
“Hiks!. Hiks!.” Tangisan Leon kecil yang melihat Jane pergi meninggalkannya.
Leon kecil berusaha meraih jemari Jane namun tak berhasil, akhirnya ia hanya bisa tertunduk sambil menangisi kepergiannya. Jane ketika itu pergi begitu saja dari hadapan Leon kecil dan juga Joon Woo.
Ia terlihat pergi memasuki sebuah mobil mewah meninggalkan Mansion. Disaat Leon kecil menangis meratapi kepergian Jane, Joon Woo hanya menatap kepergian Jane dengan tatapan dingin. Seakan perasaannya terhadap Jane telah mati saat itu.
Joon Woo tak melakukan apa pun untuk menenangkan Leon kecil yang menangis meraung-raung karena ditinggalkan Ibunya. Ia hanya diam membisu seolah-olah tak mempedulikan putra satu-satunya itu.
“Omma!!.” Teriak Leon kecil kesekian kalinya memanggil nama Jane yang mulai menjauh dari pandangannya.
Leon kecil menatap Joon Woo dengan tatapan nyalang seakan Joon Woo yang menyebabkan Ibunya pergi.
“Aku benci padamu!.” Teriak leon kecil kepada Joon Woo.
Kemudian Leon kecil pergi menjauh dari hadapan Joon Woo dan berlari masuk ke dalam Mansion diikuti Suster Eka.
Dan semua berubah menjadi buram dan menjadi hitam sepenuhnya.
“Tilt!.” Tilt!.” Suara jam weaker berbunyi.
Joon Woo terbangun dari mimpi buruknya yang selama ini ia alami. Ya, Joon Woo selalu dihantui rasa bersalahnya terhadap Leon, ia merasa kepergian Jane adalah karena dirinya hingga Leon membencinya hingga saat ini.
Tiba-tiba suara ponsel milik Joon Woo terdengar. Iapun meraba meja di samping tempat tidurnya dan menemukan sebuah panggilan dari sekretarisnya di layar ponselnya.
“Halo Dimas, ada apa?.” Tanya Joon Woo.
“Mr. Joon, hari ini jam 10 kita ada pertemuan dengan pihak perusahaan konstruksi untuk membicarakan design.” Ucap Dimas.
“Hhmm Mister, apa Nona Laras harus ikut kita?.” Tanya Dimas ragu-ragu.
“Ya, tentu saja dia itu kan designer nya. Bagaimana bisa kita menjelaskan kepada klien nantinya?.” Tegas Joon Woo.
“Baiklah, saya akan segera menghubungi Nona Laras.” Ucap Dimas.
“Baiklah, aku segera bersiap-siap.” Ucap Joon Woo yang kemudian langsung menutup panggilan telponnya dan segera bergegas ke kamar mandi.
Hanya dalam waktu satu jam saja Joon Woo sudah rapih dengan stelan jas berwarna abu-abu bermerk ternama dan juga rambut klimis andalannya. Ia menyemprotkan parfum mahal di seluruh tubuhnya lalu bergegas meninggalkan kamarnya dengan elegan.
Seperti biasa, Joon Woo pergi dengan diantar driver yang khusus untuknya. Iapun kemudian mulai menghubungi Dimas kembali memastikan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan.
“Dimas, Biarkan Nona Laras ikut mobil kita.” Ucap Joon Woo sambil menahan senyumnya. Sepertinya ia sudah menunggu saat-saat seperti ini.
Joon Woo pun terlihat menyunggingkan senyumnya yang selama ini hampir menghilang dari dirinya.
***
Hari itu aku harus menemani bos ku untuk mempresentasikan design ku kepada perusahaan konstruksi yang bekerja sama dengan kami. Siapa lagi kalau bukan Mr. Joon alias Kak Joon cinta pertama ku dulu, maksud ku mantan cinta pertama ku "catat!". Tekan ku saat ini, tentunya aku harus memisahkan antara pekerjaan dan masalah pribadi tidak ada yang namanya cinta di antara kami.
Dan saat ini aku dan juga Dimas sedang menunggu di lobby perusahaan untuk menanti kedatangan bos kami. Aku yang seperti mendapat sial berkali lipat karena harus berdampingan kembali dengan Kak Joon melipat wajah ku di hadapan Dimas. Dan pastinya ia sangat tahu apa alasan diri ku berwajah suram.
Pasalnya pagi-pagi sekali Dimas memberi kabar pada ku bahwa hari ini ada tugas yang mendadak untuk ku. Awalnya diri ku ragu untuk mengikuti permintaan Dimas, namun karena alasan profesionalisme aku pun menyetujui permintaannya.
Dan tak lama datanglah mobil Kak Joon di depan lobby perusahaan. Kak Joon meminta Dimas dan diri ku untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Masuk lah kalian berdua!. Kita sudah sangat terlambat!." Ucap Kak Joon.
Dan aku pun dengan inisiatif membuka pintu depan mobil untuk bersiap masuk ke dalam mobilnya. Namun dihadang oleh Dimas.
"Nona, anda duduk di sini." Dimas yang membuka pintu kursi penumpang belakang untuk ku.
"Aku?." Aku yang bingung sambil menunjuk ke arah wajahku.
"Iya, Nona." Jawab Dimas yang masih dalam posisinya membuka pintu untuk ku.
"Ya Tuhan!. Kenapa aku harus sebangku dengannya?." Aku yang merutuki nasib ku saat itu.
Aku pun dengan ragu-ragu menerima tawaran Dimas dan kemudian masuk ke tempat di mana Kak Joon berada. Dan suasana canggung pun terjadi di mana aku dan Kak Joon mulai saling menatap satu sama lain saat diri ku memasuki mobil.
