Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Kebahagiaan Sesaat?



Chris melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia semakin cemas seiring rintihan kesakitan dari wanita di sebelahnya.


"Aww sakit banget" ringis Adira sambil menggerakkan tubuhnya gusar.


"Kamu tahan sebentar lagi. Kita hampir sampai" Chris berusaha fokus dengan stirnya sambil sesekali melihat GPS di layar ponselnya.


Untuk mencapai rumah sakit, itu masih terlalu jauh. Adira mungkin bisa pingsan di jalan. Chris pun memutuskan membawah Adira ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan pertama.


Setelah sampai, Chris buru-buru membopong bridal tubuh sang istri. Adira langsung di bawah ke salah satu ruang guna mendapati tindakan lebih lanjut. Dokter pun tidak melarang dan membiarkan Chris menemani Adira selama dokter memeriksa istrinya.


Tidak lama dari itu, dokter meminta Adira turun dari ranjang untuk mengikuti langkahnya.


"Dok, kenapa dengan istri saya?" tanya Chris tak sabar.


Sang dokter tersenyum sebentar.


"Selamat ya pak, anda akan menjadi seorang ayah" tutur dokter tersenyum sumringah.


Seketika senyum mengembang di wajah Chris dan Adira. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan mata berbinar haru.


"Maksud dokter, istri saya hamil?" tanya Chris lebih lanjut, memastikan jika yang ia dengar benar adanya.


"Iya"


Entah bagaimana menggambarkan perasaan sepasang suami istri itu saat ini. Terutama Adira yang memang sudah menantikan kehamilan ini sejak lama. Adira ingin sekali melahirkan anak untuk Chris, pria yang dicintainya. Dan kini keinginannya itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Sungguh ini kebahagiaan yang tiada tandingannya.


"Tapi tolong perhatikan kondisi istrinya ya pak. Istri bapak jangan terlalu lelah bekerja. Makanannya dijaga. Dan yang terpenting jaga perasaan istrinya. Jangan buat dia banyak pikiran yang nantinya bisa menimbulkan stress. Karena jika itu terjadi maka akan berpengaruh ke anak yang sedang dikandung istri bapak" jelas sang dokter mendetail.


Chris mengangguk patuh. Dalam hati, ia berjanji akan menjaga sang istri baik fisik maupun batin. Tidak akan membuat calon ibu dari anaknya bersedih apalagi menangis. Akan terus membuat wanitanya itu tertawa dan tersenyum bahagia.


" Sayang, kamu mau makan apa?"


Sontak Adira mendongak, menatap heran pada pria yang sedang berdiri di hadapannya. Tidak biasanya suaminya itu memanggil sayang.


"Tumben manggil sayang?" ledek Adira curiga.


"Kenapa? Memangnya kamu saja yang boleh?"


"Gak papa. Aneh saja dengarnya" Adira berjalan ke arah dapur. Diikuti Chris dari belakang.


"Mau ngapain?"


"Masak"


"Gak usah, aku saja yang masak. Kamu duduk saja disana" larang Chris bersikap kayaknya suami siaga. "Kamu mau makan apa?"


"Mie instan"


"Aissh. Gak boleh makan mie. Mie gak sehat" Chris menolak tegas.


"Hemm" rengut Adira cemberut. "Bolehlah sekali saja. Aku ngiler banget mau makan mie. Sepertinya ini permintaan anak kita" rayu Adira dengan bibir manyun.


Chris yang melihat mimik sedih sang istri merasa kasihan. Ia lalu searching internet untuk memperoleh informasi, apakah mie instan baik untuk ibu hamil?


"Ok, sekali ini saja ya" Chris akhirnya menuruti keinginan istrinya itu. Ia sudah mendapatkan informasi yang bisa menjelaskan rasa khawatirya. Seorang ibu hamil boleh mengonsumsi mie instan asalkan tidak dalam porsi yang berlebihan.


Tak butuh waktu lama, semangkuk mie kuah dengan toping telur mata sapi, sayuran hijau dan tiga cabai rawit tersaji di hadapan Adira. Aroma khas yang berasal dari mie membuat Adira tidak sabar menyantap makanan itu.


Saking tidak sabarnya, Adira membuka mulutnya lebar begitu mie yang masih panas masuk ke dalam mulutnya. Ia pun meniup mie di dalam sana.


"Sabar, pelan-pelan" ujar Chris.


Adira tampak sangat senang dan lahap mengunyah mie nya. Mendadak di suapan ke ketiga, ia mengeluh kekenyangan.


"Hmm aku kenyang" Adira mengembalikan sendok yang berisi mie ke dalam mangkuk. Ia tidak sanggup menelan mie itu lagi.


"Hah" Chris melongo bingung. "Kenyang? Tapi kamu baru sedikit makannya. Mie nya juga masih banyak"


"Kamu saja ya yang habisin. Aku mau tidur capek" Adira bangun dari duduknya.


