
Setelah melakukan serangkain kemoterapi, kondisi Chris semakin membaik. Tubuhnya terlihat lebih fresh dan dokter mengatakan jika volume kanker yang diderita Chris mulai mengecil. Chris pun sudah diperbolehkan dokter untuk pulang dengan syarat harus rutin melakukan check up guna memantau perkembangan kesehatannya. Senyum sumringah tampak jelas menghiasi wajah Chris. Ia lega akhirnya bisa pulang. Itu artinya ia bisa secepatnya bertemu dengan Adira.
Di satu sisi, rasa rindunya tidak tertahan lagi. Perasaannya gelisah tak menentu dan dadanya layaknya gunung api yang siap memuntahkan laharnya. Gejolak rindu memenuhi dirinya. Hanya dengan cara bertemu bisa meluapkan segala kerinduan. Tak terasa mobil yang ditumpangi Adira berhenti di area apartement Chris.
"Loh pak kok berhenti disini?" tanya Adira heran.
"Kan tadi neng kasih alamat ini" sahut pak sopir.
Adira menggelengkan kepala sambil terkekeh kecil. Ternyata sedahsyat ini efek memendam rindu. Mulutnya yang keras, dengan mudahnya dilunakkan oleh rasa rindu. Ia yang meminta berpisah tapi kini justru dengan sukarela mendatangi apartement pria yang telah menanamkan luka teramat dalam di hatinya.
"Oh gitu ya pak. Ya udah pak, ini uangnya. Terima kasih ya pak" ucap Adira turun dari mobil.
Kepala Adira menengadah memandang gedung menjulang tinggi di hadapannya. Dengan langkah penuh keraguan, ia berjalan memasukki gedung.
...---------------------...
Tok! Tok! Tok!
Adira mengetuk pintu apartement Chris berulang. Ia tidak tahu apakah Chris ada di dalam. Yang jelas hatinya tidak dapat lagi memendam rindu. Hanya sebentar saja. Setelah melihat Chris, ia akan segera pergi.
"Semoga Chris ada didalam" harap Adira gelisah.
"Oh iya lupa. Kan ada bel. Ngapain aku ngetuk pintu" ucap Adira merasa konyol.
Adira pun menekan bel panjang.
Krekkk
Pintu kayu itu terbuka lebar menampilkan sosok yang Adira harapkan. Hatinya berdebar keras tidak tahu harus bicara apa. Ia hanya menatap Chris dalam diam begitupun sebaliknya.
"Ada apa?" tanya Chris memecahkan keheningan. Ia menyilangkan tangan di dada lalu bersender di sisi pintu.
Adira gugup setengah mati. Setelah hampir satu bulan tidak bertemu, ia merasa seperti bertemu orang baru.
"Aku sudah selesai. Permisi" ucap Adira berbalik badan namun tangan kekar itu menariknya ke belakang.
Chris menarik paksa tangan Adira dan membawahnya masuk. Ia menempelkan tubuh ramping itu di dinding.
"Kita belum memulainya. Bagaimana bisa kamu bilang sudah selesai" ucap Chris berbisik tepat di depan telinga Adira.
"Chris apaan sih. Lepasin gak" ucap Adira mendelik.
"Kamu yang datang kesini" Chris bergerak maju menghilangkan jaraknya dengan Adira. Ia menghimpit tubuh kecil itu lalu berusaha mengapai bibir ranum kesukaannya.
Dengan cekatan Adira mendorong kuat dada Chris hingga terpental ke dinding yang ada di seberangnya.
"Chris, minggir"
Chris menarik Adira kembali dalam dekapannya. Ia tidak akan membiarkan gadis yang dirindukannya itu pergi begitu saja. Chris seperti orang kesetanan. Perlawanan Adira memercikkan amarah yang selama ini ia tahan. Lebih tepatnya, Chris sangat merindukan wanita yang kini berada dalam kendalinya. Tangan kanannya melingkar lekat di pinggang ramping Adira dan tangan kirinya terus menarik wajah sang pujaan agar pautan bibirnya tidak lepas.
Adira tidak menyerah. Ia tetap berusaha meloloskan diri dari belenggu pria brutal ini. Namun tentu saja usahanya tidak sebanding dengan tenaga kuat Chris. Dengan kata lain, ia bisa kabur hanya jika Chris melepaskannya.
Brakk
Kemeja putih yang dikenakan Adira terbelah menjadi dua bagian hanya dengan satu tarikan. Kini daging kembar berbalut bra putih terpampang jelas di depan mata Chris. Apa yang dilakukan Chris tentu saja membuat Adira tercengang tak percaya mendapati perlakukan kasar pria yang sedang mengecup bibirnya. Ia mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mendorong Chris menjauh darinya namun lagi-lagi ia kalah kuat. Chris dengan mudah meraih tubuh Adira kembali.
Denting jam terus berbunyi namun Chris sama sekali tidak mau berhenti dengan aksinya menyentuh Adira secara paksa. Dengan dekapan yang begitu erat, Chris menuntun kaki Adira menuju ranjangnya. Tubuh keduanyapun jatuh bersamaan di kasur yang empuk berlapis seprei putih.
Adira tidak membuang kesempatan begitu ia mendapatkan ruang. Tangannya melayang ke wajah pria di atasnya. Nafasnya memburu dengan tatapan membunuh. Namun tiba-tiba tubuh Chris ambruk menimpa gadis di bawahnya. Segera Adira menyingkirkan tubuh Chris. Tanpa pikir panjang, Adira langsung beranjak ingin meninggalkan kamar namun suara ngebass dengan intonasi lemah itu menghentikan langkahnya.
