
Chris dan Adira melebur. Mereka sangat terkejut dengan kehadiran rekan tim divisi 1 yang tiba-tiba. Apalagi posisi keduanya begitu intim. Terutama Adira yang sedang mengigit nakal telinga Chris. Apa mereka melihatnya?
"Wah wah ini gak bisa di biarin. Ra, kamu harus jelasin apa yang barusan kita lihat" ucap Lisa paling antusias.
Adira bingung. Mukanya merah padam. Malu dan cemas. Ia juga takut apa yang dilihat rekan-rekannya akan di ceritakan kepada yang lain. Dan jika itu terjadi maka Adira akan dicap perempuan penggoda calon suami orang. Namun itu bukan resiko utama yang Adira takutkan. Ia lebih memikirkan Chris, takut nama baik Chris akan rusak. Adira tahu bagaimana Chris membangun karirnya dari nol hingga memiliki jabatan penting di J.O Company. Semua itu tidaklah mudah dan penuh lika-liku.
"Sa jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Saya dan pak Chris tidak ada hubungan apa-apa. Tolong kalian percaya" ujar Adira berusaha mematahkan pikiran negatif teman-temannya.
"Terus tadi kalian ngapain?" sambung Farah.
"Tadi tu ada serangga di telinga pak Chris dan saya...
"Apa yang sebenarnya terjadi Chris?" tanya Jhon serius.
Chris hanya diam sambil memandang intens orang-orang di depannya. Pikirannya bercabang. Semua kemungkinan secara bergilir bergantian di kepalanya. Termasuk nasib Adira. Sulit baginya mengiyakan semuanya. Perasaannya tidaklah penting dibandingkan kebahagiaan dan keamanan Adira.
"Tidak ada apa-apa diantara kami. Adira hanya sebatas rekan kerja saya sama seperti kalian. Saya juga tidak mungkin memiliki perasaan pada perempuan lain karena saya sudah bertunangan. Dan apa yang Adira katakan benar, tadi ada serangga di telinga saya dan dia membantu saya mengusirnya. Jadi jangan berpikir yang tidak mungkin terjadi. Saya mau setelah ini tidak ada lagi yang membahas tentang apa yang barusan kalian lihat. Satu lagi cerita pada siapapun" titah Chris tegas dan memaksa.
Hatinya di remas sekali lagi. Adira terus menunduk enggan memperlihatkan wajah kecewanya. Bibirnya keluh sekali bahkan menelan salivanya saja sulit. Perkataan Chris bagai petir yang menyambar tubuhnya. Kilatnya menariknya dengan paksa agar segera keluar dari fantasi itu. Rasanya tidak ingin percaya tapi itulah kata-kata yang keluar dari mulut pria yang disukainya sejak tiga tahun terakhir. Kata tidak mungkin seakan menjadi pintu baja yang susah untuk ditembus apalagi di masuki.
"Saya berterima kasih karena kalian sudah menyempatkan waktu mengunjungi saya. Tapi saat ini saya butuh istirahat. Tolong tinggalkan saya sendiri. Adira kamu juga keluar" usir Chris dingin tanpa melihat wanita yang berdiri di sisi ranjangnya. Ia tidak punya keberanian menatap mata itu. Chris tahu bagaimana perasaan Adira saat ini.
...--------------------...
Sejak dulu Chris bukanlah sosok yang manja yang suka berleha-leha di rumah. Ia suka sekali bekerja dan akan tetap masuk kerja meskipun dalam keadaan tubuh yang tidak fit. Termasuk hari ini, ia justru masuk kerja lebih awal meskipun tangannya belum pulih. Hari shooting iklan akan dilanjutkan di lokasi yang berbeda dan sebagai ketua tim, Chris mau memantau secara langsung proses shooting iklan sampai akhir. Ia tidak mau ada kesalahan sekecil apapun.
"Pak Jhon bisa tidak saya saja yang ngambil kostumnya?" tawar Adira.
"Bukannya seharusnya Maya yang ambil? Dia dimana?"
"Katanya masih di jalan pak. Mungkin kena macet. Takutnya kalau nunggu Maya jadi gak keburu terus shootingnya ditunda deh. Gimana pak?"
"Ya sudah kalau begitu kamu saja yang ambil. Kamu gak papa pergi sendiri?"
