
Hari ini tim divisi 1 pulang lebih awal karena peluncuran produk terbaru J.O Company telah selesai lebih cepat dari perkiraan. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Maya, Lisa, dan Farah sudah pulang lebih dulu. Masing-masing dari mereka dijemput pasangan kecuali Farah yang masih betah sendiri. Tinggal Chris, Adira, dan Jhon yang tetap stay di kantor.
"Ini pak laporan awal hasil penjualan tadi" ucap Adira meletakkan berkas di meja Chris.
Chris membaca seksama.
"Kalau begitu aku pulang duluan pak" lanjut Adira sedikit membungkukkan badannya.
"Kamu ada acara lain? Mau pergi denganku?" tanya Chris menutup lembar yang baru dibacanya.
"Sepertinya sekarang gak bisa soalnya aku mau ke rumah ibu" tolak Adira tak enak. Hampir satu bulan ini ia tidak bertemu ibunya. Dan walaupun kedatangannya selalu disambut tidak baik tapi Adira tetap menyimpan rasa rindu pada wanita yang telah melahirkannya itu. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan pelukan hangat sang ibu. Adira sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia sangat merindukan ibunya dan ingin sekali bertemu.
"Mau aku antar?" tawar Chris kembali.
"Gak usah. Aku pergi sendiri saja. Bye"
"Tunggu" Chris bangkit dari duduknya menghampiri Adira.
Tangannya menangkup kedua sisi rahang Adira. Sorot matanya menatap penuh cinta pada wanita di hadapannya.
"Jangan disini" larang Adira menutup mulut Chris dengan tangan kecilnya. "Disini saja" sambungnya sembari menempelkan keningnya di bibir Chris. Keduanya saling menatap dalam sambil tersenyum simpul.
"Yakin gak mau aku temanin?"
"Iya yakin. Udah ah aku gak bakalan kenapa-kenapa. Mukanya jangan tegang gitulah. Aku itu ke rumah ibu aku bukan ke rumah musuh. Dah aku pergi ya"
Chris berdiri tegap di tempatnya memandangi Adira yang perlahan menghilang dari pandangannya. Sebenarnya ia khawatir membiarkan Adira pergi sendiri. Walaupun tidak tahu masalahnya seperti apa tapi Chris cukup tahu jika hubungan Adira dan ibunya tidak begitu baik. Apalagi ia pernah melihat Adira diguyuri air oleh ibunya. Kejadian pilu itu semakin membuat Chris tidak yakin membiarkan Adira pergi sendiri bertemu ibunya.
"Mungkin saja hubungan mereka sudah baik" kelah Chris menepis pikiran buruknya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
Kepala Emilly menelusup masuk lebih dulu dari badannya. Ia lalu tersenyum manis pada pria di dalam sana. Berjalan melenggok seakan ingin menggoda pria yang duduk tak jauh darinya.
"Sore sayang" sapa Emilly manja seraya mendekatkan wajahnya pada Chris. Dengan sigap Chris menjauh.
Deg!
Jantung Emilly seakan berhenti beberapa detik. Baru kali ini Chris menolaknya terang-terangan. Wajah tunangannya itu tampak dingin. Sorot matanya tak ada lagi cinta. Tidak ada senyum menawan apalagi ciuman mesra. Emilly merasa Chris seperti orang asing.
"Kamu mau ngapain kesini? Saya sudah mau pulang ini" ucap Chris tampak acuh. Tangannya masih sibuk memainkan mouse sembari memandang monitor di depannya.
"Aku ini tunangan kamu. Sebentar lagi kita mau nikah. Apa aku harus punya alasan untuk ketemu kamu? Kok kamu makin aneh sih sekarang" ucap Emilly mempertanyakan sikap Chris padanya.
Chris kembali diam. Ia kemudian berdiri menenteng tas ranselnya setelah mematikan komputer.
"Chris kamu kenapa sih? Kenapa diamin aku begini? Emangnya apa salah aku?" tanya Emilly kesal. Ia pun menarik kuat tangan Chris sebelum tunangannya itu meninggalkannya.
Chris membuang nafas berat lalu mengelas malas.
"Kemarin waktu aku di luar kota, kamu ngapain di ruanganku dengan Jhon?"
Deg!
Ekspresi Emilly saat ini seperti orang yang ketahuan mencuri. Panik dan bingung. Emilly memutar matanya berusaha mengumpulkan alasan yang tepat agar Chris tidak curiga jika ia sebenarnya memiliki hubungan spesial dengan Jhon yang tak lain merupakan teman tunangannya.
"Kenapa diam? Bingung ngarang ceritanya?" tanya Chris menukik yang semakin membuat Emilly panik.
"Kamu cemburu?" ucap Emilly berusaha tetap santai. Jika ia panik maka Chris akan curiga.
"Gak usah ngalihin pembicaraan. Aku masih menunggu jawaban kamu" sahut Chris tidak sabar ingin segera pergi. Ia mau menyusul Adira.
