
Chris melangkah bingung. Ia tidak tahu harus mencari Adira kemana. Karena satu-satunya benda yang dapat membuatnya tahu keberadaan Adira tertinggal di apartementnya. Chris khawatir karena sepertinya Adira pergi buru-buru. Padahal makanan lezat itu sudah dihidangkan. Jika bukan sesuatu yang mendesak, tidak mungkin Adira pergi begitu saja.
Chris mencoba menghubungi ketiga teman karib Adira namun jawaban mereka semua sama. Tidak ada yang tahu Adira ada dimana.
"Bu, dia kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Adira panik melihat kondisi pria di sebelahnya. Kondisi pria itu tampak memprihatinkan. Tangan kanannya dibaluti perban dengan papan sebagai penyanggah.
"Ibu juga kaget. Tadi pas mau putar arah, tiba-tiba dia muncul jadi ibu gak sengaja nabrak" jawab ibu Adira masih shock.
Jauh di lubuk hatinya tanpa mengurangi rasa empati pada si korban, Adira bersyukur ibunya baik-baik saja. Ia tadi sangat cemas begitu mendapat informasi dari sang ibu. Walaupun hubungan keduanya tidak baik tapi Adira tetap tidak ingin kehilangan wanita yang telah melahirkannya itu. Wanita yang terlihat sudah cukup tua itu satu-satu keluarga yang Adira punya. Sebagai anak tunggal Adira tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu.
"Kamu punya uang gak? Ibu gak punya uang untuk biaya rumah sakit"
"Ada. Berapa biayanya?" tanya Adira mengontrol diri. Ia sebenarnya ingin berontak. Kenapa di saat seperti ini, ibunya baru berkata lembut padanya?
Wanita paruh baya itu diam sejenak. Ia malu mengingat sikapnya selama ini selalu membuat Adira menangis. Tapi jika bukan pada sang putri, pada siapa lagi ia minta bantuan.
"Lima belas juta"
Adira tersentak. Lima belas juta bukan jumlah yang sedikit. Ia punya uang itu tapi jika diberikan semua maka saldo atm nya habis. Hanya tersisa beberapa ratus ribu saja sedangkan waktu gajian masih butuh setengah bulan lagi. Selama hampir 3 tahun bekerja, sebenarnya Adira bisa mengumpulkan banyak uang tapi sifat boros ibunya selalu membuatnya kesulitan. Adira tidak dapat mengumpul gajinya karena setiap bulan sang ibu rutin minta bagian.
"Ibu tunggu disini. Aku akan urus biaya rumah sakitnya" ucap Adira melangkah menuju bagian depan rumah sakit untuk segera melakukan pembayaran.
Chris berbaring lelah di atas kasur empuk miliknya. Setelah pergi ke rumah Adira lalu mengunjungi tempat yang sering dikunjungi kekasihnya itu, ia tidak dapat menemukan Adira. Bahkan ia sempat ke rumah ibu Adira tapi tetap tidak bertemu dengan sang pujaan. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu Adira kembali. Dan walaupun was-was tapi Chris yakin Adira baik-baik saja.
Chris pun meraih ponsel Adira. Ia penasaran isi di dalamnya namun ia harus membukanya dengan kata sandi. Ia memasukkan angka sembarang tapi tetap saja tidak bisa dibuka. Lalu terbersit kecurigaan di kepalanya.
"Gak gak...gak mungkin" ucap Chris coba memasukkan tanggal lahirnya. Dan benar saja ponsel itu terbuka. Hal itu membuat Chris tersenyum simpul.
"Ternyata dia sangat menyukaiku" sambung Chris tak berhenti tersenyum bangga.
Chris penasaran foto siapa saja yang ada di dalam galeri Adira. Dan selang detik berikutnya senyumnya semakin lebar. Selain foto pria tua yang Chris yakini itu ayah Adira, ternyata wajah dirinyalah yang paling banyak bertengger di galeri itu. Kebanyakan foto candid Chris yang Adira ambil diam-diam.
Di saat Chris sedang asyik menurun naikkan jemarinya di atas ponsel Adira, tampak Emilly sudah berada di depan pintu apartement Chris. Emilly langsung memasukkan sandi. Ia tidak perlu memanggil apalagi mengetuk untuk membuka pintu. Itu hanya akan buang-buang waktu saja. Karena saat Chris untuk pertama kalinya pindah ke apartement, Emilly lah yang menemani kala itu. Emilly tahu segalanya yang menyangkut tentang tunangannya itu.
Tok! Tok! Tok!
Emilly mengulanginya lagi kembali mengetuk pintu kamar Chris. Sebenarnya Emilly bisa saja menyerobot masuk namun ia harus menghormati pemiliknya walaupun pintu kamar Chris tidak ditutup. Di depan pintu yang mengangah, Emilly melihat dengan jelas Chris sedang tidur. Ia berjalan mendekat lalu melambaikan tangannya di depan wajah Chris.
"Dia benar-benar tidur" gumam Emilly sembari berbaring di sebelah Chris.
Tangan lembutnya membelai halus wajah Chris. Rasanya sudah lama ia tidak menyentuh wajah tampan tunangannya ini. Melihat wajah Chris dari jarak sedekat ini seketika membuat Emilly dirundung rasa bersalah dan penyesalan. Ia telah mengkhiati Chris dengan sangat kejam. Membiarkan tubuhnya disentuh pria lain yang juga merupakan temannya Chris di kantor, Jhon.
