Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Nasehat Wanita Rentah



*Mana menurut kamu yang lebih penting. Kenangan yang seharusnya tidak aku ingat atau hubungan sakral kita?*


...------------...


Adira termenung cukup lama. Pikirannya terus mengingat perkataan Chris tadi. Ia merasa apa yang Chris katakan benar. Tapi apa yang saat ini ia rasakan juga wajar. Apalagi sebagai seorang istri, tentu saja akan merasa kecewa saat pria yang dicintai lebih mengingat wanita lain.


Keraguan! Tentu saja ada.


Merasa bukan yang utama? Tentu saja terpikirkan begitu.


Tapi apa yang Chris katakan benar. Ia tidak bisa memilah kenangan mana yang harus ia singkirkan ataupun kenangan mana yang harus diingat pasca operasi. Chris benar, semua itu terjadi begitu saja tanpa terencana. Tapi jika merasa sedikit kecewa, apa tidak boleh?, pikir Adira berperang dengan batinnya.


"Tu kan jadi aku lagi yang merasa salah" keluh Adira manyun. "Hah...dia memang pintar banget ngomongnya. Mutar-mutar terus endingnya bikin orang merasa bersalah. Aahhh tau ah" ucap Adira frustasi sambil mengacak-acak rambut basahnya. "Mending aku tidur saja"


Chris menyandarkan pundaknya di sofa ruang TV. Matanya terpejam rapat dengan pikiran mengawang. Ia masih heran, kenapa bisa tahu nama Emilly padahal belum ada yang mengenalkan nama gadis itu padanya. Chris berpikir keras mencari tahu, ada hubungan apa dirinya dan Emilly di masa lalu. Jika Adira saja sebagai istrinya, ia tidak ingat. Lalu siapa Emilly?


Sebenarnya siapa dia?, gumam Chris.


Tidak terasa waktu berlalu semakin larut. Malam juga semakin gelap. Namun Chris masih sibuk dengan pikirannya. Bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban yang memuaskan. Menduga tanpa kepastian.


"Sayang, kamu gak tidur?"


"Ya Emilly" sahut Chris spontan.


Bagai tersambar petir di siang bolong, seketika raut wajah Adira berubah pucat pasih. Bibirnya keluh dan kehabisan kata. Jadi suaminya sedang memikirkan wanita lain. Adira yang baru saja melunak, kini hatinya kembali mengeras seperti batu.


"Keterlaluan kamu. Brengsek" hardik Adira marah. Ia langsung kembali ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


Chris mengetuk pintu dengan sangat keras.


"Adira, buka pintunya. Dengerin aku dulu"


Di dalam, Adira tidak bergeming. Ia bahkan menarik selimut hingga menutupi kepalanya agar tidak mendengar panggilan sang suami.


Hancur! Hatinya sangat hancur.


"Kamu jahat Chris. Kamu jahat" ucap Adira lirih.


Adira menangis tak bersuara. Bahunya bergetar dalam balutan selimut. Wajahnya mengeras tegang seiring kecewa yang memenuhi relung hatinya. Rasanya sesak sekali. Lebih dari kecewa tapi remuk saat sang suami secara spontan menyebut nama wanita lain. Bukankah ucapan spontan itu, sesuatu yang berasal dari hati!


"Ra, please buka pintunya dulu. Kita bicarakan ini" pekik Chris sambil menggedor pintu. Tetap tidak ada respon dari dalam.


"Tidak apa jika kamu tidak mengingatku. Tidak apa jika kamu bilang cinta karena kasihan. Tapi aku tidak bisa menerima jika kamu memikirkan wanita lain" ucap Adira terisak pilu.


Adira bangun kemudian menutupi wajahnya dengan sepuluh jari. Tangisnya semakin pecah dengan derai airmata yang semakin deras.


"Ra, buka pintu. Aku mohon buka pintunya" mohon Chris sungguh-sungguh.


Malam berganti pagi. Mentari perlahan menyapa bumi yang telah di penuhi manusia yang tampak sibuk berjalan hilir mudik sesuai tujuannya masing-masing. Dalam keramaian itu, dalam sesaknya bumi, ada sepasang insan yang telah terikat dalam tali pernikahan terlihat tidak akur satu sama lain.


Adira masih betah di kamarnya. Dan Chris dengan perasaan bersalah tanpa lelah menunggu di luar, berharap orang di dalam sana segera membukakan pintu. Ia kembali mengetuk pintu namun wanita yang dicintainya tetap berkeras hati. Chris pun pergi ke dapur untuk memasak sesuatu.


Selesai masak, Chris pergi ke kamar mandi sebentar. Adira yang sedari tadi mondar mandir di dalam kamar, mencoba menempel telinganya di daun pintu.


"Gak ada suara lagi. Apa Chris sudah keluar?" tanyanya dalam hati.


Krekkk


Adira membuka pintu perlahan. Kepalanya keluar lebih dulu untuk memastikan keadaan di luar kamar. Nampak sepi dan senyap. Ini kesempatan baginya untuk keluar. Ia pun melangkah mengendap dan sangat hati-hati. Barangkali Chris masih ada di apartement.


Krekkk


Adira menekan gagang pintu.


"Hmmm"


"Tu kan masih ada" sesal Adira dalam hati.


"Mau kemana?" Chris menghampiri Adira.


"Pergi"


"Pergi atau kabur?" sahut Chris.


"Apaan sih" mata Adira mengelas malas.


