
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tak terasa kandungan Adira sudah memasukki bulan ke-8. Adira yang di awal kandungan selalu mengeluh jika perutnya tidak besar-besar, kini tampak sangat antusias setiap kali melihat perutnya yang sudah buncit seperti balon. Ia tidak sabar anak di dalam perutnya lahir ke dunia. Mendengar tangisan pertamanya. Memberi ASI pertama untuk anaknya. Ah itu impian besarnya yang sebentar lagi akan tercapai. Adira sangat tidak sabar anak berjenis kelamin perempuannya cepat keluar dari dalam perutnya.
Di lain pihak, bukan hanya Adira saja yang sudah tidak sabar tapi ada sesosok calon ayah yang juga merasakan perasaan yang sama. Hatinya berdebar menunggu tidak sabar kelahiran anaknya. Apalagi ini sudah mendekati bulan kelahiran, Chris semakin dibuat gelisah oleh perasaannya sendiri. Perasaannya campur aduk seperti macam-macam sayuran yang dicampur ke dalam saos kacang. Dalam bayangannya ia tersenyum lepas bermain di taman bersama putri kecilnya. Dirinya, Adira, dan tentu saja putrinya sedang berlibur bersama di sebuah taman yang dipenuhi bunga. Moment manis itu berkeliaran liar di kepala Chris. Ia pastikan bayangan itu akan terjadi setelah putrinya lahir.
"Aku sudah tidak sabar melihat anak kita lahir" ucap Chris tersenyum tipis.
"Aku juga" balas Adira sambil mengelus halus wajah sang suami.
Jika di awal kehamilan, Chris bisa dengan leluasa memeluk tubuh istrinya sebelum tidur, kini ia tidak bisa lagi melakukan itu. Bukan ditolak tapi karena ada penghalang besar yaitu perut Adira yang semakin membesar.
"Sekarang aku susah meluk kamu" keluh Chris cemberut.
Adira terkekeh kecil.
"Sabar. Bentar lagi anak kita lahir. Setelah itu kamu bisa memelukku sesuka hati kamu" Adira mencondongkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir kesukaannya.
Tak ingin kalah, Chris melesatkan ciuman balasan.
"Besok temani aku belanja ya. Aku mau beli alat-alat untuk keperluan anak kita nanti. Kamu gak sibuk kan besok?"
"Aku akan selalu ada waktu untuk kamu" sahut Chris siaga.
Chris dan Adira saling memandang. Jelas sekali hanya ada kebahagiaan dari sorot mata Chris. Namun tidak bagi Adira. Dalam tutur katanya yang tenang dan senyum bahagianya, tanpa sepengetahuan sang suami, Adira menyimpan keresahan yang sudah satu minggu ini ia pendam.
Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sama. Dan lagi-lagi aku tidak melihat diriku di sana. Chris bermain dan tertawa penuh keceriaan dengan gadis kecil itu. Mereka makan ice cream lalu kembali berlarian di taman. Kenapa tidak ada aku bersama mereka? Chris, aku takut. _Adira_
Pukul 02.00 am , Adira tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia merenung sejenak sambil memandang langit-langit kamar dan tanpa terasa bulir airmata lolos dari sudut matanya. Ia mengingat mimpi itu dengan sangat jelas. Mimpi yang baru saja dialaminya. Mimpi yang beberapa hari belakangan ini mengganggu pikirannya.
"Kenapa mimpi itu semakin sering datang? Apa yang sebenarnya ingin diberitahu mimpi itu? Apa ia ingin mengatakan jika aku tidak akan ada di dunia ini setelah anak ini lahir? Hah! Gak...gak aku gak boleh mikir yang aneh-aneh. Itu hanya mimpi, hanya bunga tidur. Kami akan membesarkan anak ini berdua" Adira bangkit dari kasur lalu melangkah ke arah balkon.
Seketika hawa dingin menusuk kulit. Udara yang dingin tapi menyejukkan kalbu. Adira menatap perut besarnya lalu tersenyum getir.
"Sayang, sebenarnya ibu gak mau mikir yang aneh-aneh tapi jika itu benar terjadi, maka kamu harus menjaga ayahmu" ucap Adira sendu sambil mengelus perut besarnya.
"Memangnya apa yang akan terjadi?" sambar Chris sembari menyelimuti tubuh sang istri dengan kain lembut. Chris kemudian memeluk wanita yang dicintainya itu dari belakang.
