
"Ra, tumben kamu gak bawah bekal? Lagi banyak duit ya?" goda Maya seraya meletakkan piring di atas meja.
"Lagi males belanja" jawab Adira seadanya. Ia pun ikut bergabung duduk bersama Maya, Lisa, dan Farah.
Kantin siang ini tidak terlalu ramai seperti hari biasanya, mungkin sebagian sudah selesai makan mengingat saat ini waktu sudah menunjukkan hampir jam 13.00 pm. Adira bersama teman-temannyapun dapat berbicara sambil menikmati makanan mereka dengan santai. Obrolan lucu dengan tema ringan menemani acara makan siang keempat teman karib itu. Mereka tertawa lepas dan dalam waktu bersamaan bisa juga saling membisu ketika ada kata-kata keluar yang kurang berkesan di hati. Namun selang menit berikutnya, mereka kembali tertawa. Adira merasa sungguh beruntung memiliki teman sebaik Maya, Lisa, dan Farah. Bersama mereka Adira merasa mempunyai keluarga sesungguhnya. Ada yang bisa membuatnya seperti adik dengan sikap Farah yang selalu memberinya nasehat bijak. Ada Maya yang mempunyai sifat keibuan karena selalu peka dalam kondisi apapun walaupun tidak bercerita. Dan ada Lisa, teman yang selalu bisa mencairkan susana serta menciptakan gelak tawa hingga terpingkal-pingkal.
"Eh sepertinya pak Chris sakit deh. Tadi pas aku ke ruangannya, wajahnya pucat gitu" ujar Maya.
"Kayaknya iya deh. Soalnya kemarin ada yang lihat pak Chris basah kuyub dari rooftop" sahut Farah.
"Oh kalau gitu pak Chris emang sakit beneran. Tapi aku salut sih sama dia, lagi sakit juga masih masuk kerja" timpal Lisa kagum seraya melirik kepada Adira.
Dalam hati, Adira merasa khawatir setelah mendengar apa yang diungkapkan ketiga temannya itu. Tapi Adira juga merasa sedikit tidak percaya karena setahunya, Chris sangat suka main hujan-hujanan dan ia pernah melihatnya sendiri. Dan setelahnya, Chris tetap baik-baik saja. Di tambah lagi Chris memiliki fisik yang bugar karena rajin berolahraga.
"Apa dia beneran sakit? Masa kena hujan saja bisa sakit. Diakan sudah besar. Tapi beberapa kali wajahnya terlihat pucat sih" guman Adira cemas.
"Eh Ra, bukannya setelah makan siang kamu sama pak Chris ada jadwal keluar buat cek lapangan" sergak Farah mengagetkan Adira.
Adira tersentak. Ia hampir saja melupakan agenda itu.
"Ehhm Maya, bisa gak kamu gantiin aku?"
"Kenapa?" tanggap Maya.
"Kayaknya aku kurang enak badan. Semalam aku kurang tidur. Badan aku lemas banget" ujar Adira berbohong. Adira sebenarnya ingin menghindari Chris. Untuk sekarang inilah yang terbaik.
Tok! Tok! Tok!
"Ayo pak kita berangkat sekarang" ucap Maya semangat.
"Kemana?"
"Cek lapangan untuk peluncuran produk baru nanti"
"Bukannya yang harus nemanin saya Adira?" Chris mengalihkan matanya pada Adira dari balik dinding kaca ruangannya.
"Oh Adira bilang dia kurang enak badan pak jadi dia minta saya gantiin"
"Mana bisa diganti-ganti gitu. Panggil Adira kesini. Saya mau tetap dia yang nemanin saya" titah Chris penuh wibawa.
Tok! Tok! Tok!
Adira mengankat bahunya sejenak kemudian menurunkannya lagi sebelum masuk ke ruangan Chris. Meskipun sudah terbiasa namun bertemu dengan Chris selalu membuatnya deg degan. Apalagi saat ini hubungannya dengan sang atasan sedang memburuk.
"Ada apa pak....
"Maya bilang kamu sakit" Chris menyentuh leher Adira tiba-tiba. Mengecek apakah suhu tubuh Adira panas.
