
"Dar.. Darren?." Aku membuka mata dan melihat Darren sudah berada di hadapan ku, di ruang IGD di mana aku di rawat saat ini.
"Sstt!. Berbaringlah!." (bahasa inggris) Pinta Darren yang melihat ku berusaha untuk bangkit dari posisi ku.
"Tidak!. Aku sudah cukup tidur. Badan ku akan sulit untuk dibangunkan bila tidur kembali." (bahasa inggris) Ucap ku yang merasa tubuh ini harus digerakkan.
"Baiklah!." (bahasa inggris) Ucap Darren menanggapi ku.
"Di mana Kak Joon?. Hhmm.. maksud ku Mr. Joon." (bahasa inggris) Ucap ku yang tak ingin Darren sampai tahu hubungan ku dengan Kak Joon.
"Kak Joon?." Tanya Darren yang terkejut dengan panggilan Kak Joon dari ku.
"Ehh.." Aku mulai bingung harus berkata apa padanya.
"Sepertinya ada yang harus kamu jelaskan pada ku Laras!." (bahasa inggris) Darren yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan dari ku.
"Kamu salah paham!." (bahasa inggris) Ucap ku yang mencoba menjelaskan.
"Aku sudah tahu ada hubungan spesial antara diri mu dan Mr. Joon. Aku melihat tatapan yang tak biasa darinya di saat melihat mu dan kamu tak perlu membohongi ku Laras. Jujur saja, ada hubungan apa antara diri mu dan dia?." (bahasa inggris) Tanya Darren seraya menatap tajam diri ku seolah-olah aku adalah seorang tersangka sebuah kejahatan.
"Ehem!!." Tiba-tiba saja Dokter Fadil datang menginterupsi kami.
"Dokter!." Ucap ku yang terkejut dengan kedatangannya.
"Maaf mengganggu kalian, karena Nona Laras telah siuman maka saya harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Ucap Dokter Fadil seraya mengeluarkan stetoskopnya.
"Apa anda Dokter yang memeriksa Laras?. Perkenalkan saya Darren. Sa.. "
"Saya Dokter Fadil, pasti anda teman Nona Laras bukan?." Dokter Fadil yang seakan tak ingin mendengar lebih lanjut perkenalan dari Darren.
"Oh ya benar. Senang berkenalan dengan anda." Darren yang mengulurkan tangannya untuk menyambut Dokter Fadil.
Tapi yang terjadi Dokter Fadil membuang wajahnya dan lanjut memeriksa diri ku, seakan ia tak memerlukan salam perkenalan dari Darren.
"Nona Laras, mulai saat ini anda harus benar-benar menghindari makanan laut. Bila kejadian ini terulang lagi saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada mu di kemudian hari." Ucap Dokter Fadil memperingatkan ku.
"Tenang saja, Dok. Saya akan selalu menjaga Laras dengan sepenuh hati!. Karena sa.. "
"Baguslah!. Bila ada teman seperti anda yang dapat menjaga Nona Laras dengan baik dengan ini saya tidak perlu khawatir lagi." Dokter Fadil yang lagi-lagi menyela perkataan Darren, membuat diri ku yang melihatnya di buat sedikit tertawa. Pasalnya baru kali aku melihat lawan yang seimbang untuk Darren.
"Tuang Dar... siapa nama anda tadi?." Dokter Fadil yang sedikit lupa nama Darren.
"Darren Dok." Ucap ku.
"Oh Tuan Darren, tolong tebus obat ini dan setelah ini Nona Laras sudah bisa pulang." Pinta Dokter Fadil seraya memberikan secarik kertas yang tertulis resep obat yang harus ditebus.
"Oh ya!. Apa Nona Laras bertemu Mr. Joon?." Tanya Dokter Fadil yang mencari keberadaan Kak Joon.
"Tidak ada Dok!." Jawab ku yang memang tak melihat Kak Joon dari awal aku tersadar.
