
Adira bangun dari tidur nyenyaknya. dan mendapati dirinya ada di kamar Chris. Ia coba mengingat lagi apa yang terjadi. Seingatnya semalam ia pergi bersama Bryan. Adira ingat betul, ia mereguh beberapa gelas wine. Tak lama kepalanya pusing dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Tapi kenapa sekarang dirinya berada di kasur Chris? Belum usai dari kebingunannnya, Adira kembali dibuat terkejut dengan kondisi raganya yang hanya mengenakan tanktop hitam. Ia buru-buru menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya.
"Hah syukurlah" ucap Adira lega melihat bagian bawah tubuhnya masih mengenakan celana. "Apa yang terjadi semalam? Kenapa sekarang aku ada disini?" gumamnya bingung. Adira memukul kepalanya pelan berharap dapat mengingat kejadian semalam sebelum ia kehilangan kesadaran. Namun justru kepalanya berdenging. Mungkin pengaruh wine yang diminumnya semalam belum sepenuhnya hilang.
Adira segera beranjak dari kasur keluar kamar. Seakan sudah hafal kebiasaan Chris di pagi hari, ia pun melangkah menuju dapur karena yakin akan menemukan Chris disana.
"Hemm" sapa Adira berdehem.
"Sudah bangun. Duduk sini kita makan" tangan Chris sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor .
Adira menurut patuh. Ia malas berdebat karena sudah pasti Chris tidak akan membiarkannya keluar sebelum keinginan atasannya itu dituruti. Seperti anak sekolahan, Adira duduk rapi sembari menunggu Chris menghidangkan makanan.
"Minum teh lemon ini biar kamu segaran dikit" ucap Chris meletakkan secangkir teh lemon ke depan Adira.
Dalam sekejab teh lemon itu melenggang bebas melalui tenggorokan Adira.
"Sudah habis. Sekarang boleh saya ngomong?" Adira tidak sabar mendengar penjelasan Chris tentang apa yang terjadi semalam. Kenapa ia bisa ada di apartement Chris?
"Kenapa saya ada disini? Bukannya saya semalam pergi sama Bryan?" lanjutnya penasaran.
"Saya sudah bilang jangan ke tempat itu lagi" tempat yang Chris maksud ialah club malam yang tempo hari sempat dikunjungi Adira hingga membuat Adira berakhir di kasurnya seperti semalam.
Adira menjulurkan lidahnya membasahi bibirnya yang kering.
"Kenapa saya tidak mengenakan kemeja?" hal ini sangat menganggu pikirannya karena mengingatkannya pada kejadian malam itu dimana ia tidak berpakaian begitu bangun di tempat yang sama.
"Kalau tidak kuat jangan minum. Jangan sok keren" balas Chris tenang.
"Pak, kok gak nyambung banget sih. Saya nanya apa dijawabnya apa" celetuk Adira mulai kesal.
"Makan dulu"
"Saya tidak nafsu. Baiklah saya tanya Bryan saja. Permisi"
Chris bangkit dari duduk kemudian mengejar Adira. Dan dengan sigap menarik tangan wanita yang ingin melarikan diri itu.
"Lepasin saya"
"Aww" keluh Chris meringis setelah Adira menghempas kuat tangannya.
Adira membelalak. Ia lupa tangan Chris masih belum pulih. Beberapa detik kemudian, perban putih yang membalut tangan Chris timbul noda merah.
"Pak Chris tangannya gak papa? Sakit ya? Maaf pak, saya lupa" ucapnya merasa bersalah. "Darahnya keluar pak. Aduh saya harus gimana pak?" lanjut Adira panik.
Chris berbalik badan berjalan ke kamarnya. Adira pun mengekor di belakang. Sampai di kamar, Chris membuka laci lalu mengeluarkan kotak P3K.
"Bisa bantu saya?"
"Bisa pak" balas Adira siaga.
"Ganti perban saya" Chris mengarahkan matanya ke kotak putih berlogo PMI.
Dengan cekatan Adira memotong perban itu lalu meneteskan cairan untuk menghentikan pendarahan. Kemudian membalut lagi tangan Chris dengan perban.
"Jangan lihat saya seperti itu. Nanti saya bisa suka lagi sama pak Chris" ujar Adira menyadari mata Chris tidak berhenti memandangnya.
Chris tersenyum kecil. Ia tidak percaya jika wanita yang sedang membalut lukanya kini tidak lagi menyukainya.
"Kalau begitu saya akan terus menatap kamu agar kamu menyukai saya lagi"
"Apaan sih pak. Pede banget. Pak Chris itu tidak menarik lagi. Saya itu pilih-pilih buat suka sama orang apalagi cowok. Dah lukanya sudah selesai diperban. Saya pulang dulu"
"Adira, jangan pergi"
Adira mematung tak jadi menekan handle pintu. Permintaan Chris terdengar penuh permohonan sama seperti kemarin. Ia bingung, tidak mengerti bagaimana perasaan Chris padanya. Jika apa yang dikatakan Chris saat di rumah sakit tempo hari benar, lalu kenapa sikap Chris justru sebaliknya? Walaupun terkadang menyebalkan tapi Adira bisa merasakan, atasannya menaruh perhatian lebih padanya. Adira yakin Chris juga memiliki perasaan yang sama dengannya tapi kenapa pria itu selalu berusaha untuk membuatnya merubah pikirannya.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" gumam Adira menatap dalam pria di hadapannya.
