Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Dasi Yang Tak Asing



Adira duduk sendiri di rooftop sembari menyantap makan siangnya. Ia enggan bergabung dengan yang lain di kantin dan hanya ingin sendiri. Hari ini ia tidak begitu berselera padahal makanannya tampak menggiurkan dengan lauk telur dadar pedas kesukaannya yang ia masak sendiri. Pesan dari Chris pagi tadi membuat moodnya rusak. Pria itu pamit pergi keluar kota selama dua hari untuk keperluan pekerjaan. Bukan karena perginya yang membuat Adira kesal. Tapi kenapa baru mengabarkan itu disaat sudah pergi? Sampai saat ini Adira tidak berniat membalas pesan dari atasannya itu bahkan saat Chris mengabarkan sudah sampai di tempat tujuan, ia tetap enggan membalas.


"Kenapa dia sangat menyebalkan? Selalu bisa bikin moodku rusak begini" ucapnya kesal sambil memenuhi mulutnya dengan makanan.


Adira kemudian memalingkan matanya ke sudut dimana Chris menciumnya paksa beberap minggu yang lalu. Ia pun tersenyum getir mengingat moment itu. Rooftop ini menjadi saksi bisu dimana ia sering berbincang hangat dengan kekasihnya itu. Tempat yang ia anggap tidak memiliki spot yang spesial namun kini justru menjadi salah satu tempat favoritnya di kantor. Jika tiba-tiba rindu dengan Chris maka ia akan kesini.


Setelah makanannya lenyap masuk ke dalam perutnya, Adira pun segera turun untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Baru beberapa jam ia memulai aktivitasnya kembali, tiba-tiba datang seorang perempuan menghampiri meja kerja tim divisi 1.


"Emilly, tumben kesini?" sapa Jhon ramah. "Chris lagi di luar kota" sambungnya.


"Aku sudah tahu kok. Chris memberitahuku kemarin" balas Emilly takkala ramah.


Adira tertegun mendengar ucapan Emilly.


"Dia sudah tahu bahkan dari kemarin. Sedangkan aku baru dikasih tahu pagi tadi" gumam Adira sedih. "Chris bilang mencintaiku. Hanya ada aku di hatinya tapi kenapa aku yang terakhir diberitahu?" sambungnya bingung.


Matanya menatap nanar Emilly dan Jhon yang berlalu ke ruangan Chris. Entah apa tujuan wanita itu kesini padahal Chris tidak ada di ruangannya.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Jhon berdiri berhadapan dengan Emilly.


Emilly meletakkan tas kecilnya di meja lalu menyentuh nakal dada bidang Jhon. Dengan tatapan menggoda, ia melepaskan satu persatu kancing kemeja pria berparas tampan di depannya.


"Emilly ini kantor" ucap Jhon berusaha mencegah tangan Emilly yang bergerak semakin liar.


"Lalu?" balasnya singkat sembari mengecup penuh gairah bibir tebal milik Jhon.


Dengan godaan yang tak henti yang Emilly layangkan membuat pertahanan Jhon runtuh. Selama ini ia tidak pernah mau melakukan ini di kantor karena khawatir Chris akan melihatnya. Namun kali ini ia tidak dapat menahannya apalgi ia sudah semingguan ini tidak menyentuh Emilly yang juga tunangan temannya sendiri. Dan sekarang waktunya tiba. Chris di luar kota, ia tidak akan ketahuan. Jhon membekap mulut Emilly agar tidak mengeluarkan suara khas. Saat ini tubuh keduanya sedang menyatu dalam gairah yang semakin tinggi. Intensitas gerakan Jhon semakin liar membuat Emilly benar-benar tidak tahan bersuara. Untung saja ruangan Chris memiliki fasilitas tirai penutup jadi orang di luar tidak bisa melihat aktivitas orang di dalamnya dan juga ruangan ini berada cukup jauh dari meja kerja tim divisi 1 jadi racauan Emilly yang sedang menikmati permainan Jhon tidak terdengar orang di luar.


"Aaahhh" ucap Jhon panjang mendapatkan pelepasannya. "Good baby" lanjutnya dengan nafas tersengal.


Emilly tersenyum puas mendengar pujian itu. Nafasnya belum teratur dan tubuhnya dipenuhi keringat birahi. Begitupun dengan Jhon. Sepasang insan yang baru saja menikmati surga dunia itu segera keluar setelah rapi dengan pakaiannya masing-masing. Jhon pun mengantar Emilly ke depan pintu utama gedung.


"Berkas laporan bulan lalu dimana ya?" Adira coba mengingat kiranya dimana berkas yang ia cari. "Oh di ruangan pak Chris. Aku lupa ngambilnya kemarin"


Adira mengedarkan matanya dengan tatapan heran. Ruangan Chris tampak berantakan. Benda-benda kecil yang sebelumnya tertata rapi di atas meja kini berserakan di lantai.


"Tu cewek ngapain sih sampai ruangan pak Chris berantakan gini" keluh Adira bawel sembari merapikan ruangan Chris. "Ngobrolin apa sih dia sama pak Jhon. Kok lama banget. Dan sepertinya mereka lumayan akrab" Adira menggeleng cepat kepalanya membuang prasangka buruknya.


