Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Terlalu Kejam



Chris mengurai dekapannya. Ia khawatir melihat Adira menahan sakit. Meskipun kejadian ini bukan sesuatu yang baru namun ia tetap bingung dengan reaksi Adira setiap usai bermain bibir dengannya.


"Sakit lagi?"


"Hmm" dehem Adira mengiyakan.


Chris memegang kedua sisi pundak Adira menuntunnya duduk.


"Masih sakit?" Chris mencoba memicit lembut pelipis Adira. Barangkali rasa sakit ini bisa sedikit memudar. "Sebaiknya lakukan cara lama" lanjutnya menyarankan.


Adira membuka mata menatap sendu pria yang sedang berjongkok di hadapannya. Entah apa yang pria ini pikirkan tentangnya. Bisa saja dia berpikir, Adira gadis yang aneh. Bagaimana mungkin orang bisa sakit hanya karena berciuman? Sebenarnya Adira merasa dirinya berbeda dari yang lain. Penyakit langkah ini sangat menganggunya. Ia bahkan selalu merasa cemas setiap kali berciuman. Takut sewaktu-waktu sakitnya kambuh yang tentu saja akan merusak suasana, seperti saat ini.


Selama ini Adira hanya mencari kelainan yang diidapnya di internet saja. Ia tidak berani mengecek langsung ke dokter ahli. Takut akan menemukan penyakit lain dalam dirinya. Jika ia mendengar hal yang aneh lagi maka sulit baginya untuk bangkit. Sudah cukup untuknya bertahan dalam kesendirian sepeninggalan ayah tercinta.


Diam dalam keheningan beberapa saat, Adira menangkup pas wajah pria di depannya lalu menempelkan bibirnya di bibir Chris yang berisi di bagian bawah. Inilah cara lama yang Chris maksud. Ini memang memalukan tapi sampai saat ini Adira belum menemukan obat untuk penyakit anehnya ini.


"Selamat siang pak Chris" sapa ramah seorang pria yang tampak lebih tua dari Chris.


"Siang pak Aziz" balas Chris menyalami tangan pria yang akan menjadi rekan meetingnya hari ini.


Chris yang tidak suka basah basih langsung ke topik pertemuan. Keduanya terlihat berbicara alot dan saling menyambung pendapat satu sama lain karena memang mereka sudah memahami isi dari meeting itu. Setelah mendapat satu kesepakatan, Aziz pamit lebih dulu.


"Siang sayang" Entah sejak kapan, tiba-tiba Emilly datang dan langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Chris dari belakang.


Sontak Chris memutar kepalanya 30 derajat. Tanpa diduga Emilly melekatkan bibirnya di bibir milik kekasihnya. Chris langsung menggeser kursinya ke samping. Tempat yang ia pilih untuk meeting memang private room dan tidak ada yang dapat melihat dari luar namun tetap saja ia merasa tidak nyaman. Sekarang rasanya hambar tidak ada gairah saat ia bersentuhan dengan wanita selain dengan Adira.


"Kamu bisa tahu aku disini?" tanya Chris heran.


"Papa yang kasih tahu" ucap Emilly dengan mimik manjanya.


Chris lupa meskipun tidak memberitahu siapapun tapi David Jo selaku CEO J.O Company pasti tahu setiap gerak geriknya. Sangat mudah bagi Emilly untuk tahu segala kegiatan Chris baik di dalam maupun di kantor selama itu masih dalam masa kerja.


"Aku merasa diawasi setiap saat" keluh Chris memalingkan wajahnya ke tempat lain.


"Sayang, kok kamu ngomongnya gitu. Papa itu gak pernah kasih tahu aku tentang kegiatan kamu, kalau aku gak nanya. Papa itu sangat profesional. Dia tidak akan mencampurkan urusan kantor dan pribadi. Aku saja yang selalu ingin tahu tentang kamu dengan merepotkan papa. Kamu gak suka ya?" jelas Emilly lembut coba mengembalikan mood Chris yang rusak.


Sepasang netra itu menatap sayub. Suara lembut dan sikap sabar Emilly membuat Chris diselimuti rasa bersalah. Selama ini memang hubungannya baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar yang dapat membahayakan hubungan mereka. Tidak ada paksaan. Rasa itu ada untuk Emilly tapi sekarang sirna entah kemana. Hanya ada Adira di kepala Chris sekarang. Chris bimbang. Bagaimana memberitahu Emilly yang sebenarnya?


"Sayang, temani aku makan yuk. Lapar banget" ucap Emilly tersenyum manis sambil mengelus perutnya.


