
Aku melihat Kak Joon yang memasang wajah tegangnya di hadapan ku aku pun mengerti, mungkin bertemu lagi dengan Jane adalah satu hal yang sangat ia benci. Sama halnya dengan diriku, di mana aku harus bertemu kembali dengan Kak Joon yang merupakan masa lalu yang sangat ingin ku lupakan.
Kak Joon membanting pintu mobil dan meminta supir segera melaju pergi dari tempat itu secepatnya.
"Braakk!. Pak!. Jalan!." (bahasa korea)
Aku yang melihat itu berusaha untuk tetap diam, dan tak ingin mencampuri urusannya. Karena mengorek masa lalu sama saja membuka luka lama.
Dan sesampainya di perusahaan, Kak Joon tetap bersikap diam tanpa tegur sapa diantara kami, sepertinya Kak Joon masih berusaha menyembunyikan lukanya. Aku pun yang mengerti dengan sikapnya itu langsung pamit dari hadapannya dan memilih kembali ke Mansion sebelum dirinya.
"Saya pamit pulang duluan, Mister!." Ucap ku pada Kak Joon sebelum ia menaiki lift.
Dan aku pun membalikkan tubuh ku untuk segera pergi dari hadapannya. Namun ketika itu Kak Joon memanggil ku tiba-tiba.
"Raya!."
Aku pun yang mendengar itu langsung memutar tubuh ku ke arahnya.
"Iya, Mister!." Tanya ku.
"Tunggulah Aku!. Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan, setelah itu mari kita pulang bersama!." Pinta Kak Joon.
"Bagaimana?." Aku yang masih tak percaya dengan apa yang ku dengar.
"Tunggulah aku!. Kita pulang bersama!." Kak Joon yang mengatakan hal itu sebelum dirinya pergi memasuki lift yang ada di hadapannya.
Dan aku pun yang masih tak percaya dengan kata-katanya barusan, memilih diam dan hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Dan setelah melihat anggukan kepala ku, Kak Joon pun akhirnya pergi menaiki lift menuju ke lantai 5 tempat ruangannya berada. Untung saja saat itu tidak ada karyawan lain di sekitar kami, mungkin saja kami sudah jadi gosip seluruh karyawan melihat dari perhatian yang diberikan Kak Joon kepada ku.
"Apa yang kamu pikirkan, Raya?. Dia hanya menawarkan bantuan karena kamu tinggal dengannya. Tidak lebih!." Pikir ku yang masih berpikiran logis saat ini.
Aku pun setelah itu memilih menunggu Kak Joon di Lounge milik perusahaan, karena perusahaan ini tak memberikan ruangan khusus untuk diri ku yang sedang dinas. Tugas ku hanya sebagai asisten khusus Kak Joon di saat bertemu klien, jadi bekerja dari hotel atau Mansion sudah cukup.
"Raya?."
"Ya?." Aku yang melihat Kak Joon sudah berada di hadapan ku dan melihat ku yang sedang menunggunya sambil melamun di Lounge.
"Apa aku lama?." Tanya Kak Joon.
"Oh tidak!." Jawab ku sambil merapihkan tas ku dan kemudian bangkit dari sofa.
"Aku lihat sepertinya kamu sudah sangat lelah."
"Tidak, aku hanya... "
Tiba-tiba saja aku kehilangan keseimbangan dan kaki ku tersandung kaki sofa. Dan tubuh ku terhuyung ke arah Kak Joon dan aku yang melihat itu berusaha untuk memutar tubuh ku dan meraih apa saja yang ada di hadapan ku untuk mencegah diri ku terjatuh ke arah Kak Joon.
"Cuupp!." Bibir ku yang tanpa permisi mencium bibir Kak Joon yang menopang tubuh ku yang terjatuh.
"Oh... My... God!!." Aku yang merutuki kebodohan ku saat itu.
