Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Ego



Tubuhnya didorong menyentuh dinding. Lalu lehernya di cekik oleh pria misterius yang terus mengincar nyawanya. Tekanan di leher jenjangnya semakin kuat hingga membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara. Perlahan bibirnya berubah warna putih pucat seiring oksigen yang semakin sedikit masuk ke dalam lambungnya. Adira tidak menyerah begitu saja. Ia tetap melawan dengan sisa tenaga yang ada. Usahanya pun membuahkan hasil walaupun tidak seberapa. Adira berhasil menyingkirkan tangan pria itu dari lehernya sejenak.


Nafasnya terengah-engah. Adira yang sedang mengatur nafas kembali diserang. Namun kali ini, Adira dengan sigap menghindar hingga pria itu tersungkur dan kepalanya menabrak wastafel. Pria itu merintih kesakitan sambil mengusap keningnya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu digedor keras.


"Buka pintunya" teriak Chris lantang.


Teriakan Chris itu menarik perhatian karyawan yang lain. Beberapa diantara mereka mendekat.


"Ada apa pak?"


"Istri saya di dalam. Ambil kunci. Cepat" titah Chris nyaring.


Tak lama pintu terbuka.


"Mundur" pria itu berdiri di belakang Adira dengan sebuah pisau bermata tajam berada tepat di leher Adira. Ia menuntun tubuh wanita yang sedang hamil muda itu keluar dari toilet.


Sontak Chris langsung mengankat tangan memberi isyarat agar orang di belakangnya bergerak mundur sesuai seruan pria berpakaian hitam itu.


"Mundur" ulang pria itu lagi dengan intonasi tinggi dan sorot mata bringas.


Keadaan semakin mencekam dan mengerikan. Tidak ada yang berani bergerak apalagi mengeluarkan suara. Ditambah darah segar yang sedikit demi sedikit keluar dari leher Adira akibat pisau yang menempel di area lehernya, membuat semua yang melihat semakin ketakutan.


"Cukup lepaskan istri saya. Jangan melukainya. Maka saya akan melepaskan kamu" tutur Chris mencoba bernegosiasi.


Pria itu melihat situasi sekitarnya. Terlihat ada dua satpam sedang berjaga-jaga.


"Suruh mereka menjauh" pinta si pria sambil mengarahkan pandangan pada dua satpam itu.


"Cepat kalian pergi dari sini" titah Chris menuruti perintah orang yang sedang menyandera istrinya.


Selang menit berikutnya setelah dua satpam pergi, Pria itu mendorong keras tubuh Adira kepada Chris. Dan ia pun segera kabur dari lokasi. Alih-alih mengejar pria misterius itu, Chris lebih memilih membawah istrinya ke rumah sakit. Ia khawatir dengan darah yang keluar dari leher Adira.


"Gimana dok leher istri saya?" tanya Chris cemas.


"Tidak apa-apa. Hanya sayatan kecil dan tidak mengenai bagian dalam. 3-4 hari lukanya akan kering" jelas si dokter.


...---------------...


Entah sudah berapa kali Chris mengecek perban yang menutupi sebagian leher Adira. Ia tetap saja khawatir meskipun dokter mengatakan semuanya baik-baik saja.


"Sayang, udahlah aku gak papa kok. Ini aja aku ngomongnya masih kayak biasanya kan. Itu artinya leherku baik-baik saja" kata Adira memberitahu apa yang ia rasakan. Namun Chris masih saja tidak percaya seolah-olah lehernya lah yang terluka.


"Bisa gak diam?" ucap Chris serius. "Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja"


"Apanya yang mau di pastiin. Kamu dengar sendiri kan apa kata dokter. Aku baik-baik saja. Sekarang lebih baik kita habisin dulu makanan ini"


Karena terlalu khawatir, Chris sampai lupa jika mereka saat ini sedang berada di ruang makan. Makanan hangat tadi pun kini sudah dingin.


Ucapan Adira seperti angin lalu. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, Chris tidak menggubris permintaan istrinya. Keadaan ini membuat Adira lelah dan kesal. Ini terlalu berlebihan gak sih? Sudah jelas-jelas dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Bahkan Adira sudah mengatakan jika dirinya baik-baik saja tapi pria ini tetap saja keras kepala.


Makanan itu lolos begitu saja ke dalam mulut Adira. Tidak ada rasa nikmat padahal dari tampilan makanan di hadapannya sangat menggiurkan. Semua ini karena Chris yang sudah menghilangkan mood makannya.


