
Adira berteriak memohon agar Jhon menghentikan laju mobil.
"Ok sudah berhenti. Sekarang jelasin ada apa?" tanya Jhon berusaha menenangkan Adira yang sedang panik.
"Nanti saja aku jelasin. Sekarang aku harus ketemu Chris dulu. Terima kasih untuk tumpangannya kak"
Pintu mobil yang baru terbuka sedikit kembali tertutup rapat. Jhon tidak bisa membiarkan Adira turun dari mobilnya dalam kegelapan malam. Banyak bahaya di luaran sana. Apalagi Adira seorang perempuan yang cantik, pasti akan ada laki-laki brengsek yang mengincarnya.
"Kamu mau kemana? Kemanapun kamu pergi, aku akan antar. Kali ini gak boleh nolak" ujar Jhon menekankan kalimat akhirnya.
"Anterin aku ke apartement Chris" timpal Adira tak ingin berdebat.
Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mobil Jhon sampai di tempat tujuan.
"Terima kasih kak. Maaf sudah ngerepotin" sesal Adira merasa tidak enak hati karena ia tidak dapat berlama-lama di dalam mobil.
"It's okay. Aku senang bisa membantu kamu. Gak mau turun ni?"
" Mau" ucap Adira ceria dengan senyum manjanya. "Thank you. Kak Jhon memang kakak terbaik. Bye" Adira mencubit gemas hidung mancung Jhon sebelum turun dari mobil.
Sebuah tindakan sepeleh yang tidak berarti bagi Adira namun sangat spesial untuk Jhon yang memang menyimpan perasaan khusus untuk gadis yang menganggapnya kakak itu. Senyum bahagia Jhon tersirat memandang punggung Adira yang semakin pudar dari tangkapan matanya.
Aku harap suatu saat nanti, aku bisa mengunkapkan perasaanku pada kamu, Adira.
Tok! Tok! Tok!
Jika sudah menjadi kebiasaan, memang sulit untuk dirubah. Sama halnya seperti saat ini, Adira selalu lupa jika apartement Chris mempunyai fasilitas bel untuk memanggil orang di dalam.
"Duh Adira kenapa sih lupa terus" ucapnya seraya tertawa konyol. Setelahnya Adira menekan bel lama.
Adira meracau menggebu begitu pintu terbuka. Ia tidak memberi Chris ruang untuk mencelah. Sedangkan dengan dahi berkerut, Chris hanya tertegun mematung. Dalam kebisuannya, Chris coba mencerna arah pembicaraan gadis di hadapannya.
Rahasia apa yang Adira bicarakan?
Apa Adira sudah tahu tentang penyakit?
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam" bujuk Chris lembut. Mungkin sekarang sudah waktunya Adira tahu tentang penyakitku, batin Chris.
"Gak mau. Kamu masih tidak mau cerita?"
"Ok, aku akan cerita. Aku tidak bermaksud sembunyiin ini dari kamu. Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat. Kalau aku.....
"Kalau bukan kamu yang menabrak ayah aku" sambar Adira melebarkan pupil matanya.
Detik itu juga Chris bersyukur dalam hati. Ia lega ternyata Adira belum tahu tentang penyakitnya. Jujur untuk sekarang Chris belum siap jika gadis yang dicintainya itu tahu dengan kondisi tubuhnya.
"Kamu tahu darimana?"
"Gak penting aku tahu darimana. Kamu harus menjelaskan tentang masalah ini padaku. Aku mau tahu semuanya" Adira menunggu tak sabar. Detik demi detik berlalu namun Chris tak kunjung membuka mulutnya.
Dari raut wajahnya, Chris jelas sekali sangat hati-hati. Ia memutar bola matanya sesekali layaknya orang yang sedang berpikir keras.
"Masuk dulu" bujuk Chris lagi seraya meraih pergelangan tangan Adira namun dengan keras Adira menarik kembali tangannya.
Adira mengedip matanya cepat. Sedikit lagi airmatanya lolos dari tempatnya. Sangat mengecewakan saat kekasih yang diharapkan bicara jujur tetap enggan bicara.
"Jadi kamu tetap tidak mau bicara. Baiklah" ucap Adira berbalik badan sambil mengusap airmatanya.
