Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Satu Ingatan



Chris mengepal buku-buka tangannya, sedikit bergetar. Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam seperti kuku elang yang siap merobek tubuh mangsanya. Hatinya panas melihat wanita yang mengaku istrinya justru bertatapan mesra dengan pria lain.


"He'emm" dehem Chris nyaring.


"Chris" gumam Adira langsung mengurai diri dari Bryan.


Chris berbalik badan lalu pergi begitu saja dengan ekspresi datar dan tatapan dingin, benar-benar misterius. Sulit menebak perasaan pria itu saat ini. Meskipun belum ingat apa-apa dan menolak percaya dengan pengakuan Adira sebagai istrinya namun di lubuk hari terdalamnya, Chris tidak terima Adira disentuh pria lain.


...----------------...


Sepanjang perjalanan pulang, Adira yang mengambil alih sebagai kemudi mencoba menjelaskan pada Chris tentang apa yang sebenarnya yang terjadi. Jika apa yang dilihat suaminya tadi tidak seperti yang Chris pikirkan. Namun Chris hanya diam seribu bahasa, tidak bicara sedikitpun. Bahkan, kebisuan Chris berlanjut sampai ke apartement.


Adira tidak menyerah. Ia kembali menjelaskan pada sang suami yang sejujurnya tanpa ada yang disembunyikan tapi tetap saja Chris tidak mau bicara. Adira seperti berbicara kepada patung. Hanya ia yang meracau sendiri di ruangan yang cukup luas ini.


"Chris, kamu dengerin aku gak sih?" Adira menarik lengan Chris agar melihatnya. "Bryan hanya teman aku, gak lebih. Dia teman aku ....


"Saya tidak peduli. Mau dia teman kamu, pacar kamu. Kamu dengarkan apa yang saya bilang, saya tidak peduli" kata Chris menekankan setiap perkataannya.


Bagai disambar petir di siang bolong, badan Adira lemas seketika. Setelah menunggu, akhirnya Chris mau bicara juga. Namun apa yang dikatakan pria itu sungguh menyakitkan hati. Kata tidak peduli itu mengisyaratkan jika posisi Adira di hati Chris tidaklah begitu penting. Ada ataupun tidak ada, tidak ada pengaruhnya. Adira mundur beberapa langkah dengan tatapan nanar. Dadanya terasa sesak. Suami yang sangat dicintainya tega mengatakan itu. Dengan gegabah, Adira pun pergi meninggalkan Chris sendiri di apartement. Ia kecewa dan marah. Dan mungkin walaupun aku tidak kembali baginya tidak ada masalah, pikir Adira.


Tok! Tok! Tok!


Krekk


"Adira" Maya kaget begitu pintu terbuka. Ia bingung malam-malam seperti ini mau ngapain Adira ke kosannya.


Adira menyerobot masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu dari pemiliknya. Seperti biasa, Adira langsung membaringkan diri di kasur tanpa rasa canggung sedikitpun seakan kosan ini dia yang bayar. Ia menengadahkan wajah memandang langit-langit kamar sambil sesekali membuang nafas lelah.


"Kamu kenapa lagi, Ra? Berantem sama suami kamu?" tanya Maya duduk di depan cermin besar. Maya memakai cream malam ke wajahnya karena memang rencananya. ia mau tidur cepat malam ini. Namun Adira justru datang merecoh.


"May, malam ini boleh ya aku nginap disini?"


"Gak boleh. Kamu kan punya suami. Nanti Chris ngamuk-ngamuk disini"


"Dia gak bakalan cari aku sampai kesini. Sumpah May, Chris itu nyebelin banget. Enteng banget dia bilang....


Adira sengaja menghentikan ucapannya. Matanya berputar cepat coba mengkaji lagi, mana yang layak diceritakan dan mana yang semestinya tidak perlu diceritakan.


"Kenapa berhenti? Memangnya dia ngomong apa sampai kamu kabur kesini?"


