
Adira mengambil cuti selama 3 hari. Selama 3 tahun bekerja, ia tidak pernah mengambil cutinya sekalipun. Ia terus bekerja tanpa kenal lelah demi mencukupi biaya hidupnya. Kini Adira merasa sudah saatnya ia libur sejenak dari aktivitas membosankan itu. Ditambah ia akan bertemu dengan Chris setiap hari di kantor. Hal itu semakin memantapkan hati Adira untuk mengambil jatah cutinya. Tidak ingin diganggu oleh siapapun, Adira memutuskan untuk mematikan ponselnya. Saat ini ia tidak mau bicara dengan siapapun. Ia hanya ingin sendiri.
"Kamu kemana Adira? Aku mengkhawatirkan kamu. Angkat telponku. Jangan membuatku cemas" Chris gelisah. Ia tidak bisa fokus bekerja. Yang ada di kepalanya hanya Adira. Berulang kali ia mendial nama Adira di dalam ponselnya namun tak kunjung mendapatkan balasan.
Di kamarnya Adira mencoba menghibur diri menonton episode drakor yang sempat ia tunda karena kesibukan kerja. Biasanya ia akan cepat melupakan masalahnya jika sudah menonton drakor kesukaannya. Namun kali ini berbeda, meskipun tontonan yang sedang ditontonnya bergendre komedi tapi tetap saja tidak bisa mengusir kesedihannya. Adira mencoba menyetel lagu riang. Ia ikut bernyanyi bahkan berteriak tanpa nada, lompat-lompat di atas kasur namun usaha apapun yang dilakukannya berakhir sia-sia. Ia tidak dapat mengusir wajah Chris dari kepalanya. Sentuhan itu, kecupan itu, cumbuan itu, makanan itu, senyum itu, tawa itu, semuanya masih membekas dan tersimpan rapat dalam kenangan. Adira menangis frustasi mengenang setiap kebersamaannya dengan Chris.
Ia merasa benar-benar sendiri. Ayah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ibu yang menjadi tumpuan terakhirnya tidak peduli dengannya. Dan sekarang Chris, pria yang disukainya turut mengabaikannya. Ada sesal di benaknya. Harusnya ia tidak perlu menunjukkan perasaannya secara terang-terangan kepada Chris. Mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.
"Ayah, dia jahat sekali yah" Adira menundukkan wajahnya merenung lama.
Adira bangkit dari duduknya. Ia mengintip dari jendela. Ternyata waktu telah berganti malam. Tiba-tiba terbersit ide gila di kepalanya.
Malam ini, Adira memutuskan untuk pergi ke club malam sendiri. Ia akan minum sebanyak mungkin agar kepalanya tidak terus memikirkan Chris. Club yang ia pilih adalah Club terkenal di kotanya dan selalu ramai pengunjung. Namun seperti club malam pada umumnya yang rawan kejahatan, Adira tidak luput dari nasib sial. Saat ini tubuh Adira tak berdaya setelah mereguh minuman alkohol dalam kadar berlebihan.
"Cantik juga ni cewek" puji seorang pria mendekati Adira. "Hei cantik, main yuk" ajak si pria menyentuh dagu Adira.
"Apaan sih. Pergi dari sini" usir Adira menghempas tangan pria kurang ajar itu dari dagunya.
Penolakan tegas Adira membuat pria itu naik pitam. Ia menyusun rencana busuk akan memberi pelajaran setimpal dengan cara melecehkan Adira. Si pria kembali menyentuh Adira.
"Lepasin saya" pinta Adira lemah. Minuman alkohol yang direguhnya tadi telah mengambil sebagian kesadarannya.
Pria itu memandang penuh nafsu dari bawah sampai ke atas. Paha mulus Adira yang terpampang nyata membuat gairahnya tak terbendung. Perlahan pria itu meraba paha Adira yang hanya di tutupi rok yang sangat mini.
"Kamu mau ngapain? Jangan kurang ajar sama saya" Adira menyingkirkan tangan pria itu dari pahanya dengan sisa tenaga seadanya.
Jiwanya pria itu semakin berkobar. Ia memang tidak suka penolakan tapi sangat suka tantangan. Tentu saja penolakan Adira adalah tantangan baginya. Pria itu pun berusaha menyambar bibir Adira. Sekuat tenaga Adira berusaha menghindar. Baginya cukup satu pria saja yang boleh menyentuh bibirnya.
