Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 28 : Perubahan Sikap



Dua hari aku dan Kak Joon tak bersinggungan secara pribadi, kami hanya fokus pada pekerjaan kami. Untuk barang-barang yang ada di hotel, seperti janji Kak Joon barang-barang itu telah dikembalikan ke toko terkecuali baju-baju yang sebelumnya dia berikan kepada ku.


Dan Kak Joon mulai bersikap seperti biasanya terhadap ku, tak ada banyak pembicaraan diantara kita, hanya ada sebatas sapa dan pembicaraan seputar pekerjaan. Dan itu pun hanya pada saat diri ku harus menemaninya bersama klien.


Sepertinya Kak Joon berusaha menghindari ku atau mungkin bersikap seolah semua itu tak pernah terjadi? . Entahlah?. Tapi entah mengapa semua ini sedikit terasa membuat ku tak nyaman.


"Nona Laras bagaimana pendapat anda?." (bahasa korea) Panggil Klien kami yang sedang membahas masalah design saat itu.


Aku dan Kak Joon tengah berada di sebuah restoran mewah yang ada di pusat kota Busan. Kami membicarakan project perluasan sebuah hotel yang ada di sana. Dan peran ku saat itu adalah sebagai penasihat project tersebut, dan selama dua hari ini aku mulai membantu Kak Joon untuk bertemu kliennya.


"Bagaimana, Pak?." (bahasa korea) Tanya ku yang tak mendengar ucapannya.


"Bagaimana pendapat anda tentang usul saya sebelumnya?." (bahasa korea) Ucap Klien kami menjelaskan kembali.


Untung saja saat itu aku masih menyimak sebagian dari penjelasan klien kami, jadi setidaknya aku masih dapat menjawab apa yang dimaksud klien kami.


Akhirnya pertemuan pun selesai, aku dan Kak Joon bersiap-siap untuk kembali ke perusahaan.


"Apa kamu sedang tidak enak badan?." Tanya Kak Joon.


"Tidak, saya baik-baik saja." Jawab ku.


"Aku melihat mu tidak berkonsentrasi tadi." Ucap Kak Joon yang memang benar adanya.


"Maafkan saya." Ucap ku yang merasa bersalah pada Kak Joon, karena aku hampir merusak pertemuan kali ini.


"Aku harap kamu mengerti posisi mu!. Dan berusahalah untuk tidak memikirkan hal lain saat bekerja!." Pinta Kak Joon yang seperti sebuah peringatan terhadap ku.


"Baiklah, Mister. Saya mengerti." Ucap ku yang tak ingin membantahnya, karena memang semua benar adanya.


Dan kami pun sekarang sedang menunggu kendaraan kami di depan lobby restoran, saat itu aku masih terngiang akan kesalahan yang ku perbuat saat bersama klien tadi. Tiba-tiba saja sebuah motor melaju dengan kencang tepat di hadapan ku. Entah dari mana asal motor tersebut, tapi aku yang nyaris saja tertabrak motor tersebut akhirnya hampir terjatuh.


Aku sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi kepada ku, dengan posisi mendekap tubuh ku dan juga menutup mata, aku terhuyung ke arah jalan. Namun entah mengapa aku tak terjatuh, tubuh ku seperti tertarik oleh seseorang. Dan begitu diri ku membuka mata, tampak Kak Joon yang sedang memelukku dan berusaha melindungi ku dari terjangan motor itu.


"BUG!."


Hentakan kuat terdengar begitu tubuh kami sama-sama terjatuh di jalan, Kak Joon yang mencoba melindungi ku saat ini berada persis di bawah tubuh ku. Posisi kami tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, rasanya aku sangat malu untuk mengatakannya.


Begitu tersadar dengan posisi kami, kami pun kembali berdiri dan membenarkan posisi kami masing-masing.


"Ma.. maaf, Mister." Ucap ku pada Kak Joon.


"Berhati-hatilah, jangan sering melamun!. Apalagi di pinggir jalan seperti ini!." Pinta Kak Joon yang rupanya memperhatikan ku sedari tadi.


Entah perasaan senang atau hanya sekedar kagum, aku merasakan perasaan yang sudah lama menghilang dari diri ku. Aku pun tersenyum melihat sedikit perhatian yang diberikan Kak Joon pada ku. Tapi sudahlah anggap ini sebagai sebuah perhatiannya kepada anak buahnya.


"Apa yang kamu harapkan, Raya?." Batin ku yang mencoba sadar akan posisi ku.


Dan kami pun akhirnya menaiki mobil kami yang saat itu sudah sampai di depan lobby. Di dalam mobil aku menyadari bahwa jas milik Kak Joon menjadi robek di area siku tangannya karena berusaha menyelamatkan ku saat hampir tertabrak tadi. Aku pun menjadi tidak enak hati, sampai akhirnya tatapan ku terus ke arah siku jas milik Kak Joon.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?." Tanya Kak Joon yang menyadari arah tatapan ku.


