Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
New Journey



Wajah Adira mendapat tamparan keras setelah merobek secarik kertas yang disodorkan padanya. Kertas putih yang bertuliskan sebuah perjanjian yang mengharuskannya meninggalkan pria yang dicintainya. Adira tidak akan melakukanku. Menandatangi surat itu sama saja membunuh dirinya dan Chris secara perlahan. Apalagi Adira sudah berjanji pada kekasihnya itu tidak akan pergi apapun yang terjadi.


Tubuh rampingnya kembali mendapatkan pukulan tangan. Adira terisak sambil memohon ampun agar berhenti memukulinya. Namun jeritan serta kesakitannya tidak berarti bagi kedua pria sangar itu. Emosi mereka terpancing saat Adira dengan tegas merobek surat perjanjian. Dan di satu sisi, Sandra ibu Adira justru menyalahkan Adira atas semua yang terjadi. Ia menghardik putrinya itu karena terlalu keras kepala seakan tidak peduli dengan keselamatan diri sendiri dan wanita yang telah melahirkannya.


"Dasar anak tidak berguna" hina Sandra dengan intonasi tinggi. " Bodoh. Kenapa kamu merobek suratnya? Kita sudah bebas jika kamu tidak keras kepala" sambung Sandra tak terkendali.


"Tu dengerin ibu kamu. Sekarang terima akibatnya"


Dengan sadis dari salah pria menampar pipi Adira hingga menetes cairan merah dari bibir ranumnya. Tangisan pilu semakin mendera. Adira sudah tidak tahan. Ini terlalu sakit.


"Siapapun, tolong aku. Chris tolong aku" mohon Adira dalam hati dan susah membuka mulut. Saat ini bibirnya pecah dan tidak bisa bicara.


Derap langkah kaki perlahan memasukki ruangan. Sosok bertubuh tegap dan tinggi dengan setelan jas hitam menghampiri Adira. Adira mendongak melihat sosok yang berdiri di dekatkan.


"Kamu" mata Adira terbelalak tak percaya.


Kenapa papa Chris ada disini?


Apa yang dia lakukan?


"Saya sudah memberi kamu pilihan. Tapi kamu tetap saja tidak mau menjauhi putra saya. Lebih baik kamu mati saja" ujar Alex mencengkram rahang Adira. Lalu pria bertubuh besar itu membuang kasar wajah gadis dalam perangkapnya.


"Alex" ucap Sandra dengan suara bergetar.


Alex mengangah mematung. Wanita yang dulu sempat tinggal di hatinya ada di hadapannya. Saat ini Alex seperti orang kebingunan. Situasi apa ini? Apa hubungan Adira dengan Sandra? Di sisi lain, Sandra sama terkejutnya seperti Alex. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Kenapa Alex dengan kejam menyuruh seseorang menyekap dirinya dan memukuli putrinya?


Dalam ketidakberdayaannya dan tidak ada tenaga yang tersisa, Adira sudah pasrah. Tidak akan ada yang datang menolongnya. Dirinya juga tidak bisa melawan. Namun seperti nasehat petuah jangan pernah berhenti berdoa selama nyawa masih di badan. Pertolongan itu datang. Tiga orang polisi mengepung dan memberi peringatan agar Alex dan anggotanya mengankat tangan ke atas.


"Adira, ayo kita ke rumah sakit" ucap Maya membantu Adira berdiri. Lisa dan Farah juga ikut membantu.


* 3 jam yang lalu


"Aku balik duluan ya"


"Ra, tunggu. Bareng saja pulangnya" pekik Maya nyaring.


Adira mengabaikan panggilan teman-temannya itu. Ia terus berlari keluar dari kedai.


"Kok aku khawatir ya"


"Aku juga"


"Gimana kalau kita ikutin saja Adira" timpal Farah.


Maya, Lisa, dan Farah sesekali memperingati sopir taksi yang mereka tumpangi agar tidak kehilangan jejak taksi di depannya. Dimana di dalam taksi itu ada Adira. Lisa mencoba menghubungi Adira namun tidak dijawab. Mereka pun semakin yakin ada yang tidak beres. Semakin lama mobil berjalan meninggalkan jalanan kota hingga mengambil jalan yang jarang dilewati pengendara lain. Merasa ini sedikit berbahaya, Maya berinisiatif menghubungi polisi untuk antisipasi. Jika terjadi sesuatu maka ada polisi yang akan membantu. *


3 hari kemudian


"Apa yang papa lakukan? Aku sudah memperingati papa jangan menyentuhnya. Kenapa melakukan ini padanya? Dia tidak salah apa-apa" tanya Chris menggebu seraya memukul meja kayu di depannya.


"Pelankan suara anda. Ini kantor polisi" tegur polisi penjaga yang berdiri tidak jauh dari meja yang ditempati Chris dan Alex.


Alex tidak menjawab. Mulutnya tertutup rapat. Sampai saat ini, Alex sibuk dengan pikirannya. Ia tidak menyangka ternyata Adira anak dari wanita selingkuhannya dulu. Kesalahan besar yang tanpa sengaja dilakukannya dulu mengepul di kepalanya. Alex tidak bisa melupakan tragedi kecelakaan itu. Kecelakaan yang merenggut nyawa suami dari mantan selingkuhannya.


"Kamu sudah tahu semuanya?" tanya Alex mengintimidasi.


Chris menghela nafas sejenak lalu menyandarkan pundaknnya di kursi.


