Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Menemukan Bukti



Di rooftop, Chris sedang menyeruput segelas kopi instan hangat dan ada satu kopi lagi di sampingnya yang ia siapkan untuk Adira.


"Ada apa pak Chris minta saya kesini?" tanya Adira menyapa.


"Kopi?" tawar Chris menyodorkan kopi pada Adira.


"Terima kasih pak"


"Disinikan cuman ada kita berdua. Panggil saja sayang" ucap Chris menggoda dengan senyum tipisnya.


"Ini kantor jadi saya akan tetap panggil pak Chris" tolak Adira dengan raut masamnya.


"Wuihh jutek banget. Kemarin kamu kemana? Kenapa tiba-tiba ngilang?"


"Ada urusan" sahut Adira singkat.


"Urusan apa sampai kamu lupa bawah ini?" tanya Chris sambil mengeluarkan ponsel Adira dari saku celanannya.


"Sini handphoneku" pinta Adira berusaha merebut ponselnya dari tangan Chris.


Namun postur tubuh Chris yang tinggi membuatnya sulit menjangkau tangan Chris yang diangkat ke atas.


"Pak kembaliin handphone aku. Aku banyak kerjaan. Gak ada waktu buat main-main seperti anak kecil gini" ucap Adira tegas.


Chris membuang nafas sejenak. Dengan cepat Adira merebut ponselnya dari genggaman Chris kemudian melangkah menjauh.


"Ada apa lagi? Aku salah apa lagi?"


Langkah Adira terhenti.


"Kamu beneran gak tahu kenapa aku gini?"


"Aku gak akan tahu kalau kamu gak kasih tahu. Kalau aku salah aku minta maaf"


Adira memejamkan matanya kesal. Ia marah pada dirinya sendiri karena setiap kali ada di situasi ini ia tidak tahu harus bagaimana bersikap. Rasanya menyakitkan tidak dapat mengunkapkan rasa cemburunya. Adira bingung merasa tidak punya hak untuk merontah mengingat statusnya hanya sebatas kekasih gelap. Yang orang tahu hanya Emilly wanita paling dekat dengan Chris.


"Percuma dijelasin. Kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Permisi pak"


Chris mengacak sembarang rambutnya. Ia tidak tahu ada masalah apa lagi. Kesalahan apa yang sudah ia perbuat tapi tidak menyadarinya. Dan yang membuat Chris semakin frustasi ialah sikap Adira yang selalu memendam masalahnya sendiri. Memilih mendiamkannya lalu pergi tanpa ada penyelesaian. Ini sudah terlalu sering.


Waktu berangsur petang. Terik matahari siang tadi mulai mengalah. Awalnya Chris ingin lembur saja tapi ia harus menyelesaikan dulu masalahnya dengan Adira. Ia tidak suka masalah yang berlarut-larut.


"Hmm Adira mana ya?"


"Adira sudah pulang duluan pak" jawab Maya seraya berdiri.


Chris kembali ke ruangannya. Meraih ponselnya lalu mendial nama Adira.


Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


Chris mencoba menghubungi Adira lagi tapi hanya ada balasan dari operator.


"Pak Chris" panggil Lisa menghampiri Cjris di area parkir mobil.


"Ya"


"Pak Chris pasti mau cari Adira kan? Sepertinya Adira marah sama pak Chris. Tadi pagi dia cerita, katanya semalam melihat pak Chris tidur dengan Emilly"


* 11 jam yang lalu


Mata Chris membelalak begitu bangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat Emilly tidur di sebelahnya. Entah sejak kapan wanita itu datang.


"Emilly. Sejak kapan kamu disini? Kenapa kamu lancang sekali tidur di ranjangku?" tanya Chris tidak suka.


