Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Miskomunikasi



"Lepasin tangan aku. Kamu pulang sendiri saja. Aku tidak mau pulang" rontah Adira meliukkan tangannya. Namun cengkraman Chris terlalu kuat untuknya.


Chris tak bergeming. Ia menarik pergelangan tangan sang istri memaksa kembali ke apartement.


"Chris lepasin" Adira menarik kuat tangannya begitu masuk ke apartement.


Chris menyandarkan tubuh Adira ke dinding. Lalu kedua tangannya menempel di masing-masing sisi pundak Adira. Layaknya burung yang terkurung dalam sangkar, Adira tidak bisa kemana-mana.


"Mau kamu apa, hah? Kabur-kaburan begini. Gak bawah HP, mau bikin orang cemas? Mau cari perhatian?"


Adira mengelas malas dengan raut masam. Ia menunduk sejenak sambil mengigit bibirnya yang bergetar. Rasanya ingin sekali marah dengan ekspresi yang meledak-ledak menumpahkan segala uneg-uneg di dada. Tapi lagi-lagi, Adira memilih menahannya.


"Udah? Udah selesai marahnya? Udah selesai ngomongnya? Udah selesai kan? Sekarang bisa jangan ganggu aku? Aku mau istirahat, capek" Adira menyingkirkan tangan Chris agar bisa lewat. Baru satu langkah, tubuhnya di tarik kembali ke tempat semula.


"Mau kabur lagi? Terus biarin masalah ini berlarut-larut. Mau sampai kapan?" tanya Chris menggebu.


Adira memejamkan matanya sesaat. Ia berdecak dalam hati. Kenapa Chris tidak membiarkannya istirahat saja? Padahal Adira sudah memberitahu sebelumnya jika kepalanya pusing.


"Kepalaku pusing. Kita bicarakan ini nanti saja, hmm" kali ini Adira sangat berharap Chris akan mengerti. Karena sekarang tubuhnya benar-benar lemah.


Pukul 10.45 pm setelah menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di kantor tadi siang, Chris masuk ke kamar.


Krekkk


Mendengar handle pintu di tekan, Adira memiringkan badan dan pura-pura tidur. Selang beberapa menit setelah membersihkan wajah di kamar mandi, Chris berbaring di kasur.


"Kamu sudah tidur?" tanya Chris lembut.


"Sudah" jawab Adira refleks.


"Orang tidur bisa ngomong?" sahut Chris tersenyum tipis.


Adira menghentakkan kepalan tangannya di kasur sambil memaki diri sendiri.


"Bodoh banget sih kamu, Ra" gumam Adira mengetuk geram kepalanya.


Chris mengankat setengah badannya lalu mendorong pundak ke sandaran kasur.


"Apa kita bisa bicara sekarang?"


"Aku mau tidur" sahut Adira masih enggan bicara.


"Aku harap kamu...


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Adira beranjak dari kasur.


"Aku akan tidur di luar saja"


Chris mencekam tangan Adira.


"Jangan keras kepala. Dan jangan keluar dari sini"


"Saat ini mungkin bukan aku yang kamu butuhkan. Mungkin office girl itu?" ucap Adira menarik tangannya lalu pergi keluar kamar.


Adira memilih tidur di kamar kedua dan sebelumnya telah mengunci pintu rapat. Sampai detik ini kekecewaan Adira semakin dalam. Sejak dari siang tadi, Chris sama sekali tidak mengejarnya. Dan sekarangpun sama, Chris tidak ada usaha untuk membujuknya kembali. Sikap Chris beberapa saat yang lalu ketika ia membahas sosok office girl semakin membuat Adira overthinking. Adira yakin Chris mengerti maksud ucapannya namun tidak ada bantahan yang keluar dari mulut sang suami.


