
Sesuai dengan jadwal, pukul 14.00 Bryan beserta tim nya pergi meninggalkan aula J.O Company yang menjadi lokasi iklan. Shooting akan dilanjutkan esok hari setelah makan siang. Sebagai atlit Bryan harus menjaga kebugarannya dengan berolahraga rutin. Karena itu setelah shooting pertama selesai ia langsung pamit pergi.
Di kamarnya Adira merebahkan diri di kasur. Hari ini cukup melelahkan. Berbagai aktivitas membuatnya tidak punya waktu untuk berleha-leha. Apalagi produk terbaru akan segera diluncurkan dalam waktu dekat karena itu semuanya harus dikebut mulai dari iklan sampai persiapan yang lainnya.
"Hah capek banget" keluhnya melepas nafas panjang.
Adira menarik dirinya ke atas meraih bantal sebagai alas kepalanya. Kini rebahannya terasa lengkap dan nyaman.
"Untung saja aku punya tim yang hebat kalau tidak gak tahu deh jadinya seperti apa shooting tadi. Terutama pak Chris, dia sangat membantuku dan membuat semuanya terasa lebih mudah" ucap Adira bersyukur di ujung curahan hatinya.
Layaknya pepatah kalau jodoh tidak kemana, tak lama setelah itu ponsel Adira berdering menampilkan nama pak Chris killer di layar depan.
"Baru di omongi" katanya sumringah.
📞 Ya pak" sapa Adira lebih dulu.
📞 Lagi ngapain?
📞 Telponan sama pak Chris.
📞 Itu saya juga tahu.
📞 Pak Chris kenapa telpon saya?"
📞 Sudah makan?
📞 Belum. Baru saja sampai rumah. Pak Chris mau ngomong apa sih? Kayak anak ABG deh nanyanya. Lagi ngapain? Sudah makan belum? Langsung saja deh pak ke intinya. Saya mau istirahat. Saya...
📞 Susttt berisik banget. Saya telpon mau mastiin saja kamu sudah sampai rumah atau belum.
Adira menghela nafas di ujung sambungan. Ia merenung beberapa saat. Sejujurnya ia senang dengan perhatian Chris padanya tapi semua itu seakan tidak ada artinya. Statusnya tetap sama tidak bergeser sedikitpun. Chris hanya atasannya di kantor dan tidak lebih dari itu. Meskipun sempat memiliki kedekatan khusus namun Adira merasa tetap tidak punya hak apapun. Chris tetaplah tunangan Emilly dan tinggal menunggu waktu bagi keduanya untuk berlanjut ke pelaminan.
📞 Adira kamu masih disana?
📞 Masih pak. Saya masih hidup.
📞 Bercanda terus" celetuk Chris dengan tawa tertahannya.
📞 Pak sudah dulu ya. Saya mau mandi.
Wajah Chris berubah sendu. Akvitas memandang langit menjadi salah satu yang paling Chris sering lakukan. Ia merasa lebih tenang jika sedang menengadahkan kepala menikmati keindahan Tuhan yang dapat ia lihat dengan mata telanjang. Ya, bulan dan bintang. Kedua benda langit itu menjadi teman sejatinya setiap malam.
"Andai aku dengannya bisa bersama seperti kalian" ujar Chris tersenyum tipis menyaksikam cahaya bintang yang gemerlap serta bulan yang terang benderang. "Tapi sayangnya aku malam dan dia siang. Tidak mungkin bersama karena bulan dan bintang tidak mungkin berada di waktu yang berbeda" Chris menutup rapat matanya. "Dan jika dia tahu semuanya, maka aku sama sekali tidak punya kesempatan" sambungnya khawatir jikalau suatu saat nanti Adira tahu tentang rahasia yang ia tutup rapat selama ini.
...----------------------...
Shooting hari ke-2
Bryan terus melakukan kesalahan saat melafalkan kalimat pembuka hingga membuat proses shooting jadi terhambat. Ini sudah berjalan satu jam sejak shooting di mulai dan Bryan masih tidak hafal dengan skrip yang diberikan. Entah karena apa tapi kemarin tidak seperti ini. Agar proses shooting cepat selesai, Adira pun memberi Bryan arahan tentang bagaimana ia harus bergaya juga memberi tips agar mudah menghafalkan skrip.
"Nanti setelah pak sutradara bilang action, kamu langsung mulai saja gak usah mikir yang lain-lain dulu. Cukup fokus ke skrip. Dan untuk gaya kamu bisa bergerak bebas asalkan tidak keluar dari jalur. Please ya fokus, ini sudah jam 14.45. Bukankah kamu harus latihan?" jelas Adira memberitahu waktu setelah melihat arlojinya.
Senyum Bryan mengembang di wajahnya. Ia sangat suka mendengar celotehan wanita di sampingnya. Rasanya sudah lama ia tidak di omelin seperti ini. Bryan ingat betul setelah ketenarannya, hampir tidak ada yang berani menegurnya apalagi menasehatinya. Bryan bebas menentukan langkahnya dan tidak akan ada yang berani melarangnya.
"Pak Bryan dengar sayakan?" tanya Adira melambaikan tangan di depan wajah Bryan.
"Dengar. Dari tadi saya dengerin kamu ngomong. Saya suka sama kamu"
"Apa?" tanya Adira kaget.
