
DEG
Pandangan kami bertemu, ku lihat wajah tampan Kak Joon, matanya yang tegas, hidung mancung dan bibir merah yang terpampang jelas dihadapan ku saat ini.
Aku telah hanyut dalam pesonanya saat ini dan membayangkan bibir manisnya yang merah semerah buah ceri itu tak sabar untuk ku hisap saripatinya.
Hingga lamunan ku pun buyar saat itu dikala Kak Joon yang mengeluarkan suaranya.
"Raya?. Kamu tidak apa-apa?." musik romantis yang awalnya mengiringi lamunan ku berubah bak kaset kusut saat ini.
"Hah?. Ma.. maaf Mister!." Aku yang langsung saja menjauhkan diri ku dari tubuh Kak Joon begitu tersadar.
"Beristirahatlah!." Ucap Kak Joon seraya membukakan pintu kamar hotel ku.
"Te.. terima kasih." Ucap ku lalu meraih handle pintu dan kemudian masuk ke dalam kamar hotel dengan tergesa-gesa.
"Braakkk!." Suara pintu tertutup.
Detak jantung ku masih berdetak tak karuan, rasanya jantung ini segera melompat dari tempatnya. Aku tahu ini tak boleh, tapi jantung ini tak mau menurut.
Pertama kalinya aku merasakan hal yang seperti ini, begitu gugup di saat berdekatan dengan Kak Joon. Mungkin dulu aku menyukai Kak Joon selama 12 tahun lamanya, namun rasa itu hanyalah sebuah rasa kagum, rasa itu tak sama seperti yang ku alami saat ini. Akan kah aku sudah gila?. Gila karena merindukannya?.
"Raya, kau itu cuma masa lalu!. Tidak lebih!." Aku yang meyakinkan diri ini untuk tak lagi berharap pada Kak Joon.
Lalu aku pun menghempaskan barang bawaan ku dan bergegas ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Joon Woo terlihat menarik nafasnya dalam-dalam seakan oksigen yang ada tak cukup untuknya. Kemudian ia meremas sedikit rambutnya yang sedikit berantakan seakan beban pikirannya sangat berat.
"Jantung!. Kau harus tahu bahwa ini masih terlalu awal!." Joon Woo yang memarahi jantungnya yang berdetak tak karuan selepas kejadian kunci pintu bersama Raya.
"Kenapa kamu semakin cantik saja?. Apa aku baru menyadarinya?." Ungkap Joon Woo yang sepintas terbayang wajah cantik Raya yang ada di hadapannya.
Ia membayangkan raut wajah Raya yang saat itu memandangi dirinya di depan pintu. Wajah merona milik Raya seakan berkata, "Aku ingin menjadi milikmu".
"Hah!. Tapi itu tidak boleh!. Ingat pelan-pelan Joon!. Kali ini dia tidak boleh lepas!." Gumam Joon Woo seraya memijat keningnya.
Flash Back 1 hari lalu
Jari Joon Woo yang tak berhenti memutar-mutar pena di ruang kerjanya. Tak lama datanglah Dimas dengan membawa beberapa dokumen kepadanya.
"Mister?. Mister?." Panggil Dimas yang tak dihiraukan oleh Joon Woo.
"Eh iya Dimas. Kau memanggil ku?." Jawab Joon Woo yang akhirnya menyahut setelah sekian lama panggilan dari Dimas tak digubrisnya.
"Mister, ini beberapa dokumen untuk ditandatangani sebelum anda pergi ke Korea." Ucap Dimas sambil menyerahkan beberapa dokumen ke meja Joon Woo.
"Ada lagi?." Tanya Joon Woo yang melihat Dimas masih belum beranjak dari tempatnya.
"Tidak, hanya saja sepertinya anda memerlukan bantuan. Saya lihat dari tadi anda terlihat gugup." Ucap Dimas yang melihat kegugupan dari bosnya itu.
"Apa terlihat jelas?." Ucap Joon Woo.
"Ya, sangat Mister." Ucap Dimas sambil menahan senyumnya takut menyinggung bosnya
"Yah, sepertinya aku memerlukan sedikit nasehat dari mu." Ucap Joon Woo.
"Silahkan, Mister." Jawab Dimas.
"Apa yang kau lakukan bila seorang wanita yang sudah lama kau nanti-nanti akhirnya berada di hadapan mu saat ini?." Tanya Joon Woo sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh, menurut saya anda harus memanfaatkan moment ini untuk membina hubungan kembali dengannya. Anda berikan moment romantis jika itu wanita yang anda cintai, dan berikan moment kebersamaan jika dia adalah kawan anda." Ucap Dimas.
"Moment romantis ya?. Tapi bagaimana kalau ternyata perasaannya tidak sama lagi seperti dulu?." Tanya Joon Woo ragu-ragu.
"Anda hanya perlu memberikan ingatan-ingatan yang manis seperti dulu." Jawab Dimas.
"Tapi dulu aku tak pernah bersikap manis terhadapnya." Ucap Joon Woo yang kehabisan kata-kata didepan Dimas.
Dimas yang mendengar itupun sedikit dibuat pusing dengan perkataan bosnya.
"Mister, bagaimana bisa anda tak pernah bersikap manis terhadap wanita yang anda sukai?." Batin Dimas frustasi dengan sikap bosnya itu.
"Maksud ku dulu kami pernah bermain bersama, hanya saja setelahnya aku tak pernah bersikap manis kepadanya sebagai seorang laki-laki." Ucap Joon Woo sedikit merasa malu.
"Kalau boleh saya tahu siapa wanita itu, Mister?." Tanya Dimas yang seketika membuat dahi Joon Woo berkerut.
"Apa Nona Laras?." Tanya Dimas yang seketika membuat Joon Woo salah tingkah.