"Jangan pergi. Jangan meninggalkanku, Adira" Chris merangkul pundak Adira menggelamkan tubuh kecil itu dalam dekapannya. Menangis bersama dalam buliran air hangat yang membasahi pipi.
Saat ini yang membuat Chris tidak dapat menahan airmatanya bukan karena kenyataan tentang papanya. Tapi mengenai perkembangan terbaru tentang penyakitnya. Di bandingkan menjelaskan soal kecelakaan itu, Chris sebenarnya ingin jujur tentang penyakitnya.
"Bisakah kita melewati bagian ini? Kita lupakan semuanya. Kita sama-sama lagi. Hmm" ucap Chris putus asa seraya memutar tubuh Adira agar menatapnya.
Adira menghempas kasar lengan Chris dari lehernya seakan menolak tegas permintaan pria di hadapannya.
"Aku cuma minta penjelasan dari mulut kamu. Aku mau dengar. Kenapa susah banget sih?" ucap Adira geram. "Dengan kamu diam seperti ini bikin aku bingung. Ada apa? Rahasia apa lagi yang kamu simpan?"
"Kamu sudah tahukan bukan aku yang menabrak ayah kamu. Ya udah stop sampai disitu. Gak usah di bahas lagi"
Adira tercengang dan kehabisan kata. Ucapan Chris sangat membuatnya kecewa. Ini bukan Chris yang ia kenal. Bagaimana bisa masalah sebesar ini dianggap selesai begitu saja. Butuh penjelasan mendetail agar masalah ini bisa benar-benar bersih hingga kesalahpahaman yang ada bisa segera dihilangkan.
"Brengsek. Kamu pria paling brengsek yang pernah aku temui" umpat Adira bergejolak. "Jangan pernah menemuiku lagi"
Adira mengambil langkah seribu dengan perasaan marah membara. Ia tidak menghiraukan pria yang sedang mengejarnya dan terus memanggil namanya. Sampainya di depan lift, Adira buru-buru menekan tombol kemudian pintu lift kembali tertutup sebelum sempat Chris masuk. Tanpa berpikir lama, Chris pun menuruni tangga darurat.
Tibanya di lantai 1, Adira tetap berlari menuju pintu keluar. Ia tidak ingin Chris bisa mengejarnya. Seakan suatu keberuntungan, Adira tidak perlu repot-repot lagi mencari taksi karena tak jauh dari pintu keluar sudah ada taksi terparkir. Seakan taksi itu memang sengaja menunggunya.
"Pak ayo cepat jalan" titah Adira dengan nafas tersengal.
Chris yang baru saja tiba dan melihat Adira memasukki sebuah taksi semakin panik.
"Adira" panggilnya nyaring.
"Jhon, kamu kesini naik apa?"
"Mobil"
"Ayo kita kejar Adira. Aku khawatir padanya. Dia sedang dalam keadaan marah"
Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Adira mengintip dari kaca belakang, mengecek apakah ada kendaraan lain mengikutinya.
📞 Iya pak sekarang dia sudah ada bersamaku. Baik pak"
Adira merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari sopir taksi yang ia tumpangi. Sang sopir memakai baju serba hitam dan memakai topi dengan warna senada. Di tambah lagi pembicaraan sang sopir di telepon seakan mengacu padanya.
"Pak saya berhenti disini saja"
Sang sopir tidak menggubris.
"Pak saya mau turun disini. Stop" pinta Adira meninggikan intonasi bicaranya. "Pak saya bilang stop" sambungnya mulai panik.
Pria berpakai serba hitam itu tetap tidak mengindahkan permintaan penumpangnya. Ia terus melajukan mobilnya dan mengambil jalan berbeda dari yang sudah Adira beritahu sebelumnya.
"Loh ini bukan jalan ke rumah Adira. Jhon terus ikuti taksi itu. Jangan sampai kehilangan jejak soalnya Adira ada di dalam" ucap Chris merasa ada yang tidak beres.
Waktu menunjukkan pukul 20.25 pm. Di dalam taksi Adira terus memohon agar sang sopir menurunkannya. Adira tidak tahu sedang ada dimana. Ia tidak mengenal jalan ini sama sekali. Sisi kanan dan kirin jalan gelap, tidak ada lampu penerang jalan. Susana di luar mobil tampak mencekam. Tibalah di sebuah gedung tua yang tidak terurus. Sang sopir menarik paksa tangan Adira agar mengikutinya memasukki gedung.