Chris tidak tega menolak permintaan gadis di sebelahnya. Tidak bisa secepat itu. Sikap manja Emilly tidak akan bisa menerimanya. Mungkin di lain waktu, Chris akan memberitahu Emilly hatinya untuk siapa.


Mobil Chris berhenti di area parkir kafe Adora. Kafe yang sangat terkenal di kalangan pekerja karena selain makanannya yang enak, posisi strategis kafe Adora juga menjadi salah satu keunggulan lainnya.


"Eh coba lihat sana"


Adira, Maya, Farah, serempak menoleh ke arah yang Lisa tunjuk. Seketika Adira mengatup rapat mulutnya. Makanan di dalam mulutnya, ia telan sekali dorongan.


"Mereka serasi banget ya" puji Farah melihat kecocokkan sempurna antara Chris dan Emilly yang sedang berjalan menuju meja kosong.


"Hooh. Pak Chris ganteng, tinggi, kharismatik. Tunangannya cantik, tinggi langsing kayak model, pembawaannya juga elegant banget. Mereka pasangan yang sangat pas" ucap Lisa kagum memperhatikan indahnya ciptaan Tuhan di dekatnya.


Deg!


Adira merasa dadanya ditimpuk benda berat. Harapan Maya membuatnya terpukul. Ucapan itu seperti sindiran untuknya. Seketika Adira merasa wajahnya panas. Hatinya berdebar tak menentu. Rasanya ingin menangis. Malu dan takut.


Apa benar ia pelakor itu?


📞 Hallo. Iya bu. Ok aku segera kesana.


"Aku balik duluan ya. Barusan ibu nelpon nyuruh aku ke rumah. Bye. Oh iya makananku bayar dulu ya ntar aku ganti. Dah" Adira melambaikan tangan dan buru-buru pergi. Sebenarnya itu hanya alasan. Ibunya tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada keperluan mendesak. Misalkan saja minta dikirimi uang seperti kemarin. Adira hanya ingin pergi dari tempat itu sebelum Chris melihatnya. Jika sampai Chris melihatnya maka itu hanya akan membuatnya terlihat semakin menyedihkan.


Chris menoleh ke arah Adira yang melangkah keluar kafe. Sebenarnya begitu memasuki kafe, Chris sudah menyadari keberadaan Adira dan ketiga teman-temannya. Hanya saja keadaan tidak memungkinkan baginya untuk menyapa apalagi bergabung.


Adira berjalan pelan menyusuri jalan. Baru saja ia merasa sedikit tenang, kini pikirannya kembali kalut dan kacau. Hatinya sakit mengingat ucapan Maya tadi. Cap pelakor, bukankah itu terlalu kejam?


Dorr


Sontak pundak Adira bergedik. Seseorang mengejutkannya. Ia pun berbalik mencari pemilik suara berat itu.


"Pak Jhon. Kok ada disini? Ngikutin saya ya pak?" tanya Adira menatap curiga.


"Pede banget. Ini tempat umum. Lagian ngapain bengong disini. Giliran ditabrak marah tapi jalannya nunduk mulu"


"Suka-suka sayalah pak. Saya lagi mau sendiri" sambar Adira cemberut seraya duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kak Jhon"


"Iya maaf lupa. Kak Jhon ngapain sih disini?"


"Terus kamu ngapain disini?" tanya Jhon balik.


Adira bergeser sedikit.


"Udah ah malas. Kak Jhon kalau cuman mau ganggu saya, mending cari tempat duduk yang lain deh. Saya lagi malas ngomong"


"Katanya malas tapi ngomong terus" sambung Jhon mematahkan ucapan Adira barusan.


"Apaan sih bikin makin badmood" sahut Adira mengelas malas.


"Bersandar disini" saran Jhon menepuk pundak kokohnya. "Capekkan?"


"Banget" jawab Adira singkat.


"Ya udah sini, gratis" Jhon kembali menepuk pundaknya.


Adira merendahkan kepalanya lalu menempelkan wajahnya di pundak pria kekar itu. Sapuan angin juga suasana tempatnya singgah kini membuat matanya tidak bisa diajak kompromi. Tak butuh waktu lama, Adira telah lelap dengan pundak Jhon sebagai bantalnya.


Jhon memperhatikan wajah Adira yang tengah terlelap. Tetap cantik natural. Tanpa sengaja matanya beralih ke bibir merah mudah itu. Jhon menepis ragunya kemudian memainkan jempolnya di daging kenyal itu. Ia lalu menundukkan wajahnya mengarah kepada bibir Adira.