"Gak ada. Pokoknya aku lagi marah banget sama dia" balas Adira cemberut. "Pokoknya kamu jangan kasih tahu Chris kalau aku ada disini" Adira manarik selimut untuk melindungi tubuhnya dari terpaan angin malam bersamaan dengan dinginnya hujan.


Malam semakin larut dan hujan sudah tidak sederas tadi. Chris semakin khawatir memikirkan keadaan sang istri. Sejak tadi menelpon tak kunjung mendapat balasan.


"Angkat telponnya" harap Chris mendial nama Adira ulang.


📞 Hallo


📞 Adira, kamu dimana?


📞 Ini aku pak, Maya. Adira lagi tidur. Pak Chris tidak perlu khawatir. Adira aman disini.


📞 Tolong share lokasi kamu. Aku mau jemput Adira.


Tak sampai satu jam, mobil Chris terparkir di sekitaran lokasi yang Maya kirim. Setelah menelpon Maya untuk menanyakan lokasi yang pasti, Chris pun turun dari mobil.


Tok! Tok! Tok!


"Pak Chris beneran kesini. Adira nya masih tidur pak. Ntar aku bangunin dulu"


"Saya saja yang bangunin" Chris menyerobot masuk.


Hanya ada satu kamar di kosan Maya. Tak perlu bertanya, Chris langsung melangkah ke arah kamar tersebut.


"Etsss tunggu dulu dong pak. Pak Chris gak bisa main masuk-masuk saja. Ini kamar pribadi aku. Privasi aku pak. Pak Chris tunggu disini. Biar aku saja yang banguni Adira. Sebentar dan jangan masuk" ucap Adira melarang keras seorang pria masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam, Maya menggoyangkan badan Adira. Tidak hanya menggoyangkan saja tapi juga mencubit kecil pipi kenyal temannya itu. Namun Adira seperti ular ananconda yang sedang kekenyangan, tidak bergeming sedikitpun.


"Ra, bangun. Itu suami kamu di depan kamar aku"


"Aduh apaan sih May. Aku ngantuk banget ni" Adira meraih guling lalu memeluk benda empuk itu dan kembali tidur.


"Cewek sinting. Lagi berantem sama suami terus kamu bisa tidur nyenyak gini. Istri macam apa kamu" celah Maya mulai hilang kesabaran. Di tambah lagi Chris semakin intens mengetuk pintu kamarnya membuat Maya makin kesal. Maya berdecak dalam hati. Bisa-bisanya ia terlibat dalam prahara rumah tangga sepasang manusia yang belum dewasa ini.


Adira masa bodoh. Selama ini, ia yang selalu mengalah dan menurunkan ego menghadapi sang suami tapi ucapan Chris siang tadi sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin dia mengira kalau Bryan adalah pacarnya?


"Bangun atau aku seret kamu keluar. Ra, jangan libatkan aku dalam urusan rumah tangga kalian"


Tok! Tok! Tok!


Chris kembali mengetuk pintu kamar.


"Aku masuk ya"


"Jangan pak" teriak Maya.


Krekk


Kini Chris sudah ada di dalam kamar Maya.


"Adira, ayo pulang" Chris menarik lengan Adira memaksa istrinya itu berdiri.


Adira yang sedang diselimuti kantuk terlihat berat membuka mata. Ia pun tidak dapat menolak saat Chris menarik lengannya.


"Pak itu punya Adira" kata Maya menunjuk bra yang tergeletak di kasur.


Chris menoleh heran pada Maya.


"Hehe biasa pak, cewek kalau tidur, bra nya dilepas biar gampang nafasnya" Maya cengengesan malu. Ia ingin tertawa namun itu tidak mungkin dilakukannya saat ini.


Chris pun meraih geram bra Adira. Kemudian membopong bridal tubuh sang istri ke dalam mobil.


...-----------------...


Adira menggeliatkan badan. Mentari pagi yang masuk menembus kaca sampai menyinari wajahnya. Perlahan Adira membuka mata dan menelisik ruangan yang kini ditempati.