"Jangan sentuh saya. Pergi"
Pria itu semakin berani. Tubuh Adira yang memberontak melawannya semakin membuatnya bergairah.
"Pak Chris tolong" ucap Adira berharap Chris datang dan menjadi pahlawan untuknya.
Bugggg
Seketika tubuh pria yang ingin melecehkan Adira tersungkur ke lantai. Bogem keras berulang kali menghantam wajahnya tanpa ampun.
"Wait...wait" pinta si pria mengankat tangannya. "Wanita itu siapa kamu?" tampak wajah si pria babak belur dan sedikit mengeluarkan darah dari area mulut.
"Dia wanita saya" jawab Chris lantang.
Kepala Adira sangat pusing. Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang menolongnya. Namun ia mengenal suara itu. Selang detik berikutnya, Adira sudah tidak sadarkan diri. Dengan sigap Chris mengankat tubuh Adira menuju mobil.
Sampainya di apartement, Chris membaringkan perlahan tubuh Adira di kasur. Ia duduk di sisi ranjang sambil memandang wajah cantik itu. Chris menyadari Adira mengeluarkan keringat berlebihan.
"Tubuhnya panas sekali" segera Chris menuju dapur mengambil air dingin juga handuk kecil.
Setelah di kompres, suhu tubuh Adira masih tinggi. Chris menambah volume AC namun tetap saja panas Adira tidak turun. Ia berpikir keras bagaimana caranya menurunkan suhu panas di tubuh Adira.
"Apa bajunya aku lepaskan saja?" pikir Chris pintas.
Pagi menjelang.
Adira menguap lebar. Ia menggeliat meregangkan otot kakunya. Kemudian matanya melotot.
"Aku dimana?" Adira langsung bangkit. "Inikan kamar pak Chris?" lanjutnya segera meraih selimut begitu sadar bagian tubuh atasnya tidak dibalut benang sehelaipun.
Dengan terburu-buru, Adira meraih bajunya yang tergeletak di sisi kasur dan segera memakainya. Ia berjalan mengendap dan samar mendengar suara dari arah dapur.
"Semalam apa yang terjadi? Kenapa dengan bajuku?" Adira bertanya langsung ke intinya. Ia ingin segera pergi dan tidak ingin berleha-leha di tempat yang saat ini dipijakinya.
"Duduk dulu. Makanannya sudah masak" balas Chris tenang sembari meletakkan makanan di atas meja.
"Tidak perlu basah basih. Jawab saja pertanyaanku"
"Galak amat. Duduk sini. Kita makan" sahut Chris tetap tenang seraya menarik kursi untuk Adira.
"Pak Chris saya sedang marah jadi gak usah sok tenang begitu" balas Adira ketus.
"Duduk atau saya tidak akan pernah jawab pertanyaan kamu" sahut Chris tegas.
Adira membuang nafas berat. Ia akan selalu kalah jika Chris sudah mengeluarkan jiwa kepemimpinannya. Titah Chris layaknya perintah yang akan membuat orang patuh. Kharisma yang dimiliki Chris adalah salah satu daya pikatnya dalam memimpin.
"Sekarang jawab" ucap Adira menuntut begitu duduk di depan Chris.
"Makan dulu"
"Pak, memangnya saya anak kecil. Di suruh duduk, di suruh makan. Saya hanya ingin tahu apa yang terjadi semalam?"
Chris memasukkan satu suapan ke dalam mulut Adira kemudian ke mulutnya.
"Pria brengsek itu hampir saja melecehkan kamu. Saya hampir saja membunuhnya. Beraninya dia kurang ajar sama kamu"
Adira tertegun. Kilatan amarah di mata Chris membuatnya tak berkutik. Jantungnya berdegub kencang. Kenapa Chris semarah itu?
"Kenapa pak Chris harus marah? Kita tidak ada hubungan apa-apa"
Mata Chris menyala. Menatap tajam.
"Kalaupun saya di lecehkan, itu juga bukan urusan pak Chris kan?"
Chris memutarkan kepalanya ke samping kanan lalu tersenyum miring.