"Iya"


"Jika papa tahu, apa akan merubah keadaan?" tanya Chris balik. "Mungkin ini balasan yang pantas papa terima. Maaf untuk kali ini, aku tidak bisa membantu. Jangan sakit. Mungkin aku tidak bisa sering kesini"


Chris pergi meninggalkan Alex dengan segala penyesalan dan rasa sepi papanya itu. Chris sangat menyayangkan di masa tua papanya, pria itu harus mendekam di dalam penjara.


...-----------------...


Tubuh Adira terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia belum beranjak dari sana sejak tiga hari yang lalu. Tubuhnya yang dipenuhi luka serta wajah lebam mengharuskan mendapatkan perawatan intensif. Bahkan dokter menyarankan agar Adira tidak boleh berhubungan dengan banyak orang dulu untuk mempercepat proses pemulihan. Dan sejak hari pertama di bawah ke rumah sakit, Chris belum bisa menemui Adira. Hanya sang ibu yang menjadi satu-satunya keluarga Adira yang diperbolehkan menemani di dalam.


"Adira putri ibu sayang, cepat bangun nak. Bangun...ibu harus minta maaf sama kamu" ucap Sandra sendu bersama airmata pernyesalan.


Kejadian malam itu membuat Sandra sadar jika semua nasib tragis yang Adira alami karena kesalahannya. Alex yang dulu menjadi teman prianya tak lain adalah pria kejam dan bajingan. Pria yang dulu sempat membuatnya terlena dalam kebahagiaan duniawi hingga menelantarkan Adira dan juga suaminya, kini meninggalkan luka di sekujur tubuh putrinya. Bagaimana bisa tubuh kecil putrinya di siksa dengan begitu kejam?


"Maafkan ibu sayang" ucapnya sembari mengelus lembut rambut panjang sang putri.


Di luar kamar, Chris terlihat mondar mandir di depan kamar Adira dirawat. Sudah tiga hari tidak bertemu. Ia sangat merindukan gadis pujaannya itu. Selama beberapa hari ini, Chris mendapatkan kabar terbaru tentang kondisi Adira hanya dari Sandra saja. Entah marah atau memang mengikuti saran dokter, sampai saat ini Sandra belum mengizinkan Chris masuk ke ruangan putrinya.


"Masuklah" pintu tiba-tiba terbuka menampakkan Sandra di ambang pintu.


Setelah berpikir cukup lama, Sandra menyadari sesuatu. Malam itu putrinya bersikukuh tidak mau menandatangani surat perjanjian. Sandra sadar betapa besar cinta yang dimiliki putrinya untuk Chris. Mungkin dengan cara membiarkan Chris masuk bisa membuat Adira bangun.


"Hai. Apa kabar? Nyenyak banget tidurnya" sapa Chris tersenyum getir. "Bangun dong, aku kangen dengan kebawelan kamu" sambungnya berusaha tetap tenang dengan gemuruh di dada.


"Kalau kamu diam begini, aku bingung mau ngapain. Aku tidak tahu apa yang kamu mau. Oh iya, kamu mau menikah denganku kan? Makanya bangun...kamu harus bangun. Aku janji akan langsung menikahi kamu. Bangun ya, aku sangat merindukan kamu" Chris menyeka airmatanya. Menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja di malam kejadian dirinya ada di sana maka kekasihnya itu tidak akan mengalami nasib seperti ini.


Dalam sesak yang bersemayam di dada, kepala Chris tiba-tiba diserang sakit yang luar biasa. Tubuhnya berdiri tak seimbang. Kepalanya pusing dan penglihatannya perlahan memudar. Tak lama Chris kehilangan kesadaran dan tubuhnya jatuh ke lantai.


"Pak Chris harus segera melakukan operasi" kata dokter pelan, beberapa menit setelah Chris sadarkan diri.


Chris terdiam kaku. Bagaimana mungkin ia melakukan operasi di saat Adira belum sadarkan diri? Chris takut, ia tidak dapat mengenali Adira setelah bangun dari operasi.


Chris pun berpikir keras, bagaimana caranya membuat Adira tetap ada di sisinya walaupun nanti ia tidak dapat mengenali gadis pujaannya itu.


Chris pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas lalu mendial nama orang kepercayaannya.


📞 Persiapkan semuanya dengan cepat.


Setelah memutuskan sambungan, Chris menuruni ranjangnya menghampiri kamar Adira.


"Bu, bisakah kita bicara sebentar?"


"Kita bicara di luar" jawab Sandra berjalan lebih dulu.


Di luar kamar, Chris menyampaikan keinginannya untuk menikahi Adira. Ia menceritakan semuanya pada Sandra tentang penyakitnya dan segala kemungkinan yang terjadi setelah melakukan tindakan operasi. Di awal, Sandra menentang keras keinginan Chris itu mengingat kondisi putrinya yang belum sadarkan diri. Namun pancaran ketulusan dari sorot mata Chris membuat Sandra luluh. Sandra yakin tidak ada laki-laki yang akan mencintai putrinya sebesar cinta yang dimiliki anak muda di hadapannya.


Keesokan harinya...


Dengan segala persiapan serba cepat dan seadanya, acara pernikahan berjalan dengan lancar. Kata SAH yang lantang dari beberapa saksi yang hadir membuat status Chris Evraro kini resmi menjadi suami Adira Kayra.


Namun bukan malam pertama romantis yang biasa dinikmati pengantin baru pada umumnya. Malam ini juga tidak lama setelah acara pernikahan, Chris langsung memasukki ruang operasi.


1 minggu kemudian...


"Hai" sapa Adira tersenyum manis sesaat setelah Chris bangun.


Chris menutup matanya sebentar lalu membukanya lagi. Raut wajahnya seperti orang kebingunan.


"Kamu...siapa?