Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 44 : Permohonan Kak Joon



Aku melihat kesungguhan di mata Kak Joon saat ini, dan aku pun memantapkan hati untuk menerima perasaannya.


"CUP". Aku memberanikan diri untuk mengecup bibirnya terlebih dahulu.


DEG


Seketika Kak Joon tak dapat berkata-kata melihat keberanian ku. Walau aku sedikit malu dengan tindakan ku yang tiba-tiba itu, tapi entah kenapa raga ini tergerak untuk melakukannya.


"CUP". Dan Kak Joon pun membalas kecupan ku, dan akhirnya bibir kami saling menempel satu sama lain dan mulai saling menyesap dan akupun terbuai dengan permainan Kak Joon.


"Apa aku bisa mengartikan ini sebagai jawaban?." Tanya Kak Joon.


"Ehem." Deham ku sedikit malu-malu.


"Maksudnya aku diterima?." Tanya Kak Joon lagi.


"Memangnya apalagi?." tegas ku.


"Hahaha!. Kamu sungguh lucu." Tawa Kak Joon yang melihat ku malu-malu menjawabnya.


"Apa yang lucu?." Aku yang sedikit kesal karena Kak Joon yang meledekku.


"Tidak, hanya saja ekspresi mu begitu lucu. Aku sudah lama tak melihat ekspresi mu yang seperti itu." Ucap Kak Joon.


"Apa Kakak puas?." Tanya ku seraya menatap marah Kak Joon yang masih terlihat menggoda ku.


"Maaf!. Maaf!. Maafkan aku kekasih ku!." Panggilan baru Kak Joon kepada ku yang lagi-lagi membuat ku malu.


"Apa yang salah?. Kamu kan sudah jadi kekasih ku?. Kenapa harus malu?." Pinta Kak Joon seraya menarik wajah ku agar mau menatapnya.


"Tapi kan.."


"Apa yang tapi?. Pokoknya mulai detik ini panggil aku dengan Oppa." Pinta Kak Joon pada ku.


"Op.. Op..." Aku yang sedikit ragu untuk mengucapkannya.


"Ayo ikuti aku!. Oppa!." Ucap Kak Joon yang membimbing ku untuk mengucapkannya.


"Oppa." Akhirnya kata-kata itu berhasil lolos dari mulut ku.


"Nah begitu dong!." Senyum Kak Joon langsung mengembang begitu mendengar kata-kata itu dari ku.


"Lalu selanjutnya bagaimana?." Tanya ku yang sedikit canggung dengan situasi kami.


"Sekarang aku kekasih mu, mulai detik ini apapun yang kamu lakukan dan bagaimana kondisi mu saat ini. Apakah sehat atau tidak?. Sedang sibuk atau tidak?. Aku harus selalu tahu tanpa kompromi!." Pinta Kak Joon yang sudah seperti suami ku saja padahal statusnya saat ini baru kekasih.


"Hah?. Apa harus seperti itu?." Tanya ku yang sedikit syok dengan sifat posesif Kak Joon, pasalnya baru saja menjadi pacar hari ini sudah banyak ini itunya.


"Ya!. Itu harus!. Aku tidak ingin kejadian seperti dua hari yang lalu terjadi lagi kepada kekasih ku ini!." Pinta Kak Joon yang memang ada benarnya.


"Ya, selama Kak Joon tak pernah melarang ku untuk berteman dengan siapa pun aku akan menurutinya." Jawab ku.


"Eits!. Dengan siapa dulu?. Kalau dengan cowok bule itu aku melarangnya!."


"Siapa yang Kakak maksud?. Darren?." Tanya ku memastikan.


"Ya, siapa lagi?." Ucap Kak Joon yang mulai mengungkapkan kecemburuannya.


"Tidak bisa!. Karena Darren adalah bos sekaligus teman dekat ku dan keluarga kami sudah sangat dekat." Protes ku.


"Teman dari mana yang selalu mengaku tunangan?. Aku yakin dia memiliki perasaan terhadap mu!." Ungkap Kak Joon yang memiliki naluri sebagai lelaki.


"Mana mungkin, Kak. Aku tahu sifat Darren itu seperti apa. Dia itu playboy!. Sudah banyak wanita yang jadi korbannya. Ups!." Aku yang sudah membongkar aib Darren secara tidak sadar.


"Aku pastikan bahwa dia memiliki perasaan khusus terhadap mu!. Aku bisa melihat dari tatapannya, aku lelaki dan aku sangat tahu hal itu." Tukas Kak Joon yang masih percaya akan instingnya.


"Kak, apa yang Kakak khawatirkan?." Tanya ku sambil menatap manik mata Kak Joon seolah aku ingin memperlihatkan kejujuran akan perasaan ku saat itu.


"Raya, aku bukannya cemburu tapi kamu tak pernah peka dengan hal seperti itu. Aku hanya ingin ia tidak salah paham." Tegas Kak Joon.


"Aku tahu, aku sangat tahu itu. Tapi cukup percaya pada ku!. Di hati ini hanya ada nama Kakak di dalamnya." Tegas ku agar Kak Joon tak lagi banyak berpikir.