"Kok aku disini? Bukannya semalam aku di kosan Maya" Adira menguap lebar lalu mengucek-ngucek mata agar penglihatannya lebih jelas. "Terus siapa yang bawah aku kesini? Chris? Ya iyalah Chris, siapa lagi? Dia kan suami aku. Berarti Chris yang nyetir semalam" daripada terus bertanya tanpa jawaban, Adira pun menyingkirkan selimut putih yang menyelimutinya semalam dan bergegas keluar kamar.


Adira berlari kecil ke arah dapur, dimana ia bisa selalu menemukan Chris di pagi hari. Sesuai dugaanya, Pria itu ada disana.


"Hmm semalam kamu bawah mobil?" tanya Adira to do point.


"Iya"


"Nyetir sendiri?"


"Iya"


"Bukannya kamu gak bisa nyetir?"


"Gak tahu. Tiba-tiba saja bisa" Chris sendiri tidak mengerti. Semalam ia hanya modal nekad saja. Awalnya sempat ragu namun ternyata ia bisa menyetir dengan lancar tanpa kendala berarti.


Pasca operasi, tubuh Chris mengalami banyak perubahan. Ia kehilangan sebagian kecil kemampuan motoriknya, termasuk menyetir. Namun anehnya semalam dalam keadaan terdesak, ia bisa menyetir seperti sediakala.


"Aku lapar"


Chris menggelengkan kepala. Sekilas ia melihat sesuatu melintas di kepalanya. Chris merasa pernah mendengar dua kata itu. Di tempat yang sama, disini.


"Kamu kenapa?" tanya Adira berdiri berhadapan dengan sang suami.


Adira menangkup wajah Chris. Ia menangkap sorot penuh tanya dari sepasang netra pria di hadapannya. Raut wajah Chris juga seperti orang kebingunan.


"Katakan sekali lagi" pinta Chris menuntut.


"Apa?"


"Yang barusan"


"Aku lapar"


Kepalanya kembali berdenging. Chris mengusap kasar wajahnya lalu memukul-mukul keningnya.


"Chris, apa yang kamu lakukan?" tanya Adira panik melihat Chris menyakiti diri sendiri.


"Awwhh" rintih Chris kesakitan.


Adira bingung. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Kamu kenapa? Aku harus ngapain?"


Chris tidak tahan dengan rasa sakit yang mendera. Tubuhnya bergetar. Tiba-tiba tangan Chris menyelinap ke ceruk Adira lalu mengecup bibir ranum sang istri dengan penuh tekanan. Adira tidak siap dan gelagapan oleh pautan bibir yang Chris lesatkan. Chris kemudian menarik pinggang Adira hingga tubuh sepasang suami istri itu menempel lekat layaknya anak kembar siam yang tidak bisa dipisahkan.


Pergerakan Chris yang semakin memanas membuat Adira harus mencari sanggahan untuk berpegang. Jika tidak begitu, ia akan jatuh. Beberapa alat dapur jatuh berserakan ke lantai seiring langkah kaki Chris yang tak terkendali.


Selang beberapa saat, Adira menepuk-nepuk pundak Chris. Ia kekurangan oksigen karena mulut dan hidungnya tertutup oleh bibir dan wajah Chris.


Ha ha ha


Desahnya tersengal. Adira mengambil nafas sebanyak mungkin begitu sang suami memberi ruang untuk bernafas. Setelah beberapa saat...


"Hmm saya minta maaf. Saya tidak bermaksud...


"Maaf! Maksudnya?" tanya Adira bingung.


"Iya...itu. Saya tidak bermaksud melakukannya" ucap Chris terputus-putus.


"Maksudnya kamu tidak bermaksud mencium aku?" tanya Adira membelalak.


Chris mengangguk pelan. Kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.


Adira hanya bisa melongo seperti orang bodoh. Ia terpaku kaku layaknya patung.


"Wah...dia memang laki-laki brengsek sejati. Gimana bisa dia minta maaf setelah mencium istrinya sendiri? Bahkan kalau dia melakukan lebih, itu gak salah. Terus kenapa wajahnya murung gitu? Kenapa sekarang jadi aku yang merasa bersalah? Aahh...suami menyebalkan" hardik Adira menentang tangannya di pinggang.