Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Kata Hati



Tepat pukul 08.30 am Chris sampai di kantor. Namun sebelum sempat masuk ke ruangannya, terdengar lagu selamat ulang tahun dinyanyikan secara lantang dan nyaring. Hal itu membuat Chris berhenti sejenak sebagai bentuk apreasinya untuk rekan tim divisi 1 yang sudah menyempatkan waktu merayakan hari kelahirannya. Selain Adira dan ketiga temannya, terlihat pula Jhon yang telah kembali dari cuti panjangnya.


"Selamat ulang tahun pak Chris. Sehat selalu" ucap Maya sembari membawah kue Tar ke hadapan Chris.


"Sukses selalu" timpal Lisa dan Farah.


"Semoga segera menikah dengan Emilly" seketika kalimat yang keluar dari mulut Jhon membuat jantung Adira berhenti beberapa detik. Beberapa hari ini ia lupa jika Chris sudah punya tunangan.


Sama seperti Adira, Chris juga kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin Jhon bicara seperti itu? Apa dia tidak tahu jika pertunangannya dengan Emilly sudah berakhir? Dan apa dia tidak tahu jika Chris sudah tahu bahwa dia ada main dengan Emilly di belakangnnya?


"Bajingan. Bisa-bisanya dia sesantai itu" umpat Chris dalam hati sambil menatap Jhon tajam.


Mata Chris kemudian beralih pada Adira yang berdiri di belakang Lisa. Gadis itu tidak menguntai harapan apapun seperti Maya, Lisa, dan Farah. Adira tidak tahu harus meminta permohonan apa pada Tuhan. Chris adalah orang yang telah merenggut sumber kebahagiaannya, lalu bagaimana bisa ia mendoakan hal baik untuk pria itu. Ia tidak bisa berpura-pura berkata manis hanya karena Chris atasannya. Ia tidak bisa menerima alasan Chris yang kabur meninggalkan ayahnya yang sedang sekarat. Chris terlalu egois hanya mementingkan masa depannya sendiri. Chris tidak tahu betapa sulitnya kehidupannya setelah kepergian tragis ayahnya.


"Dia tidak pantas dimaafkan, Adira. Dia yang membuat ayah kamu meninggal. Jangan luluh hanya karena kamu masih memiliki perasaan padanya" seakan dua orang berbeda yang saling bersahutan. Bisikan-bisikan itu terus menghasut Adira.


Chris menunggu Adira bicara namun gadis itu tampak tidak ingin mengankat kepalanya. Ia hanya menunduk dan diam. Satu tiupan mematikan lilin di atas kue. Dan setelah beberapa saat, mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Namun Chris dan Jhon tidak langsung bekerja, keduanya masuk bersama ke dalam lift menuju rooftop.


Bhuggg


Pukulan keras menghantam wajah kanan Jhon. Ia tersungkur ke lantai namun tak berapa lama segera bangkit. Tampak lebam di bagian wajahnya yang terkena pukulan.


"Sejak kapan kamu sama Emilly?" tanya Chris tenang setelah melampiaskan amarahnya.


Jhon tertawa kecil seraya membasahi sudut bibirnya dengan ujung lidahnya. Ia tidak terkejut karena tahu moment ini akan terjadi.


"Saat kamu menyuruhku menjemput Emilly di restoran. Setelah itu semuanya terjadi. Jika kamu mencintainya lalu kenapa meninggalkannya?"


"Cinta?" sahut Chris mengerutkan dahi.


"Jika tidak cinta, kenapa memukulku?"


"Kamu salah mengartikan pukulanku tadi. Jika kamu bicara lebih awal, aku akan mundur. Aku hanya tidak suka ditusuk dari belakang"


"Lalu bagaimana perasaan kamu pada Emilly?" sambar Jhon.


"Entahlah, perasaanku untuknya menguap begitu saja. Setelah perasaan itu hilang aku berpikir, apa dulu aku benar-benar mencintainya?"


"Kamu bicara seperti ini karena sudah mendapatkan penggantinya. Adira, Benarkan?"


Chris tersenyum miring. Selama ini ia salah menilai Chris pribadi yang polos. Mulai sekarang Jhon tidak bisa dianggap remeh.


"Adira tida mengganti siapapun. Jauh sebelum aku mengenal Emilly, aku sudah mengenalnya dulu. Dan sekarang aku tergila-gila padanya. Hanya saja untuk saat ini hubungan kami sedang buruk" ujar Chris memalingkan muka melihat gedung-gedung pencakar langit di depan mata.


"Lalu apa rencana kamu sekarang? Jika pak David tahu kamu memutuskan anaknya, kamu bisa saja dipecat"


"Aku punya alasan kuat kenapa kami putus. Yang perlu dikhawatirkan itu nasib kamu. Jika pak David tahu semuanya, bisa saja kamu yang dipecat" ucap Chris balik menakuti Jhon. Senyum seringai meledeknya membuat Jhon bergedik ngeri.


Jhon diam mematung. Kepalanya berpikir keras. Chris benar. Biar bagaimanapun ia menjadi salah satu alasan Chris dan Emilly putus. Nasib pekerjaannya kini dipertaruhkan jika sampai Chris menceritakan yang sebenarnya.


...-----------------------...