"Gak papa pak" ucap Adira berlalu.
Matanya menonton hilir mudik mobil memenuhi jalanan. Pagi ini jalanan aspal tampak masih basah karena hujan lebat semalam. Beberapa lubang digenangi air. Sesekali tubuhnya berguncang takkala mobil yang ditumpanginya tidak sengaja melewati lubang-lubang itu. Adira kemudian tertawa kecil. Rasa sakit itu belum juga menepi. Meskipun semalam Adira berusaha keras mengalihkan pikirannya namun tetap saja ia tidak bisa melupakan kata-kata Chris yang berhasil menghujam ulu hatinya.
"Sekeras itukah pak Chris berusaha agar tidak menyukaiku?" Adira tersenyum perih sambil mengusap airmatanya yang keluar begitu saja. " Bodohnya aku masih saja menyukainya dan terus memikirkannya" entah berapa kali matanya berkedip untuk menghalau airmatanya agar tidak menitih. "Ayah, bagaimana ini? Aku tidak bisa berhenti menyukainya. Aku harus apa, yah?" kedua pundaknya bergetar seiring tangisnya yang makin menjadi.
Tak lama setelah Adira tiba di lokasi dengan menenteng kostum yang akan dipakai Bryan, shootingpun segera di mulai. Ini adalah hari terakhir untuk pengambilan gambar. Karena itu semuanya harus dipersiapkan dengan teliti tanpa ada kekurangan apapun.
Saat shooting berjalan, Chris terus memperhatikan Adira yang berdiri beberapa meter darinya. Ia menyadari Adira terus menghindarinya. Bahkan gadis itu tak sedikitpun melihat ke arahnya. Matanya hanya fokus memandang Bryan yang sedang melakukan pengambilan gambar untuk sesi terakhir.
Seruan sutradara menyudahi proses shooting. Seketika semuanya berhamburan mendekati Bryan lalu berjabat tangan disertai ucapan terima kasih karena sudah bersedia berpartisipasi dalam produk terbaru J.O Company. Setelah menyalami tim satu persatu, Bryan pun menghampiri Adira yang masih berdiri di belakang kursi sutradara.
"Terima kasih pak Bryan untuk kerjasamanya" ucap Chris menghadang langkah Bryan agar tidak sampai pada Adira.
"Saya juga berterima kasih pak. Semoga produk barunya laku keras di pasaran" balas Bryan harap. "Adira tunggu" panggil Bryan sigap begitu melihat Adira akan pergi.
"Ya, ada apa Bryan?"
Panggilan itu terdengar akrab di telinga. Adira menyebut nama Bryan dengan sangat lantang.
"Kamu sudah makan?"
"Belum" jawab Adira singkat.
"Mau makan dengan saya?"
"Saya gak lapar pak" tolak Adira halus. Sebenarnya ia mau langsung pulang saja agar bisa tidur lebih awal.
"Saya perhatikan kamu dari tadi tidak makan apapun. Tidak lapar itu hanya ada dalam pikiran kamu. Biar bagaimanapun tubuh kamu butuh asupan makanan. Ikut saya"
"Adira, kamu ikut saya" sambar Chris mengenggam jemari Adira.
"Gak mau" tolak Adira melepaskan tangan Chris kasar. Ia mengalihkan matanya ke tempat lain.
"Saya mau bicara sama kamu tapi tidak disini"
"Tentang? Pekerjaan?" sahut Adira tegas.
"Ikut saya" Chris kembali menarik paksa tangan bawahannya itu.
"Gak mau pak"
"Pak Chris, Adira bilang tidak mau. Jangan memaksanya" ucap Bryan melerai. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara Adira dan Chris. Tapi Bryan melihat pembicaraan keduanya tidak seperti atasan dan bawahan namun lebih ke sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Lepasin saya. Bryan, ayo kita pergi" sekali lagi Adira menepis kasar tangan Chris. Namun bedanya kali ini tangan kanan dimana tangan itu masih diselimuti perban.
Chris merasa perih di area tangan kanannya. Ia mengigit bibir bawahnya agar keluhan kesakitannya tidak keluar dari mulutnya.
"Jangan pergi, Adira" pekik Chris nyaring.
Adira berhenti sesaat. Hatinya bimbang namun pada akhirnya ia tetap memilih pergi bersama Bryan.