
Sore itu tampak manusia hilir mudik melewati lorong. Ada yang berjalan santai. Ada juga yang berlari terburu-buru. Ada juga beberapa suster mendorong ranjang gerak dimana di atasnya terdapat pasein kritis ke dalam ruang unit gawat darurat. Adira yang melihat pemandangan itu hanya bisa tertegun tanpa bisa membantu. Lalu matanya beralih pada sosok wanita paruh baya yang sedang menangis di seberangnya. Raut wajah wanita itu terlihat sangat murung dan tangisnya begitu menyayat hati. Entah apa yang sedang dialami wanita itu. Adira ingin bertanya tapi takut menganggu. Bisa saja nanti pertanyaannya justru menyinggung perasaan wanita itu. Dan pada akhirnya nanti justru akan membuat masalah yang sedang dihadapi wanita itu semakin runyam.
"Bu Adira silakan masuk" pekik seorang suster.
Adira membalikkan badan sebentar. Matanya menyusuri lorong. Tidak ada tanda-tanda Chris kembali.
"Chris kemana ya? Kok lama banget" gumam Adira resah.
Chris yang 15 menit lalu berpamitan sebentar karena lupa mengunci mobil sampai kini belum kembali.
"Dok, boleh saya bertanya?" tanya Adira sembari duduk.
"Silakan bu"
"Tadi pas saya nunggu. Ada ibu-ibu nangis di depan saya. Itu kira-kira dia kenapa ya dok? Kok nangisnya gitu banget? Kayak nyesek banget gitu" ujar Adira penasaran.
Dokter memutar bola matanya. Ia tidak tahu wanita mana yang Adira maksud.
"Oh itu ibu Yati namanya" sambar suster. "Ibu Yati Hermawan, dok" lanjutnya.
"Oh ibu Yati"
"Kalau boleh tahu, ibu itu kenapa ya dok?" tanya Adira lagi.
"Ibu Yati itu punya anak gadis yang menderita sakit kanker hati. Sudah 6 bulan ini, dia mencari pendonor hati untuk anaknya"
"Memangnya harus dengan donor hati ya dok? Gak ada pengobatan lain apa?" celah Adira.
"Anak bu Yati mengidap kanker hati stadium empat. Kalaupun dilakukan operasi, kankernya tidak bisa sembuh total. Karena itu cara satu-satunya, dia harus mendapatkan donor hati"
"Oh gitu" angguk Adira mengerti.
"Sekarang silakan bu Adira berbaring dulu" titah dokter seraya mempersiapkan alat untuk mengecek kandungan Adira. "Hari ini pak Chris tidak menemani bu Adira?"
"Ada dok. Tadi dia ke parkiran. Mungkin sebentar lagi datang"
Dokter pun mulai memeriksa. Terlihat di layar komputer, bayi dalam perut Adira telah terbentuk sempurna. Posisi bayi juga sudah ke bawah. Itu artinya hari kelahiran sudah semakin dekat.
Tok! Tok! Tok!
"Gimana dok keadaan istri saya?" tanya Chris.
"Semuanya baik. Jantungnya juga sangat baik. Beratnya juga sudah pas. Mungkin minggu depan tanggal 3 atau 4 anak pak Chris dan bu Adira akan lahir"
Chris dan Adira saling memandang. Senyum keduanya sangat menggambarkan kebahagiaan mereka saat ini. Setelah penantian panjang, tidak lama lagi sepasang suami istri itu akan menjadi orangtua sesungguhnya. Rasanya tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari ini.
...---------------...
Untuk membagi kebahagian mereka, Chris dan Adira sepakat mengundang Maya, Lisa, Farah, dan Jhon makan bersama di kafe Hijau yang terletak di daerah pinggiran kota. Kafe ini Chris yang memililih karena ia tidak terlalu suka keramaian. Sesuai namanya, kafe Hijau di desain dengan pernak pernik serba hijau. Mulai dari warna bangunan sampai beberapa peralatan seperti kursi dan meja berwarna hijau. Sangat menyegarkan mata bagi siapa saja yang datang.
"Tempat ini keren banget" Adira menutup matanya meresapi hembusan angin. Pepohonan hijau serta rerumputan yang dipotong rapi semakin menambah kesejukan udara di area kafe Hijau. Adira tidak mengerti, kenapa baru sekarang Chris membawahnya ke sini?
"Kamu suka tempat ini?"
Seperti biasa, Chris selalu tidak peduli tempat. Ia tidak segan mengecup bibir istri cantiknya itu dimanapun.
"Chris kamu apaan sih. Disini ada orang. Gak usah cium-cium di sini" mata Adira melotot. Terkadang ia kesal dengan kelakuan nakal Chris yang selalu ingin menyentuhnya.
Jika itu di kamar, ya tidak apa-apa. Adira justru bisa lebih agresif. Tapi ini di tempat umum. Malu.
"Biarkan saja. Kita kan suami istri. Tidak ada yang melarang. Lagian kan aku sudah memesan ruang VIP ini. Jadi tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini" bukannya berhenti, Chris justru menjadi tidak terkendali.
Bibir Chris kini menyusuri leher mulus sang istri dan meninggalkan bekas merah di sana. Adira yang tadinya risih, kini mulai terbuai dengan belaian dan sentuhan pria seksi di hadapannya.
Hmmm
Sontak Chris mengurai cumbuannya.
