
📞 Bisa saya bicara dengan pak Chris.
📞 Saya Chris. Ini siapa?
📞 Maaf pak menganggu. Kami dari rumah sakit. Bu Adira minta kami menghubungi nomor ini. Bisa pak Chris kemari?
Chris spontan berdiri. Lalu mengusap kasar wajahnya. Ia baru ingat jika malam ini punya janji nonton dengan Adira. Tapi apa yang terjadi?
Kenapa pihak rumah sakit menelponnya atas suruhan Adira?
Apa yang terjadi dengan Adira?
Secepat kilat seperti semilir angin, Chris meninggalkan segala pekerjaannya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh agar cepat sampai.
Sampainya di rumah sakit, Chris langsung menemui resepsionis untuk menanyakan keberadaan istrinya. Setelah mendapatkan informasi nama kamar tempat istrinya dirawat, Chris pun menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar tersebut.
Belum sampai di tempat tujuan, dari jarak sekitar lima meter, Chris melihat Adira berjalan ke arahnya.
"Adira apa yang terjadi? Tangan kamu kenapa?" Chris khawatir saat melihat tangan Adira diperban.
"Kesenggol motor. Tapi kamu tidak perlu khawatir, ini gak terlalu sakit kok" ucap Adira tersenyum tipis.
"Gak sakit apanya. Itu tangan kamu diperban. Apa lagi yang sakit?" tanya Chris sambil memutar badan Adira, memastikan apakah ada luka di tempat lain.
"Aku gak papa. Gak ada yang sakit. Yang sakit itu disini" Adira menempelkan tangan kanannya di dada. Mengisyaratkan jika sakit sebenarnya ada di hatinya.
Raut wajah Adira pun berubah masam.
"Keterlaluan tahu gak kamu tu. Aku nunggu sendirian di bioskop selama dua jam lebih. Kamu yang ngajak nonton tapi kamu justru gak datang. Mau kamu apa sih? Bagi kamu, apa aku seremeh itu?" sambungnya tercekat hingga tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.
"Aku minta maaf. Di kantor sedang banyak masalah. Banyak dokumen yang harus aku cek ulang. Aku benar-benar lupa. Aku minta maaf. Kamu boleh marah tapi please, jangan kabur dari rumah" ucap Chris sangat menyesal. Penyesalan itu tersirat dari sorot mata Chris yang sendu.
Mata Adira seketika mendelik tajam.
"Kamu mengejek aku?" tanya Adira tidak suka dengan kalimat terakhir Chris.
"Enggak. Aku hanya takut"
"Takut apa? Disini banyak orang. Terang juga. Ngapain takut" racau Adira belum mengerti maksud sang suami.
Chris menghela nafas pendek. Sepertinya istrinya ini memang lemot alias lambat. Masa kalimat sesimple itu saja tidak mengerti.
"Aku takut kehilangan kamu" sambung Chris memperjelas ucapannya tadi. "Puas?"
Wajah Adira kembali merona. Senyumnya semerbak bagaikan kuncup bunga yang baru saja mekar. Adira terpaku di tempat sambil menatap tak bosan tubuh proposional Chris yang telah berjalan lebih dulu di depannya.
"Aahh kenapa aku mudah banget sih luluhnya? Hmm...sayang tunggu aku" pekik Adira manja sambil berlari kecil mengejar Chris.
Baru saja masuk, Adira tiba-tiba menyerang Chris dengan melepas paksa kemeja yang dikenakan sang suami. Tubuh Chris dihimpit ke dinding lalu dengan liar, Adira melesatkan bibirnya di bibir pria tampan yang beberapa bulan yang lalu resmi menjadi suaminya. Adira seperti orang kelaparan, ia melahap daging kenyal itu tanpa jeda.
"Adira pelan-pelan saja. Tidak perlu buru-buru" ucap Chris menekan pundak sang istri.
"Kenapa harus pelan-pelan? Memang kita anak kecil?" sahut Adira dengan nafas menderu.
"Kamu baru kecelakaan. Tangan kamu masih sakit"
"Hanya tangan aku yang sakit. Yang lainnya enggak" sambar Adira dengan tatapan resah.
Chris menangkup wajah Adira penuh kelembutan lalu mengelus pipi halus itu dengan tatapan cinta.
"Jangan menggodaku. Kamu tidak akan bisa mengendalikanku jika aku sudah memulainya" ucap Chris memperingati Adira, jika ia bisa bermain gila dalam bercinta.
"Jangan khawatir, aku bisa menahannya"
"Yakin?"
"Hemm" angguk Adira seyakin-yakinnya.
"Tangan kamu bisa lebih sakit nanti?" Chris memutar posisi. Kini balik ia yang menghimpit tubuh seksi sang istri ke dinding.
Seketika Adira tersenyum nakal. Matanya berkedip menggoda. Lalu dengan sengaja mengulum bibir.
"Sial" Chris tidak dapat menahan hasratnya lagi.
Dengan enteng, Chris mengankat tubuh Adira lalu mengecup panas bibir berwarna merah menyala itu. Keduanya terus bercumbu hingga langkah kaki Chris berhenti di ujung kasur. Dengan gerakan hati-hati, Chris membaringkan tubuh sang istri di kasur.
"Aahh" desah Adira nyerih saat salah satu tangannya ditekan kuat pria di atasnya.
"Sorry...maaf aku lupa" sesal Chris menghentikan kecupannya di bibir Adira. "Sakit?"
Adira memutar bola matanya seperti orang kebingunan.
Mana boleh berhenti sekarang, batin Adira.
Hanya dalam hitungan detik, Adira bergerak agresif merubah posisinya menjadi di atas Chris.
