
Chris tergesa-gesa berlari menuju mobilnya. Ia tak ingin Adira menunggunya terlalu lama namun sampainya disana, Chris tidak melihat sehelai rambut Adira pun. Sesuai dugaannya, Adira tidak akan memdengarkannya. Di saat Chris sedang panik memikirkan Adira pergi kemana. Tiba-tiba Emilly datang mendekat. Emilly tidak akan menyerah begitu saja. Ia bertekad akan mendapatkan hati Chris lagi. Biar bagaimanapun ia tetap harus menikah dengan Chris.
"Sayang kok kamu ninggalin aku. Capek aku ngejar kamu kesini" keluh Emilly bergelayut manja di pundak Chris.
Berbeda dengan Adira, Chris merasa risih dengan segala sifat manja Emilly. Ingin rasanya ia mendorong kasar tubuh wanita di sebelahnya.
"Emilly bisa tidak dewasa sedikit. Jangan manja seperti ini. Dan ingat kita sudah putus. Aku tidak suka diikuti seperti ini"
"Tapi aku suka. Sebaiknya sekarang kamu anterin aku pulang sekarang"
Adira berlari kecil menuju tempat dimana mobil Chris terparkir. Ia sadar tidak bisa begini terus. Kabur tidak akan menyelesaikan masalah. Mulai sekarang ia harus berubah menjadi wanita dewasa agar tidak selalu membuat Chris kecewa dengan sifat kekanak-kanakannya.
"Kamu bawah mobilkan? Pulang saja sendiri" tolak Chris kasar. Ia kemudian menarik pintu mobilnya. Dan meskipun ditolak, Emilly tetap mengikuti Chris masuk ke dalam mobil.
Adira baru saja sampai dengan nafas ngos-ngosan namun ia segera menyembunyikan diri di balik tiang begitu melihat Chris dan Emilly masuk mobil yang sama. Mobil itu melaju pelan meninggalkan basement. Saat akan berbelok, tak sengaja Chris melihat Adira melalui kaca spion. Ia pun menghentikan mobilnya lalu mengambil laju mundur.
Melihat mobil Chris yang semakin mundur ke arahnya, Adira beranjang-anjang dengan langkah seribunya. Namun sayang langkahnya terlalu pendek dan tentu saja tidak butuh effort tinggi bagi Chris untuk menangkapnya.
"Mau kemana?" tanya Chris mencengkram kuat pergelangan tangan Adira.
"Chris lepasin. Ntar tunangan kamu lihat" Adira memutar-mutar tangannya.
"Kami sudah putus" ungkap Chris.
Mata Adira membelalak lebar. Apa ia tidak salah dengar? Chris dan Emilly putus?
"Chris cewek ini siapa? Kamu mundur cuma gara-gara ni cewek" sambar Emilly ikut bergabung. "Lepasin tangannya kenapa sih"
Chris tak bergeming meskipun Emilly berusaha melepaskan cengkramannya di tangan Adira.
"Namanya Adira, dia wanita yang akan aku nikahi" ucap Chris lantang yang tentu saja membuat Emilly kaget tak percaya. Begitupun dengan Adira, ia hanya mengangah terkejut.
Chris merekatkan jari-jarinya ke sela jemari Adira kemudian masuk bersama ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Adira tidak tahu harus bicara apa. Ia pun memilih diam sampai suasana hati Chris membaik.
"Chris, tolong antarkan aku ke rumahku saja"
"Ke apartementku saja" sahut Chris tegas.
Refleks Adira menelan salivanya. Pria di sebelahnya masih dalam suasana hati yang tidak baik.
"Tapi aku mau ganti baju"
Chris tak merespon. Ia menambah kecepatan laju mobilnya kemudian berhenti di depan salah satu toko pakaian.
"Turun"
"Mau ngapain?" tanya Adira bingung.
"Mau ganti bajukan?"
Adira mengangguk mengerti. Ia sedikit takut karena sebelum ini belum pernah melihat kilatan tajam mata Chris yang seperti itu. Sepertinya pria yang dipujanya ini benar-benar sedang marah.
Di toko Adira mulai mencari baju yang pas untuknya. Sesekali matanya melirik Chris yang tampak sigap mengikutinya di belakang.
"Kenapa kami ngikuti aku terus sih? Aku merasa gak nyaman" keluh Adira gelisah.
"Kenapa tidak nyaman? Aku pacar kamu dan kita akan menikah"
Deg!
Menikah?
Tidak ada angin tidak ada hujan, Chris tiba-tiba bicara soal pernikahan. Adira menduga sepertinya Chris dirasuki setan yang kebelet nikah.
"Kamu lagi melamar aku sekarang?" Adira tersipu malu.
"Memangnya ini bisa dibilang melamar?"