Tangannya cekatan meletakkan benda yang berserekan ke tempatnya semula. Ia membuka laci untuk memasukkan sebuah pena yang sepertinya jarang digunakan Chris namun begitu laci mengangah, Adira melihat dasi bercorak garis dengan warna tak asing. Disaat yang sama ponsel Adira berdering begitu ia mau meraih dasi itu. Nama Chris tertera di layar ponsel yang sedang menyala itu.


📞 Ya.


Jawab Adira ketus. Ia masih marah.


📞 Akhirnya kamu jawab juga. Marah ya?


📞 Enggak. Memangnya aku gila apa marah terus.


Chris tersenyum kecil di ujung sambungan.


📞 Lagi ngapain?


📞 Lagi beresin ruangan kamu. Berantakan banget.


Sontak Chris langsung berdiri. Ia ingat jika di dalam lacinya ada dasi robek itu. Jika Adira melihatnya maka semuanya akan ketahuan. Rahasia yang ia simpan rapat selama ini akan muncul ke permukaan.


📞 Adira, turuti perintah aku. Kamu sekarang keluar dari ruanganku. Jangan sentuh apapun.


📞 Tapi aku cuman mau beresin doang. Gak bakalan aku ambil kok.


📞 Aku tahu tapi sekarang kamu keluar. Ada office girl yang akan bersihin ruanganku.


📞 Ok.


📞 Adira...Ra.


Chris melepas nafas lega. Namun ia masih khawatir. Takut Adira tidak mendengarkannya.


"Kenapa sih tu orang? Berasa aku tu asing banget. Aku inikan pacarnya" Adira menutup keras laci yang tadi sempat ia buka. Sebenarnya ia penasaran dengan dasi itu tapi ia harus menghormati perintah atasannya.


...---------------------...


Mobil Chris melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan malam yang tak terlalu ramai. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Adira setelah dua hari tidak bertemu.


Tok! Tok! Tok!


Chris berulang kali mengetuk pintu rumah Adira namun tidak ada respon dari dalam. Rumah Adira tampak gelap, tidak ada satupun lampu yang menyala. Sepertinya wanita pujaannya itu belum pulang.


"Kemana dia? Jam segini kok belum pulang? Apa lembur?" ucap Chris bertanya-tanya sambil melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 19.00 pm.


Chris pun merogoh ponselnya dari saku celana.


📞 Kamu dimana?


📞 Di jalan mau pulang.


📞 Aku di depan rumah kamu.


📞 Kamu sudah balik. Aku kira pagi besok.


📞 Aku mau menciummu.


Refleks Adira tersenyum malu mendengar ucapan nakal Chris. Di sisi lain, Chris terlihat tak sabar menunggu kata yang akan keluar dari bibir Adira. Ia tersenyum berseri.


📞 Hmm ini aku lagi di jalan sekitaran apartement kamu.


Mulut Chris sedikit terbuka seraya mengangguk pelan. Mengulum bibirnya sambil tersenyum misterius.


📞 Perpect. Kita ketemu di apartement.


Chris bergegas menuju mobilnya. Kali ini dengan kecepatan penuh. Mobilnya melaju kencang. Sangat tidak sabar ingin bertemu dengan kekasih hati.


"Tunggu" Adira mendorong pelan pundak pria yang telah bersiap melahap bibirnya. Kemudian melangkah sedikit menjauh.


Seketika kedua sudut bibir Chris tertarik ke belakang memperlihatkan senyum seringainya.


"Kenapa dia dulu yang kamu beritahu?"


"Maksudnya?" tanya Chris tidak mengerti.


"Kemarin Emilly ke kantor"


Chris mengangguk mengerti arah pertanyaan Adira.


"Dia menelponku terus nanya. Ya aku jawab. Kalau kamu tanya, aku juga akan jawab tapi sayangnya kamu gak nanya gak nelpon juga. Di telpon malah gak diangkat"


"Oh jadi aku dengan dia sama gitu?"


Chris memutar lidahnya sembari melangkah mendekati Adira. Kemudian menarik paksa pinggang ramping itu menempel dengan tubuhnya.


"Tidak sama. Kamu ada disini" Chris meraih tangan Adira dan meletakkan di dada miliknya. "Dan dia tidak ada disini" lanjut Chris dengan suara deefnya.


Mata keduanya bertemu saling memandang intens dalam diam. Selang beberapa detik. Adira menurunkan pandangan pada bibir yang sering membuatnya kehabisan nafas. Perlahan tangannya melucuti jas yang Chris kenakan. Kemudian membuka kancing kemeja putih Chris satu persatu. Dada bidang yang kencang serta otot perut yang menonjol seketika terpampang nyata di depan mata Adira. Salivanya susah payah ia telan seraya meraba bagian atas tubuh Chris. Matanya menyoroti sepasang netra pria di hadapannya dengan mulutnya sedikit terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun kini bibirnya keluh. Adira kemudian mengigit kuat bibirnya dan memejamkan mata. Ia sangat gugup.


Chris kembali tersenyum tipis dengan sikap salah tingkah wanita yang telah melucuti pakaiannya. Ia pun mengankat tubuh seksi itu lalu membaringkannya di kasur.