"Kamu lama" keluh Adira dengan aksi Chris yang lambat.
Adira melucuti bajunya dan diikuti Chris melakukan hal yang sama. Permainan panas malam ini berlangsung dengan pergerakan Adira yang lebih dominan. Adira memimpin permainan hingga akhir dan Chris sedikit bermain hati-hati mengingat sang istri baru saja mengalami kecelakaan kecil. Memang tidak ada luka yang fatal, hanya saja Chris tetap khawatir akan menyakiti Adira jika ia bermain brutal seperti saat bercinta sebelumnya.
...-----------------...
Hari ini langit tampak cerah dengan warna biru cerah. Di bawahnya di bumi yang luas, Adira menyusuri jalan setapak sambil menenteng paper bag berwarna hitam legam.
Ia tersenyum bahagia, setelah beberapa tahun, akhirnya moment ini datang juga. Ya, hari ini ia akan merayakan kelahiran ibunya berdua saja.
"Ini hadiah untuk ibu" ucap Adira antusias sembari memberikan paper bag hitam pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Wah ini apa?" Sandra membuka paper bag tak sabar.
Sebuah tas mini berwarna merah yang merupakan warna kesukaan Sandra.
"Bagus banget" puji Sandra berbinar. "Mahal gak?" sambungnya.
Sontak Adira tersenyum kecut. Ternyata sifat matre ibunya belum hilang.
"Yeah, ibu. Yang dilihat itu niatnya bukan harganya" celetuk Adira cemberut.
"Emang niat bisa dilihat?" canda Sandra tersenyum senang. "Ibu bercanda. Tentu saja ibu sangat suka tas ini. Mau mahal atau murah, itu tidak penting. Yang penting tas ini kamu yang kasih" lanjutnya meraih tubuh sang putri.
Ibu dan anak itupun saling berpelukan hangat dan dalam. Di lubuk hati terdalamnya, Adira tidak menyangka dan rasanya tidak percaya jika kini hubungannya dengan sang ibu benar-benar sudah membaik. Adira dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari sang ibu yang selama ini ia impikan. Ia sangat bersyukur, kesabarannya dulu dalam menghadapi sikap kasar sang ibu, kini berbuah manis dan penuh kebahagiaan.
"Ehh kamu sudah ngisi belum?"
"Belum bu. Eh gak tahu juga bu. Aku belum ngecek tapi kayaknya belum deh" ucap Adira ragu.
"Loh kok bingung. Bulan ini kamu masih haid gak? Ini sudah tanggal tua loh, kan biasanya kamu haid pertengahan bulan"
"Sudah bu. Baru seminggu kemarin kelar"
"Itu artinya kamu belum ngisi. Harus sering main biar cepat dapat"
Adira mengangguk pelan. Adira sadar jika awal-awal pernikahan, ia memang jarang main. Bukan karena tidak mau tapi memang Chris menolaknya. Baru sekarang-sekarang ini setelah Chris bisa menerimanya lagi, mereka mulai melakukan hubungan layaknya suami istri.
Berarti malam ini harus main lagi biar aku cepat hamil, ucap Adira membatin.
Di perjalanan pulang, Adira melihat sepasang suami istri sedang bermain dengan seorang anak kecil.
Anak kecil yang imut itu pasti anak mereka.
Melihat tawa lepas sepasang suami istri itu semakin membuat keinginan Adira untuk secepatnya hamil semakin menggebu. Ia ingin melahirkan anak untuk Chris agar bisa melihat tawa lepas itu di wajah pria yang sangat dicintainya, Chris.
"Chris sangat suka anak kecil. Dia pasti akan bahagia sepanjang hari jika mempunyai anak" gumam Adira tertawa geli. Membayangkannya saja sudah bahagia apalagi jika nanti itu benar terjadi.
Malam ini Adira sudah merencanakan sesuatu untuk menggoda sang suami dan dengan sengaja memakai lingering tipis. Sembari menunggu Chris selesai mandi, Adira merapikan kasur terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian.
"Hai" sapa Adira tersenyum manis begitu Chris keluar dari kamar mandi.
Chris mengerutkan dahinya dengan pupil mata mengecil.
"Kenapa duduk kamu begitu? Bisulan?" tanya Chis begitu melihat Adira yang setengah berbaring.
Adira mengankat pundaknya lalu menurunkannya lagi sambil membuang nafas keras. Sudah berpakaian seksi begini, masa Chris masih tidak peka.
"Ayo main" ajak Adira sambil memainkan jari telunjuknya agar Chris mendekat.
"Lagi? Tangan kamu itu belum sembuh total" ucap Chris duduk di sebelah Adira.
Adira merapatkan diri ke pria di sebelahnya lalu memainkan kelima jarinya di dada polos Chris yang tidak dibungkus sehelai benangpun.
"Tangan aku sudah sembuh kok" balas Adira duduk di pangkuan Chris.
"Itu kata kamu. Jangan lupa, dokter bilang tangan kamu itu butuh waktu seminggu untuk sembuh total" sahut Chris.
"Kamu kenapa sih? Ada saja alasannya kalau diajak main. Inilah itulah...bikin badmood. Sudahlah" Adira beranjak dari pangkuan Chris namun tiba-tiba tangannya di tarik kuat hingga tubuhnya berbaring di kasur.
Chris pun langsung menindih tubuh wanitanya itu.
"Kamu tidak bisa pergi setelah merayuku"
"Terus...aku harus ngapain?" sahut Adira menahan senyum.
"Diam saja dan terima hukumannya"
"Dengan senang hati" sambung Adira bersorak ria dalam hati.