Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 50 : Amarah Kak Joon



Melihat reaksi Gisel sepertinya ia tak terima dengan pernyataan Kak Joon yang menyiratkan bahwa aku adalah kekasihnya saat ini. Namun yang dapat ia lakukan saat ini adalah memohon kepada Kak Joon agar dirinya tidak dipecat sebagai tutor Leon. Namun Kak Joon sudah tak dapat mentolerir nya lagi, entah kesalahan apa saja yang telah diperbuat olehnya sedari dulu hingga Kak Joon akhirnya memutuskan hal ini.


"Mister, saya mohon ampuni saya!. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!." Ucap Gisel seraya berlutut dan memohon belas kasih Kak Joon hingga aku pun yang melihatnya sedikit merasa bersalah. Tapi hal ini patut didapatkannya karena perilakunya.


"Nona Gisel, aku melakukan ini bukan semata-mata karena kamu telah menyinggung Raya. Tapi juga karena kesalahan-kesalahan mu sebelumnya dan aku menyadari bahwa kamu bukanlah tutor berkompeten yang selama ini ku cari. Jadi aku dapat memutuskannya setelah melihat perilaku mu hari ini dan maaf sudah tidak ada jalan untuk mu kembali ke mansion ini.


Kemudian Kak Joon menarik ku pergi menjauh dari Gisel, seolah ia tak ingin berlama-lama di tempat itu melihat keberadaannya.


"Kak, kita mau ke mana?." Tanya ku melihat Kak Joon yang sudah menarik ku dengan tergesa-gesa.


"Sudahlah ikut aku saja!." Ucap Kak Joon tanpa mau mendengar banyak pertanyaan dari ku.


Hingga sampailah aku ke ruangan Kak Joon, di sana aku di duduk kan di sebuah sofa miliknya yang ada di ruangan tersebut.


"Kak.."


"Aku tak terima kamu mendapat perlakuan seperti itu bahkan dari teman mu sendiri." Ucap Kak Joon yang masih terlihat marah.


"Kak..." Aku yang melihat Kak Joon berusaha menahan amarahnya di hadapan ku.


"Maafkan aku, Raya. Aku berusaha untuk tenang saat ini." Ucap Kak Joon yang berdiri di hadapan ku sambil menghela nafas panjang.


"Kak, tenang lah." Ucap ku seraya meraih pinggang Kak Joon dan memeluknya. Kak Joon pun terkejut dan membalikkan tubuhnya ke hadapan ku, lalu menatap ke dua manik mata ku seolah ingin melihat dengan jelas diri ku.


"Raya, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat mu takut. Aku hanya ingin melampiaskan emosi ku sesaat." Ungkap Kak Joon seraya memelukku.


"Maafkan aku Raya, aku tahu maaf ku mungkin sudah telat bagi mu. Karena aku baru tahu penderitaan mu selama ini. Saat di kampus kamu selalu mendapatkan cemoohan dari orang-orang sekitar mu, tapi aku hanya diam saja melihatnya. Sungguh maafkan aku!." Sesal Kak Joon seraya meneteskan air matanya di hadapan ku.


"Aku tahu saat itu mungkin Kakak ingin membela ku. Hanya saja waktunya belum tepat. Iya kan?." Tanya ku pada Kak Joon seraya menyentuh wajahnya yang masih berurai air mata.


"Raya, aku menyesal. Sungguh!." Lagi-lagi Kak Joon mengungkapkan penyesalannya pada ku.


"Sudahlah, Kak. Aku sangat mengerti." Aku yang kemudian memeluknya kembali.


Aku tahu Kak Joon sangat menyesali sikapnya terhadap ku di masa lalu. Dan saat ini aku tersadar bahwa firasat ku dulu memang benar adanya, bahwa Kak Joon sebenarnya mempedulikan ku dan mengkhawatirkan ku. Terlihat dari dirinya yang mencoba menjauhkan aku dari para mahasiswi yang melabrak ku dan dari cemoohan kawan di fakultasnya dulu.


Hati ini tak dapat menahan rasa bahagia karena telah mengetahui perasaan Kak Joon yang sesungguhnya. Mungkin dulu aku sempat kecewa dengan sikapnya, tapi setelah tahu alasannya dan telah saling jujur satu sama lain akhirnya aku menyadari perasaannya yang sesungguhnya.


***


Hari itu aku dan Kak Joon menghabiskan waktu berduaan di dalam ruang kerjanya. Kami tidak melakukan hal yang aneh, hanya saja Kak Joon ingin terus di temani oleh ku seharian.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?." Tanya Kak Joon yang sedikit risih ditatap oleh ku saat ini.


"Tidak, hanya saja aku sedang menikmati indahnya ciptaan Tuhan." Ucap ku seraya menatap Kak Joon dari depan meja kerjanya.


"Apa cukup dengan melihat saja?." Tanya Kak Joon yang mulai dengan tatapan nakalnya.