"Di handphone kamukan ada" sambung Chris.
Rasanya seperti jantungnya dipaksa berhenti. Lagi-lagi pertanyaan Chris membuatnya harus memutar otak.
"Handphone aku jatuh ke air. Setelah di servis, semua video dan foto kita hilang"
Chris merasa ada yang mengganjal. Emilly seperti sedang berusaha menutupi sesuatu.
"Sini handphone kamu. Aku mau lihat"
"Kamu apaan sih sampai segitunya. Kamu masih anggap aku ini tunangan kamu bukan sih? Gak percaya banget. Aku capek setelah pulang kerja langsung kesini karena aku kangen sama kamu. Tapi sikap kamu begini sama aku" nada bicara Emilly semakin tinggi. Cemas dan takut menjadi satu.
"Kamu kalau cemburu bilang saja. Kenapa sih mesti gengsi?" sambung Emilly coba mengalihkan lagi topik pembicaraan.
Chris berlalu meninggalkan Emilly begitu saja. Tiba-tiba saja pikirannya bercabang tak karuan. Ia melangkah cepat menuju basemant bahkan suara nyaring Emilly yang memanggil namanya tak dihiraukan.
"Gak...gak mungkin aku cemburu. Aku tidak memiliki perasaan lagi untuknya. Aahh" teriak Chris sambil memukul keras stir mobilnya. Pikirannya sedang kalut. "Aku harus menemui Adira. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya"
Mobil Chris melaju kencang menembus jalanan yang mulai ramai. Biasanya menuju malam, jalanan akan semakin ramai dengan para pekerja ataupun masyarakat umum yang bergegas pulang. Terlihat matahari mulai menyingsing meninggalkan siang. Chris pun tersenyum bahagia melihat cahaya indah di langit. Senja memang selalu menenangkan dan mengingatkannya dengan sang kekasih dimana ia pernah menikmati senja bersama Adira.
"Dasar anak tidak tahu diri. Pergi kamu dari sini" usir kasar wanita paruh baya. Matanya melotot tajam seakan ingin menghabisi gadis cantik di bawahnya yang merupakan putrinya sendiri.
Adira bersimpuh berharap sang ibu sedikit melunak. Ini sudah terlalu lama dan berlarut. Biar bagaimanapun, Adira ingin memiliki hubungan yang harmonis lagi dengan wanita yang ia panggil ibu itu.
"Bu jangan perlakukan aku seperti ini. Aku anak ibu. Dan apa yang terjadi dengan ibu bukan sepenuhnya salahku. Jika saja ibu tidak....
Bugg
Benturan keras menghantam kepala Adira. Wanita bergelar ibu itu tanpa belas kasih mendorong kuat tubuh putrinya ke kursi kayu. Saat itu juga Adira merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ada benjolan besar di sekitar sana.
Setelah merasa stabil, Adira kembali berdiri. Matanya menyoroti misterius wanita di hadapannya. Tak ada kelembutan sedikitpun di wajah wanita yang masih ia anggap ibu.
"Sudah cukup bu. Sudah cukup" Adira melangkah maju perlahan. Ia terus maju dengan tatapan tajam.
Pemilik tubuh dengan kulit yang mulai keriput di beberapa bagian itupun mau tidak mau harus mundur. Tubuhnya sedikit gemetar menyaksikan tatapan penuh amarah putrinya.
"Sepertinya ibu sudah lupa. Aku akan mengingatkannya lagi"
"Tidak...jangan" mohon sang ibu sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayah depresi karena ibu. Ayah meninggal karena ibu. Jika ibu tidak gila uang maka semua ini tidak akan terjadi. Ayah sangat mencintai ibu. Dia bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan ibu yang tidak masuk akal itu" ucap Adira menggebu dan emosional.
"Cukup" teriak ibu Adira histeris.
"Gak, aku belum selesai. Setelah apa yang ayah lakukan. Ibu masih belum puas juga. Dengan kejamnya ibu mengkhianati ayah. Selingkuh dengan pria kaya untuk memenuhi ambisi ibu. Lalu ibu bilang semua ini salah aku. Ibu sadar gak sih? Semua ini salah ibu. Salah ibu" teriak Adira menyayat hati.
Plakk
Tamparan keras singgah di pipi Adira. Matanya berbinar. Tubuhnyapun goyah namun saat akan jatuh, Chris sudah ada di belakangnnya.
...---------------------...
Next,
"Apanya yang repot. Aku gak merasa seperti itu. Aku ini pacar kamu. Aku mau melindungi kamu menjaga kamu. Apa itu salah?" tanya Chris tidak mengerti.
"Tidak usah ikut campur urusan aku. Kamu tidak berhak melakukan itu" sambar Adira.
Chris membisu cukup lama. Situasi apa ini? Hubungan apa yang sedang ia jalani?
"Lalu kamu anggap aku ini apa?"