Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Ayo Menikah



Di bawah pohon rindang di atas kursi kayu, Adira duduk disana dalam renungan panjang. Hening tanpa suara. Senyap tanpa bunyi. Rasanya hanya ada kekosongan dalam sanubari. Ucapan dokter beberapa jam yang lalu seperti petir yang menyambar. Tubuh Chris telah mengalami banyak luka. Dipukul, ditendang hingga tubuhnya ditembus peluru. Dan sekarang penyakit mematikan bersarang di kepalanya. Bisa dibayangkan sebesar apa rasa sakit pria itu. Ia tetap bertahan dalam rasa sakit demi melindungi dan menjaga Adira, wanita yang sangat dicintai. Tidak peduli dengan sakitnya dan hanya fokus pada tujuannya yaitu membahagiakan Adira.


Dada Adira berguncang. Pundaknya ikut bergetar seiring tangisan yang tidak terkendali. Adira menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala kekesalan dan penyesalan. Dan yang semakin menyesakkan dada, dulu ia juga mencoba melenyapkan nyawa kekasihnya itu. Tangis Adira semakin menyayat saat mengingat kelakuan kejamnya itu.


"Maafkan aku. Aku minta maaf" sesal Adira terisak.


Berulang kali Chris mendial nama yang sama namun tetap tidak ada jawaban. Ia ingin keluar namun kondisinya belum cukup baik. Dokter juga melarangnya meninggalkan rumah sakit dalam waktu dekat. Chris butuh perawatan yang intensif untuk mengembalikan kondisi fisiknya. Namun sekeras apapun Chris berusaha untuk tetap tenang, hatinya tetap saja khawatir memikirkan Adira.


Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Saat ini, aku hanya ingin sendiri. Aku akan segera kembali.


Chris melepas nafas lega setelah membaca pesan dari Adira. Walaupun tidak tahu persis dimana Adira berada tapi setidaknya sekarang ia tahu, sang kekasih baik-baik saja. Chris juga tidak terlalu takut berlebihan lagi karena dari informasi yang ia dapat, penjahat yang menyekap Adira sudah mendekam di balik jeruji besi. Namun sayangnya saat ini, Chris belum bisa menemui langsung si penjahat mengingat kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. Tapi Chris tetap saja curiga. Ia merasa penjahat itu tidak bekerja sendirian.


"Jika benar dia tidak bekerja sendiri, berarti Adira masih belum aman" gumam Chris memandang dedaunan hijau dari balik jendela kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


"Hai"


"Hai" sapa Chris balik.


Chris dan Emilly terlihat canggung satu sama lain. Rasanya sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan bertatap muka seperti ini. Terakhir pertemuan mereka saat Emilly dan Chris berdebat di depan David tepatnya di gedung J.O Company. Perpisahan mereka memang tidak berjalan baik dan menyisakan luka bagi Emilly. Ada pengkhianatan juga pemberontakkan, dua penyebab utama perpisahan mereka.


Namun sebagai wanita yang pernah dekat dan mengisi hati Chris, Emilly terenyuh saat Jhon bercerita tentang sakit kanker otak yang Chris alami. Hatinya berdenyut pilu mendengar kabar itu. Karena biar bagaimanapun Chris pria yang ia cintai sampai saat ini.


"Keadaan kamu gimana?" tanya Emilly mendekat.


"Baik. Kamu?"


"Too"


Chris tersenyum kecil, begitu juga Emilly. Jawaban simple itu adalah ciri khas Emilly saat dalam keadaan gugup.


"Kamu gugup?" ledek Chris coba mencairkan suasana.


"Iya. Siapa yang tidak gugup berhadapan dengan cowok setampan kamu"


Seketika tawa tertahan keduanya menghilangkan rasa canggung itu. Mereka mulai berbincang ringan. Menceritakan apa saja termasuk perihal kanker otak Chris yang semakin memburuk. Emilly memperhatikan seksama layaknya moderator yang telaten mendengarkan keluh kesah narasumbernya. Tak terasa di tengah cerita, airmata Emilly jatuh begitu saja. Chris sedang bercerita bagaimana rasa sakit luar biasa yang ia alami saat menjalankan kemoterapi. Dan meskipun belum pernah mengalami tapi cukup dengan melihat ekspresi pria di sebelahnya, Emilly dapat merasakan betapa sakitnya Chris saat itu.


"Chris, aku minta maaf" kata Emilly bercucur airmata lalu memeluk sang mantan tunangan.


"Tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah" ucap Chris menenangkan sambil mengelus halus rambut Emilly.