Adira menghamburkan tubuhnya di atas kasur. Bukan hanya fisiknya yang lelah tapi pikirannya juga. Ia terus dihantui rasa bersalah. Adira merasa tidak becus sebagai anak. Ia bukanlah anak yang berbakti dan tidak bisa dibanggakan. Setelah tahu orang yang menabrak ayahnya, ia tidak kunjung menjebloskan orang itu ke balik jeruji besi. Adira kesal pada dirinya sendiri. Kenapa sesulit ini mengambil keputusan yang sebenarnya sangat mudah. Ia punya bukti akurat namun sekarang bukti ditangannya menjadi percuma. Ia dalam dilema tak berujung.


"Aku tidak bisa yah. Aku tidak tega menyakitinya" Adira menempelkan wajahnya di bantal. Isi kepalanya serasa kosong melompong. "Tuhan, aku tahu aku bukan anak yang baik. Tapi sekarang aku putus asa. Tolong beri aku jawaban" detik demi detik terus berdenting. Dan kini Adira sudah lelap dalam tidur nyamannya.


Namun tiba-tiba kepala Chris berdenging hebat. Sakit yang timbul di kepalanya menjalar ke setiap persendiannya. Chris berdiri gontai hingga piring di atas meja jatuh ke lantai menjadi pecahan kecil. Dengan langkah tak seimbang, Chris melangkah tertatih menuju kamarnya. Ia harus segera minum obat yang dokter berikan.


Setelah mereguh obat, Chris merasa lebih tenang. Perlahan wajahnya tidak sepucat tadi dan detak jantungny juga kembali stabil. Chris mulai menyadari, sekarang ia tidak bisa jauh-jauh dari obat. Kondisinya bisa drop kapan saja.


"Aku harus secepatnya memperbaiki hubunganku dengan Adira. Aku tidak punya banyak waktu" ucap Chris pilu menahan sakit.


Waktu berjalan lambat. Setiap jam yang Adira lalui di kantor terasa berat. Ia tidak bisa fokus bekerja. Mimpinya semalam semakin membuatnya bingung.


Lakukan apapun yang kamu mau. Kebahagiaan kamu, itu yang terpenting.


Mimpi itu begitu nyata terutama saat sang ayah membelai lembut rambutnya. Adira tidak mengerti kenapa ayahnya bicara begitu. Apa ini jawaban dari permohonannya pada Tuhan semalam?


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak. Boleh saya izin pulang sekarang" sebenarnya ia tidak perlu minta izin seperti ini jika ingin pulang cepat. Adira hanya ingin memandang sebentar wajah pria yang dirindukannya itu. Saat ini ia bimbang dengan kata hatinya.


Adira menjadi kikuk begitu Chris menurunkan tirai menutupi dinding kaca. Kemudian pria itu melangkah mendekat padanya.


"Kamu sakit?" tanya Chris memasukkan tangannya ke ceruk Adira.


"Apaan sih" dengan kasar Adira menepis tangan Chris dari lehernya.


Chris menyeringai misterius. Ia menarik kasar kedua tangan Adira lalu mengankatnya ke atas. Memberi tanda merah di leher jenjang Adira kemudian mengigit kecil di sela tautan bibirnya. Sementara itu Adira tidak menyerah memberontak. Tangannya yang dikunci rapat oleh cengkraman Chris, tidak bisa membuatnya bergerak bebas. Serangan ini terlalu mendadak membuat tubuhnya lambat merespon. Adira menghentakkan kaki sebagai usaha terakhir namun Chris tidak bergeming. Pria itu justru semakin bringas.


Adira mulai kehabisan tenaga. Ia menyerah dengan membuka matanya perlahan dan menatap mata terpejam milik pria yang sedang melahap bibirnya.


"Chris" panggil Adira tersengal begitu Chris memberinya ruang bernafas.


Nafas Chris memburu dengan kening menempel di kepala gadis tak berdaya dalam dekapannya.


"Aku merindukan kamu, Adira" ujar Chris memainkan jempolnya di bibir kenyal yang sesaat lalu berhasil memenuhi hasratnya.


Chris terus memainkan jarinya di daging merah mudah itu. Sedangkan Adira tampak pasrah meresapi sentuhan di bibirnya. Reaksi tubuhnya di luar kendalinya. Ia tidak menampik jika ia juga merindukan saat-saat seperti ini.


"Ayo kita berkencan. Seperti yang kamu minta untuk kado ulang tahun kamu. Ayo kita berkencan selama seminggu"


Chris tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Senyum lebar menyeruak memenuhi seluruh wajahnya. Dengan lembut Chris mengecup dalam bibir candunya.


"Selama kita berkencan, jangan bicara tentang apapun. Hanya kata-kata romantis dan manis. Hanya itu"


"Baiklah" sahut Adira mengangguk setuju.


"Selama kita berkencan, kamu tidak boleh melarangku melakukan ini" Chris mengecup singkat bibir Adira untuk syarat kedua.


"Setuju" Adira tersenyum malu.


"Kamu mau bangun di ranjangku lagi? Ini syarat terakhir" pinta Chris ragu.


Adira diam sejenak.


"Kapan? Bagaimana kalau malam ini?" Adira mengulum senyumnya. Pipinya merona dan terasa panas.


"Let's go" Chris pun menarik pinggang Adira. Keduanya kembali bercumbu panas menumpahkan segala kerinduan.