"Tunggu" titah Chris mengenggam lengan Adira. "Ngerjain aku ya?" sambungnya curiga.


"Enggak. Aku memang udah kenyang" bantah Adira tertawa dalam hati.


Sebenarnya kecurigaan Chris benar. Adira memang sengaja melakukan itu. Ia masih marah dengan sang suami. Biar bagaimanapun, Adira tidak terima Chris salah menyebut nama dirinya. Ya walaupun Chris sudah minta maaf dengan sungguh-sungguh tapi rasa kesal di benaknya belum sepenuhnya hilang. Namanya juga wanita, kalau sudah sakit, susah untuk lupa.


...-------------------...


"Pagi pak Chris" sapa Jeny tersenyum mamis lalu meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja.


"Pagi Jeny"


"Siang ini, pak Chris mau saya pesankan makanan apa?"


"Istri saya sudah menyiapkan bekal untuk saya. Ini" kata Chris sambil menepuk kotak bekal di depannya. "Oh ya Jeny, mulai sekarang jangan bertanya lagi tentang itu. Karena saya hanya akan makan makanan yang istri saya masak" sorot mata Chris terlihat tajam seakan ingin menjelaskan pada wanita di depannya agar jangan merasa terlalu akrab dengannya.


Jeny mengangguk kikuk dan canggung.


"Hmm siang ini boleh saya makan siang sama pak Chris lagi?"


"Saya mau makan sendiri" kali ini Chris benar-benar ingin memenuhi janjinya untuk menjaga perasaan Adira. Ia akan menjauhi apapun yang bisa membuat istrinya itu bersedih.


Gedung J.O Company


Adira bekerja seperti biasanya. Ia larut dengan berkas-berkas di atas meja. Sesekali ia melepaskan kacamata yang mengait di kedua sisi telinga lalu memijit pelan pangkal hidungnya. Entah mengapa, Adira merasa tubuhnya sangat lemah. Seperti ponsel yang kekurangan daya. Ini jarang sekali terjadi, biasanya mau sebanyak apapun berkas yang diperiksa, ia tetap tidak kekurangan tenaga seperti ini.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Lisa khawatir saat melihat muka pucat temannya itu.


"Aku gak papa"


"Tapi muka kamu pucat loh Ra. Kamu sakit?"


"Gak ah. Aku sehat gini dibilang sakit. Sa, aku lagi hamil"


"Hah" Lisa terkejut. "Kok kamu gak bilang dari tadi?"


"Emang harus ya?" sahut Adira.


"Ya haruslah. Ini kan kabar gembira. Berita besar. Yang lain belum tahu ya? Aku sebarin ya"


"Sa, jangan...gak usah, Sa...


Lisa berseru dan seketika kabar kehamilan Adira menyebar ke karyawan lain. Kabar itu juga sampai ke telinga David.


"Kurang ajar. Sitt" umpat David sambil memukul meja kerjanya.


Siang menjelang sore, akhirnya Adira selesai memeriksa tumpukan berkas di hadapannya. Ia kemudian menyusun dan mengurutkan berkas sesuai tanggal. Setelah itu membawah benda putih dan tipis itu ke gudang.


"Ra, kamu ngapain? Kamu itu gak boleh bawah yang berat-berat. Apalagi kamu lagi hamil muda, masih rawan" Maya ingin menolong tapi Adira langsung menolak uluran tangannya.


"May, gak usahlah. Aku bisa sendiri kok. Lagiankan gudangnnya gak turun tangga jadi masih amanlah. Ini juga gak berat kok. Udah ya, aku antar ini dulu" Adira melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda sesaat.


Di perjalanan menuju gudang, tak sengaja Adira berpapasan dengan David. Adira tersenyum ramah sambil merendahkan kepalanya sejenak.


Beberapa menit kemudian....


Adira keluar gudang, berjalan menuju meja kerjanya. Namun tiba-tiba kakinya terpeleset dan Adira jatuh dengan bokong menyentuh lantai lebih dulu. Seketika Adira mengerang kesakitan.


"Aawww"


Adira meraba lantai di bawahnya. Ia bingung kenapa tiba-tiba ada air di lantai. Padahal tadi jelas-jelas lantai yang ia pijaki kondisinya kering dan bersih.


"Aaww sakit banget" ringisnya sambil menekan pinggang.


"Adira" teriak Maya.


"Maya, tolong aku. Perut aku sakit banget, sumpah. Aahh" Adira mengigit kuat bibir bawahnya, berharap sakit di perutnya sedikit berkurang. Namun justru sakit itu semakin menjadi-jadi.


Maya pun berusaha membantu Adira berdiri. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat darah segar mengalir dari sela-sela paha Adira.