Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Handuk Putih



"Karena ini kencan pertama kita. Bagaimana kalau kita tidur bersama tanpa melakukan apapun? Tidak boleh menolak. Sekarang boleh saya mencium pak Chris?"


"Tentu saja" balas Chris tersenyum tipis sambil mengedipkan mata kirinya.


Begitu bibir Adira sudah berada tepat di muara tiba-tiba saja ponsel Chris berdering.


"Sebentar" Chris merogoh ponsel dari saku celana yang dikenakannya. Tertulis nama Emilly di layar depan ponsel itu. Ia pun melangkah ke area balkon meninggalkan Adira sendiri di ruang makan.


lagi- lagi Chris tanpa rasa bersalah sibuk berbicara dengan Emilly melalui sambungan seluler saat ia sedang bersama Adira. Api amarah Adira tersulut. Ia tidak bisa menahan kecemburuannya. Tanpa berkata Adira memilih pergi meninggalkan apartement Chris.


Menyadari Adira pergi tanpa sepengetahuan ikut membuat amarah Chris tak tertahan. Kebiasaan Adira itu tidak bisa di toleran. Chris pun mengejar Adira namun telat baginya karena Adira telah masuk ke dalam taksi. Chris berlari sigap menuju baseman dimana mobilnya terparkir.


"Bisa-bisanya dia telponan sama cewek lain di depanku. Dia pikir aku tidak punya perasaan apa?" Adira menggunakan tangan untuk menutup linangan di matanya. Membuka kaca mobil dan membiarkan angin malam menyapu wajahnya. "Dingin sekali tapi ini sangat menyegarkan"


...---------------------...


Di kantor Adira berusaha keras agar tidak bertatap muka langsung dengan Chris. Ia tidak akan menemui atasannya itu selain untuk urusan pekerjaan.


*Ke ruangan saya sekarang.


Jangan coba menghindari saya*.


Adira mengabaikan pesan itu. Ia ingin Chris tahu bagaimana rasanya di abaikan dan tidak dianggap.


"Ra, kami pulang duluan ya" pamit Maya bersama Lisa dan Farah.


"Hmm hati-hati ya. Aku bentar lagi juga pulang kok. Btw makasi girls kadonya" ujar Adira sambil melirik arloji yang melingkar di tangannya. Jam itu pemberian Maya, Lisa, dan Farah.


Sudah lewat jam 18.00, Adira mulai bersiap untuk pulang. Tak lupa ia melihat sebentar ruangan Chris yang sudah gelap.


"Pak Chris sudah pulang?"


"Belum" sahut Chris yang entah datang darimana. Chris menarik paksa tangan Adira membawa gadis yang seharian ini menganggu pikirannya ke dalam mobil.


Sepanjang jalan Adira terus berkicau agar Chris menurunkannya. Namun Chris tak bergeming sedikitpun. Ia semakin menambah kecepatan laju mobilnya.


"Kenapa pak Chris bawah saya kesini lagi?" Adira masih mengenal baseman itu.


"Kita selesaikan apa yang seharusnya kita lakukan kemarin. Saya tidak mau masalah ini berlarut-larut" ucap Chris tegas kemudian keluar dari mobil.


Di apartement Chris,


"Lepasin tangan saya" pergelangan tangan Adira sedikit merah karena cengkraman Chris yang cukup kuat.


"Maafkan saya. Jangan mengabaikan saya dan jangan marah lagi" ucap Chris tulus.


Adira tertegun lama mengamati sepasang netra di hadapannya. Permintaan maaf Chris membuat hatinya luluh seketika.


"Pak Chris. Akhir-akhir ini di rumah saya sering mati lampu. Saya takut sendiri dalam kegelapan. Malam ini, apa boleh saya tidur di sini?"


"Hmm" angguk Chris mengiyakan.


Adira berdiri di ujung kasur sembari menunggu Chris selesai menggantikan seprei. Ia semakin kagum dengan pria di depannya. Tidak hanya pandai dalam mengatur strategi tapi Chris sangat cekatan dalam hal bersih membersih. Ditambah Chris pintar memasak. Beberapa kelebihan itu membuat Adira merasa beruntung ada di dekat Chris seperti saat ini.


