Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 34 : JANE VS RAYA



Sudah hampir dua minggu aku dinas bersama Kak Joon di Korea Selatan, sejauh ini tidak ada kemajuan diantara kami. Aku dan Kak Joon hanya berusaha bersikap profesional dalam pekerjaan kami, dan untuk tragedi beberapa hari lalu, tentu saja aku masih sangat mengingatnya apalagi malam itu bibir ku tak sengaja bersentuhan dengan bibirnya dan sampai sekarang rasa itu belum juga hilang. Apalagi itu adalah ciuman pertama kami, walaupun sebenarnya itu bukanlah hal yang disengaja.


Tapi entah bagaimana dengan Kak Joon, apa mungkin ia berusaha untuk menjaga jarak dengan ku setelah kejadian itu?. Setelah pengakuannya malam itu, ia tak pernah lagi menanyakan jawaban ku atas pengakuannya. Apakah mungkin ia sudah menyerah akan diriku?. Atau mungkin dia hanya ingin memberiku waktu untuk berpikir?. Entahlah!. Namun sayangnya sampai saat ini aku belum bisa memberikannya sebuah jawaban.


"Raya." Panggil Nyonya Chae.


Hari ini aku bersama Nyonya Chae, maksud ku Bibi Chae pergi ke salah satu pameran seni yang ada di Kota Busan. Nyonya Chae menjanjikan tempat untuk membeli oleh-oleh khas Busan untuk ku bawa pulang lusa. Dan saat ini aku pun tengah diperkenalkan oleh beberapa rekan dekatnya yang ada di Busan. Nyonya Chae memperkenalkan diri ku sebagai anak dari kawan lamanya di Jakarta. Tapi aku merasa ia seolah memperkenalkan diri ku sebagai calon menantunya saat itu.


Walau aku tak mengerti dengan sikapnya, namun aku tetap berusaha untuk menghormatinya. Aku pun ikut menyapa teman-temannya di pameran itu.


"Iya, Bi." Jawab ku.


"Bagaimana kalau setelah ini kita makan siang terlebih dahulu?." Tanya Nyonya Chae.


"Baiklah!." Aku yang merasa lega karena akhirnya aku bisa menjauh dari rekan-rekannya.


Aku pun dibawa ke sebuah restoran mewah yang ada didekat pameran tersebut. Nyonya Chae memesan banyak makanan daging untuk diri ku karena ia tahu bahwa aku tak dapat memakan makanan laut.


"Apa ini masih kurang?." Tanya Nyonya Chae yang melihat diri ku terdiam begitu melihat menu makanan yang sangat banyak dihadapan ku.


"Tidak, hanya ini terlalu banyak untuk ku." Jawab ku yang masih tercengang melihat menu makanan yang dipesan oleh Nyonya Chae.


"Makan lah!. Aku tahu kamu sangat lelah hari ini karena menemani ku dari pagi." Ucap Nyonya Chae sambil menyodorkan daging asap yang ada di meja ke hadapan ku.


"Nyonya maksud ku Bibi.. terima kasih banyak." Aku yang masih saja terpeleset memanggil Nyonya Chae dengan sebutan Nyonya.


"Raya, apa aku boleh bertanya kepada mu?." Tanya Nyonya Chae.


"Ya, Bi."


"Apa Joon begitu menyakiti mu?." Pertanyaan Nyonya Chae yang hampir saja membuat ku tersedak.


"Maksud anda?." Aku yang tak mengerti dengan pertanyaannya itu.


"Apa Joon sangat menyakiti mu hingga diri mu tak dapat menerima pernyataan cinta darinya?." Nyonya Chae yang langsung berkata pada intinya.


"Apa yang Bibi katakan?. Bagaimana bisa?." Aku yang masih tak percaya bagaimana Nyonya Chae dapat mengetahuinya.


"Kamu tak perlu tahu dari mana aku tahu, Raya. Karena aku sangat mengenal putra ku. Sekarang katakanlah dengan jujur."


"Bibi, bukan maksud ku untuk menolaknya. Tapi ini terlalu mendadak untukku."


"Apa 8 tahun masih belum cukup untuk menata hati mu?. Joon sudah sangat tersiksa sayang!."


"Tapi Bi... "


"Sudahlah!. Mungkin memang Joon masih terlalu terburu-buru dalam hal perasaannya. Aku tahu pasti kamu masih terkejut dengan ini semua, tapi Raya itulah kenyataannya bahwa selama belasan tahun Joon hanya menyukaimu seorang. Dan semua ini adalah kesalahan ku yang terlambat menyadarinya. Maafkan Bibi, Bibi merasa bersalah."