"Apa kamu melihatnya Dar?." (bahasa inggris) Tanya ku pada Darren.
"Tidak." (bahasa inggris) Jawab Darren.
"Aneh!. Jelas-jelas tadi saya melihatnya tergesa-gesa menemui mu." Ucap Dokter Fadil.
"Baiklah!. Kalau begitu saya permisi dulu!. Dan Nona Laras jangan lupa janji anda!. Karena saya tidak ingin bertemu anda kembali di sini sebagai pasien!." Pinta Dokter Fadil lalu pergi meninggalkan diri ku dan Darren di ruang IGD itu.
"Apa dirinya ada masalah dengan ku?." (bahasa inggris) Ucap Darren begitu melihat kepergian Dokter Fadil.
Aku yang mengerutkan kening ku seraya mengangkat ke dua tangan sebagai jawaban dari pertanyaan Darren.
Dan aku pun sedikit berpikir ke mana perginya Kak Joon?. Sebelumnya ia sangat memperhatikan dan mempedulikan ku seakan ia takut kehilangan ku saat itu, tapi saat ini ia tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
"Ke mana Kak Joon pergi?." Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benak ku, seakan aku kini mulai bergantung dengan keberadaannya.
***
Tiga hari berlalu aku pun sudah mulai masuk kerja, walau raga ini belum sembuh total namun dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk aku harus kembali bekerja lebih awal dari jadwal istirahat yang ditentukan rumah sakit yaitu satu minggu.
Darren sudah mengingatkan ku untuk yang kesekian kalinya untuk beristirahat lebih lama, tapi alhasil karena pendirian ku aku pun sudah berada di ruangan ku saat ini dengan setumpuk pekerjaan yang semuanya dead line di minggu ini.
"Laras!." Panggil Septi.
"Ya." Jawab ku tanpa berhenti menatap layar komputer saat ini.
"Ada apa Septi..!." Jawab ku yang akhirnya berhenti dari kegiatan ku untuk memenuhi panggilannya.
"Kamu dipanggil Mr. Darren ke ruangannya." Ucap Septi yang menyuruh ku untuk menemui Darren.
"Hah?. Darren?. Maksud ku Mr. Darren."
"Jieee...!. Ketahuan ya kamu..!." Septi yang terus saja menggoda ku dengan tatapannya.
"Sudah!. Aku harus ke sana segera!." Aku pun yang sudah tidak tahan dengan tatapannya itu langsung pergi meninggalkannya karena tak ingin lagi menjadi bahan olok-olokannya.
Sesampainya di ruang Darren, aku melihat Darren yang sudah memasang tatapan tajamnya seakan aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Duduklah!." (bahasa inggris) Pinta Darren.
"Ada apa anda memanggil saya kemari?." (bahasa inggris) Tanya ku.
"Kamu tahu apa kesalahanmu, Laras?." (bahasa inggris)
"Apa itu Mr. Darren?. Saya sungguh tak tahu." (bahasa inggris) Ucap ku tanpa bermaksud untuk mencoba melawannya.
"Kenapa kamu sudah bekerja?. Padahal seharusnya cuti mu masih 4 hari lagi?."* (bahasa inggris)* Tanya Darren seraya berjalan ke arah ku.
"Saya tak bisa meninggalkan pekerjaan saya yang begitu banyak, Mister." (bahasa inggris) Jawab ku.
"Apa kamu tidak memiliki rekan kerja atau asisten?."
"Tentu saja ada, hanya saja mereka sudah memiliki pekerjaan lain yang harus mereka selesaikan." (bahasa inggris)
"Laras, bisakah kamu menuruti ku sekali ini saja!. Kembalilah beristirahat!. Aku tahu pekerjaan ini begitu penting untukmu." (bahasa inggris) Pinta Darren dengan tulus.
