus ke dunia arsitektur untuk melanjutkan usaha Ayah.
Ayah mulai merintis usaha baru dalam dunia arsitektur. Ia memulainya sudah 5 tahun belakangan ini. Dan kini ia telah memiliki 20 karyawan, walau usaha kecil namun sudah sedikit mendapatkan keuntungan dan lumayan untuk menghidupi hari-harinya sebagai seorang pensiunan. Mungkin bisa dibilang usaha itu sudah bisa membeli beberapa property yang ada di negara ini.
Dan aku bertekad untuk membantu Ayah dalam merintis bisnisnya, dengan bekerja sebagai arsitek di perusahaan milik Mr. Jo kawan lama Ayah. Dan aku yang masih merupakan pendatang baru di dunia tersebut, aku berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan agar karir ku semakin sukses ke depannya.
“Ckitt!!.” Suara rem sepeda ku yang mendadak berhenti karena diterjang mobil.
Di depan ku sudah ada mobil sport mewah berwarna silver yang aku sangat kenal. Dan benar saja dugaan ku, Darren keluar dari mobil itu bersama seorang wanita yang mengenakan pakaian seksi.
“Hei!. Ke mana mata mu!.” (bahasa jerman) Teriak ku pada Darren yang terlihat merasa tak bersalah.
“Tenang Sayang!. Ini bukan jalan milik mu!.” (bahasa jerman) Balas Darren yang tak tahu malu itu.
Aku pun yang melihatnya langsung ingin membalasnya dua kali lipat. Lalu aku memarkirkan sepeda ku kemudian menghampirinya.
“Darren sayang!. Apa yang kamu lakukan di sini?. Kamu harus ingat pesta pertunangan kita sudah semakin dekat!. Apa yang kamu lakukan bersama wanita ini?.” (bahasa jerman) Ucap ku yang langsung membuat Darren terperangah, ia tahu hal ini dapat membuat pasangan barunya itu marah.
“Sayang!. Siapa dia?.” (bahasa jerman) Ucap wanita itu yang terkejut dengan perkataan ku.
“Tidak sayang!. Aku tidak mengenalnya!.” (bahasa jerman) Ucap Darren yang kemudian langsung membawa masuk pacar barunya itu ke dalam mobil.
Darren salah tingkah atas sikap ku, ia takut kehilangan mangsa barunya karena ulah ku saat itu.
“Dasar brengs**!. Awas kau nanti!.” Ucap ku merutukinya.
Begitulah keseharian ku yang selalu menangkap basah kelakuan Darren, bahkan kerap kali aku memergokinya di kantor tengah berciuman dengan sekretarisnya. Mungkin Ayah ku tidak pernah tahu sifat asli Darren, namun berbeda dengan Mr. Jo Ayah Darren, ia sangat tahu kelakuan anaknya itu yang sering mengganti sekretarisnya hanya karena bosan.
Oleh karena itu Mr. Jo ragu untuk menjodohkan anaknya dengan diri ku. Namun beda hal dengan Ayah yang sama sekali tidak mengetahui sifat Darren.
“Ayah, apa yang kau lakukan jika tahu sifatnya itu?.” Aku yang menggelengkan kepala melihat kelakuan Darren di jalan. Dan tak lama aku pun pergi meneruskan pencarian objek untuk karya ku.
Dan sampailah aku pada sebuah bangunan rumah klasik di sudut kota, rumah ini tampak sangat unik sedikit mirip dengan rumah cinderella yang aku inginkan.
Aku pun mengambil beberapa foto rumah tersebut dari depan, karena rumah tersebut masih berpenghuni sehingga aku hanya bisa meminta izin security rumah tersebut untuk mengambil foto tampak depannya saja. Dan setelah mengambil beberapa gambar, aku kembali mengayuh sepeda ku ke tempat lainnya.
Tak berapa lama terdengar suara ponsel ku berdering dengan kencangnya, karena aku yang men-setting suara notifikasi dengan volume tinggi agar terdengar telinga ku. Aku pun menghentikan sepeda ku lalu mengangkat panggilan dari ponsel ku yang ternyata datangnya dari Ayah ku.
“Halo, Ayah!.” Jawab ku.
“Raya, Mr. Jo dan keluarganya tiba-tiba saja akan mengunjungi rumah kita. Bisa kamu segera pulang, sayang?.” Pinta Ayah ku.
“Baiklah Ayah, sebentar lagi aku akan segera pulang.” Jawab ku.
“Baiklah, hati-hati dalam perjalanan pulang!.” Ucap Ayah dan langsung memutuskan panggilannya.
Dan aku pun menghentikan kegiatan ku lalu bergegas menuju rumah ku.
***
Malam itu aku dan Ayah menyiapkan makan malam istimewa untuk menyambut keluarga Darren yaitu Sup Iga asam manis dan Steak Salmon buatan Ayah yang selalu menjadi menu favorit kami.
“Kak Laras!. Apa kabar mu, Kak?.” (bahasa inggris) Sapa Cheryl kepada ku.