Chris maju tiga langkah. Kini tidak ada sekat antara keduanya. Tangan Chris menyelusup ke belakang pinggang Adira lalu memutar anak kunci. Kemudian melempar benda kecil itu sembarang.


"Apaan sih. Kenapa kuncinya dibuang? Aku mau pergi"


Chris meraih pinggang Adira hanya dengan satu tarikan dan tidak akan membiarkan istrinya itu bergerak dari hadapannya. Tak lama tubuh Adira meringkuk layaknya balon yang ditekan dari kedua sisi begitu Chris mengecup paksa bibirnya. Adira mencoba melawan namun tenaganya selalu kalah dalam hal ini.


Ha hah ha


"Kamu sama saja dari dulu. Suka memaksa" ucap Adira tersengal.


"Itu bagus. Bearti aku tidak berubah"


"Kamu berubah. Kamu tidak ingat aku" celah Adira mematahkan ucapan suaminya.


Chris memejamkan mata sejenak lalu melepas nafas dari hidung.


"Apapun yang aku katakan sekarang, kamu tidak akan percaya. Terus mau kamu apa?"


"Aku mau pergi" balas Adira. "Sendiri"


"Tidak boleh" tolak Chris lantang.


"Kenapa tidak boleh?"


"Karena aku suami kamu"


Kamu itu aneh. Ucapan kamu terdengar sangat tegas. Aku suka kamu bicara begitu. Hanya saja kadang keraguan itu selalu muncul. Apa kamu benar mencintaiku? Atau sekedar empati yang memaksa kamu untuk bicara manis?


...---------------...


Adira mengalihkan pandangannya keluar mobil. Menurunkan kaca mobil lalu memejamkan mata, meresapi angin yang bertiup deras. Ini hari minggu, harusnya tertawa tanpa beban karena untuk satu hari bisa menikmati waktu tanpa memikirkan pekerjaan. Tapi nyatanya, ia justru dihadapi dengan permasalahan rumah tangga yang semakin hari semakin rumit. Ada saja masalah yang datang. Orang-orang sering bilang, jika di awal-awal pernikahan itu yang ada hanyalah cerita manis dan romantis tapi kenyataannya lebih banyak kisah sedih yang terjadi.


Hampir dua jam perjalanan, sebuah mobil menepi di area parkir pantai permata. Sepasang manusia keluar dari benda mati itu.


"Kamu suka tempat ini?" tanya Chris seraya melepaskan kacamata hitamnya.


"Suka" jawab Adira seadanya.


"Masih marah?"


"Kamu menyogok aku? Kamu pikir aku segampang itu. Kamu pikir dengan uang, masalah bisa selesai...


"Aku tidak bicara tentang uang" potong Chris.


"Terus kenapa kamu nanyanya gitu?"


"Ya aku cuma nanya. Kamu masih marah atau enggak? Memangnya salah?"


"Ya salah lah"


"Eh kalian kenapa?" sambar seorang wanita rentah. Tampak juga seorang pria berdiri di samping wanita itu.


Chris dan Adira terdiam mematung. Karena terlalu sibuk berdebat, keduanya tidak menyadari jika ada sepasang suami istri yang sedang memperhatikan mereka.


"Kalian suami istri?"


"Iya" jawab Adira dan Chris serempak.


"Suami istri itu kalau ada masalah mesti dibicarakan baik-baik. Jangan bertengkar. Jangan sama-sama keras. Harus ada yang ngalah. Selesaikan masalah dengan cepat. Harus akur. Karena nanti yang menemani kita di masa tua, ya pasangan kita. Jadi harus akur selalu" nasehat wanita rentah itu dengan sangat bijaksana.


"Betul. Lihat kami, sudah tua tapi masih sama-sama. Masih romantis lagi" timpal pria sembari merangkul pundak sang istri.


Setelah sepasang suami istri rentah itu pergi, Adira dan Chris saling bertatapan sebentar. Lalu mengalihkan pandangan ke hamparan air biru di depan mata. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku minta maaf. Sampai sekarang aku belum bisa mengingat kenangan kita. Tapi yang harus kamu tahu, disini hanya ada kamu" Chris menunjuk dadanya. "Terserah kamu mau percaya atau tidak" lanjutnya pasrah. "Cukup dengarkan apa yang aku katakan.....


"Apa perkataan kamu semalam harus aku dengarkan juga?" sambung Adira dengan tatapan serius.


Sial. Aku salah ngomong, batin Chris.


Chris kebingungan seperti orang kehilangan kompas petunjuk arah.


"Kenapa kamu seperti orang bingung gitu? Salah ngomong ya?" Adira sangat mengenal suaminya itu.


Tiba-tiba Adira merintih kesakitan di bagian perutnya.


"Aww" ringis Adira sambil menekan perutnya.


"Ra, kamu kenapa?"


"Gak tahu. Perut aku sakit banget"


"Kita ke rumah sakit saja" ajak Chris panik.


"Terus gimana dengan liburan kita di sini? Sayang kan hampir dua jam perjalanan ke sini. Masa langsung pulang. Aww sakit banget" Adira kembali meringis. Kali ini sakitnya semakin menjadi.


"Memangnya itu penting sekarang? Kamu mau mati kesakitan disini" Chris kesal karena di saat genting seperti ini, Adira masih saja bicara hal-hal konyol.


"Galak banget sih ngomongnya. Uweh" Adira refleks menutup mulutnya begitu merasa ada sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.