"Bibi, Bibi tidak salah. Ini semua adalah takdir kami berdua." Aku yang mengatakan kenyataannya.


"Tapi Raya, tetap ini salah ku dan tak bisa diubah. Dan Joon saat ini menjadi kesulitan karena ku, pernikahannya hancur dan Leon lah korbannya, bahkan ia tak mau memanggilku Grandma." Ucap Nyonya dengan suara parau.


"Tidak, Bi. Tidak ada yang salah dengan semua ini, aku yang sudah merelakan Kak Joon." Aku pun menggenggam jemari Nyonya Chae sambil menatap manik matanya untuk mengatakan sebuah kejujuran.


"Apa tidak ada cinta lagi untuk Joon di hati mu, Raya?." Tanya Nyonya Chae dengan tatapan memohon kepada ku.


"Nyonya... bukan begitu maksud saya... "


"Raya, pikirkanlah kembali. Aku tahu masih ada Joon di hati mu." Nyonya Chae yang sekali lagi memohon kepada ku.


"Chae Young?." Tegur seorang wanita paruh baya yang ada di hadapan kami saat ini.


"Nayeon?." Panggil Nyonya Chae begitu melihat wanita tersebut.


"Apa kabar?." (bahasa korea) Tanya Nyonya Chae yang kemudian meninggalkan aku sendiri di meja dan mengikuti kawan lamanya itu.


Aku pun yang melihat itu memaklumi jiwa sosial milik Nyonya Chae, karena pada dasarnya Nyonya Chae adalah pribadi yang hangat hingga tak heran bahwa ia memiliki banyak teman di mana-mana.


"Apa ia tak bisa membiarkan ku sendiri, Tuhan?." Batin ku.


"Raya?." Panggil Jane.


"Jane." Jawab ku.


"Sebuah kebetulan yang kedua kalinya kita bertemu di tempat yang sama?. Dan apa kali ini kamu juga bersama Joon?." Tanya Jane yang sudah duduk di hadapan ku saat ini.


"Tidak.."


"Kalau begitu apa aku bisa berbicara dengan mu sebentar?." Pinta Jane.


"Silahkan!." Jawab ku.


"Apa aku tidak mengganggu?."


"Tentu tidak."


"Apa hubungan mu dengan Joon saat ini?." Tanya Jane yang langsung pada intinya.


"Hubungan ku dengannya hanya sebatas atasan dan bawahan saja." Jawab ku tanpa menyembunyikan apapun.


"Benarkah?." Tanya Jane yang masih ragu akan jawaban ku.


"Iya benar." Tegas ku.


"Raya, apa kamu tahu aku dan Joon sudah tidak bersama?."


"Ya aku mengetahuinya."


"Apa kamu tidak penasaran dengan alasannya?." Tanya Jane yang seketika membuat ku terperangah.


"Maksud mu?."


"Maksud ku, apa kamu tidak penasaran apa penyebab kami bercerai?."


"Maaf Jane, sepertinya kamu salah menilai ku karena aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Mr. Joon saat ini. Jadi aku tak ingin tahu hal apa yang terjadi diantara kalian, jadi tentu saja kamu tak perlu mengatakannya." Jawab ku yang tak ingin Jane melanjutkan perkataannya.


"Itu karena diri mu!." Perkataan Jane yang sontak membuat ku terdiam.


"Kenapa?. Apa kamu terkejut?." Jane yang menatap ku dengan tajam.


"Apa maksudnya?." Tanya ku masih tak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Jane.


"Cukup!." Teriak Nyonya Chae yang melihat ketegangan diantara kami.


"Omma?." Panggil Jane yang tersadar bahwa Nyonya Chae sudah berada di belakangnya.


"Jane, ada urusan apa kamu dengan Raya?." (bahasa korea)


"Omma.. aku hanya... " (bahasa korea)


"Cukup!. Jangan panggil aku omma!. Aku bukan lagi mertua mu!." (bahasa korea) Tegas Nyonya Chae yang sudah tak sudi mendapat panggilan Omma dari mantan menantunya itu.


"Raya, ayo kita pergi!."


"Bibi... tapi... Aku yang masih ragu dengan ajakan Nyonya Chae karena banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Jane.


"Ikut aku sekarang!." Nyonya Chae kemudian menarik tangan ku dan membawa ku pergi menjauh dari Jane.


Entah apa kaitan diri ku dengan semua ini?. Sepeninggal diri ku pergi meninggalkan tanah air selama 8 tahun lebih ternyata banyak cerita yang telah ku lewatkan.


"Apa benar yang dikatakan Jane?." Perkataan Jane masih terngiang di telinga ku saat ini.