"Pak Chris cukup" cegahnya mencekam kepalan tangan Chris.
Kini berganti tangan Chris yang melingkar di balik leher Adira membuat jarak keduanya sirna.
"Saya suka kamu, Adira. Bukan, saya mencintai kamu" ungkap Chris tiba-tiba dan berhasil membuat Adira mendelik tak percaya.
Refleks Adira mendorong Chris menjauh. Sulit baginya mempercayai apa yang baru saja ia dengar dari mulut Chris.
"Jangan bercanda. Jelas-jelas kemarin pak Chris bilang tidak mungkin menyukai saya. Sekarang bilang mencintai saya. Yang mana harus saya percaya?" Adira benar-benar tidak bisa membaca apa yang dipikirkan Chris. Pria itu kapan saja bisa membuatnya geleng-geleng kepala.
"Kamu mau percaya yang mana?" tanya Chris balik menyerahkan pada Adira memilih untuk percaya yang mana.
"Kebiasan kalau ditanya suka gak nyambung jawabannya" kelah Adira mengelas dongkol. "Jawab saya"
"Apa?" sahut Chris.
"Jawab sebaliknya. Ucapan pak Chris di rumah sakit kemarin, jujur?"
"Bohong"
"Yang barusan, bohong?" tanya Adira lagi.
"Jujur" jawab Chris tersenyum lebar.
" Ya udah"
"Apa?" tanya Chris berlagak tidak mengerti.
"Gak papa" balas Adira malu.
Senyum keduanya mengembang lebar membuat raut muka mereka berseri-seri. Dalam sekejab pipi Adira merona ceria sebagai gambaran perasaannya saat ini.
Chris menggapai pinggang Adira lalu mengecup rakus leher mulus itu hingga meninggalkan bekas khas disana. Sontak Adira mendesis pelan saat Chris memberi tekanan di lehernya. Tak lupa tangannya bermain liar mengelus kulit wajah Adira kemudian memautkan bibirnya di tempat kesukaannya. Keduanya saling membalas cumbuan panas dan perlahan berjalan ke arah kasur. Chris membaringkan tubuh wanita di bawahnya dengan hati-hati.
Tak lama Chris mengurai dekapannya lalu meraih kotak kecil warna hitam di laci. Ia mengambil cincin di dalamnya kemudian membuangnya keluar jendela. Kini tidak ada lagi yang mengikatkannya. Chris pun melepaskan baju yang membungkus tubuhnya lalu kembali mengecup panas bibir wanita tak berkutik di bawahnnya.
"Pak" ucap Adira begitu Chris akan melepas celananya.
"Kenapa? Kamu tidak mau?"
...-------------------...
* 8 jam yang lalu
Bryan terpaksa harus menuruti kemauan Adira untuk pergi ke club malam. Ia tidak tega melihat Adira yang terus merengek. Apalagi saat ini nampak wanita di sebelahnya sedang kacau. Ia tidak tahu pasti penyebabnya namun Bryan menduga, alasannya karena Chris. Perbincangan alot Chris dan Adira tadi siang membuat Bryan menyadari satu hal. Adira menyukai Chris begitupun sebaliknya. Pantas saja wanita ini terlihat biasa saja dengannya. Bryan sebenarnya tidak menyangka. Ia pikir Adira akan jatuh hati padanya dengan segala kelebihan yang dimiliki namun justru ia tidak dilirik sama sekali.
"Walaupun ciuman itu tidak berarti untuk kamu tapi saya selalu mengingatnya. Bahkan saya selalu berharap bertemu kamu lagi. Tapi sepertinya saya terlambat. Kamu sudah memilih seseorang untuk ada disana. Apa saya masih punya kesempatan, Adira?" ucap Bryan dalam hati sambil memandang Adira yang telah berada dalam pengaruh alkohol.
"Bryan kamu tahu. Pak Chris itu kejam banget"
"Sepertinya kamu benar" sahut Bryan tersenyum tipis. "Sekarang saya antar kamu pulang. Sudah cukup minumnya. Kamu mabuk"
Adira tidak mampu menggotong dirinya sendiri hingga harus dibantu Bryan untuk berjalan. Tiba-tiba seseorang pria merebut paksa tubuh tak berdaya Adira dari Bryan.
"Biar saya saja yang mengantarnya pulang" ucap Chris.
"Saya saja"
"Saya bosnya. Dia tanggung jawab saya" sambar Chris tegas.
Chris menatap intens wajah wanita yang berbaring di kasurnya. Hanya diam tanpa bicara. Denting jam terus bergerak dan keadaan masih sama. Chris membisu tanpa berkata sekatapun. Ia terus memandang Adira dalam kebisuan.
"Saya tidak sanggup untuk menyakiti kamu lagi, Adira. Saya akan melawan mereka dan melindungi kamu. Cepatlah bangun. Saya akan mengatakan apa yang ingin kamu dengar" Chris mengecup hangat kening Adira kemudian keluar membiarkan Adira tidur sendiri di kamarnya.
Tidak lama setelah Chris keluar, Adira bergerak gelisah. Ia kepanasan lalu melepaskan kemejanya dan kembali tidur.