"Saya suka cara kamu jelasin tentang apa yang harus saya lakukan. Kamu lupa perjanjian kita kemarin"
"Janji yang mana pak?"
"Panggil saja Bryan bukan pak Bryan. Memangnya saya setua itu?"
"Maaf tapi saya tidak bisa. Kita tidak terlalu akrab....
Adira menganga. Ia bingung dengan sikap Bryan. Caranya bicara seakan ia sudah mengenal Adira sebelumnya. Sebenarnya sejak mendengar nama Bryan Agatar, Adira merasa mengenal nama itu. Tapi sampai sekarang Adira tidak bisa mengingat apapun. Adira pun yakin belum pernah bertemu Bryan sebelumnya karena ia tidak punya ingatan tentang Bryan sedikitpun.
"Gimana boleh saya minta nomor kamu?" tanya Bryan lagi.
Adira merogoh ponselnya dari saku lalu menunjukkan nomornya pada Bryan.
"Hemm, maaf menganggu obrolan kalian. Tapi apa kita bisa memulai shootingnya lagi?" tanya Chris gelisah melihat kedekatan Adira dan Bryan. Chris tidak bisa marah karena pekerjaannya menuntutnya tetap profesional dalam situasi apapun. Dan walaupun tidak suka melihat Bryan yang berusaha mendekati Adira namun Chris berusaha menahan gejolak di hatinya.
Selang menit berikutnya, sutradara mengankat telunjuknya pertanda shooting akan segera di mulai. Semua tampak lancar sekarang. Bryan melakukan dengan benar arahan Adira tadi.
Di tengah proses shooting yang hampir selesai, tiba-tiba tanpa diundang Emilly datang ke lokasi dan langsung mengalungkan tangannya di pinggang Chris.
"Hai sayang" sapa Emilly mesra. Tak lupa ia mengecup lembut bibir Chris yang sudah menjadi kebiasaannya saat bertemu dengan sang pujaan hati.
Sontak orang-orang yang ada di lokasi dibuat tercengang dengan adegan intim itu. Termasuk Adira yang seketika sesak seperti ditimpah benda berat di dadannya. Lagi-lagi tak ada yang bisa dilakukannya selain menjadi penonton.
"Emilly jaga sikap kamu. Semua orang melihat kita" Chris menarik tangan Emilly membawanya menjauh dari lokasi.
"Sayang lepasin. Sakit tahu gak" ringis Emilly merasa sedikit perih di pergelangan tangannya.
Chris memejamkan mata sesaat lalu membuang nafas. Ia harus extra sabar menghadapi sikap manja Emilly.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Chris tidak tahu jika Emilly akan datang.
"Ya nemuin kamulah. Aku kangen sama kamu. Kan kamu sibuk terus"
"Ya memang aku sibukkan. Kamu bisa lihat sendiri"
Proses shooting sudah selesai untuk hari ini dan akan dilanjutkan di hari berikutnya di lokasi yang berbeda. Adira mengankat beberapa berkas termasuk skrip yang harus dihafalkan Bryan tadi namun saat akan turun kebawah tanpa sengaja ia melihat Chris dan Emilly sedang bicara serius. Adira berhenti di tempatnya melihat ke arah mereka.
"Ngapain ngintip orang?"
"Astaga" ucap Adira kaget hingga barang di tangannya terlepas. Bunyi yang berasal dari berkas terjatuh mengalihkan mata Chris kepada Adira dan Bryan.
Adira pun merendahkan tubuhnya mengumpul kertas yang berserakan. Diikuti Bryan turut membantu.
"Tidak usah pak biar saya saja"
"Jangan melarang saya. Saya yang sudah buat kamu kaget jadi sudah seharusnya saya membantu kamu"
Keduanya lalu berdiri serempak setelah semua berkas terkumpul. Mata Adira kembali mengarah pada Chris dan Emilly.
"Kenapa pak Chris melihatku begitu? Apa dia cemburu?" tanya Adira dalam hati.
"Sini saya saja yang bawah berkasnya" tawar Bryan.
Tiba-tiba Adira terpikirkan satu ide. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Chris.
"Pak Bryan bisa bantu saya?"
"Apa?"
Adira melepaskan berkas di tangannya kemudian menarik wajah Bryan. Tepat di depan bibir Bryan, Adira menghentikan gerakannya.
Hal itu membuat Chris sangat terkejut. Bibir Adira disentuh pria lain. Chris mengepalkan jari-jarinya bersiap menghantam wajah Bryan. Namun saat akan beranjak, langkahnya dihentikan Emilly.
...-----------------------...
Sebuah kenangan muncul tiba-tiba di kepala Adira setelah hampir saja mencium Bryan. Seorang anak remaja perempuan berpakaian seragam putih biru sedang berlari-lari di dalam kelas saat jam istirahat lalu tanpa sengaja bertabrakan bibir dengan anak laki-laki berperawakan tinggi dan rambut hitam legam. Ciuman tidak di sengaja itu bisa disebut ciuman pertamanya.
"Jadi cowok itu Bryan Agatar" gumam Adira tidak percaya dengan kenangan yang baru saja diingatnya. Ia refleks menutup mulutnya dengan mata melototi pria berbadan tegap di depannya.
"Kamu sudah mengingatnya?" tanya Bryan tersenyum tipis.