Chris mengangguk pelan dengan bibir manyunnya.
"Ya baguslah kalau gitu. Lamaran sudah. Berarti tinggal menikah saja"
"Apaan sih. Gampang banget bilang nikah nikah. Kamu pikir nikah itu mudah?"
"Memangnya sulit? Kita saling mencintai. Aku punya uang. Apa yang susah?"
Adira merenung sesaat. Jika mendengar ucapan Chris. Menikah bukan hal yang sulit. Hanya saja ada yang menggangu pikirannya.
"Kenapa diam? Kamu tidak mau menikah denganku?" Chris meraih pinggang ramping Adira lalu mengalungkan dua tangannya disana.
"Kamu gak lagi nyembunyiin sesuatukan dari aku?"
Chris memutar bola matanya. Ia berpikir keras. Apa ini waktu yang tepat untuk mengatakan tentang sakitnya pada Adira?
"Jika ada yang kamu sembunyiin sebaiknya kata sekarang" Adira menatap dalam sepasang netra di hadapannya. Jantungnya berdebar menunggu kata yang akan keluar dari mulut Chris. Ia takut yang Chris sembunyikan sesuatu yang buruk.
Adira ingat betul saat Chris menciumnya paksa di kantor, saat itu ia melihat wajah Chris tampak pucat. Dan sekarang juga wajah tampan yang sedang memeluknya terlihat tidak segar. Cara Chris menarik pinggang Adira tidak sekeras seperti biasanya. Hal itu menimbulkan kecurigaan di benak Adira.
"Bibir kamu pucat" kata Adira memainkan jarinya di bibir Chris. "Kamu sakit? Kemarin saat aku bangun, aku gak sengaja lihat obat di dalam laci kamu....
"Kamu menyentuh barangku?" sambar Chris memotong.
"Gak sengaja. Laci kamu terbuka. Aku gak sengaja lihat. Memangnya itu obat apa? Kamu sakit apa?"
"Itu hanya obat tidur biasa. Akhir-akhir ini aku susah tidur. Mungkin karna keseringan begadang" jelas Chris berbohong.
"Awas saja kalau kamu nyembunyiin sesuatu. Kali ini aku akan ninggalin kamu beneran" ancam Adira serius.
...-------------------...
Chris dan Adira baru saja memasukki gedung. Kehadiran merekapun langsung disambut papa Chris yang sedang duduk di loby. Chris tahu apa yang akan dibicarakan papanya. Emilly pasti sudah memberitahu soal pertunangan mereka.
"Dia siapa?" tanya Adira memandang pria paruh baya dari kejauhan.
"Dia papaku. Kamu tunggu disini" titah Chris melarang Adira ikut bersamanya.
"Aku gak mau nunggu disini. Aku mau ikut sama kamu" ucap Adira bersikukuh ingin menemani Chris.
Plakkk
Adira spontan menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara nyaring yang dapat menarik perhatian banyak orang. Tanpa berkata apa-apa, wajah Chris ditampar cukup keras oleh pria tua itu hingga meninggalkan bekas tangan.
"Kamu ninggalin Emilly hanya untuk perempuan ini" kecam papa Chris sambil mengarahkan jari telunjukny pada Adira. " Dasar anak tidak tahu diri" sambungnya seraya mengankat tangan ingin memukul Adira. Untung saja Chris dengan sigap menangkis tangan keras papanya.
"Dia tidak salah pa. Aku yang memaksanya untuk ada disampingku. Aku berhak pa memutuskan siapa yang boleh ada di kehidupanku"
Pikiran Adira melayang jauh di tengah pertengkaran Chris dan papanya. Ia berusaha mengingat sesuatu. Wajah pria berumur di depannya tidak asing. Setelah berusaha mengingat, pelan-pelan serpihan ingatan itu berkumpul.
Selang menit berikutnya, Adira berlari kencang meninggalkan gedung apartement Chris. Ia mengabaikan panggilan Chris yang memintanya untuk berhenti.
...-----------------...
Keadaan kantor terlihat tenang. Para pekerja sibuk dengan tugasnya masing-masing. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Emilly yang baru saja datang langsung menarik kasar tangan Adira agar mengikutinya. Chris yang melihat dari balik dinding kaca segera keluar dari ruangannya mengejar Adira dan Emilly.
"Sepertinya perempuan gila itu membawah Adira ke ruangan pak David" ucap Chris bergegas menuju lift.
Benar dugaan Chris, Emilly membawah Adira ke hadapan papanya.
"Pa, aku minta papa pecat dia" titah Emilly menuntut dengan tatapan tajam.
Krekkk
"Maaf pak. Adira tidak salah apa-apa" sambar Chris menarik Adira berdiri di sebelahnya.