Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Banyak Cara!



Situasi seketika riuh oleh kepanikan Maya, Farah, dan Lisa. Mereka berteriak nyaring meminta bantuan kepada karyawan pria untuk membawah Adira ke dalam mobil. Sesaat setelah Adira masuk, Jhon langsung tancap gas. Tak butuh waktu lama, tubuh Adira dipindahkan ke ranjang rumah sakit untuk mendapat penanganan.


"Sa, kamu bawah HP kan? Coba telepon Chris"


...---------------...


Sebuah mobil hitam menerobos jalanan yang tampak padat oleh pengendara. Mobil itu melaju kencang dan sesekali menekan bel panjang untuk memperingati mobil di depannya agar memberikan jalan. Pandangan seorang pria di dalam mobil itu begitu tajam dan raut wajahnya terlihat cemas.


"Sial" Chris kembali menekan bel saat mobil dari arah belakang berusaha memotong jalannya.


"Bisa bawah mobil gak? Naik sepeda saja" teriak pria dari pengendara lain. Pria itu tertawa sebentar lalu menambah kecepatan laju mobilnya meninggalkan Chris jauh di belakang.


"Brengsek" maki Chris kesal. Di saat genting seperti ini, ada saja orang yang mencari masalah. Jika saja bukan karena Adira, Chris pasti akan mengejar mobil itu untuk memberi pelajaran yang pantas.


Chris berlari menyusuri lorong rumah sakit, menuju kamar dimana sang istri dirawat. Sepanjang perjalanan tadi, Chris berusaha untuk tetap berpikiran positif, tidak mau menduga yang aneh-aneh dan meyakinkan dirinya jika Adira dan anak yang sedang dikandung sang istri akan baik-baik saja.


"Gimana keadaan Adira?" tanya Chris dengan nafas tersengal.


"Masih di cek dokter" jawab Jhon seraya berdiri di sebelah Chris.


"Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?"


"Adira memindahkan berkas ke gudang. Terus pas mau balik, dia terpeleset. Lalu pendarahan" jelas Maya singkat.


Chris mengusap kasar wajahnya. Ia menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Harusnya setelah tahu Adira hamil, ia langsung saja menyuruh Adira tidak bekerja. Tapi semua sudah terjadi. Dan sekarang ia hanya bisa menunggu dengan perasaan gelisah. Jika saja terjadi sesuatu dengan calon buah hatinya maka sulit baginya untuk memaafkan diri sendiri. Karena jika terjadi sesuatu maka ia telah gagal menepati janji untuk menjaga wanitanya itu.


"Suami bu Adira yang mana?" tanya suster begitu pintu kamar terbuka.


"Saya sus" sahut Chris tanggap.


"Silakan masuk pak"


Seketika tubuh Chris bergetar saat melihat raut wajah sedih wanita yang sedang berbaring di atas ranjang. Ditambah lagi ekspresi serius sang dokter semakin membuat mentalnya down. Chris yang sedari tadi terus berpikir positif, kini mulai berpikir hal yang buruk.


"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Chris memberanikan diri bertanya.


"Istri anda baik-baik saja pak. Tapi....


Sang dokter menghentikan kalimatnya. Wajahnya menunduk murung.


Please, Tuhan tolong jangan ambil apapun, batin Chris sangat berharap.


Keadaan ruangan seketika menjadi hening. Dada Chris naik turun menunggu dokter kembali bicara.


"Anak yang dikandung istri bapak...baik-baik saja" tutur sang dokter setelah memberi jeda sebentar.


Hah....


Chris menghela nafas lega. Tak lama, Adira tertawa geli. Sikap Adira yang seakan sudah tahu apa yang akan dokter katakan membuat Chris curiga.


"Kamu ngerjain aku?" tanya Chris melebarkan pupil matanya.


Chris yakin sekali. Adira telah sekongkol dengan dokter untuk membuatnya ketakutan. Namun sayang, Chris tidak bisa bertanya lebih lanjut mengingat dokter masih ada di ruangan.


"Kondisi istri dan janin baik-baik saja. Untungnya janin bu Adira sangat kuat. Tapi jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Jangan sampai ada pendarahan lagi karena mungkin di pendarahan berikutnya dapat membahayakan janin. Dan juga bu Adira jangan terlalu lelah bekerja. Tolong jaga istrinya baik-baik ya pak. Kalau begitu saya permisi pak"


...--------------------...


Adira berjalan lebih dulu. Ia tidak menoleh sedikitpun untuk menghindari pertanyaan yang akan dilontarkan Chris. Adira tahu, sebentar lagi Chris akan memberinya pertanyaan mengenai kejadian di rumah sakit tadi.


"Berhenti di situ" cegat Chris lantang.


Tu kan, benar.


"Kamu belum jawab. Di rumah sakit, kamu sekongkol kan sama dokter buat ngerjain aku. Sengaja kan mau bikin wajah aku pucat kayak orang mati"


"Seram banget ngomongnya" sahut Adira asal.


"Gak usah ngalihin pembicaraan. Jawab" Chris berdiri berhadapan dengan sang istri.