Keesokan harinya di saat matahari masih malu-malu menampakkan diri, Chris meregangkan otot tubuhnya yang kaku. Lalu bangun dan keluar menuju kamar sebelah. Chris mengedarkan pandangan ke setiap sudut kemudian mengecek kamar mandi namun Adira tidak ada dimana-mana. Ia pun melangkah ke ruang dapur dan sosok yamg dicari juga tidak ada di sana. Tidak sengaja, matanya melihat secarik kertas kecil yang diletakkan di bawah toples.


Aku ada meeting pagi. Jadi tidak sempat masak. Sepertinya hari ini aku pulang malam. Aku lembur. _pesan yang tertulis di atas kertas_


Chris merobek kertas itu menjadi bagian kecil dan membuangnya sembarang.


Waktu berangsur petang. Satu persatu karyawan berhamburan keluar kantor.


"Ra, kamu gak pulang?" tanya Maya.


"Kerjaan aku masih numpuk. Kayaknya aku lembur malam ini"


"Besok sajalah. Inikan juga masih pertengahan bulan. Masih banyak waktu, Ra" timpal Maya.


"Mana bisa gitu. Kalau di tunda-tunda terus gak akan kelar" Adira sebenarnya bisa saja mengerjakan pekerjaan itu di rumah namun masalahnya dengan Chris membuatnya malas pulang. Di rumah hanya akan membuatnya semakin suntuk.


"Ya udahlah kalau kamu maunya gitu. Gak papa ni kamu lembur sendirian?"


Setelah Maya dan yang lain pulang, kini tinggal Adira sendiri di ruang tim divisi 1. Bukannya bekerja namun Adira hanya duduk melamun sambil memainkan ujung telunjuk di layar ponsel yang menyala. Ia berharap Chris menelpon dan memohon padanya agar pulang. Jarum jam terus berdenting, kini sudah hampir jam sembilan malam. Namun Chris tak kunjung menelpon.


Dalam lamunan panjang, airmata Adira keluar begitu saja. Hatinya teramat perih dan memercikkan rasa sakit. Sakit yang tidak bisa dijelaskan. Adira pun menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Pundaknya bergetar dalam tangisan menyesakkan dada.


Pukul sembilan lewat, Adira sampai di apartement. Ia membuka kamar utama dan ternyata Chris ada di dalam sedang tidur.


Chris memutar kepalanya 45 derajat begitu pintu di tutup kembali. Ia yang sedari menunggu Adira pulang hanya bisa mendengus kesal saat menyadari sang istri tidur di kamar kedua lagi.


Keesokkan harinya, Chris kembali menemukan sepucuk surat. Isinya kurang lebih sama seperti kemarin. Adira izin lembur lagi dan akan pulang malam.


"Ini berkas yang pak Chris minta" ucap pria berumur sekitar 30 tahun ke atas.


"Terima kasih Jef. Jadwal saya hari ini apa?"


"Tidak ada pak. Hari ini pak Chris free"


"Kalau begitu saya akan pulang sekarang" timpal Chris setelah melirik arloji yang melingkar di tangan kekarnya.


Mobil Chris melaju dengan kecepatan sedang. Tidak butuh waktu lama, kini mobilnya berhenti di area parkir gedung dengan ketinggian menjulang. Chris sedikit gugup saat memasukki gedung. Di tempat ini ia menghabiskan waktu kurang lebih tujuh tahun. Memulai dari nol hingga menjadi orang kepercayaan pemimpin perusahaan, J.O Company.


"Pak Chris" sapa Lisa yang tidak sengaja berpapasan.


"Chris saja. Saya kan bukan bos kamu lagi. Adira nya ada?"


"Ada pak di atas"


"Bisa panggilkan Adira kesini. Saya tidak enak ke atas karena saya tidak bekerja disini lagi" ucap Chris sungkan.


Lisa menggaruk kepalanya. Ia sudah mencari kemana-mana tapi sehelai rambut Adira pun tidak terlihat. Padahal saat ia turun untuk membeli makanan, Adira tampak masih sibuk bekerja.