"Kamu benar. Kita tidak punya hubungan apa-apa"
"Terima kasih untuk bantuannya pak. Saya permisi"
"Tunggu"
Chris pergi ke kamarnya kemudian keluar membawa jaket yang dikenakannya semalam. Ia mengikatkan jaket itu di pinggang Adira agar paha mulus Adira tertutupi dan tidak menjadi tontonan laki-laki hidung belang.
"Jangan berpakaian seperti ini lagi" ucap Chris berbisik tepat di depan telinga Adira.
Hembusan nafas Chris membuat pundak Adira bergedik.
"Pak Chris belum menjawab pertanyaan saya. Saat saya bangun, kenapa saya tidak memakai baju?" Adira memutar badannya berhadapan dengan Chris.
"Saya yang melepaskannya. Dengerin dulu, semalam tubuh kamu sangat panas. Saya tidak punya obat penurun panas jadi saya pikir harus melepaskan baju kamu"
"Jadi pak Chris..."
"Ya, saya melihat semuanya" potong Chris tersenyum nakal.
"Dasar mesum" Adira menggunakan lututnya menghantam bagian tubuh Chris yang sangat vital.
Chris mengerang kesakitan sembari memegang alat sensitifnya.
"Aww" tubuh Chris menyatu di lantai. Mulutnya menganga menahan rasa sakit tak terhingga.
Melihat Chris tampak begitu kesakitan membuat Adira merasa bersalah.
"Perasaan tadi aku gak terlalu keras nendangnya" ucap Adira mendekati Chris.
"Pak Chris gak papa?"
"Gak papa gimana. Ini sakit banget. Aahh" Chris mengigit kuat bibir bawahnya.
"Kamu mau membuatku mandul?" lanjutnya sambil memukul lantai.
"Apaan sih pak. Lebay banget. Perasaan tadi saya nendangnya biasa saja. Pak Chris ngerjain saya ya?" tanya Adira curiga.
"Ngerjain gimana. Gak usah sok jadi korban. Coba kamu rasain sendiri" sahut Chris kesal.
"Sayakan gak punya itu pak. Gimana mau rasain" sambung Adira asal.
"Gak usah bercanda. Gak lucu"
"Ya jadi saya harus gimana?"
"Kita makan saja" ajak Chris segera berdiri.
"Tu kan pak Chris ngerjain saya. Itu bisa langsung berdiri"
"Mana ada berdiri. Masih tidur tu"
"Iihhh pak Chris" sahut Adira geram. "Bukan yang itu maksud saya. Udah ah capek. Saya mau pulang"
Chris menarik tangan Adira hingga tubuh ramping itu berbalik berhadapan dengannya lagi. Tangannya menangkup bebas wajah Adira dan membelainya lembut.
"Kamu tidak bisa pergi dari sini tanpa izin saya"
"Pak"
"Sussstt" Chris mendekatkan wajahnya. "Saya memang melepaskan baju kamu tapi sebelumnya saya sudah menutup tubuh kamu dengan selimut"
"Tapi?" Adira merasa Chris belum menyelesaikan ucapannya. Belaian tangan Chris di wajahnya membuat Adira terbuai.
"Saya tidak sengaja menyentuhnya sedikit karena kenyal jadi saya kelepasan" ucap Chris erotis.
"Pak" Adira refleks mendorong pria di hadapannya.
Chris pun tertawa puas melihat wajah panik Adira.
"Bercanda. Tapi beneran sebelum melepaskan baju kamu, saya menutupi dada kamu dengan selimut. Dan tidak sengaja, cuman sedikit saya menyentuhnya" jelas Chris detail dan apa adanya.
"Gak perlu di jelasin sedetail itu juga pak"
"Ya biar kamu gak salah paham. Saya tidak suka di bilang mesum"
"Tapi saya malu. Lagian memang pak Chris mesum kok" ledek Adira sengaja di akhir kalimatnya.
Chris kembali menarik paksa pinggang Adira. Tubuh keduanya kini menempel erat.
"Jika saya mesum, saya sudah membuat kamu menjerit malam itu" tangan Chris menelusup di kedua sisi tengkuk Adira. Lalu membuka sedikit mulutnya.
"Pak Chris sudah punya tunangan" cegah Adira saat Chris akan mengecup bibirnya. "Bukankah kita tidak seharusnya sedekat ini?" lanjutnya enggan menatap sepasang netra di hadapannya.