Setelah makan dan sebelum tidur, Adira dan Chris berbincang ringan di area balkon yang yang menjadi spot favorit mereka. Angin malam yang dingin menerpa kulit keduanya. Ditemani cahaya bulan dan gemerlap bintang serta kelap kelip lampu jalanan menciptakan nuansa romantis alami. Chris masuk sebentar lalu kembali sambil membawah kain panjang lebar berbahan lembut. Ia memeluk sang istri dari belakang sembari menutupi tubuh dengan kain panjang tadi.


"Hangatkan?" Chris memasukkan kepalanya di ceruk Adira.


"Hmm"


Untuk sesaat keduanya membisu menikmati pemandangan di depan mata.


"Sayang"


"Hmm"


"Tidak boleh. Kamu tidak usah bekerja" sahut Chris.


Adira berbalik menghadap sang suami.


"Maksudnya?" tanya Adira tidak mengerti.


"Kurang jelas?"


"Kurang jelas gimana? Maksudnya apa sih? Kamu minta aku berhenti kerja gitu?" tanya Adira bingung. Ia harap apa yang dipikirkannya tidak benar.


Chris membuang muka sambil melepas nafas. Untuk saat ini sebenarnya ia tidak ingin berdebat.


"Iya" balasnya singkat.


"Iya! Kamu minta aku berhenti kerja. Kamu tahu perjuangan aku agar bisa bekerja di J.O Company, susah. Butuh waktu hampir 5 tahun untuk meraih posisi aku yang sekarang ini. Karir aku lagi bagus-bagusnya dan....


"Jadi kamu mau bilang, karir kamu lebih penting daripada keselamatan kamu dan anak kita" sambar Chris mulai terpancing emosi.


Adira menganga sambil menggelengkan kepala.


"Chris, gak gitu maksud aku"


"Lalu apa?" sambung Chris. Seketika ucapan Adira pun terpotong.


"Dengerin aku dulu"


"Kamu yang dengerin aku" sahut Chris.


Perdebatanpun tak terhindarkan. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing kekeh dengan argumentnya. Sepasang suami istri itupun saling membisu berdiri mematung dan tidak saling menatap. Menstabilkan nafas dan coba mengontrol ego masing-masing.


"Kamu itu ya, jawab terus. Bisa gak dengerin aku, suami kamu. Yang kepala keluarga di sini siapa, aku kan. Bisa gak nurut?" kata Chris penuh kharisma sebagai seorang suami.


"Ya..ya..maaf. Abisnya kamu itu terlalu berlebihan. Apa-apa di lebihin. Semuanya dipikirin" celah Adira membela diri.


"Tiga kali nyawa kamu dalam bahaya. Kamu bilang aku berlebihan? Aku yang berlebihan atau kamu yang tidak bisa menghargai kepedulianku?" Chris meninggalkan kamar dengan perasaan kesal.


Adira hanya bisa menatap nanar sambil menghela nafas berat.


"Aahhaa kenapa jadi runyam gini sih? Maksud aku bukan gitu. Aku yang hamil, kenapa dia yang sensitif sih. Heran deh, kayak cewek datang bulan aja. Apa-apa marah. Dikit-dikit ngambek. Uhhhh" ucap Adira geram.


Adira meninggalkan balkon dan duduk di tepian kasur.


"Siapa juga yang gak menghargai. Orang aku cinta banget sama dia" lanjutnya resah seraya menyilangkan tangan di dada. "Hahh aku masih mau kerja. Kenapa sih gak percaya banget? Aku pasti menjaga anaknya kok. Ini kan juga anakku" Adira membaringkan diri di kasur sambil mengepakkan kedua kakinya seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan.


Chris dan Adira sama-sama tidak bisa tidur. Ini sudah biasa terjadi jika keduanya sedang bertengkar. Adira berbaring di kasur. Sedangkan Chris berbaring di sofa yang ada di ruang TV. Ego yang tinggi membuat hati keras. Merasa diri paling benar dan tidak mau menyapa lebih dulu.


Mendekati pukul sebelas malam, Chris harus mengakui dirinya kalah. Ia tidak tahan jika tidak melihat wajah sang istri sebelum tidur.


Mendengar knop pintu diputar, Adira pun berpura-pura tidur dengan posisi miring.


Chris datang menyelinap dan memeluk Adira.


"Diam saja. Aku masih marah. Biarkan aku memeluk kamu seperti ini" ucap Chris lembut dan mengalungkan tangannya di pinggang sang istri.


Adira mengiyakan dalam hati.


Waktu semakin larut. Sepasang suami istri yang beberapa jam lalu bertengkar hebat karena perbedaan pendapat itu, kini telah tidur nyenyak dengan posisi saling berpelukan.


Entah keputusan apa yang akan diambil keduanya besok. Itu masih menjadi misteri. Cukup nikmati saat ini dengan saling memberi sentuhan hangat.