Emilly tersenyum manis sambil menatap Chris penuh cinta. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa tidur seranjang dengan kekasihnya itu. Selama ini Chris selalu menolak dan melarang keras saat Emilly meminta tidur sekamar*


Di sebuah taman yang tampak tidak terlalu ramai, Adira duduk sendiri sembari menikmati cahaya senja yang menusuk wajahnya. Hubungan abu-abunya dengan Chris membuat pikirannya lelah. Kadang sangat bersemangat, bahagia yang tak tertandingi. Di lain waktu merasa sangat lelah dan capek. Adira tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri. Kenapa masih bertahan dalam hubungan tanpa kepastian ini? Kenapa ia tetap menyukai pria yang sudah bertunangan itu? Ingin menjauh tapi justru ia semakin menyukai atasannya itu.


Adira menyatukan ujung kepala dengan kedua lututnya. Kepalanya berat sekali.


"Ngapain disini?"


Mata Adira mengintip. Ia sangat mengenal suara ngebass itu.


"Kamu. Kok tahu aku disini?"


"Lisa yang kasih tahu" balas Chris duduk di sebelah Adira.


"Aish dasar tu cewek mulutnya ember banget. Udah dibilangi jangan kasih tahu Chris" gumam Adira geram.


"Aku minta maaf. Kemarin aku nyariin kamu. Karena tidak ketemu, aku balik terus ketiduran. Emilly tahu sandi apartementku. Jadi dia bisa langsung masuk. Aku juga kaget lihat dia tidur di sebelahku. Aku tidak melakukan apa-apa dengannya" jelas Chris lugas. Ia tidak menutup apapun dan ingin kesalahpahaman ini segera berakhir.


Keadaan taman semakin sepi. Sesuai jadwalnya, kelam kembali menyapa. Sudah beberapa menit berjalan, Adira belum bicara sepatah katapun. Ia masih bergelut dengan pikirannya.


"Beri aku waktu untuk menjelaskan padanya. Sebentar lagi" Chris tahu apa yang sedang Adira pikirkan. Pasti berat berada di posisi gadis di sampingnya.


"Aku akan selalu memberi kamu waktu. Tapi untuk sekarang kita break saja dulu"


"Gak mau" tolak Chris lantang.


"Kok gak mau. Harus mau dong"


"Tidak mau" ucap Chris menekankan kalimatnya.


"Harus mau" sahut Adira menarik kerah kemeja Chris.


Sontak Adira mendorong Chris kasar.


"Apaan sih mesum banget. Terserah pokoknya kita break" ucap Adira bangun dari duduknya.


"Yakin mau break? Nanti kangen. Oh iya ternyata kamu sangat menyukaiku bahkan bisa dibilang obsesi. Sampai sandi handphone kamu saja tanggal lahirku. Terus di galeri kamu juga banyak foto-fotoku"


Matanya Adira melotot lebar sepanjang Chris bicara. Kenapa Chris tahu sandi handphonenya? Dan kenapa pria ini lancang sekali mengecek galerinya?


"Kok kamu lancang banget sih ngecek-ngecek handphone orang. Itu gak sopan tahu enggak"


"Wah seharusnya aku laporin kamu ke polisi atas kasus pelecehan karena kamu ngambil foto aku diam-diam" sambar Chris mengabaikan kemarahan Adira.


"Apaan sih sok keren banget. Gitu doang pakai lapor polisi segala. Ya udah aku hapus foto-foto kamu sekarang" Adira merogoh ponselnya namun tangannya dicegat.


Chris menarik tubuh Adira dalam pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin lepas lagi.


"Aku merindukan kamu, Adira"


"Lebay banget sih. Kitakan ketemu setiap hari" balas Adira berusaha mendorong tubuh Chris agar mengurai pelukannya. Namun seperti biasanya, tidak semudah itu kabur dari kurungan kekasihnya itu.


Chris merenggangkan dekapannya sejenak lalu menangkup wajah gadis di hadapannya.


"Aku mencintai kamu, Adira"


Hatinya selalu berdebar setiap kali Chris menyebut namanya lembut. Ditambah lagi ada kata cinta di depannya. Kata-kata itu membuat Adira melayang seakan terbang di nirwana. Rasanya plong dan lepas. Kegundahannya, gelisahnya, takutnya, marahnya, seketika meluap begitu saja.