"Tidak, hanya saja saya terganggu dengan itu." Jawab ku.


"Oh, ini?." Kak Joon yang memperlihatkan siku jas yang robek itu kepada ku.


"Iya, maafkan saya. Itu semua karena saya melamun."


"Tenang saja!. Aku tidak akan memotongnya dari gajih mu. Aku tidak sekejam itu." Ucap Kak Joon yang sedikit membuat ku kesal.


"Bukan begitu, Mister. Hanya saja..."


Dan aku yang melihat itu langsung memegang siku Kak Joon tanpa sadar.


"Apa yang sakit?. Ini?." Wajah panik ku yang selalu ku perlihatkan saat melihat Kak Joon terluka dulu.


"Aw!. Aw!. Aw!. Ini sangat sakit!. Sepertinya aku harus segera ke dokter!." Desis Kak Joon yang aku lihat seperti sebuah akting tapi aku berusaha mempercayainya, karena bagaimana pun juga dirinya telah berjasa terhadap ku.


"Apa ini benar sakit?." Aku yang masih dengan wajah panikku.


"Pak!. Tolong bawa kami ke rumah sakit terdekat!." (bahasa korea) Pinta ku pada supir yang membawa kami.


Dan kami akhirnya sampai di rumah sakit terbesar yang ada di kota Busan, dan aku pun memapah Kak Joon yang terlihat kesakitan menuju ruang IGD.


"Apa yang anda rasakan saat ini?. Bagian mana yang terasa sakit?." (bahasa korea) Tanya dokter laki-laki yang melayani Kak Joon.


"Ini sakit sekali dokter!. Ini juga dan ini juga!." (bahasa korea) Kak Joon yang tampak terlihat berlebihan dalam memberi informasi.


"Ini?." (bahasa korea) Dan dokter itu pun menekan area yang sakit di area siku Kak Joon.


"ArrKKH!." Kak Joon yang benar-benar tampak kesakitan.


Kak Joon yang kemudian menggenggam tangan ku dengan erat karena sakit yang tak dapat di tahan.


"Lengan anda harus di gips untuk sementara karena ada tulang yang bergeser. Dan setelah ini anda harus mengurangi kegiatan terutama yang menggunakan lengan anda." (bahasa korea) Ucap dokter lelaki itu.


"Apa termasuk aku tak boleh makan menggunakan tangan ku?." (bahasa korea) Tanya Kak Joon namun entah kenapa ada maksud lain dibalik pertanyaan itu.


"Ya, jika ada yang dapat membantu anda untuk itu. Akan menjadi lebih baik." (bahasa korea) 


Dan Kak Joon yang mendengar jawaban itu lalu menoleh ke arah ku seraya tersenyum penuh kemenangan. Entah mengapa, aku merasa penderitaan ku akan segera di mulai.


"Nyonya?. Anda harus sering membantu suami anda dalam hal apa pun." (bahasa korea) Pinta dokter itu kepada ku, namun sepertinya ia salah sangka terhadap hubungan kami berdua.


"Ti... tidak.. kami bukan... Pfft." (bahasa korea) Ucapan ku yang seketika di hentikan Kak Joon dengan menutup mulut ku dengan tangan kirinya.


"Baiklah, dok!. Terima kasih atas sarannya." (bahasa korea) Kak Joon yang tak berhenti tersenyum kepada dokter itu.


Lalu setelah dua jam pemeriksaan dan pasang gips, akhirnya Kak Joon diperbolehkan pulang.


"Raya..." Panggil Kak Joon.


"Laras, Mister!." Aku yang memasang muka masam karena panggilan Kak Joon kepada ku.


"Bisakah, malam ini kamu menemani ku?." Pinta Kak Joon.


"Maaf Mister saya banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." Tolak ku.


"Kamu tidak kasihan pada ku?. Lihat tangan ku ini?. Ini karena siapa?." Kak Joon yang tiba-tiba merajuk pada ku.


"Tidak, Mister. Itu bukan pekerjaan saya. Dan anda memiliki banyak asisten untuk itu." Tolak ku lagi.


"Aw!. Aw!. Ya sudah tidak apa-apa aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Kak Joon yang masih melihat ku dengan tatapan mengiba.


Dan aku yang melihat itu tak sanggup dengan tatapannya yang membuat ku semakin bersalah.


"Baiklah!. Saya akan menemui anda malam nanti."


Aku yang akhirnya mengalah karena rasa bersalah ku terhadap Kak Joon.


"Kalau saja anda tak menolong saya!. Sudah saya pastikan saya akan menolaknya sekuat tenaga!." Batin ku.