"Finish. Silakan kamu tidur di sini"


"Terus pak Chris tidur dimana?"


"Di luar. Memangnya kamu mau saya tidur di sini?"


Adira diam sejenak. Kemudian melebarkan kakinya duduk di pinggir kasur.


"Kalau pak Chris mau, tidur disini saja. Kasurnya luas, cukup untuk dua orang" ujar Adira ragu.


"Baiklah" Chris melucuti kaos oblongnya memperlihatkan perut kotak-kotaknya lalu berbaring di sebelah Adira.


Adira segera memalingkan wajahnya setelah tertegun beberapa saat memandang bagian atas tubuh Chris. Kini hatinya terus berdebar tak jelas. Adira bergerak gelisah. Pikirannya kemana-mana.


"Tidurlah. Ini sudah malam" Chris menarik pinggang ramping Adira. Ia lalu menempelkan kepalanya di pundak wanita yang sedang ada dalam dekapannya.


"Pak Chris"


Chris tidak merespon.


"Pak Chris sudah tidur?"


Adira memutar kepalanya ke kanan melihat mata Chris tertutup rapat.


"Cepat banget tidurnya" Adira menarik selimut menyelimuti dirinya dan Chris. "Pak Chris tahu, aku sudah berjanji akan mengabaikan pak Chris selama 1 minggu. Anehnya aku tetap membuat janji konyol itu padahal aku tahu tidak akan bisa menepatinya. Mana mungkin aku mengabaikan pria yang aku sukai selama itu" Adira melihat kepada Chris sejenak. Tidur atasannya itu terlihat lelap sekali.


"Pak, hari itu aku bohong. Aku pergi bukan untuk menemui Lisa. Aku marah karena pak Chris mengabaikanku. Aku sangat senang di kencan pertama kita, pak Chris membawaku ke kafe Adora. Aku tidak pernah makan disana karena harga makanan disana cukup mahal. Aku harus irit jika tidak mau kekurangan uang" Adira membuang nafas berat. Tak terasa airmatanya lolos begitu saja. "Hari itu sebenarnya aku malu karena pak Chris melihat aku ditampar ibuku sendiri. Aku sangat malu sampai airmataku tidak bisa keluar padahal aku sangat ingin menangis saat itu" ucapan Adira terhenti diiringi senyum getirnya. "Aku bahagia saat kita bersama. Entah sejak kapan kita jadi sedekat ini. Tapi sepertinya aku harus segera menjauh. Aku tahu pak Chris sangat mencintainya. Dan aku tidak mau jadi penganggu. Karena itu aku meminta hadiah kencan agar aku tahu rasanya pacaran dengan pria yang aku sukai. Pak, suatu saat nanti aku akan pergi dari sisi pak Chris" Adira menarik lalu melepas nafas pendek setelah selesai mengeluarkan segala uneg-unegnya. Dadanya terasa plong walaupun Chris tidak dapat mendengar curhatannya.


Adira merasa kering di area tenggorokannya. Ia pelan-pelan menyingkirkan tangan Chris dari pinggangnya.


"Aku haus" keluh Adira berjalan menuju dapur.


Chris membuka matanya perlahan setelah Adira pergi. Ia berpikir keras dengan kalimat terakhir Adira tadi. Benarkah Adira akan pergi? Selang menit berikutnya, Chris menutup matanya lagi begitu Adira masuk kamar.


Adira berdiri di sisi ranjang sambil memandang Chris lama. Ia kemudian mengecup sekejab bibir Chris. Meraih tas kecilnya yang tergeletak di atas nakas. Adira bermaksud meninggalkan Chris lagi tanpa pamit yang sudah menjadi kebiasaan buruknya. Kebiasaan yang sangat tidak Chris sukai.


"Kamu mau kemana?" tanya Chris mencengkram tangan Adira.