"Lepasin saya. Kamu siapa? Salah apa saya sama kamu?" Adira tidak menyerah walaupun pria di depanya memilih tetap diam.
Tubuh Adira di dorong dengan keras begitu berada di sebuah ruangan petak berukuran tidak terlalu besar namun tidak kecil.
"Aww" ringis Adira kesakitan saat keningnya berbenturan dengan dinding. Kepalanya berdenging hebat. "Pusing banget"
"Pusing, hmm" pria itu mencengkram lalu menghempas wajah Adira takkala kasar hingga sudut bibir kanan Adira mengeluarkan cairan merah.
Mendapat pukulan yang begitu keras membuat Adira tak berdaya. Ia lemah tak bertenaga. Bahkan saat tubuhnya dipaksa duduk di sebuah kursi, ia hanya bisa pasrah tidak bisa melawan.
"Chris tolong aku" mohon Adira samar.
Setelah sempat kehilangan jejak, akhirnya Chris dan Jhon menemukan taksi yang membawah Adira. Mereka berdua kemudian langsung berlari ke dalam gedung tua. Chris dan Jhon pun sepakat berpencar agar lebih efisien untuk menemukan Adira lebih cepat.
"Tanda tangan surat ini"
Refleks dahi Adira mengernyit.
"Gak mau. Aku gak pernah tanda tangan" tolak Adira tegas setelah membaca isi surat.
"Jadi kamu lebih memilih mati" sebuah pistol menempel lekat di kening Adira. Pemilik pistol itupun bersiap menarik pelatuk.
"Tolong...tolong"
Sang sopir tertawa meledek. Di gedung tua ini hanya ada mereka berdua jadi tidak ada gunanya berteriak minta tolong.
"Tolol. Tidak akan ada yang datang menolong kamu. Lebih baik kamu tanda tangan surat ini sekarang sebelum aku membunuhmu" ucapnya tertawa puas. Tangan besarnya kembali menghantam wajah Adira brutal.
Tak lama setelah Adira berteriak minta tolong, pintu ruangan dimana sang sopir menyiksa Adira berhasil didobrak.
"Chris" panggil Adira pelan dan hampir tidak terdengar.
Tanpa ampun, Chris menerjang pria biadab itu. Menendang bagian perut lalu memukul wajah pria itu tanpa belas kasihan hingga tergeletak di lantai.
"Adira" dengan sigap Chris menangkap tubuh sang kekasih yang hampir jatuh. Tak terasa airmatanya menitih melihat keadaan wanita yang dicintainya itu terlihat sangat memprihatinkan.
"Chris, sakit" ucap Adira terisak sambil mendaratkan kepalanya di dada Chris.
"Sekarang kamu aman. Ayo kita pulang"
"Chris awas" teriak Adira mendorong tubuh Chris menjauh dengan sisa tenaga yang ada.
Tidak peduli dengan keselamatannya, Chris melebarkan kaki dan menjadikan diri sebagai tameng. Ia memeluk erat tubuh Adira.
Dorrrr
Hanya berselang beberapa detik, sebuah peluru menembus kulit Chris. Tubuh kekar berotot itu seketika merosot bersimbah darah.
"Chris"
"Adira, kamu selalu keras kepala" ucap Chris terbata-bata. "Aku bilang jangan pergi tapi kamu tetap pergi" tiba-tiba Chris menyemburkan darah dari mulutnya.
Adira hanya bisa menggelengkan kepala dengan mulut sedikit terbuka. Ia hanya bisa menangis menyesali semua yang terjadi. Perlahan wajah Chris berubah pucat pasih. Hal itu membuat Adira semakin ketakutan.
"Jika aku tidak ada, kamu harus bisa menjaga diri" tangan Chris menjuntai jatuh ke lantai layaknya benda tak bernyawa. Matanya kemudian menutup rapat.
"Enggak...enggak. Kamu gak bisa mati. Kamu tidak boleh mati. Chris bangun" teriak Adira histeris.