"Bukan ngerjain. Tiba-tiba saja aku punya ide begitu. Mungkin itu keinginan anak kita" ucap Adira dengan alasan yang tidak masuk akal dan sengaja memperlihatkan bibir manyunnya untuk meredam kemarahan sang suami.


Ha hah


"Wah wanita memang sangat egois ya. Sekarang anak kamu jadiin alasan. Bagus"


"Sayang jangan marah ah. Ntar dedenya sedih lihat orangtuanya berantem" rayu Adira manja sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Memangnya bisa gitu?" tanya Chris polos.


"Bisa dong. Ini kan anak kamu, darah daging kamu. Dia pasti bisa merasakan. Apalagi kalau ibunya sedih, dia pasti ikutan sedih. Makanya kamu jangan marah-marah biar aku gak sedih"


"Beneran bisa nyambung gitu?" Chris mulai termakan dengan rayuan sang istri.


"Beneran" Adira berbalik badan menghadap kaca sambil menahan tawa. Rasanya ia ingin tertawa lebar melihat mimik bingung Chris. Asyik juga ngerjain suami.


Chris yang melihat pantulan wajah Adira dari kaca langsung mengangguk mengerti. Istrinya itu tersenyum tipis. Chris menyadari jika dirinya kembali dipermainkan.


"Kenapa kamu senyum?"


"Hmm enggak. Aku gak senyum kok?" sontak Adira menutup mulut begitu mengankat wajah. Ternyata ia sedang berhadapan dengan kaca. Ah, Chris pasti melihatku tertawa barusan, lanjutnya dalam hati.


"Suka banget ya ngerjain aku? Kamu tahu, jantung aku tadi hampir lepas melihat kamu menangis di rumah sakit. Aku pikir aku akan kehilangan anak kita. Terus tiba-tiba kamu ketawa. Wah....


"Ih marah terus. Tahu ah, capek" ucap Adira malas kemudian masuk ke kamar dengan wajah cemberut. Ia menggerutu kesal dalam hati. Walalupun aku yang salah tapi dengan kondisiku yang sedang berbadan dua, harusnya Chris lebih peka dan perhatian sama istrinya, pikir Adira.


Hari berangsur malam. Setelah makan malam, Adira masuk ke kamar lebih dulu dan membaringkan diri di atas kasur. Sedangkan Chris masih berada di ruang kerjanya. Seperti biasa jika ada pekerjaan yang belum selesai di kantor, Chris akan menyelesaikannya di rumah.


Pukul 22.15


Adira memutar kepalanya 30 derajat melihat ruang kosong di sebelahnya. Ia berdecak kesal begitu menyadari tidak ada suami di sebelahnya. Tiba-tiba....


Krekkk


Adira langsung mengambil posisi semula, berbaring miring ke kanan.


Akhirnya dia masuk juga.


"Kamu sudah tidur?" tanya Chris sembari memeluk Adira dari belakang.


"Sudah"


Chris tersenyum tipis. Bisa-bisanya orang tidur bicara.


"Aku minta maaf. Aku memang sempat kesal tapi itu langsung hilang setelah melihat kamu baik-baik saja. Tadi, aku hanya kangen sama kebawelan kamu. Aku tidak marah sama sekali" tutur Chris lembut lalu mencium mesra pundak sang istri.


"Beneran?" Adira menelentangkan tubuhnya agar bisa menatap wajah pria tampan di sampingnya.


Chris diam sejenak dengan tatapan dalam dan penuh cinta. Tanpa berkata apa-apa, Chris mendaratkan bibirnya di bibir wanita yang sedang ia tindih. Adira pun menyambut hangat kecupan itu. Detik berganti detik, Chris bergerak liar memainkan bibir di area wajah Adira hingga menimbulkan suara rintihan dari wanita berparas cantik di bawahnya. Tidak tahan, Chris mengembalikan kecupan panasnya di bibir ranum sang istri. Tangannya yang panjang bergerak bebas dan berhasil menyingkap baju berbahan tipis yang dikenakan Adira hingga ke perut.


"Sayang tunggu dulu" Adira tahu apa yang akan terjadi berikutnya jika ia tidak menghentikan Chris sekarang.


"Ada apa?"


"Kita gak bisa main dulu"


"Kenapa?" sahut Chris bingung.


"Kamu lupa ya, aku kan habis pendarahan. Dokter juga bilang jangan berhubungan badan dulu karena masih rawan. Terlalu berisiko" jelas Adira.


"Jadi dokter bilang begitu" Chris mengurai dekapannya dan berbaring pasrah. Lagi-lagi ia harus menundah hasratnya.


"Tapi aku bisa kok menuntaskan keinginan kamu itu" ucap Adira ambigu.


Refleks Chris menaikkan salah satu alisnya.


"Caranya?" tanya Chris pura-pura tidak tahu sambil tersenyum malu.


"Iissh...sok polos banget sih" ucap Adira geram.


Adira melempar selimut ke lantai. Kemudian naik ke atas tubuh Chris.


"Aku kasih tahu caranya"