"Pagi Mister!." Sapa ku canggung.
"Pagi." Jawab Kak Joon seraya memberikan senyuman kakunya pada ku.
Di dalam mobil aku tak berani menatap Kak Joon sedikit pun dan jantung ku mulai berdetak tak karuan berada di samping nya. Aku pun yang gugup mulai mengepalkan tangan ku untuk menghindari rasa gugup.
"Oh sudah." Jawab ku singkat.
"Bagaimana rasanya kembali lagi ke Indonesia?." Tanya Kak Joon kembali.
"Bahagia." Jawab ku namun penuh makna di baliknya.
Karena saat itu yang kupikirkan adalah mendiang Bunda, aku bahagia kembali ke Indonesia dan dapat mengunjungi kembali makam Bunda.
"Apa kamu punya keluarga di sini?." Tanya Joon Woo yang mulai ingin tahu kehidupan pribadi ku. Namun aku tahu bahwa ia hanya ingin mencari tahu apakah aku Raya yang ia kenal atau tidak?.
"Tidak ada." Aku yang berbohong padanya agar ia tak mengenali diri ku.
"Oh begitu kah?." Tanya Kak Joon yang menatap wajah ku karena masih tak percaya dengan jawaban ku.
Akan tetapi aku seketika memalingkan wajah ku agar Kak Joon tak lagi menatap ku. Dan apa ini?. Aku kembali dibuat gugup karenanya.
"Tahan!. Tahan!." Ucap ku pada diri sendiri sembari menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Kita sudah sampai." Ucap Dimas yang seketika membuat ku merasa lega karena akhirnya aku dapat terlepas dari siksaan.
Kami akhirnya sampai di perusahaan yang kami tuju yaitu perusahaan konstruksi yang cukup ternama di Indonesia. Dan perusahaan kami sudah beberapa kali bekerja sama dengannya.
"Welcome Mr. Joon!." Sapa seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan perawakan bule itu kepada Kak Joon.
"Apa ini arsitek mu dari Jerman?." (bahasa inggris) Tanya orang itu kepada Kak Joon.
"Perkenalkan nama ku Fred. Senang berkenalan dengan mu!." (bahasa Jerman) Sapa Mr. Fred yang ternyata berasal dari Jerman.
"Salam kenal, nama saya Laras." (bahasa Jerman) Sapa ku kembali kepada Mr. Fred.
"Aku adalah kepala project kali ini!. Aku senang akhirnya ada arsitek yang satu negara dengan ku." (bahasa Jerman) Ucap Mr. Fred pada ku.
Ya, aku memang sudah menjadi warga negara Jerman saat ini. Karena sejak lima tahun yang lalu Ayah memutuskan untuk menetap di sana.
"Aku memang tinggal di Jerman, tapi hati ku masih tinggal di sini." (bahasa Jerman) Ucap ku yang tak sadar sudah membuat seseorang tersenyum dengan makna.
"Siapa?. Pacar mu?." (bahasa Jerman)Tanya Mr. Fred yang ingin tahu, siapa hati yang di maksud oleh ku.
"Ibu ku." (bahasa Jerman) Ucap ku.
Namun entah mengapa senyum Kak Joon hilang seketika mendengar jawaban ku.
"Apa ia mengerti apa yang ku katakan?." Tanya ku dalam hati, karena aku tahu bahwa Kak Joon tidak mengerti bahasa Jerman.
Dan setelah itu aku pun mulai mempresentasikan design ku pada tim yang dipimpin oleh Mr. Fred hari itu. Dan design ku langsung lolos dengan mudah lalu kesepakatan pun terjadi diantara kami.
Tampaknya Kak Joon puas dengan hasil hari ini. Dan ia pun mengajukan sebuah ajakan makan siang untuk merayakan keberhasilan hari ini pada kami.
"Bagaimana jika keberhasilan kali ini kita rayakan dengan makan siang. Aku yang traktir!." Ucap Kak Joon.
Ingin menolak tapi rasanya aku sudah terjebak dengan situasi.
"Apa anda akan ikut, Nona Laras?. Karena saya sudah sangat lapar." Ucap Dimas yang sepertinya berhasil membuat ku tak bisa menolaknya.
"Baiklah." Jawab ku sedikit terpaksa.
"Ya Tuhan, apalagi ini?." Lagi-lagi aku harus menghadapi kenyataan yang ada di depan mata.
Dan kami pun telah sampai di sebuah restoran mewah yang ada di dekat perusahaan tempat kami meeting sebelumnya.
Kak Joon memesan sebuah ruang VIP untuk kami bertiga. Dan aku pun memilih tempat duduk yang bersebrangan dengan Kak Joon agar aku tak berdekatan dengannya.
Dan kak Joon mulai memesan beberapa menu makanan yang tentunya harganya lumayan menguras kantong. Dan aku hanya bisa mengikuti apa yang Kak Joon pesan, karena sebenarnya aku sudah tak berselera untuk makan saat ini.
Tiba-tiba saja Dimas mendapatkan sebuah panggilan darurat dari kantor dan memaksanya agar lebih dulu sampai ke kantor.
"Mr.Joon dan Nona Laras. Sepertinya saya harus kembali ke kantor lebih dulu. Maafkan saya!." Dimas yang mengucapkannya dan kemudian bergegas pergi meninggalkan kami berdua.
Aku semakin merasa terjebak dalam situasi yang membuat ku semakin tak berselera makan, karena tiba-tiba hati ini kembali menjadi gugup seperti sebelumnya.
"Bagaimana ini?. Aku harus berduaan dengan Kak Joon." Batin ku yang gugup karena berhadapan kembali dengannya.