"Dar, aku tahu kamu khawatir kepada ku tapi biar aku yang tanggung jawab atas diri ku sendiri. ok?." *(bahasa inggris) *
"Tapi Laras... aku sudah berjanji kepada Ayah mu untuk menjagamu selama aku di sini." (bahasa inggris)
"Sudah!. Aku janji aku akan pulang cepat setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan ku." (bahasa inggris) Ucap ku memohon pada Darren.
"Baiklah!. Tapi ingat kamu harus pulang cepat!." (bahasa inggris)
"Ya, aku janji." (bahasa inggris)
"Nah, begitu donk!." Ucap Darren seraya mengusap kepala ku seperti biasanya.* (bahasa inggris)*
Walau Darren lebih muda dari ku, namun ia bertingkah seperti seorang kakak yang baik terhadap ku selama ini. Dengan image-nya yang merupakan seorang penjahat wanita namun kepada ku Darren merupakan seorang lelaki yang berhati lembut, mungkin karena dirinya sudah menganggap ku seperti keluarganya sendiri, kerap kali aku diganggu oleh beberapa pria yang nekad mendekati ku ia sia kapan pun untuk membela ku.
"Mr. Darren... Tiba-tiba saja Dimas datang ke ruangan Darren saat itu dan ternyata Kak Joon juga datang bersamanya dan melihat Darren yang tengah mengusap pucuk kepala ku. Suasana canggung pun terjadi diantara kami, entah apa yang ada dipikiran Kak Joon melihat kami berdua seperti itu. Aku melihat tatapan yang tak biasa dari Kak Joon kepada ku seolah aku adalah wanita yang menjijikkan di hadapannya.
"Maaf, bila saya mengganggu kalian. Saya hanya ingin mendiskusikan beberapa hal." (bahasa inggris) Ucap Kak Joon.
"Oh.. tidak apa-apa kami hanya mengobrol biasa saja. Maklum hari ini adalah hari pertama Laras masuk kerja setelah beberapa hari cuti. Dan anda tahu, aku hanya ingin melihat keadaannya." (bahasa inggris) Ucap Darren entah maksud apa dalam perkataannya.
"Tidak, lebih baik kita membicarakan hal itu nanti saja." Kemudian Kak Joon pun pergi bersama Dimas meninggalkan ruangan Darren.
Aku merasa seperti tengah tertangkap selingkuh saja, melihat tatapan kecewa dari Kak Joon membuat ku merasa gelisah. Aku merasa Kak Joon tengah salah paham terhadap kami, dan aku mulai berpikir dengan hilangnya Kak Joon secara tiba-tiba dan sikapnya yang berubah beberapa hari ini bahkan tak satu pun pesan darinya selama aku sakit.
"Kak, apa yang terjadi?." Batin ku setelah melihat kepergian Kak Joon.
***
"Mr. Joon, apa perlu saya jadwalkan ulang meeting kali ini?." Ucap Dimas kepada Joon woo.
"Pergilah!." Ucap Joon Woo yang terlihat terduduk sambil mengernyitkan keningnya.
"Iya, Mister?." Tanya Dimas yang tak mengerti maksud dari Joon Woo.
"Aku bilang pergi!." Joon Woo yang mulai berteriak yang meluapkan amarah yang sedari tadi ditahannya.
"Ba.. baik Mister.." Sekejap Dimas pun segera pergi meninggalkan bosnya itu, takut bila dirinya menjadi bahan amukannya.
"Akkhh!." Joon Woo mencoba melempar apa saja yang ada di hadapannya.
"Kenapa jadi seperti ini?. Ini bukan yang aku inginkan!." Joon Woo yang di selimuti perasaan cemburu yang membabi buta di saat melihat kemesraan antara Raya dan Darren.
"Kenapa harus lelaki itu Raya?. Apa hebatnya dia?." Joon Woo yang tak terima dengan keadaan di mana Raya harus memilih lelaki lain dibanding dirinya.