"He'eh." Ucap ku.


"Kemari lah!. Ada sesuatu yang aku ingin tunjukkan kepada mu." Pinta Kak Joon agar aku segera menghampirinya.


Aku pun mengikuti keinginan dan menghampirinya hingga ke mejanya.


"Apa itu?." Tanya ku.


"Sini!." Kak Joon yang kemudian menarik diri ku ke pangkuannya. Aku pun sedikit terkejut dengan perlakuannya pasalnya ini pertama kalinya aku mendapat kan perlakuan seperti ini dari seorang pria.


"Kak, jangan begini!. Aku malu." Ucap ku.


"Bukan itu, tapi aku berada di atas mu." Ucap ku tertunduk malu.


"Bukankah ini hal yang wajar antara kekasih?." Tanya Kak Joon.


"Mungkin?." Jawab ku.


"Mungkin?. Apa kamu belum pernah melakukannya?." Tanya Kak Joon yang mulai menggoda ku.


Aku pun hanya dapat menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Aku tahu bahwa aku satu-satunya lelaki di hati mu dari dulu sampai saat ini?. Benar kan?." Tanya Kak Joon dengan percaya dirinya.


"Tidak!." Jawab ku yang seketika membuat Kak Joon menjadi penasaran sekaligus kesal akan siapa lelaki pertama yang di maksud diri ku.


"Tentu saja Ayah ku. Dia pernah melakukan hal yang sama seperti ini saat diri ku masih kecil." Jawab yang kemudian memancing tawa Kak Joon.


"Pfftt...!. Kamu sungguh lucu!." Kak Joon yang tak bisa menahan tawanya.


"Benar kan?. Apa aku salah?." Aku yang sedikit kesal ditertawakan olehnya.


"Maaf!. Maaf!. Oh ya!. Bagaimana dengan Ayah mu?. Aku sudah lama tak menyapanya." Tanya Kak Joon yang tiba-tiba saja teringat akan Ayah.


"Ayah ku baik, dia sedang di Jerman saat ini." Jawab ku.


"Oh ya?. Kenapa ia tak ikut bersama mu?. Bukan kah kalian sekarang hanya tinggal berdua?." Tanya Kak Joon yang seketika membuat ku teringat akan hal di mana aku sebenarnya tak ingin berada lama di Jakarta.


"Hhmm... Ayah saat ini sibuk dengan bisnisnya. Mungkin lain waktu ia akan mengunjungi ku di Jakarta sekaligus melihat makam Bunda." Jawab ku.


"Benar juga, waktu 8 tahun memang waktu yang cukup untuk membuat sebuah perusahaan." Ucap Kak Joon.


"Ayah mu membuat sebuah perusahaan lantas kenapa kamu malah bekerja di perusahaan orang lain?." Tanya Kak Joon yang masih ingin tahu tentang ku.


"Aku ini masih benar-benar baru di dunia arsitektur, masih harus banyak belajar. Jadi aku memutuskan untuk bekerja di tempat Mr. Jo untuk merintis karir ku dan setelah itu aku akan membantu membesarkan perusahaan Ayah." Ucap ku.


"Tapi bisakah nanti setelah menikah kamu tidak usah bekerja?." Tanya Kak Joon yang langsung membuat ku terdiam. Pasalnya pertanyaan itu seolah-olah ia berencana untuk menikahi ku.


"Kenapa kamu terdiam?." Tanya Kak Joon yang bingung dengan diri ku yang terdiam.


"Itu.."


"Aku hanya tak ingin jauh dari mu. Itu saja, dan mungkin ini terlalu cepat untuk mu mendengar hal ini. Tapi aku benar-benar serius dengan mu." Kata-kata Kak Joon yang benar-benar membuat ku tak dapat berkata-kata.


"Kak, apa ini tidak terlalu cepat?." Tanya ku.


"Tidak, aku rasa kamu sangat tahu diri ku seperti apa?. Aku tak ingin kehilangan mu untuk yang ke dua kali. Cukup 8 tahun lalu aku kehilangan mu, sungguh sulit bagi ku." Ungkap Kak Joon seraya menaruh wajahnya di ceruk leher ku.


"Bagaimana dengan Leon?." Tanya ku.


"Leon?."


"Iya Leon."


"Bukankah kamu bisa lihat sendiri?. Bahkan dia sudah tahu hubungan kita sebelum aku mengatakannya." Jawab Kak Joon.


"Ya, tapi kan itu baru asumsinya saja. Kita belum benar-benar memberitahunya." Ucap ku.


"Baiklah!. Hari ini juga kita akan memberitahukan hal ini pada Leon. Bagaimana?." Ucapan Kak Joon yang langsung membuat ku sedikit panik. Pasalnya aku belum punya persiapan untuk itu, apalagi menghadapi Leon dengan status yang berbeda di mana aku tahu dia masih memiliki trauma karena ibunya, Jane.