"Hhhmm... baiklah!. Demi kekasih ku tercinta saat ini aku akan melepaskan dia. Tapi bila bule itu macam-macam dengan mu jangan harap aku akan diam saja!." Tegas Kak Joon.


Dan aku pun menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Setelah itu aku dan Kak Joon menghabiskan waktu berduaan hingga menjelang malam hari membicarakan masa-masa di mana kami masih saling dekat. Dan aku yang sedikit bercerita soal rangkaian bunga ku yang kurangkai secara tak sengaja untuk mengungkapkan perasaan ku kepada Kak Joon.


***


"Kenapa kalian lama sekali?." Kesal Leon yang menunggu kami terlalu lama masuk ke mansion.


"Maaf, sayang. Daddy sedang ada urusan dengan aunty mu." Ucap Kak Joon yang mencoba menjelaskan kepada Leon.


"Urusan apa?. Sampai kalian lama sekali keluar dari taman?." Ucap Leon yang masih memasang wajah kesalnya.


"Sudah!. Ayo kita makan malam!." Lalu Kak Joon pun mengalihkan Leon dan menggiring kami ke meja makan.


Sesampainya di sana ketegangan pun terjadi, aku merasa Leon sedikit mencurigai gerak gerik kami. Ia terus saja menatap curiga kami berdua.


"Leon!. Makanlah!. Jangan menatap aunty mu seperti itu!." Tegas Kak Joon kepada Leon.


"Ada sesuatu yang terjadi dengan kalian?." Tanya Leon sambil menatap ku tajam.


Aku pun yang mendengar pertanyaan itu langsung diam seribu bahasa, hanya bisa menunggu Kak Joon menjelaskannya sendiri kepada anak semata wayangnya itu.


"Tidak ada!. Makanlah!. Aunty harus segera beristirahat!." Pinta Kak Joon yang tak ingin Leon bertanya lebih lanjut.


Sebenarnya aku ingin menjelaskan sendiri mengenai hubungan aku dan Daddy nya, namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya mengingat trauma yang dialami oleh Leon. Mungkin saja ingatan dirinya saat ditinggalkan Jane masih terngiang sampai saat ini, hanya saja aku tak pernah berani untuk menanyakan langsung kepada Leon.


Dan akhirnya makan malam pun berakhir dan aku bisa segera terbebas dari ketegangan saat di ruang makan menghadapi Leon.


"Tok!. Tok!. Tok!." Suara ketukan pintu yang terdengar saat aku sudah hampir tertidur di kamar.


"Siapa malam-malam begini?." Lalu aku pun membuka pintu kamarku dengan tergesa-gesa.


"Kak Joon?." Aku yang terheran begitu melihat Kak Joon sudah ada di depan kamar ku.


"Raya?." Kak Joon yang saat itu terlihat sangat gelisah.


"Ada apa, Kak?." Tanya ku sambil menatap raut wajahnya yang terlihat lelah.


"Boleh aku masuk?."


"Hhmm... boleh, Kak." Jawab ku ragu-ragu karena tak ingin pelayan lain melihat majikan mereka memasuki kamar wanita apalagi kami belum menikah.


Lalu Kak Joon dan aku sudah berada di dalam kamar berdua saja.


DEG


Jantung ku mulai berdetak tak karuan, dan seketika udara di dalam kamar berubah menjadi sedikit panas. Apa mungkin karena aku terlalu tegang, hingga membuat tubuh ini menjadi terasa panas?.


Namun aku berusaha menahannya karena tidak mungkin diri ku membuka baju saat ini.


"Raya, aku ingin meminta bantuan mu!." Pinta Kak Joon sambil meraih kedua pundakku.


"Apa itu, Kak?." Tanya ku penasaran.


"Hhmm... boleh aku tidur di sini bersama mu?."


DEG


Pertanyaan Kak Joon yang seketika membuatku tak dapat berkata-kata dan hanya bisa menelan ludah.


"Ya ampunnn, apa yang dia pikirkan. di saat-saat seperti ini?." Batin ku yang ingin menolak permintaannya.


Baru saja kami resmi sebagai sepasang kekasih Kak Joon sudah bertindak di luar batas.


"Kak, bukannya aku menolak tapi kita bukan pasangan suami istri." Ucap ku menolak permintaan Kak Joon.


"Apa yang kamu pikirkan?. Raya, aku hanya ingin tidur saja di sini tidak lebih. Aku tak bisa tidur dan gelisah beberapa hari ini dan kurasa aku bisa tertidur lelap bila di samping mu." Ungkap Kak Joon yang mengutarakan kondisinya.


"Maksud Kakak?."


"Aku memiliki insomnia yang parah. Tapi setelah kamu kembali, gejala itu semakin berkurang dan hari ini aku ingin kamu membantu ku untuk tidur." Pinta Kak Joon yang menatap ku dengan tatapan mengiba.


"Hhmm baiklah!. Tapi janji kita hanya tidur saja." Pinta ku.


"Aku janji!."