Chris pun tersenyum miring setelah memastikan jika suhu tubuh gadis di depannya normal.
"Kamu tidak bisa membohongiku"
Seperti angin malam yang masuk melalui celah jendela, terasa dingin dan menusuk. Hawa panas gelisah meresap menembus kulit Adira. Leher adalah salah satu area sensitif Adira. Dan sepertinya Chris tahu itu.
"Apaan sih" Adira menghempas kasar tangan Chris dari lehernya. "Gak papakan kalau Maya gantiin aku. Gak ada peraturan kalau harus aku yang nemanin pak Chris" sambungnya mundur pelan-pelan.
Chris hanya tersenyum misterius penuh arti sembari melepaskan jas hitamnya lalu melepaskan kaitan kancing kemeja yang paling atas. Tangannya menggapai sebuah remot yang tergeletak di meja kemudian menekan satu tombol paling atas yang ada di sudut kanan. Melihat gerak-gerik Chris, Adira menyadari sesuatu. Ia tahu apa yang akan terjadi setelah dinding kaca tertutup tirai. Adira buru-buru melebarkan kaki menuju daun pintu namun langkahnya kalah cepat dengan kesigapan tangan panjang Chris.
"Kamu mau ngapain?"
Chris menekan kedua sisi rahang wajah Adira berusaha mengecup paksa bibir candu yang sudah lama tidak ia sentuh. Adira menggerakkan tubuhnya sembarang dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan namun bibirnya tetap saja tidak bisa lolos. Gerakannya justru menambah tekanan pautan Chris di bibirnya. Dengan punggung yang di peluk erat membuat Adira tidak bisa bergerak bebas. Adira pun memutuskan mengigit bibir bawah Chris kuat lalu menarik kemeja Chris hingga beberapa kancing terlepas. Ia tidak punya cara lain untuk menghentikan pria berkekuatan singa di hadapannya. Seketika Chris mengurai pelukannya. Ia mendesis perih dengan bibir terluka.
"Hanya dengan cara ini aku bisa meluluhkan kamu" ucap Chris mendelik tajam. Ia menarik paksa pinggang Adira hingga dada keduanya menempel.
"Kamu salah. Ini tidak akan membuatku lemah. Aku akan membunuhmu setelah ini" balas Adira takkala marah dengan mata menyala.
"Oh ya" remeh Chris meletakkan telapak tangan Adira di dada bidangnya.
Menyentuh kulit Chris secara langsung membuat Adira sadar jika yang dibicarakan ketiga temannya di kantin tadi benar. Chris memang sedang sakit. Tubuhnya panas.
"Kamu sakit?" tanya Adira mulai melunak.
"Akan sembuh jika kamu tidak melawan" timpal Chris bersama senyuman nakalnya.
Chris tersenyum lebar begitu melihat ekspresi datar dan polos Adira. Ia meraih ujung dagu Adira kemudian mendaratkan penuh kelembutan bibirnya ditempat yang tepat. Di tengah intensitas cumbuan yang mulai meningkat, tiba-tiba Adira mendorong Chris kembali.
Plakk
Lagi-lagi tangan Adira melayang bebas di wajah Chris.
"Brengsek" umpat Adira kesal pada dirinya sendiri kemudian melenggang pergi.
Chris tersenyum puas. Baginya tidak masalah jika wajahnya mendapat pukulan terus menerus dari tangan halus Adira. Ia harus memaksa karena dengan cara itu, ia tahu jika hati Adira masih untuknya.
"Aahh" desah Chris kesakitan. Ia pun duduk bersandar sambil memijit pelipisnya. Akhir-akhir ini kepalanya tidak bisa diajak kompromi. Bisa tiba-tiba rasa sakit itu menyerang dengan sangat sadis.
...-----------------...
Pukul 20.00 pm, Adira baru mau bersiap-siap pulang. Hari ini ia sengaja mengambil lembur agar tidak harus melanjutkan pekerjaannya di rumah. Adira ingin setelah sampai ke rumah langsung tidur. Apalagi sabtu besok tanggal merah. Lumayan dua hari libur. Karena itu Adira mau menyelesaikan semua pekerjaannya nya di kantor. Sebelum turun ke bawah, Adira sempat melihat ruangan Chris sebentar. Ruangan itu terlihat sudah gelap.