Krekkk


Mulut Adira mengangah keluh begitu melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit. Ia berlari terburu-buru hanya karena ingin bertemu kembali dengan Chris. Tapi nyatanya pria itu sedang berpelukan dengan wanita lain.


"Adira" Chris langsung mengurai diri dari Emilly.


"Ohh maaf ganggu" ucap Adira kikuk.


"Adira, tunggu" pekik Chris berusaha mengejar namun rasa sakit tiba-tiba memenuhi kepalanya. Larinya langsung terhenti.


"Chris, kamu gak papa? Kamu itu harus istirahat. Ayo aku bantu balik ke kamar" kata Emilly membantu Chris berdiri dengan benar.


Waktu terus berjalan. Jarum jam terus berdenting semakin jauh. Dan Chris masih menunggu Adira kembali. Ia tidak bisa tidur sebelum memastikan Adira ada di sisinya. Namun sesuai jadwal jam besuk hanya sampai jam 21.00 pm dan sekarang sudah jam 22.10 pm, itu artinya Adira tidak akan kembali ke rumah sakit.


Chris merasa sedikit kecewa. Kenapa Adira tidak pernah mau mendengar penjelasannya? Adira selalu datang dan pergi seenaknya. Chris ingin mengubah pola pikir Adira. Ia ingin Adira bersikap dewasa karena menghilang bukanlah cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah.


Tepat pukul 22.45, Adira menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar VIP tempat Chris dirawat. Sebenarnya tadi Adira tidak benar-benar pergi. Ia memilih menenangkan diri di taman rumah sakit. Adira memang sempat marah sebentar karena siapa yang tidak cemburu melihat pria yang dicintai memeluk wanita lain. Namun kabur meninggalkan Chris tidak pernah terpikirkan olehnya.


Krekk


Samar Chris melihat Adira sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia pun meratakan badan di kasur dan pura-pura tidur.


Adira melangkah pelan-pelan. Ia tidak ingin bunyi pantulan sepatunya ke lantai membangunkan Chris. Matanya menatap nanar pria yang sedang tidur di atas ranjang. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Adira saat ini selain kata takut. Seakan kehilangan fungsinya, tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Adira. Ia hanya bisa menangis dan mengigit kuat bibir bawahnya agar rintih tangisannya tidak terdengar.


"Chris, aku takut. Sangat takut. Aku harus bagaimana? Aku harus melakukan apa agar kamu sembuh? Aku sadar, aku bukan pacar yang baik untuk kamu. Aku selalu nyusahin kamu. Selalu merepotkan kamu" Adira mendekatkan wajahnya ke bahu sang kekasih. Airmatanya yang menitih membasahi baju seragam rumah sakit yang dikenakan Chris.


"Aku mohon kamu jangan menyerah untuk sembuh. Jika kamu mati siapa yang akan menjagaku? Jika kamu mati siapa yang akan melindungiku kalau nanti ada yang mencoba menembakku lagi. Jika ka....


"Jadi aku saja yang ditembak. Itu maksudnya?"


"Gak juga" sahut Adira polos. Seketika suasana haru menyayat hati berubah komedi menyebalkan.


"Gak juga? Berarti iya? Sok paling sedih nangis sesegukan gitu. Tapi ternyata kamu tidak mau aku mati karena takut kamu yang ditembak, gitukan?" Chris merubah posisi telentangnya menjadi miring ke kanan membelakangi Adira. Sikap Chris saat ini layaknya anak kecil yang sedang ngambek karena tidak diberi permen.


Dengan sigap Adira memeluk Chris gemas. Sikap Chris yang seperti kecil ini adalah salah satu yang Adira rindukan. Belakangan ini hubungan mereka seperti dihantam ombak laut. Berputar-putar di tengah dan sulit menemukan tepian. Sangat melelahkan.


"Bukan gitu maksud aku. Aku hanya bercanda. Jika bisa ditukar maka lebih baik aku saja yang sakit" ujar Adira lirih.


"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan kamu sakit" sahut Chris merubah posisinya telentang lagi.


Untuk sejenak Chris dan Adira saling menatap dalam diam. Waktu yang semakin larut dan keadaan rumah sakit yang sudah sepi semakin melengkapi keheningan di antara mereka.


"Kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan?"


"Kamu" jawab Adira cepat.


"Tentang?"


Adira tersenyum simpul kemudian mengecup bibir Chris singkat.


"Ayo kita menikah"


Aku tidak tahu berapa banyak waktu yang kita punya. Sebentar atau lama. Aku hanya minta, izinkan aku menemani kamu sampai akhir.