"Kok kamu bangun juga?"
"Kamu belum jawab pertanyaanku. Memangnya apa yang akan terjadi?"
"Gak ada apa-apa. Aku hanya khawatir aja, kamu gak ada di sisiku pas aku mau lahiran nanti" jawab Adira enggan mengatakan yang sebenarnya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu bersama kamu" Chris mengeratkan dekapannya, menunjukkan rasa cintanya yang tak terbatas untuk sang istri. "Disini dingin, masuk yuk"
... ----------------...
Chris berjalan di sebelah Adira sambil mendorong troli. Sebagai laki-laki, Chris hanya bisa mangut saja saat Adira memasukkan barang-barang ke dalam troli. Ia tidak boleh protes apalagi mengembalikan barang ke tempat semula. Bisa ada perang dunia ke-3 jika itu terjadi.
"Sayang, bagusnya warna pink atau warna hijau?" tanya Adira sambil menggoyangkan dua boneka di depan wajah Chris.
"Semuanya bagus" jawab Chris malas, karena apapun jawabannya pasti tetap saja ujung-ujungnya yang pilih sesuai keinginan hati sang istri.
"Hijau"
"Iih kamu tu ya, gak bisa milih warna apa? Jelas-jelas warna pink yang bagus" celah Adira ketus.
"Iya pink juga bagus. Beli saja dua-duanya"
"Untuk apa beli dua. Mubazir kalau gak dipakai. Lagian kan anak kita nanti masih kecil. Ngapain beli boneka banyak-banyak" racau Adira ingin menang sendiri.
Chris menghela nafas.
"Itu kamu paham. Ngapain beli boneka sekarang. Anak kita masih kecil, belum bisa main boneka" jelas Chris pelan-pelan.
"Ya kan kalau dia sudah besar bisa main boneka. Ya udah kamu pilih satu, ribet banget." sahut Adira tetap teguh dengan keinginannya.
"Warna pink"
"Tadi pilihnya warna hijau. Sekarang pilih warna pink. Gimana sih kamu, berubah-ubah. Gak jelas banget"
Ya Tuhan, perkara warna saja ngabisin waktu setengah jam, gumam Chris membathin.
"Ya sudah ambil warna hijau saja" ucap Chris sabar.
"Tapi aku suka warna pink. Dan anak kita juga cewek. Mbak bungkus yang ini aja ya" Adira menyodorkan boneka warna pink kepada pelayan toko.
Tu kan, ujung-ujungnya tetap ambil yang dia mau. Terus ngapain nanya-nanya tadi. Hah...buang waktu saja, keluh Chris dalam hati.
Saat berjalan menuju pintu keluar mall, mata Adira teralihkan pada sebuah toko yang menjual alat-alat tulis. Chris menatap bingung saat Adira meminta masuk ke toko itu. Namun tentu saja ia harus nurut dan tidak boleh protes pastinya.
Adira mengelilingi toko yang tidak terlalu besar itu. Kemudian meraih satu buku kecil yang biasa disebut buku diary.
"Untuk apa beli itu?" tanya Chris heran karena ia belum pernah sebelumnya melihat Adira menulis di dalam buku diary.
"Aku mau menulis tentang kita di sini"
Chris mengangguk saja, malas berdebat. Kalau ia protes maka ia akan diceramahi minimal 10 menit. Dan itu artinya akan semakin banyak waktu yang terbuang percuma.
Chris meminta Adira menunggu di depan pintu mall sementara ia mengambil mobil ke parkiran. Ia tidak ingin istrinya kelelahan berjalan mengingat jarak ke area parkir lumayan jauh. Sebenarnya tidak apa-apa jika Adira tidak sedang hamil tua.
Saat sedang menunggu, Adira bersenandung samar agar tidak bosan. Semuanya terlihat aman-aman saja. Namun tanpa Adira sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Orang itu tidak berani mendekat karena Adira sedang berada dalam keramaian. Terlalu banyak orang dan ada satpam juga yang berdiri tidak jauh dari posisi Adira. Ia akan mudah tertangkap jika melancarkan aksinya sekarang. Aku harus mencari waktu yang tepat, pikir pria itu berlalu.
Hai diary,
Ini tulisan pertamaku.
Aku akan menceritakan tentangnya di sini,
.......