"Tumben dia sudah balik duluan. Biasanya selalu nunggu aku dulu. Ahh apaan sih Ra, kenapa mikirin dia terus?" guman Adira berperang dengan batinnya.
Saat sedang berjalan menuju jalan raya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping Adira. Ia pun menunduk sedikit begitu kaca mobil terbuka.
"Kak Jhon"
"Masuk. Aku antar pulang"
Dengan senang hati Adira masuk ke dalam mobil.
"Wuihh keren ni sudah punya mobil" goda Adira sembari membenarkan duduknya mencari posisi yang nyaman.
"Masih kredit. Dan kamu beruntung karena kamu penumpang pertama"
"Oh gitu. Beruntung banget dong aku" ujar Adira bersemangat. Ia selalu senang melihat keberhasilan orang-orang di sekitar. Apalagi Jhon sudah banyak membantunya. Tentu saja ia harus ikut bahagia melihat apa yang didapatkan pria yang kini sudah ia anggap seperti kakakya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Adira seksama mendengar cerita-cerita yang Jhon utarakan, baik cerita lucu maupun cerita berat. Sesekali ia tertawa begitu canda-canda garing masuk ke telingannya. Tidak terlalu lucu tapi cukup menghibur karena sejatinya Jhon bukan sosok yang bisa melawak seperti para komedian yang sering muncul di televisi.
"Eh Ra, kamu penasaran gak dengan masa lalu ataupun kesehatan Chris?"
"Kok tiba-tiba jadi ngomongi Chris?" tanya Adira merasa aneh.
"Ya gak papa. Kali saja kamu penasaran" sahut Jhon sengaja memancing.
"Emang sih tadi sepertinya dia sedang sakit" ingatan Adira mundur ke beberapa jam yang lalu. Ia dapat mengingat dengan jelas betapa besarnya tenaga Chris saat memaksa mencium bibirnya tadi. Dengan power sebesar itu, Adira tidak yakin jika Chris beneran sakit. "Tapi sepertinya itu hanya panas biasa. Terus memangnya ada apa dengan masa lalunya?"
"Chris itu sepanjang hidupnya selalu diikuti rasa bersalah. Lebih tepatnya saat memasukki semester awal perkuliahan" ucap Jhon mulai bercerita.
"Kenapa?" timpal Adira penasaran.
"Mamanya meninggal setahun sebelum dia tamat sekolah. Setelah mamanya meninggal, hubungannya dengan papanya tidak terlalu baik. Mereka lebih sering bertengkar saat bertemu. Aku tidak tahu alasannya, Chris tidak pernah cerita. Dan....
"Dan apa?" sahut Adira semakin penasaran. Ia tidak sabar menunggu Jhon kembali bercerita.
"Hari itu Chris dengan papanya mau berkunjung ke makam mamanya. Tapi sebelum sampai, mobil yang dikemudikan papa Chris hilang kendali dan menabrak sebuah mobil di depannya. Chris sangat menyesal karena ia tidak bisa menolong korban karena riwayat penyakit jantung papanya. Papanya terus memohon agar Chris melupakan saja kejadian itu. Pernah suatu hari, Chris ingin melapor ke kantor polisi namun tiba-tiba penyakit jantung papanya kambuh. Karena itu sampai sekarang, Chris memendam semuanya sendiri dengan rasa bersalah yang tak berujung. Kamu sebaiknya...
"Hentikan mobilnya sekarang"
"Kenapa?"
"Hentikan mobilnya sekarang" pinta Adira berteriak dengan binar di matanya.
...----------------...
"Tanda tangan surat ini"
"Gak mau" tolak Adira tegas setelah membaca isi surat.
"Jadi kamu lebih memilih mati" pistol itu menempel lekat di kening Adira. Pemilik pistol itu bersiap menarik pelatuk.
Suara pintu di dobrak terdengar sangat nyaring.
"Chris awas"
Dorrrrrr