
Lisa berlari kecil menuju ruang istirahat. Ia ingin mengecek keadaan Adira dan memastikan apakah temannya itu membutuhkan sesuatu. Sampai di ruangan ternyata Adira sedang tidur. Tak ingin menganggu Lisa pun bermaksud kembali ke meja kerjanya namun saat dirinya tepat berada di depan pintu, ia merasa ada seseorang melangkah ke arahnya. Lisa membuka pintu sedikit lalu mengintip keluar.
"Itukan pak Chris" Lisa kembali menutup pintu dan mencari tempat aman untuk sembunyi.
...-----------------...
Lisa sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia membungkam rapat mulutnya dan meminilisir pergerakannya agar tidak menimbulkan suara yang dapat membuat Chris dan Adira bangun.
"Jadi benar kecurigaanku selama ini. Pak Chris dan Adira ada hubungan spesial" gumam Lisa sulit untuk percaya atas apa yang barusan ia dengar. Ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana mesranya Chris memeluk Adira.
Setelah memastikan Chris dan Adira benar-benar sudah lelap, Lisa berjalan mengendap ke arah pintu namun tanpa sengaja ia menginjak botol bekas di bawahnya.
"Hah...untung saja mereka gak bangun" ucapnya lega sambil mengelus dadanya. Lisa kemudian menarik handle pintu dengan sangat hati-hati.
Krekkk
Tak lupa menutup lagi pintu itu lalu segera berlari kencang. Ini berita yang luar biasa. Ia memang sudah curiga tapi tidak menyangka jika kecurigaannya benar adanya.
Chris membuka matanya perlahan setelah Lisa pergi. Ia mendengar semuanya.
"Lisa kamu dipanggil pak Chris" ucap Farah setelah keluar dari ruangan sang atasan.
Tok! Tok! Tok!
Lisa melangkah ragu. Ia gugup apalagi setelah melihat tatapan intens pria di depannya.
"Ada apa pak Chris minta saya kesini?"
Chris melepaskan kacamata beningnya lalu menyandarkan bahunya ke kursi empuk miliknya.
"Saya tahu tadi kamu melihat saya dan Adira di ruang istirahat"
Lisa mengangah. Harusnya ia sadar, Chris memiliki kepekaan di atas rata-rata.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud menguping. Saya tidak sengaja pak. Saya benar-benar...
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah tahu hubungan saya dengan Adira?" sambar Chris tegas.
Lisa melepas nafas pelan.
"Saya janji pak, saya gak akan kasih tahu siapapun. Kalau sampai saya mulutnya ember maka pak Chris boleh memecat saya"
"Saya pegang janji kamu. Terima kasih Lisa"
"Sebelum saya keluar, boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan" sambut Chris.
"Atas apa yang saya lihat tadi. Sepertinya pak Chris memang mencintai Adira atau pak Chris hanya main-main. Saya tidak tahu mana yang benar. Maaf pak saya lancang. Tapi Adira teman saya. Dia memang pernah bilang menyukai seseorang dan saya baru tahu hari ini kalau orang itu pak Chris. Kalau memang pak Chris mencintainya maka berilah dia kejelasan. Pak Chris punya tunangan. Dan Adira akan selalu berada di posisi yang salah. Jangan membuatnya menangis. Saya permisi pak"
Chris tertegun sesaat mencerna apa yang Lisa katakan. Lisa benar. Ia harus secepatnya mengambil keputusan. Wanitanya itu akan selalu jadi pihak yang tertuduh. Tidak peduli bagaimana perasaannya, orang-orang akan tetap menyalahkan Adira sebagai perempuan penggoda calon suami orang.
"Ra, nanti kita pulang bareng ya" ajak Lisa lembut.
"Tunggu dulu sepertinya ada yang salah dengan suara kamu. Kok lembut banget ngomongnya? Biasanya berisik gak ketulungan" ledek Adira heran.
"Apaan sih. Aku capek banget jadi mau ke nginap di rumah kamu saja"
Adira mengangguk curiga. Sepertinya ada yang aneh karena pagi tadi, Lisa terlihat sangat ceria seperti biasanya. Bahkan sampai saat ini tidak ada tanda lelah di wajah temannya itu.
"Sejak kapan kamu punya hubungan dengan pak Chris?" tanya Lisa to do point setelah selesai mandi.
Lisa meraih handuk polos di sebelahnya lalu mengacak rambut basahnya dengan kain lembut itu. Tidak ada tatapan intimidasi. Ia hanya ingin tahu. Sedangkan Adira membisu seperti patung. Bagaimana Lisa bisa tahu? Padahal ia belum menceritakan pada siapapun tentang hubungannya dengan Chris.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Aku ada di ruang istirahat saat pak Chris mencium kamu siang tadi" jawab Lisa santai.