Dengan pipi merona sambil menahan senyum bahagianya, Adira mengecup singkat bibir Chris. Ia tersipu malu. Namun tiba-tiba suara Adira terdengar berbeda seperti orang sedang menangis.


"Ra, kamu kenapa? Kamu sakit lagi?" Chris selalu parno setiap kali berciuman dengan Adira. Ia khawatir sakit kekasinya itu kambuh lagi.


"Aku lapar" keluh Adira cemberut manja.


Seketika Chris tertawa kecil melihat raut Adira yang menggemaskan. Tingkah konyol seperti inilah yang membuatnya jatuh hati pada gadis di depan matanya. Bukan hanya itu segala yang ada dalam diri Adira, Chris menyukainya.


"Dasar. Mau makan apa?" tanya Chris sembari meraih tubuh Adira dalam pelukan hangatnya.


"Nasi goreng ayam" jawab Adira bergelayut manja di pundak lebar Chris.


Sepasang insan yang sedang dimabuk cinta itu bergandengan tangan erat melewati malam gelap yang istimewa. Ini makan malam pertama mereka setelah menjalin kasih merajut asmara. Bukan makan malam yang mewah, hanya makan malam biasa di pinggiran kota berbaur dengan keramaian.


"Katakan sesuatu" ucap Adira gugup menatap pria di atasnya.


Chris tersenyum samar sembari menyingkirkan rambut hitam yang menutupi sebagian wajah Adira. Mengecup lembut pipi kenyal itu memberi kenyamanan pada gadis di bawahnya.


"Aku akan bermain liar malam ini" ujar Chris dengan senyum nakalnya.


Deg!


Adira semakin deg degan.


"Aku haus" ucap Adira memburu begitu Chris ingin melucuti bajunya.


Chris senyum terkulum. Kemudian bangkit keluar kamar. Tak lama ia berdecak marah. Tidak ada minuman apapun di dalam kulkasnya.


"Sial"


"Kenapa?" sambar Adira menghampiri Chris.


"Minumannya habis. Aku keluar sebentar ya"


"Gak usah. Aku gak terlalu haus kok"


"Tunggu disini. Aku segera kembali. Jangan kemana-mana" ucap Chris serius menekankan kata jangan.


Adira mengangguk patuh. Ia sadar Chris sedang menyindirnya yang selalu pergi tanpa pamit.


Setelah berbelanja beberapa makanan dan minuman ringan di salah satu toserba yang berada tidak jauh dari apartementnya, Chris langsung pulang. Namun begitu sampai di lobby, Chris melihat sosok familiar sedang duduk disana.


"Sayang" panggil Emilly nyaring sembari berlari mendekat.


"Ngapain kamu kesini?"


"Isshh galak amat sih. Aku kesini karena kangen sama kamu"


Chris mengelas malas memalingkan wajahnya ke tempat lain. Ia tidak ingin Emilly mengecup bibirnya.


"Emilly, kita akhiri saja"


"Maksud kamu?"


"Kita putus saja" Chris berlalu meninggalkan Emilly.


Emilly mengejar Chris. Ia tidak terima diputus tanpa sebab. Dengan sigap Emilly menekan tombol lift sebelum lift tertutup dimana Chris sudah masuk lebih dulu.


"Sayang kamu kenapa? Kok aku tiba-tiba diputusin. Aku salah apa?"


Adira merasa bosan menunggu Chris kembali. Ia pun berjalan-jalan mengitari ruang kerja Chris. Seperti biasa semua barang-barang tertata rapi dan tampak estetik di tempat yang tepat. Mata Adira tertuju pada kotak kecil yang ada di atas meja kerja Chris.


"Kotak inikan sama dengan kotak di ruangan Chris di kantor" Adira ingat ada sebuah dasi di dalamnya. Dasi yang belum sempat ia sentuh.


Pelan-pelan Adira membuka kotak kecil ditangannya. Dasi bercorak garis warna abu-abu itu sangat tidak asing. Matanya melotot begitu dasi dibentang. Ada sobekan kecil.