“Halo, Cheryl!. Kabar ku baik. Bagaimana dengan mu?.” (bahasa inggris) Sapa ku kembali.
“Ya, begini lah aku.” (bahasa inggris) Jawab Cheryl.
“Ayo masuk!. Om!. Tante!.” (bahasa inggris) Aku yang mempersilahkan keluarga Achilles untuk masuk ke rumah kami.
Rumah kami yang baru kami tempati beberapa bulan ini, untuk itulah keluarga Achilles datang ke kediaman Aku dan Ayah. Setelah 8 tahun tinggal di Jerman akhirnya Ayah berhasil membeli tanah dan membangun rumah di sini.
Keluarga Achilles malam itu membawakan satu set peralatan makan sebagai hadiah untuk menyambut rumah baru kami. Dan hadiah itu khusus dipilih oleh Cheryl sendiri, karena ia tahu warna kesukaan ku yaitu warna hitam.
“Kenapa harus warna hitam, sayang?.” (bahasa inggris) Tanya Mr. Jo kepada ku.
“Tidak tahu, hanya sejak dulu aku sangat menyukainya Om.” (bahasa inggris) Jawab ku.
“Di mana Darren?.” (bahasa inggris) Tanya Ayah ku pada Mr. Jo.
“Entahlah!. Aku sudah memberitahukan acara ini kepadanya. Sepertinya ia sedikit terlambat.” (bahasa inggris) Ucap Mrs. Clarissa, istri Mr. Jo.
Namun tak berapa lama terdengar suara mobil berhenti di parkiran rumah kami. Dan aku tahu mobil siapa itu.
“Halo semua!.” (bahasa inggris) Sapa Darren yang sudah berganti baju dari sore tadi saat terakhir aku bertemu dengannya. Tampaknya ia baru saja menghabiskan waktu dengan wanita itu.
“Ada apa denganmu Cheryl?. Ada apa dengan wajah mu?.” (bahasa inggris) Tanya Darren yang melihat Cheryl menatapnya dengan malas.
“Kau selalu saja merusak suasana, Kak!.” (bahasa inggris) Ucap Cheryl yang memang tidak suka dengan kelakuan kakaknya itu.
“Kak Laras, jika Daddy mencoba menjodohkan kalian berdua lagi, kau harus langsung menolaknya!. Aku tak akan pernah setuju Kakak menjadi pasangannya!. Kau terlalu baik untuknya!.” (bahasa inggris) Ucap Cheryl sambil berbisik ke telinga ku dan aku pun hanya membalasnya dengan senyuman.
Malam itu kami menghabiskan malam dengan saling bercerita tentang masa lalu kami, masa-masa di mana Ayah ku masih teman satu kuliah di Jerman dengan Mr. Jo. Dan masa-masa di mana pertemuan pertama antara aku dan Darren di rumah sakit. Saat itu aku bersama ke dua orang tua ku mengunjungi sebuah rumah sakit di Jerman, saat itu Mrs. Clarissa baru saja melahirkan Darren. Dan saat itu aku baru berusia dua tahun.
Foto kami terlihat sangat menggemaskan, aku yang masih kecil terlihat menangis saat menatap wajah Darren yang masih bayi. Kata Ayah dan Mr. Jo saat itu aku tidak suka berada di dekat Darren dan selang dua tahun kemudian aku dan orang tua ku pindah ke Jakarta karena Ayah memutuskan untuk menetap di Jakarta kota kelahiran Bunda.
Malam itu aku dan Cheryl menonton serial Korea bersama, aku dan Cheryl menonton serial favorit kami yang dibintangi aktor tampan Korea yaitu So Joong Ki. Cheryl tak henti-hentinya mengagumi paras tampan So Joong Ki di drama yang kami tonton.
“Andai saja aku bisa melihatnya secara langsung. Pasti aku bisa pingsan di hadapannya.” (bahasa inggris) Ucap Cheryl sambil membayangkan wajah So Joong Ki.
“Mungkin saja kamu bisa bertemu dengannya jika tinggal di sana.” (bahasa inggris) Ucap ku pada Cheryl.
“Andai aku punya pacar seperti ini, pasti aku sangat bahagia. Romantis banget!.” (bahasa inggris) Ucap Cheryl lagi yang masih dalam kehaluannya.
“Tentu saja kamu bisa, apalagi kamu sangat cantik Cheryl.” (bahasa inggris) Puji ku padanya yang memang terlihat sangat cantik. Pria mana yang tak tergila-gila dengan parasnya.
Aku pun yang mendengar cerita halu Cheryl membuatku sepintas teringat akan Kak Joon. Aku masih ingat wajah tampannya yang selevel dengan aktor di drama Korea. Aku pun tersenyum mengingat hal itu, dan aku mulai bertanya dalam hati.
“Apa kabar Kak Joon di sana?. Apakah dia baik-baik saja?.”
Bodohnya aku yang masih memikirkannya, sudah jelas-jelas dirinya sudah menikah, pastinya dia sudah bahagia di sana.
“Apa yang ku pikirkan?.” Batin ku yang merutuki kebodohan ku sendiri.