"Mungkin dua bulan yang lalu"
"Ya aku gak ingat persisnya kapan. Kalau Chris nembak aku itu seminggu yang lalu. Kita baru dekat banget itu sekitar dua bulan ini" ujar Adira apa adanya. "Sa, kamu gak bakalan kasih tahu yang lainkan?" sambungnya khawatir.
"Kamu tahu akukan. Mana mungkin aku gak kasih tahu yang lain" balas Lisa sengaja menggoda temannya itu. Saat ini wajahnya panas menahan tawa.
"Sa"
"Apa?"
"Jangan kasih tahu yang lain" rengek Adira berharap seraya mengerucutkan bibirnya menampilkan sisi manjanya.
"Ok tapi ada syaratnya. Setiap kamu bawah bekal makanan, kamu harus bawah untukku juga"
"Siap bu bos. Gampang banget syaratnya"
"Ra, kenapa harus pak Chris? Diakan sudah punya tunangan"
Ruangan kotak yang tidak terlalu besar itu seketika senyap. Pertanyaan Lisa sangat sensitif. Rasa bersalah itu hadir lagi. Adira pun tidak mengerti. Ia sudah berusaha mengontrol perasaannya tapi rasa suka itu memenuhi dadanya setiap saat.
"Kamu sendiri kenapa harus Darrel? Apa kamu bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta? Aku sudah menyukai dia selama 3 tahun dan saat waktu memberiku kesempatan, apa aku harus mengabaikannya?"
"Itu egois Ra" sahut Lisa.
Adira menundukkan wajahnya sambil mengigit ujung bibir kirinya.
"Mungkin itu benar, aku egois. Tapi aku...
Adira memejamkan matanya sebentar lalu bangkit dari kasur melebarkan kaki ke sudut jendela kamarnya. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Karena apapun pembelaannya, tetap saja ia dalam posisi yang salah.
"Ra, udah jangan dibikin pusing gitu ah. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku bicara begitu. Sekarang dengerin aku. Perasaan kamu dan pak Chris itu tidak salah. Cinta kalian tidak salah. Hanya saja waktunya kurang tepat. Tapi jika kalian berjodoh maka waktu itu akan menjadi milik kalian" ucap Lisa bijak yang langsung disambut Adira dengan pelukan hangat.
Adira tidak menyangka Lisa teman yang selama ini terlihat paling grasak grusuk, ceroboh, ternyata bisa bicara sebijak itu. Kalimat terakhir Lisa membuat Adira lebih tenang sekarang. Semua kembali ke jodoh. Jika tidak berjodoh maka waktu tidak akan menjadi milik sepasang insan yang saling mencintai.
...--------------...
"Masak apa?" tanya Chris mengalungkan tangan di pinggang Adira. "Baunya enak" lanjutnya sambil mengendus aroma khas dari masakan Adira.
"Singkirin gak tangan kamu" usir Adira risih.
"Gak mau. Aku mau meluk kamu begini terus"
"Jangan kayak anak kecil deh. Minggir gak" Adira memutar badan menghadap Chris seraya mengenggam sendok besar. Benda itu akan ia gunakan untuk memukul kepala pria manja di belakangnya.
Tapi lagi-lagi Adira kalah cepat. Chris dengan tenaga fullnya mengankat tubuh langsing Adira ke atas meja. Ia berdiri diantara kedua sisi kaki Adira. Dengan tatapan menggoda dan senyuman nakal, tangan Chris bermain di atas paha mulus Adira. Chris membuka mulutnya ingin melahap bibir ranum di hadapannya namun dengan sigap Adira menarik wajahnya mundur. Dengan sedikit hentakan, Chris berhasil menempelkan raga ringan itu kepadanya. Ia kembali mencoba melesatkan kecupannya dan kembali gagal. Adira sengaja mengulur waktu untuk mempermainkan kekasihnya itu.
Tampak senyum kepuasan tersirat di wajah Adira. Ia senang melihat Chris geram menahan hasrat.
"Sengaja?"
"Apanya?" sambung Adira pura-pura tidak mengerti.
Chris tersenyum kecil lalu mengurai tubuhnya berlalu pergi.
"Gak jadi?" tanya Adira meledek.
"Malas"
"Maksudnya makan" pekik Adira.
Chris kembali tersenyum. Gadis itu selalu bisa membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Dasar sudah tua masih saja suka ngambek" kata Adira sembari menata makanan di atas meja.
Setelah mandi Chris keluar dari kamarnya menuju area dapur. Ia yakin masakan Adira sudah siap. Namun ia tidak melihat Adira dimanapun. Chris meraih ponselnya untuk menelpon Adira. Seketika terdengar bunyi ponsel berdering.
"Handphonenya disini tapi tasnya tidak ada. Sepertinya dia pergi buru-buru. Hah...Adira kamu kemana sih? Kenapa tidak bilang kalau mau pergi?" ucap Chris khawatir.