"Jadi kita di suruh ke sini buat lihat kalian ciuman?" ledek Chris sambil duduk lesehan.
Adira menutup wajahnya. Ia menahan tawa dan merasa malu. Tidak berbeda dengan Adira, Maya dan yang lain juga menundukkan wajah. Antara malu dan kesal saat memergoki teman mereka yang sedang bermesraan tanpa mengenal tempat.
"Sorry. Silakan duduk" kata Chris kikuk.
"Sudah dari tadi" sahut Jhon dan yang lain bersamaan.
Suasana menjadi sedikit canggung namun seperti biasa ada Lisa yang selalu mampu mencairkan suasana dalam hitungan detik.
Tok! Tok! Tok!
Suasana menjadi hening seketika. Pandangan tertuju pada sosok wanita cantik yang berdiri di ambang pintu.
"Emilly. Ayo masuk sini" sapa Jhon seraya melambaikan tangan. "Tidak apa-apa kan, aku bawah Emilly ke sini"
"Tentu saja. Ayo kita habiskan makanan ini" seru Adira tersenyum lebar.
Wajah Chris yang tadinya tegang, kini kembali lembut. Tadinya ia sempat khawatir, mood sang istri akan rusak melihat kehadiran Emilly. Namun di luar dugaan, istrinya yang sekarang sudah bisa mengontrol rasa cemburunya atau lebih tepatnya, Adira sekarang sudah lebih dewasa dalam bersikap.
Waktu berangsur sore. Sudah hampir tiga jam lamanya mereka berbincang-bincang tanpa putus. Kini waktunya untuk pulang.
"Farah, kamu bisa nyetir kan?" tanya Jhon.
"Iya, kenapa?"
"Kamu bawah mobil saya ya. Aku harus mengantar Emilly"
"Gak usah Jhon. Aku nyetir sendiri saja. Kamu pulang saja sama mereka" tolak Emilly tidak enak hati mengingat ia tadi datang sendiri.
"Gak papa. Gak usah merasa gak enak. Lagian kan rumah kamu jauh...
"Hmm dasar bucin" sambar Lisa sewot.
"Nyebelin banget lihat mereka" timpal Farah malas.
Chris dan Adira tertawa kecil melihat tingkah teman-teman mereka itu. Sikap Jhon itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kelakukan Chris dan Adira. Bisa-bisa Lisa dan Farah pingsan jika melihat betapa bucinnya sepasang suami istri itu di atas ranjang.
Satu persatu dari mereka keluar dari ruangan VIP. Saat semuanya sudah berkumpul di depan pintu utama, tiba-tiba ada seorang pria datang menyerobot. Pria itu membawah sebuah pisau di tangannya.
"Bu Adira awas" Rama yang diminta Chris untuk ikut bersama mereka, dengan sigap menangkis tangan pria berpakaian serba hitam itu. Pisau terjatuh ke lantai.
Pria itu mengambil langkah seribu. Tidak ingin kehilangan jejak lagi, Rama pun segera mengejar.
Semua orang yang ada di situ terlihat shock. Kejadiannya terlalu cepat dan mendadak. Mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing dan tidak menyadari ada seseorang yang berpakaian serba hitam seperti orang tadi sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
Pria itu berjalan mendekat.
"Adira awas" teriak Emilly.
Tubuh Adira di dorong dengan sangat keras hingga jatuh ke lantai.
"Awwww" teriak Adira merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Keadaan pun menjadi panik.
Jhon mengejar pria biadab itu.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Adira terus menjerit histeris. Darah segar yang menetes dari sela pahanya semakin banyak.
"Chris sakit banget" ringis Adira pilu.
Begitu sampai di rumah sakit, tubuh Adira langsung digotong ke ruang IGD. Chris, Emilly, dan ketiga teman Adira yang juga ikut ke rumah sakit, menunggu di luar dengan harap cemas. Terutama Chris, wajahnya pucat pasih dengan tangan yang tidak berhenti bergetar. Ia tidak lepas memanjatkan doa agar Adira baik-baik saja.
"Dok, gimana keadaan istri saya?" tanya Chris menggebu sesaat setelah dokter keluar dari ruang IGD.
"Pak Chris tolong ambil keputusan dengan cepat" ucap dokter dengan raut tegang.
"Apa dok?" mata Chris mulai berlinang. Ia tahu ada yang tidak beres.
"Bu Adira mengalami tekanan keras di perutnya. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka"
Seperti dihantam oleh bebatuan besar dari atas, Chris merasa dunianya hancur detik itu juga. Di saat pikirannya sedang kacau, tiba-tiba beberapa suster membawah ranjang yang ditempati Adira keluar. Adira akan di bawah ke ruang operasi.
"Sayang, bertahanlah" ucap Chris sambil mengenggam erat tangan sang istri.
"Sakitttt" hanya kata itu yang keluar dari mulut Adira. Tubuh Adira menggeliat sembarang.
"Apa keputusan pak Chris" desak dokter. "Cepat pak"
Chris menelan salivanya susah payah. Ini benar-benar keputusan yang sulit.
"Selamatkan istri saya dok. Dia hidup saya. Jadi tolong selamatkan istri saya" ucap Chris lirih.
Hai Diary,
.
.
Aku tidak tahu, apakah setelah ini aku masih bisa menulis lagi di sini.