Kami akhirnya berdiri dan membenarkan posisi kami, dan saat itu kami tak sadar ada puluhan mata yang tertuju ke arah kami. Yaitu mata para karyawan yang sedang berlalu lalang karena saat itu tepat dengan jam pulang kantor kami. Dan aku yang melihat diri ku telah tertangkap basah oleh karyawan lain, berusaha untuk menutupi wajah ku dan segera berjalan menjauhi Kak Joon menuju arah parkiran.
"Raya!. Tunggu aku!." Panggil Kak Joon yang berusaha menyusul ku yang telah menjauh.
"Pliss!. Kak Joon jangan susul aku!. Aku sudah terlalu malu!." Gumam ku sambil menjauh dari Kak Joon.
"Raya, kenapa kamu pergi?." Tanya Kak Joon setelah sampai di parkiran dan berhasil menyusul ku.
"Mister, apa anda tidak malu dengan apa yang terjadi?." Tanya ku tanpa berani menatap Kak Joon secara langsung.
"Raya, itu hanya kecelakaan. Kenapa kamu harus malu?."
"Tapi karyawan anda telah melihatnya!." Ucap ku yang masih berusaha menghindari tatapan Kak Joon.
"Raya!. Tatap aku!." Kak Joon yang membuat ku menatap dirinya saat ini.
"Apa aku begitu menjijikkan?." Tanya Kak Joon seraya menatap lekat manik mata ku.
"Apa yang anda bicarakan, Mister?." Tanya ku yang tak habis pikir dengan pertanyaan yang dilayangkan Kak Joon kepada ku.
"Mister?. Apa yang terjadi?." Aku yang ingin marah saat itu, namun begitu melihat Kak Joon yang ingin menangis menghentikan aksi ku dan seketika merasa iba dengannya. Entah bagaimana aku tak bisa berpura-pura tak peduli terhadapnya.
"Aku bodoh!. Hingga kamu membenci ku seperti ini, Raya. Tolong jangan benci aku!." Ucap Kak Joon yang sudah tak dapat menahan air matanya, seketika air mata mengalir dari pelupuk matanya. Dan aku yang melihat itu langsung memeluknya seraya menepuk pundaknya yang terlihat rapuh itu.
Mungkin saat ini adalah saat-saat yang sensitif bagi Kak Joon, karena beberapa saat yang lalu ia harus bertemu dengan mantan istrinya dan ditambah dengan aku yang mengabaikan dirinya. Tapi sebenarnya aku baru tahu sisi Kak Joon yang seperti ini, entah sejak kapan dirinya menjadi begitu sensitif.
"Maafkan aku!." Maaf tulus yang kuberikan pada Kak Joon agar membuat dirinya tenang.
"Raya, maafkan aku!." Maaf Kak Joon yang keluar seiring dengan isak tangis.
"Aku tak pernah membenci mu Kak Joon!. Hanya saja..."
"Hanya apa?." Tanya Kak Joon yang melepaskan pelukan ku dan kemudian menatap lekat manik mata ku seakan ingin segera mendapatkan jawabannya.
"Hanya saja aku tak ingin kembali ke masa lalu. Maaf." Seketika kata-kata itu terucap dengan mudahnya.
"Masa lalu?. Apa aku hanyalah masa lalu bagi mu, Raya?." Tanya Kak Joon.
"HHmm.. maafkan aku." Jawaban ku yang saat itu membuat Kak Joon terdiam.
"Raya, mengapa kamu tiba-tiba pergi?. Apa karena aku?." Tanya Kak Joon yang seketika membuat mata ku berkaca-kaca.
Aku pun menundukkan wajah ku, rasanya tak ingin menjawab pertanyaannya. Tapi mau sampai kapan aku menghindarinya?. Inilah saatnya aku mengakui semuanya, agar segera terlepas dari beban yang selama ini ku pikul.
"Benar." Jawab ku.
"Raya, kau tak pernah tahu tersiksanya aku saat itu?."
"Tersiksa?. Apa aku tak salah dengar?. Saat itu anda sudah bahagia bersamanya?. Mengapa anda begitu tersiksa?. Apa aku tak salah dengar?." Tanya ku dengan suara yang parau.
