
Kencan Pertama
Mata Adira tak dapat mengalihkan pandangannya dari pria tampan dan jangkung di sampingnya. Bola matanya bergerak dari atas ke bawah mengagumi betapa kerennya pacarnya ini. Entahlah, dibilang pacar tapi Chris sudah punya pacar. Di bilang bukan pacar tapi ia dan atasannya itu sudah sepakat berpacaran walaupun status itu hanya sebatas hadiah ulang tahunnya dan berlangsung sebanyak 3 tiga kali saja. Dan saat ini, ia sedang ada dalam pusaran hadiah aneh itu.
"Saya dengar makanan disini enak-enak" ungkap Adira tidak sabar menunggu pesanannya datang.
"Hmmm" balas Chris sekedarnya. Jemarinya lihai bermain di atas layar ponselnya yang sedang menyala.
Adira mendengus resah. Sekilas ia melihat nama yang tertulis di bagian atas aplikasi hijau yang sedang dimainkan Chris. Emilly!
Ini kencan pertamanya tapi Chris sudah mengingkari janji untuk tidak menyertakan orang lain saat mereka sedang bersama. Namun walaupun kesal, Adira tidak bisa marah karena statusnya hanya sekedar pacar hadiah saja bukan pacar sesungguhnya. Pacar Chris yang nyata tetap Emilly.
"Selamat menikmati" ucap pelayan kafe setelah menata makanan di atas meja.
Chris masih saja fokus dengan ponselnya tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya. Bahkan makanan yang sangat menggiurkan di atas meja tidak dihiraukan.
"Pak Chris makanannya sudah datang. Makan dulu yuk" ajak Adira antusias.
"Kamu makan saja duluan. Saya harus balas pesan dari Emilly dulu. Sebentar ya" sahut Chris acuh.
Tak lama dari itu, Chris izin sebentar untuk menjawab panggilan dari Emilly. Kini tinggal Adira sendiri. Seketika nafsu makannya hilang. Ia tidak semangat lagi untuk menyantap makanan enak di hadapannya.
"Aku ngerti sih ini bukan kencan sungguhan. Aku juga bukan pacar sungguhan. Sebenarnya aku tidak mau baper begini. Tapi tetap saja aku marah melihatnya berbalas pesan dengan cewek lain. Ahh aku harus gimana?"
10 menit kemudian....
Chris kembali ke tempatnya semula namun ia tidak melihat keberadaan Adira. Ia mengedarkan mata melihat setiap sudut namun Adira tidak ada dimanapun.
Pak kencan pertama kita sudah selesai ya. Aku lupa ada janji dengan Lisa.
Chris duduk lesuh di kursinya. Ia membaca lagi pesan yang Adira kirim. Ia ingin mempercayai pesan itu tapi ada sesuatu yang menganjal di benaknya. Setahunya Adira bukanlah seorang yang akan melupakan janji. Adira adalah orang yang selalu menepati janji. Apalagi Lisa salah satu teman karibnya. Rasanya tidak mungkin, Adira melupakan janjinya itu.
Chris pun melangkah keluar menuju dimana mobilnya terparkir namun dari jarak kisaran 2 meter, ia menangkap sosok tak asing.
"Lisa" Chris membidik matanya. Ia melebarkan kakinya ke arah wanita yang ia yakini Lisa teman karib Adira.
"Lisa kamu disini" sapanya ramah.
"Pak Chris disini juga"
"Iya tapi saya sudah selesai. Kamu sendiri saja?" tanya Chris mulai mengintrogasi.
"Berdua pak sama pacar saya. Itu dia lagi cari tempat parkir" di waktu weekend Kafe Adora memang lebih ramai pengunjung dibandingkan dengan hari biasanya. Bahkan ada yang harus pulang tanpa makan karena tidak mendapatkan tempat parkir kendaraan.
Kecurigaan Chris benar. Adira berbohong lagi. Ia tidak pergi bersama Lisa. Lalu kemana Adira sekarang? Tiba-tiba hujanpun turun.
Di tempat lain, Adira berdiri di bawah pohon rindang sembari menunggu hujan reda. Ia terjebak di bawah pohon itu karena hujan turun mendadak dan tidak sempat mencari tempat berteduh. Sudah hampir 15 menit lamanya namun hujan tak kunjung berhenti. Baju yang dikenakan Adira pun sudah basah kuyub. Riasan di wajahnya juga telah luntur menampilkan paras naturalnya.
Adira pun mengambil posisi jongkok. Kakinya pegal berdiri sedari tadi. Dari posisi itu ia dapat melihat dengan jelas bagaimana air hujan yang jatuh ke bumi. Begitu banyak tetesan hujan menyirami rerumputan yang merindukan air.
"Hahhh ayah" Adira membuang nafas berat lalu menengadahkan kepala memandang langit yang tertutupi awan hitam. "Apa ayah bahagia di atas sana? Ayah harus bahagia agar aku tidak terlalu sedih. Yah, ibu masih tidak mau bertemu denganku. Ibu selalu menyalahkan aku, yah. Setiap kami bertemu pasti selalu bertengkar. Sejak kejadian itu, kami tidak pernah akur lagi, yah" Adira menyilangkan tangannya sampai ke pundak untuk menghangatkan dirinya. Tubuhnya sedikit mengigil karena angin yang bertiup kencang terus mengarah padanya.
Adira kemudian menengadah kembali begitu menyadari tidak ada lagi tetes hujan yang menghantam kepalanya. Ia tersentak dengan sosok pria yang sedang memayunginya.
"Pak Chris. Darimana pak Chris tahu saya disini?" tanya Adira masih dalam posisi jongkoknya.
