Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Aku Tidak Ingin Membencimu



Chris melihat Emilly sedang duduk di lobby apartmentnya. Ia mengelas malas. Saat ini Chris benar-benar tidak mood berbicara dengan tunangannya itu. Video yang ia temui siang kemarin cukup membuatnya shock.


* 1 hari yang lalu


Chris tampak gelisah. Kepalanya bersandar pada kursi dibelakangnya memperlihatkan jakun kerasnya. Ia bingung bagaimana bicara pada Emilly. Chris ingin jujur mengatakan yang sebenarnya pada Emilly tentang perasaannya yang sudah hilang. Di tengah pikirannya yang kalut, Chris teringat dengan ucapan Adira yang memberitahunya jika Emilly masuk ke ruangannya bersama Jhon saat ia sedang berada di luar kota. Chris penasaran atas apa yang dilakukan Emilly bersama Jhon. Ia lalu mengambil kamera tersembunyi yang sengaja dipasang di sudut yang terlihat orang lain. Setelah memasang koneksi ke laptopnya, Chris mulai mengecek isi kamera itu.


Chris melewati beberapa bagian hingga sampai pada adegan Emilly dan Jhon memasukki ruangannya bersama. Tak lama berselang, mata Chris melotot lebar sembari mendekatkan wajahnya pada layar laptop di depannya. Ia tidak salah melihat. Dalam video yang sedang berjalan, nampak jelas Emilly dan Jhon sedang melakukan making love panas. Chris segera menutup laptopnya. Ia bertanya-tanya sejak kapan tunangan dan temannya itu punya hubungan spesial. Chris tidak menyangka Jhon tega mengkhianatinya.


"Ini benar-benar gila" umpat Chris mengusap kasar wajahnya.*


Emilly berlari kecil mendekati Chris yang tampak enggan bertemu dengannya.


"Sayang, kok aku ditinggali sih?"


Chris menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan. Ia memandang diam gadis di hadapannya.


"Emilly, kita akhiri saja"


"Maksud kamu?"


"Kita putus saja" Chris berlalu meninggalkan Emilly.


Emilly mengejar Chris. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Chris minta putus. Dengan sigap Emilly menekan tombol lift sebelum lift tertutup dimana Chris sudah masuk lebih dulu.


"Sayang kamu kenapa? Kok aku tiba-tiba diputusin. Aku salah apa?" tanya Emilly tidak terima diputus Chris sepihak.


"Sejak kapan kamu dengan Jhon berhubungan di belakangku?" tanya Chris serius.


Emilly tercengang. Ucapannya menjadi gelagapan persis seperti maling yang ketahuan tuannya.


"Hubungan apa? Aku dengan Jhon tidak punya hubungan apa-apa. Dia kan teman kamu" jelas Emilly gugup. Bibirnya sedikit bergetar.


Chris tersenyum sinis. Bahkan setelah tertangkap basah, Emilly masih saja berkilah.


"Perlu aku tunjukkan videonya. Video kalian sedang bercinta di ruanganku"


Jantung Emilly berdetak semakin kencang. Wajahnya panas dan mulutnya tak bisa dibuka. Ia tidak bisa mengelak lagi. Riwayatnya sudah habis. Emilly tidak menyangka ternyata di ruangan Chris ada kamera tersembunyi karena setahunya di ruangan Chris tidak dipasang cctv karena itu ia mau menerima ajakan Jhon bercinta disana.


Pintu lift terbuka. Chris melebarkan kaki menuju apartementnya tak menghiraukan Emilly yang terus memohon maaf padanya.


Brukk


Pintu tertutup rapat dengam bunyi keras yang berasal dari hentakan pintu. Emilly mencoba memasukkan sandi namun pintu tidak terbuka.


"Sepertinya Chris sudah menganti sandinya" ucap Emilly mulai menangis. Ia bingung bagaimana meluluhkan hati Chris lagi. Bagaimana meyakinkan tunangannya itu jika perasaannya pada Jhon hanya sesaat saja. Hanya ada Chris di hati Emilly dan itu tidak berubah. Sekarang Emilly merasa takut dengan nasib pertunangannya. Apa Chris akan meninggalkannya?


Krekk


"Sedang apa kamu disini?" tanya Chris masuk ke ruang kerjanya.


"Aku cuman lihat-lihat. Tadi aku bosan nunggu kamu makanya kesini. Aku penasaran gimana ruang kerja kamu. Ternyata tetap rapi seperti di kantor. Kamu beli apa?"