"Jangan pergi. Jangan pergi, Adira"
Seketika Adira merasa dibuai dalam kehangatan. Kalimat permohonan itu membuatnya tidak tega. Adira pun mundur perlahan mendekati ranjang yang kini sudah tidak berlapis seprei lagi. Pemberontakan Adira serta pemaksaan Chris membuat bantal, selimut, dan juga seprei berserakan di lantai.
"Chris, kamu kenapa?" Adira panik begitu melihat keringat yang membasahi kening Chris. "Badan kamu panas banget" sambungnya seraya membantu Chris tiduran dengan posisi yang benar.
"Kamu tunggu disini"
"Mau kemana?" tanya Chris lemah sambil mencekam jemari lentik Adira.
"Aku mau ambil es batu. Mau kompres kepala kamu"
"Gak usah. Kamu disini saja"
"Tapi badan kamu panas banget. Cuman sebentar kok. Setelah itu aku balik lagi"
"Aku bilang gak usah. Kamu disini saja. Lagian aku beginikan karena kamu. Jadi turutin perkataanku" Chris menarik tangan Adira agar lebih dekat padanya lalu memejamkan mata perlahan. Tubuhnya terlihat sangat lemah.
Sontak Adira mengerutkan dahi.
"Kok gara-gara aku sih?"
"Kalau kamu tidak menamparku, aku gak akan begini" ucap Chris dengan alasan tak masuk akal. Tentu saja Chris tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana bisa ia mengatakan jika sakitnya saat ini adalah salah satu efek dari kemoterapi yang telah ia jalani.
"Mana bisa begitu. Masa ditampar doang, bisa keringat dingin gini. Aku saja yang...
Punggung Adira ditarik kuat sebelum sempat menyelesaikan ucapannya. Wajahnya menempel di dadang bidang Chris yang tidak dibungkus kain. Dalam posisi intim seperti ini, Adira dapat mendengar dengan jelas degub jantung Chris yang berdetak cepat. Adira merasa aneh. Detak jantung Chris terlalu cepat untuk orang dalam kondisi bugar.
"Kamu sakit?" tanya Adira lembut. Tangannya meraba bagian dada dimana jantung Chris berada.
"Jangan melakukan itu. Kamu membuat gairahku bangkit lagi" ucap Chris sensual meresapi sentuhan halus tangan Adira di dada terbukanya. "Saat ini aku tidak bisa melakukannya" lanjutnya dengan suara menggoda.
Adira berdecap kesal. Chris susah sekali diajak bicara serius. Padahal saat ini ia sedang khawatir.
"Aku baik-baik saja. Jangan cemas. Aku minta maaf untuk sikapku tadi" ujar Chris menyesal atas sikapnya tadi yang hilang kendali. Rindunya sudah menggunung. Sikap memaksanya tadi, mungkin reaksi alami dari rasa rindu itu. Terlebih lagi Adira terus saja melawan hingga bara rindunya berkobar.
"Aku mau pulang. Bajuku robek"
Chris tersenyum tertahan. Ia baru sadar, ternyata tadi ia sangat brutal hingga merobek kemeja Adira. Ditambah kalimat polos Adira membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum geli.
"Nanti pakai bajuku saja. Sekarang tidur dulu" ajak Chris menarik selimut menutupi tubuhnya dan Adira.
Entahlah. Aku benar-benar bingung. Aku ingin bersikap keras padanya. Ingin menyakitinya. Ingin membuatnya menderita seperti yang pernah ayahku alami. Tapi lagi-lagi sentuhannya membuatku tak berkutik. Aku nyaman berada dalam pelukan hangatnya seperti saat ini. Terkadang aku berpikir, apakah kesalahan kedua orangtua kami dimasa lalu mengharuskan kami menjauh? Aku pikir itu tidak adil. Tapi bagaimanapun pria ini adalah penyebab ayahku pergi. Dan papanya selingkuhan ibuku. Perkhianatan mereka yang menghilangkan sebagian kesadaran ayahku. Ayahku meninggal dalam keadaan cintanya yang hilang. Dan kini anak dari pria keji itu sangat mencintaiku. Haruskah aku mengkhianatinya juga? Aku ingin apa yang ayah rasakan dulu, dirasakan juga oleh anaknya. Aku ingin pria itu menderita saat melihat anaknya disakiti, seperti yang aku rasakan dulu. Atau aku selesaikan ini sekarang juga?
"Chris apa yang aku pikirkan, benarkan?" tanya Adira seraya menatap wajah Chris nanar.
Chris telah lelap dalam tidur. Adira pun bangkit dari kasur kemudian membuka lemari pakaian. Ia mengambil baju kaos Chris lalu memakainya. Baju kemejanya yang robek dilempar sembarang ke tong sampah. Adira menatap Chris dari kejauhan sebentar lalu pelan-pelan mendekat. Ditangannya sudah ada sebilah pisau tajam yang beberapa menit yang lalu ia ambil dari dapur.
"Ini cara satu-satunya agar rasa sakit ini selesai. Aku tidak perlu merasa bersalah lagi pada ayah" ucap Adira sambil mengankat tangannya.
"Maafkan aku"
"Kamu mau membunuhku?" Chris mendadak membuka matanya dan tangannya dengan siaga menahan pisau yang sedikit lagi menusuk dadanya. Tak berselang lama, darah segar mengalir dari sela jari-jari Chris.