"Mana mungkin?." Jawab Joon Woo masih dalam mode salah tingkahnya di hadapan Dimas.
Dan akhirnya Dimas tahu jawabannya melihat gerak-gerik Joon Woo.
"Baiklah!. Saran saya anda harus menciptakan sebuah moment romantis yang baru antara anda dan wanita itu, dan Korea Selatan adalah tempat yang tepat menurut saya." Ucap Dimas sambil menyengir kuda.
"Ko.. Ko.. Korea?. Kenapa harus Korea?." Ucap Joon Woo berusaha mengerti apa yang dimaksud Dimas.
"Dan saran saya sekali lagi, anda harus melakukan secara perlahan-lahan karena jika tidak wanita akan kabur sebelum anda menyatakan perasaan." Ucap Dimas yang lagi-lagi membuat Joon Woo tak mengerti akan maksudnya.
"Baiklah, Mister. Bila tidak ada yang bisa saya bantu lagi, saya permisi dulu!." Dan Dimas pun pergi meninggalkan Joon Woo yang masih terdiam karena perkataan dari Dimas.
"Maksudmu apa, Dimas?. Dimas!!!." Teriakan Joon Woo yang menggema hingga keluar ruangan.
Flash Back Selesai
***
POV RAYA
Pagi ini aku harus makan pagi bersama Kak Joon di restoran yang ada di hotel, ingin menolak namun apa hak seorang karyawan seperti ku menolak ajakan makan bosnya.
-Pesan-
Pengirim : KJ
"Apa kamu sudah siap?. Aku sudah di bawah menunggu mu."
Pesan dari Kak Joon yang menginginkan agar aku segera menemuinya di restoran. Tapi bagaimana ini?. Aku ada sedikit masalah, pasalnya aku tak menemukan baju yang pas untuk menemui Kak Joon, aku hanya banyak membawa kemeja. Aku lupa membawa baju hari-hari untuk ku pakai saat tak bekerja.
Akhirnya pilihannya jatuh kepada kemeja panjang yang kupakai seperti baju terusan yang memamerkan kaki ku, mungkin bisa saja Kak Joon melihat ini seakan aku hendak menggoda dirinya, tapi aku tak peduli karena aku tak punya pilihan. Aku pun lantas pergi menuju lantai bawah untuk menemui Kak Joon.
"Maaf sudah membuat anda menunggu." Ucap ku begitu baru sampai di meja dimana Kak Joon berada.
Dan saat itu Kak Joon yang sedang asik meminum susu, baru tersadar dengan keberadaan ku lalu mulai menatap ke arah ku. Seakan ia heran dengan penampilan ku, Kak Joon menelan dalam-dalam susu yang baru saja di tenggak nya itu.
"Raya, kamu sangat berbeda hari ini." Ucap Kak Joon yang sedikit terdengar seperti pujian, tapi aku justru merasa malu dengan penampilan ku.
"Maaf saya tidak punya pakaian lain selain ini, karena saya lupa membawa baju non formal." Ucap ku sambil menatap malu Kak Joon yang ada di hadapan ku.
"Tidak, ini sangat cocok untuk mu." Ucap Kak Joon.
Aku yang kemudian duduk di hadapan Kak Joon sambil menutupi paha ku yang terekspose.
"Apa kamu merasa tidak nyaman?." Tanya Kak Joon yang sadar dengan sikap ku.
"Tidak." Jawab ku.
Dan setelah satu jam makan bersama di restoran, setelah itu Kak Joon meminta ku untuk menemaninya ke suatu tempat. Dan aku pun seperti sebelumnya hanya bisa menurutinya saja.
Selama perjalanan tak ada sedikit pun pembicaraan diantara kami, aku hanya mengikuti arus ke mana Kak Joon membawa ku pergi. Dan akhirnya setelah setengah jam perjalanan kami sampai di sebuah mall besar, mungkin itu salah satu mall terbesar yang ada di kota ini.
"Ayo, kenapa malah diam?." Kak Joon yang tiba-tiba menarik tangan ku masuk ke dalam mall itu.
Dan kami berhenti di sebuah toko baju yang memiliki koleksi baju-baju yang sangat banyak dan sangat indah bila dilihat dari etalasenya yang ada di depan toko.
"Apa yang bisa kami bantu, Tuan?." (bahasa korea) Tanya salah satu pelayan wanita yang ada di toko itu.
"Perlihatkan semua koleksi pakaian wanita kalian!. Dan cocokkan dengan ukuran wanita ini!." (bahasa korea) Ucap Kak Joon kepada pelayan wanita itu.
Aku pun seketika terkejut dengan ucapan yang Kak Joon lontarkan. Pasalnya aku tak menyangka ternyata tujuan dia ke toko ini adalah untuk diri ku.
"Tidak!. Tidak!. Mister!. Aku tidak memerlukan baju saat ini." Ucap ku yang menolak permintaan Kak Joon.
"Ingat!. Kamu adalah karyawan ku dan apa yang dikenakan oleh karyawan ku adalah wajah dari perusahaan. Aku tak akan membiarkan kamu merusak image perusahaan hanya karena baju yang kamu pakai!." Tegas Kak Joon yang tak ingin ada penolakan.
"Tapi harga baju-baju di sini sangatlah mahal!." Aku yang tercengang dengan label harga di salah satu baju yang ter-display di toko itu.
"Tenang saja!. Ini adalah fasilitas dari perusahaan, tidak akan memotong gajih mu!." Tegas Kak Joon.
Dan aku pun akhirnya terjebak situasi di mana harus bergonta-ganti pakaian hanya karena Kak Joon tidak menyukainya.
"Ya Tuhan!. Mau sampai kapan aku harus melakukan ini?."