"Apa Adira keluar ya? Tasnya gak ada"


Lisa pun turun menemui Chris dan mengatakan jika sahabatnya itu tidak ada di kantor. Chris akhirnya pulang dengan tangan kosong dan rasa kecewa.


Siang berganti malam. Chris tertidur di sofa menunggu Adira yang tak kunjung pulang.


Krekk


Adira melangkah mengendap seperti orang maling begitu menyadari Chris tertidur di sofa. Ia langsung ke kamar kedua sambil berkata dalam hati.


Maafkan aku, Chris.


Ini sudah hari ketiga. Masih dengan suasana yang sama, Chris bangun dengan secarik kertas di tempat yang sama. Sudah 3 hari pula ia tidak melihat wajah Adira. Ini aneh, padahal tinggal serumah tapi tidak saling bicara juga bertemu.


Chris menghela nafas panjang. Kepalanya berpikir keras. Ini sudah tidak benar. Mana ada suami istri yang tinggal serumah tapi tidak saling menyapa.


"What? Kamu sudah gila, Ra. Tiga hari kamu gak melihat suami kamu. Gak sehat kamu, Ra" kecam Maya tidak membenarkan kelakukan temannya itu.


"Kok kamu ngejudge aku gitu sih? Aku kan sudah kasih tahu alasannya" kilah Adira tidak terima dengan kecaman Maya.


"Apapun alasannya, Ra. Kamu itu seorang istri. Tugas utama istri melayani suami. Kamu tahukan pak Chris itu masih dalam masa pemulihan. Dia tidak ingat kamu, bukan karena dia mau. Tapi keadaan yang membuatnya begitu. Kamu bukannya bantu dia biar cepat sembuh tapi malah cuekin dia....


"May, aku masakin makanan buat dia. Tapi dia justru beli makanan di luar terus makan sama karyawan ceweknya. Kamu gak mikir perasaan aku. Aku diamin dia. Aku gak masak. Aku gak negur dia. Tapi apa, dia gak ada usaha sama sekali. Buat bujuk aku. Buat rayu aku. Buat ngejar aku. Gak ada May. Gak ada sama sekali. Kamu gak mikir gimana kecewanya aku. Kamu ngerti gak sih perasaan aku?" ucap Adira menggebu dengan intonasi bicara yang semakin tinggi.


Melihat mata Adira memerah bersama binar yang perlahan menetes membuat Maya sadar sedalam apa rasa kecewa temannya itu. Maya turut sesak melihat Adira menangis pilu.


"Kamu salah, Ra. Pak Chris melakukan apa yang kamu mau, dia ngejar kamu. Kemarin dia kesini tapi kamu tidak ada di kantor. Dan itu jam satu siang. Dia sampai relain pekerjaannya demi nemuin kamu" sambar Lisa yang sejak tadi memperhatikan perdebatan kedua temannya itu.


Lisa maju beberapa langkah.


"Ra, rasa sakit kamu sekarang, itu karena kamu sendiri. Kamu yang paling tahu kondisi suami kamu. Dia habis operasi, Ra. Dan itu bukan operasi kecil. Kamu tahukan apa alasan dia menikahi kamu sebelum operasi. Itu karena dia sadar setelah operasi, dia akan melupakan kamu. Dia ingin kamu ada di sampingnya dalam sebuah ikatan kuat. Tapi sekarang apa? Perjuangan dia jadi sia-sia, Ra. Dia memperjuangkan kamu. Tapi kamu orangnya tidak sabaran. Dia butuh waktu Ra untuk mengingat semuanya. Kamu itu ya...


Lisa mengusap wajahnya. Rasanya ia ingin sekali menampar wajah Adira.


"Kamu itu egois...banget" ucap Lisa menekankan kata egois.


Adira memilih menyendiri di sudut tersembunyi di rooftop. Di tempat ini tidak akan ada yang melihatnya. Sambil menghentakkan kepalanya di dinding, Adira terniang dengan ucapan Lisa tadi.


"Lisa benar, Ra. Kamu egois" ucap Adira frustasi.