Adira mengambil kantong putih dari tangan Chris lalu berjalan menuju dapur. Chris mengalihkan matanya pada kotak kecil di atas meja. Ia pun mendekat ingin mengecek isi di dalamnya. Namun panggilan nyaring Adira mengurungkan niatnya.


Adira mereguh jus jeruk ditangannya kemudian duduk di sofa bersebelahan dengan Chris. Hatinya tidak tenang. Ia terus memikirkan dasi yang kini ada dalam saku celananya. Tontonan film romantis di depannya tidak dapat mengalihkan pikirannya. Adira tidak begitu yakin dengan warna dasi itu apakah sama dengan sobekan dasi yang ia miliki. Sobekan dasi miliknya adalah satu-satunya bukti tentang sosok yang menabrak dirinya bersama ayah tercinta.


"Chris aku mau pulang" pinta Adira sungguh-sungguh.


"Kok tiba-tiba mau pulang?"


"Aku lupa memasukkan ayam yang aku beli pagi tadi ke kulkas. Aku takut ayamnya rusak" ucap Adira berbohong.


Chris merasa alasan Adira terlalu dibuat-buat. Sejak ia kembali dari toserba, Chris mulai merasa gadis di sampingnya bersikap aneh. Pergerakkan Adira terlihat gelisah. Tatapan matanya tidak jujur.


"Kalau kamu capek, kamu gak usah nganterin aku pulang. Aku akan pulang sendiri. Dah ya aku pulang" Adira bangun dari duduknya namun tangan kekar Chris menariknya begitu cepat.


Tubuh Adira dikunci dari belakang membuatnya tidak bisa kemana-mana. Chris melingkarkan tangan panjangnya dipinggang Adira lalu wajahnya menempel manja di pundak sang kekasih.


"Kalaupun aku capek, aku akan tetap nganterin kamu pulang. Mana mungkin aku biarin kamu pulang sendirian" kata Chris mengecup lembut pipi mulus Adira. Chris memutar tubuh Adira agar melihatnya. Sorot mata gadis di hadapannya semakin membuatnya yakin, Adira sedang menyembunyikan sesuatu.


Kepala Adira berpikir keras. Rasa takut itu semakin besar. Bagaimana jika ternyata sobekan dasi itu berasal dari dasi yang ia temui di ruang kerja Chris? Itu artinya Chris yang sudah menabrak ayahnya sampai meninggal. Jika benar berarti selama ini ia mencintai pria yang salah. Bagaimana mungkin ia menjalin hubungan dengan orang yang telah merenggut kebahagiaan masa kecilnya?


Adira menarik wajah Chris kemudian mendaratkan ciuman lembutnya. Kecupan kali ini terasa berbeda. Chris merasa itu seperti sentuhan perpisahan. Adira begitu agresif seakan ingin menikmati bibir Chris untuk yang terakhir kalinya.


"Aku berharap dasi itu berbeda. Aku tidak ingin membenci kamu, Chris" gumam Adira di sela cumbuannya.


Sampainya di rumah, Adira buru-buru meraih album foto di dalam laci dimana ia menyimpan sobekan dasi. Ia membukanya tak sabar. Jantungnya seakan berhenti sesaat begitu melihat sobekan dasi yang tergeletak di depan matanya. Perlahan Adira merogoh dasi yang ia ambil dari apartement Chris. Dadanya bergemuruh berdebar tak karuan. Warna dan coraknya sama. Tinggalkan mencocokkan saja apakah kedua kain itu pas jika disatukan.


Seketika tubuh Adira terkulai lemas. Dadanya naik turun tak stabil. Ia mengigit kuat bibir bawahnya. Ketakutannya terbukti. Sobekan dasi yang ia miliki memang milik Chris.


"Jadi Chris yang menabrak ayah" ucap Adira sulit percaya. "Apa dia sudah tahu semuanya?"


Adira teringat percakapannya dengan Chris melalui sambungan telepon dua minggu yang lalu. Ucapan Chris kala itu terdengar panik. Pria itu melarang keras dirinya agar tidak menyentuh barang-barang Chris di kantor.


"Jadi ini alasannya kenapa Chris melarangku" Adira tidak ingin membenarkan pikirannya dulu. Ia harus bertanya langsung, apakah Chris sudah tahu semuanya? Karena jika Chris memang sudah tahu semuanya dan dia dengan sengaja menyembunyikan kebenaran maka Adira tidak akan memaafkannya.


......-----------------......


Plakk


Tubuh Adira menghilang dari pandangan Chris. Hanya bisa memandang nanar dalam kebisuan tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Aahh" Chris tidak bisa menopang tubuhnya dengan benar, ia goyah. "Awhh" sambungnya kesakitan dengan denyutan kencang di kepalanya.