"Saya mencari kamu. Apa kamu mau jongkok seperti ini terus?" Chris memanjangkan tangannya ke depan Adira.
"Terima kasih pak" ucap Adira mengenggam tangan keras atasannya itu.
Di dalam mobil, Adira tidak bicara apapun. Ia bingung mau bahas soal apa. Di tambah Chris juga hanya diam membuat Adira tidak berani bicara.
"Kamu marah sama saya?" tanya Chris memecah keheningan.
"Enggak. Ngapain marah"
"Terus kenapa diam?"
"Ya gak papa. Saya lagi malas ngomong"
"Kamu marahkan sama saya?" tanya Chris tidak puas.
"Apaan sih pak. Saya gak marah" sahut Adira mulai kesal.
"Terus kenapa muka kamu sedih gitu. Takut saya lihatnya"
"Kok takut sih. Memangnya saya hantu. Udahlah pak Chris fokus aja deh nyetirnya. Saya gak mau mati muda" ujar Adira dengan raut masam.
Tinggal satu tikungan lagi namun tiba-tiba Chris mengambil jalan yang berbeda.
1 menit berlalu, Chris belum juga membuka mulutnya. Hal itu membuat Adira semakin bingung. Apa mungkin Chris marah padanya? Tapi kenapa? Bukankah seharusnya ia yang marah karena kencan pertamanya jadi berantakan gara-gara sikap Chris yang mengabaikannya di Kafe Adora tadi.
Tak lama setelah Chris mengambil jalan yang berbeda. Kini mobil itu memasuki baseman parkiran bawah tanah. Adira semakin tidak mengerti. Kemana Chris membawanya?
"Malam ini tidur saja di apartement saya. Kamu mau?" kata Chris menatap serius.
Adira memutar bola matanya. Dadanya berdebar tak karuan dan jantungnya berdetak kencang seperti orang yang habis lari maraton.
"Pakai ini saja" Chris memberikan kemeja hitam berukuran besar kepada Adira. Warna kemeja itu sangat kontras dengan kulit putih Adira.
Di dapur bersihya, Chris terlihat sibuk memasak sesuatu. Denting jam berjalan tak terasa. Acara masaknyapun sudah hampir selesai namun Adira belum keluar juga dari kamar Chris.
Tok! Tok! Tok!
Adira membuka pintu dengan sangat hati-hati. Kepalanya keluar duluan.
"Astaga. Ngapain sih kepala kamu nongol begitu" Chris mengelus dadanya. Kelakuan Adira barusan cukup horor baginya.
"Pak, tolong bantu saya"
"Apa?"
"Beliin saya pakaian dalam" pinta Adira manja sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hah. Maksud kamu?"
"Ya, pakaian dalam wanita pak. Bra sama itu" Adira malu menyelesaikan ucapannya.
"Hahah" Chris tertawa jenaka. "Stress kamu ya. Saya disuruh beliin pakaian dalam wanita. Gak akan" tolak Chris tegas.
"Ayolah pak. Saya gak bisa tidur kalau gak pakai dalaman. Masa saya harus pakai dalaman basah tadi"
"Jadi maksudnya, sekarang kamu lagi gak pakai dalaman?" Chris menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Adira. Gak ada jaim-jaimnya.
Adira mengangguk tak enak. Ia malu tapi mau gimana lagi. Daripada gak bisa tidur. Mau tidak mau, ia harus meminta bantuan atasannya itu. Ia malas keluar tanpa memakai dalaman.
"Pak, sayakan suruh beli yang ukuran 36. Kenapa yang dibeli ukuran 34?" Adira mengecek lagi Bra yang dibelikan Chris.
"Mana saya tahu ukuran kamu. Aishh ini membuatku gila" ucap Chris frustasi.
"Kan tadi sudah saya kasih tahu pak"
"Terus kamu salahin saya" sahut Chris habis kesabaran.
"Gak pak. Mana berani saya menyalahkan pak Chris. Maafkan saya ya pak" sesal Adira menunduk.
"Buruan pakai terus ke dapur. Saya sudah lapar"
Semangkuk sup panas mengisi perut Adira yang tadi belum sempat di isi sesuatu. Ia tampak lahap menyantap semua masakan Chris. Rasanya sangat cocok di lidahnya.
"Malam ini apa kita akan tidur satu ranjang?"
Chris mengeluarkan lagi makanannya yang baru saja sampai di dalam mulutnya. Wanita di hadapannya selalu berhasil membuatnya tercekat.
"Yeahh" teriak Chris kesal seraya menghentak keras garpu di tangannya. "Kamu itu perempuan"
"Lalu?"
Chris mengendurkan mur bahunya yang sejak tadi tegang.
"Adira, saya laki-laki. Saya punya nafsu"
"Semua orang punya nafsu kok. Saya juga" sambar Adira tanpa berpikir. "Terus kenapa pak Chris bawah saya kesini? Pasti untuk alasan itukan?"
Chris beranjak dari duduknya mendekati Adira yang duduk di seberangnya. Ia lalu mengankat tubuh Adira ke atas meja. Membuka belahan paha Adira lalu berdiri di tengahnya.
"Jangan memancing saya" ucap Chris mengigit ujung bibirnya.
"Pak Chris tidak bisa mencium saya. Harus saya yang memulainya" Adira curiga karena pandangan mata Chris mengincar bibirnya.
"Lalu?"
"Karena ini kencan pertama kita. Bagaimana kalau kita tidur bersama tanpa melakukan apapun? Tidak boleh menolak. Sekarang boleh saya mencium pak Chris?"
"Tentu saja" balas Chris tersenyum tipis sambil mengedipkan mata kirinya.