"Pak Chris sudah bangun. Saya tidak bisa tidur jadi saya mau pulang saja pak"


Chris menarik kasar tangan itu membuat Adira jatuh di atas tubuhnya. Gerakan Chris begitu cepat seperti angin. Kini tubuh Adira ada di bawah Chris. Seperti orang kelaparan, Chris mengecup lahap bibir candu milik wanita yang saat ini sedang ia tindih. Mendapat serangan mendadak membuat Adira tidak siap. Ia kelagapan menerima sentuhan lembut di bibirnya. Chris tidak memberinya kesempatan untuk membalas. Chris lalu mengigit geram bibir bawah Adira. Ia marah karena Adira akan meninggalkannya lagi. Adira pun menepuk-nepuk dada Chris agar memberinya ruang untuk mengambil udara segar.


"Pak" ucap Adira dengan nafas tersengal. Ia menghirup nafas sebanyak mungkin.


Tiba-tiba bayangan kelam itu kembali menghantuinya. Adira menggeliat menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya.


"Ayah"


Kilasan balik akan kecelakaan na'as itu berputar lagi di kepalanya. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawannya. Dan kecelakaan itu juga telah merenggut cinta pertamanya. Ayah yang sangat dicintainya dan begitu menyayanginya harus pergi untuk selamanya. Sakitnya semakin parah dengan kilasan pemandangan menjijikkan yang tanpa sengaja ia lihat semasa masih memakai seragam putih abu-abu.


"Adira, sekarang kamu cium saya balik biar kamu gak sakit lagi" ucapan Chris di tengah sakit yang Adira rasakan terdengar lucu di telinga. Namun hanya itu yang bisa Chris katakan. Hanya itu obat paling mujarab yang ia tahu.


Adira tidak tahan. Membuang rasa malunya kemudian mengecup bibir Chris dengan penuh gairah.


"Morning" sapa Chris tersenyum manis begitu Adira membuka mata. Tak lupa ia mengecup hangat kening wanita yang tadi malam tidur bersamanya. Sebenarnya Chris ingin ******* lagi bibir kenyal di hadapannya namun hasratnya itu harus di tahan karena ia tidak mau Adira sakit seperti semalam.


Senyum takkala manis Adira sematkan. Ia menutup matanya sesaat meresapi kantuk yang tersisa.


"Jangan malas. Ayo bangun. Kita masih punya kencan ketiga" ucap Chris beranjak dari kasur.


Seketika Adira melongo. Kencan ketiga! Itu artinya setelah ini, ia bukan lagi pacar Chris. Statusnya akan kembali sebagai bawahan biasa seperti sebelumnya dan ia akan menjadi asing lagi di hidup Chris jika sedang berada di luar kantor. Adira merenung cukup lama. Ia belum siap menghadapi kenyataan setelah kencan ketiganya berakhir.


"Hei buruan bangun, mandi. Apa mau saya mandiin?" tanya Chris dengan intonasi menggoda.


"Coba mandiin" jawab Adira menantang.


"Hah. Serius mau saya mandiin?" alis kiri Chris tertarik ke atas seraya menenteng tangganya di pinggang. Tubuh atas yang tanpa busana dan hanya di lilitih handuk putih di bagian bawah ditambah tubuh atletisnya membuat Chris terlihat sangat seksi dan menggoda.


"Bercanda. Nafsu'an banget sih" ledek Adira melepas paksa handuk yang menutupi bagian bawah tubuh Chris. Adira segera pergi ke kamar mandi tanpa melihat tubuh Chris yang tak di tutupi sehelai benangpun.


"Yeahh" teriak Chris nyaring. "Aishh dia liar sekali tapi aku menyukainya" ucap Chris tertawa kecil melihat tubuhnya tanpa busana.


Pagi yang sangat menyenangkan. Chris menata makanan di atas meja sembari menunggu Adira selesai mandi.


"Hmmm" dehem Adira di sela sarapannya bersama Chris.


"Tanyakan saja kalau penasaran" Chris menyadari ada yang ingin Adira katakan.


Adira tersenyum tipis. Walaupun tampak cuek tapi Chris sangat peka dengan orang-orang di sekitarnya. Adira mengatur nafasnya. Jujur ia malu menanyakan ini tapi rasa penasarannya terlalu besar.


"Selain saya, apa ada lagi...


"Hanya kamu yang pernah tidur di ranjang saya" sambar Chris tahu arah pertanyaan Adira.