"Raya, itu bukan keinginan ku. Menikah dengan Jane semua di luar kemauan ku. Saat kamu datang ke pesta ku saat itu, rasanya aku ingin melarikan diri dan membawa mu pergi bersama ku, tapi itu semua sudah terlambat karena aku tak punya pilihan."
"Sudahlah!. Itu semua sudah terjadi. Dan semua hanyalah masa lalu bagi ku. Yang perlu kita lakukan saat ini, hanyalah menjalani hidup kita masing-masing." Ucap ku yang ingin segera menghentikan pembicaraan ini.
"Raya!. Ku mohon dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu. Maukah?." Mohon Kak Joon pada ku.
Aku pun memberikan Kak Joon kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman kami 8 tahun lalu. Dan aku yang mendengar itu akhirnya tahu, bahwa selama ini dirinya hanya dijodohkan dengan Jane. Dan iapun menjelaskan bahwa Leon adalah sebuah berkah yang datang karena sebuah kesalahan.
Di malam saat Kak Joon mabuk karena kehilangan diri ku, Jane datang menawarkan tubuhnya. Dan saat itu tanpa sadar mereka melakukannya, dan bodohnya Kak Joon saat itu menganggap diri ku yang telah ditidurinya.
Aku yang mendengar hal itu, merasa kecewa dengan Kak Joon, namun aku tak bisa menyalahkan kehadiran Leon. Karena anak merupakan sebuah berkat yang harus kita syukuri.
"Raya. Aku mencintai mu." Entah hati ku bahagia ataukah sedih yang kurasakan saat ini?. Karena setelah sekian lama akhirnya aku dapat mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Kak Joon lelaki yang kucintai selama lebih dari 10 tahun.
"Mister... lebih baik kita pulang!. Ini sudah terlalu malam." Aku yang tak dapat membalas perasaan Kak Joon saat itu, karena jujur saja aku belum siap untuk semua ini, aku butuh waktu untuk menata hati ku kembali. 8 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melupakan seseorang, dan disaat aku yang sudah hampir melupakannya, tiba-tiba saja orang itu datang menawarkan cintanya. Tampak seperti sebuah lelucon bagi ku, karena aku merasa telah dipermainkan oleh waktu.
"Maaf, aku tak bisa berpikir saat ini. Bisakah kita pulang saja!." Pintaku pada Kak Joon.
Dan Kak Joon pun mengerti dengan keputusan ku saat ini, lalu mengantarkan ku pulang ke Mansion.
Sesampainya di Mansion, Kak Joon kembali menarik tangan ku dan berharap sebuah jawaban dari ku.
"Raya, aku tahu ini semua sangatlah tiba-tiba. Tapi itulah yang sebenarnya, maafkan aku yang telah membuat mu tersiksa akan sikap ku dulu."
"Mister..."
"Apa kamu tak pernah bisa menganggap ku Kak Joon seperti dulu?."
"Kak, aku butuh waktu untuk berpikir. Ku mohon tinggalkan aku sendiri!." Ucap ku yang tak ingin membuatnya salah paham sekali lagi dengan ku.
Memang aku tak pernah membencinya, namun bukan berarti aku dapat menerima cinta Kak Joon dengan secepat itu. Walaupun sebenarnya sampai detik ini aku tak pernah melupakannya, bahkan aku menutup diri dari semua lelaki yang ada karena perasaan ku ini.
"Baiklah!. Aku tidak pernah memaksa mu untuk menerima ku. Aku hanya ingin kamu kembali menganggap ku seperti Kak Joon yang dulu." Pinta Kak Joon dengan nada lirih.
Setelah itu Kak Joon pergi meninggalkan ku di depan kamar dengan perasaan kecewa. Mungkin saja hatinya sakit karena penolakan ku, tapi mau bagaimana lagi hati ini tak dapat dipaksakan.
"Maaf Kak. Aku belum bisa." Batinku yang melihat kepergiannya.