Sebenarnya itu tidak terjadi begitu saja. Chris yang selalu sibuk bekerja dan jarang punya waktu untuknya membuat Emilly merasa kesepian. Saat rasa sepi itu hadir, Jhon tiba-tiba datang menawarkan pelukan. Berawal dari cerita pendek lalu berlanjut pada pengkhianatan. Emilly tidak mampu menahan pesona Jhon yang selalu ada waktu untuknya. Puncaknya terjadi pada malam itu.
* 10 bulan yang lalu
Emilly duduk seorang diri di sebuah restoran mewah. Di meja itu belum ada makanan apapun. Emilly masih menunggu Chris datang. Baru setelahnya memesan makanan. Namun sudah hampir satu jam menunggu, Chris belum datang juga. Emilly sudah bersiap-siap mau pergi namum tiba-tiba sosok berbeda yang tidak diharapkan datang menyapa.
"Hai Emilly"
"Jhon" sahut Emilly heran. Bukan pria ini yang ia harapkan. "Kamu kok disini?"
Jhon terlihat kikuk dan canggung. Ia pun heran kenapa lagi-lagi mau menuruti permintaan Chris untuk menemui Emilly.
Emilly sangat kecewa. Itu tampak jelas di wajahnya. Ini untuk yang ketiga kalinya Chris tidak menepati janji. Kerena tidak enak Emilly pun menerima Jhon untuk mengantarnya pulang. Namun bukan ke rumah pribadi orangtuanya, Emilly meminta Jhon mengantarnya ke apartement saja. Sepanjang perjalanan Emilly tertidur lelap di mobil.
Kurang lebih 45 menit perjalanan, mobil itu berhenti di area parkir sebuah gedung bertingkat yang tinggi. Jhon membopong tubuh Emilly masuk ke dalam apartement.
"Jhon kamu mau kemana?" Emilly membuka matanya berat.
"Pulang"
"Jangan pergi. Temani aku disini" pinta Emilly memohon.
Jhon menuruti kemauan gadis cantik kekasih temannya itu. Ia duduk di pinggir ranjang seraya memandang intens setiap lekuk tubuh Emilly. Indah dan menggoda.
"Gak Jhon. Jangan mikir yang aneh-aneh" ucap Jhon berusaha menepis pikiran kotornya.
Namun tanpa Jhon sadari, saat ini Emilly sedang menatapnya takkala intim. Dua pasang netra itu saling bertukar pandang dengan debaran jantung tak menentu.
"Jhon, kamu mau tidur denganku?"
Tanpa berpikir lama, Jhon memautkan ganas bibirnya di bibir tipis milik wanita cantik di bawahnya. Jhon tidak melewatkan sedikitpun setiap inci tubuh Emilly. Cumbuan dan sentuhan liar Jhon membuat Emilly tidak henti-hentinya menggeliat dan mengeluarkan suara sensual. Pergulatan itu berlangsung panas dan penuh gairah*
"Maafkan aku Chris. Aku tidak akan mengulanginya lagi" sesal Emilly sambil mengalungkan tangannya di perut Chris. Ia pun menempelkan wajahnya di dada bidang Chris. Memejamkan matanya tidur bersama pria yang dicintainya itu.
Adira berlari kecil menghampiri apartement Chris. Ia sedikit gugup, takut Chris marah karena pergi tanpa pamit. Adira menarik nafas lalu melepaskannya kembali. Ia menyelipkan rambunya di belakang telinga sebelum mengetuk pintu. Namun begitu tangannya terangkat, Adira melihat pintu sedikit terbuka. Ia pun masuk perlahan.
Siapa tahu Chris telah menyiapkan kejutan untuknya. Dan sengaja membiarkan pintu terbuka agar aku bisa langsung masuk, pikir Adira.
Deg!
Adira tersentak. Begitu ia masuk, ada sepasang sepatu wanita di depan pintu. Ia pun menyelinap lebih dalam. Pintu kamar Chris terbuka. Jantung Adira berdetak semakin kencang. Pikirannya kacau, takut dengan apa yang akan dilihat di dalam sana.
Dan dugaannya benar. Seketika mulutnya mengangah keluh melihat Chris sedang tidur bersama Emilly. Adira langsung berbalik badan berlari keluar.
...-----------------...
Kamu sudah datang? Temui aku di rooftop.
Adira menutup aplikasi hijaunya setelah membaca pesan dari Chris. Ia tidak bersemangat memulai pekerjaan. Wajahnya suntuk namun profesional kerja mengharuskan untuk tetap kuat.
"Ra, kamu kenapa? Masih pagi udah asem gitu mukanya?" tanya Lisa menyelidik.
"Semalam aku lihat dia tidur dengan tunangannya" ungkap Adira tanpa menyebut nama Chris.
"Serius? Terus kamu ngapain?"
"Aku ikutan tidur disana" canda Adira malas. "Ya aku kaburlah. Ngeselin banget pertanyaan kamu"
"Ya sorry. Aku penasaran makanya nanya"
"Aku ke rooptop dulu ya. Pak Chris minta aku kesana"