
"Terlepas dengan kondisi saya. Saat kita berciuman, saya menikmatinya. Untuk pertama kalinya saya tahu rasanya berciuman yang dilakukan orang dewasa dan itu dengan pak Chris. Tapi..."
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Chris memotong ucapan Adira. Sorot mata itu begitu menggoda membuat Adira tidak tahan memandang lama pria di sebelahnya.
Seketika Adira membisu. Bibirnya terasa keluh.
"Saya harap kamu hanya menganggap saya sebatas rekan kerja tanpa rasa spesial. Saya punya pacar dan saya mencintainya. Jangan salah paham dengan perhatian yang saya lakukan" jelas Chris melanjutkan ucapannya.
Bagai tersayat sembilu, hati Adira seperti kain robek yang tak berbentuk. Dadanya teramat sesak dan jantungnya terus berdetak tak menentu. Tubuhnya lemas begitupun perasaannya yang kini kacau balau.
Tanpa berkata apapun, Adira melenggang pergi. Ia tidak tahu sampai mana kaki membawanya menjauh dari pria kejam itu. Ia seakan tak menapak di bumi. Tubuhnya kosong melayang.
"Ibu" gumam Adira perih.
"Kamu mau kemana?"
"Lepasin" mata Adira memancarkan kekecewaan yang dalam.
"Saya antar pulang" Chris menarik paksa tangan kecil itu, menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Lepasin saya. Jangan memperdulikan saya. Dan jangan menyentuh saya"
Adira melambaikan tangannya memberi isyarat agar mobil yang terlihat di kejauhan itu berhenti di depannya. Mobil itu melaju dan Adira pun ikut menghilang. Chris duduk di trotoar jalan bersama pikiran kacaunya. Ia memijit pelan pelipisnya dengan raut wajah datar.
"Aku harus mengejarnya" ucap Chris segera menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itu berjalan dengan kecepatan penuh. Ia berharap taksi yang membawa Adira belum terlalu jauh.
Chris melirik kiri kanan sembari tangannya tetap menempel di stir mobil. Tepat di pemberhentian lampu merah, akhirnya pencariannya membuahkan hasil. Chris terus mengikuti taksi itu diam-diam. Ia ingin tahu kemana Adira pergi. Ia juga khawatir terjadi sesuatu jika membiarkan Adira pergi sendirian. Apalagi tadi Adira baru siuman dari pingsan.
Setelah hampir satu jam lebih perjalanan, taksi itu berhenti di depan gang sempit. Adira melangkah perlahan menyusuri jalan setapak. Ia ingin bertemu ibunya. Hatinya tidak dapat menahan rindu lagi. Sudah 4 bulan lamanya tidak bertemu ibunda tercinta. Ia ingin menceritakan semua kejadian yang di alami. Chris yang sedari tadi memantau, terus melanjutkannya pekerjaannya mengikuti Adira secara diam-diam.
Adira menekan bel rumah cukup lama. Namun tidak ada balasan dari dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Ibu...ibu di dalamkan"
Byurrrr
Wajah Adira basah kuyub setelah sang ibu menyambut kedatangannya dengan segayung air.
"Pergi kamu anak berandal. Aku tidak mau melihat kamu disini" usir si ibu kasar.
"Bu"
"Jangan panggil saya ibu. Anak pembangkang seperti kamu tidak pantas memanggil nama itu. Karena kamu suami aku mati"
"Ibu yang sudah buat ayah meninggal. Kenapa aku terus yang disalahin?" teriak Adira tidak tahan lagi dengan tuduhan sang ibu padanya. "Ayah gak akan depresi jika ibu tidak...."
Plakkk
Seketika hawa panas menghinggapi sisi kiri pipi Adira.Tamparan ibunya cukup keras hingga meninggal tanda merah di wajahnya.
"Kenapa ibu kejam sekali sih? Aku kesini mau cerita sama ibu. Mau dipeluk sama ibu. Aku sedang sedih bu. Aku tidak tahu harus cerita sama siapa. Hanya ibu keluarga yang aku punya" Adira berhenti bicara sejenak seraya mengusap airmatanya. "Aku anak ibukan? Kenapa ibu memperlakukan aku seperti ini?"
"Kenapa masih bertanya? Kamu sudah tahu jawabannya" balas si ibu tetap keras hati.
Brakkkk
Pintu kembali tertutup rapat menyisakan Adira yang masih berdiri mematung. Kakinya terasa berat melangkah. Maksud hatinya belum tersampaikan. Keinginannya untuk memeluk sang ibu telah sirna. Karena ibunya sendirilah yang memutuskan tali itu. Kini hubungannya dengan sang ibu bukan menjadi baik tapi justru bertambah buruk.
Adira tercengang begitu berbalik badan. Chris ada di belakangnya. Apa itu artinya, Chris melihat semuanya?
"Pak Chris"
Adira berjalan melewati Chris. Ia malas bertanya apalagi menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan atasannya itu.
"Ikut saya"
"Gak mau" tolak Adira spontan.
"Ini bukan waktunya bersikap sok keren. Masuk" paksa Chris mendorong tubuh Adira ke dalam mobilnya.
"Apaan sih, maksa banget"
Chris langsung mengunci pintu mobilnya agar Adira tidak bisa keluar. Kini Adira tidak bisa kemana-mana dan mau tidak mau ia harus mengikuti kemauan Chris. Sepanjang perjalanan keduanya tidak bicara apapun. Keadaan di dalam mobil tampak senyap dan hanya terdengar suara kendaraan lain dari luar mobil. Sekitar 20 menit perjalanan, Chris tiba-tiba meminggirkan mobilnya.
"Sini saya lihat" ucap Chris menggapai pipi Adira yang tadi kena tamparan.
"Saya bilang jangan sentuh saya. Gak ngerti banget dibilangi"
"Pipi kamu merah" ucap Chris mengusap lembut wajah Adira. "Tunggu sebentar" sambungnya turun dari mobil.
Chris menghampiri penjual es yang berjajar di pinggir jalan. Selang menit kemudian, Chris kembali lagi masuk ke dalam mobil sambil membawa kantong bening yang telah di isi es batu.
"Ini tempel di wajah kamu"
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. Hari semakin malam. Perut Adira yang belum di isi sesuatu sejak tadi siang mulai berteriak meminta jatahnya.
"Pak saya lapar"
Chris memarkirkan mobilnya di depan kafe yang sering ia datangi bersama Jhon dan temannya yang lain. Adira melebarkan pandangannya begitu keluar dari mobil. Ia tahu kafe ini. Kafe di depannya memang cukup terkenal di kalangan pekerja. Tapi yang Adira tahu, makanan dan minuman di kafe Adora harganya tidak bersahabat. Karena itu ia tidak pernah mampir.
Degg
Jantung Adira kembali berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Itukan pacar pak Chris" Adira langsung mencari tempat persembunyian sebelum Emilly melihatnya.
"Sayang kamu disini juga. Kok gak hubungi aku kalau mau kesini"
Chris seperti orang linglung. Kepalanya berputar mencari Adira.
"Sayang kamu kenapa sih? Cari apa?"
Chris masih mengabaikan Emilly.
"Chris cari apa sih?" tanya Emilly meninggikan suaranya.
"Oh gak cari apa-apa. Kamu ngapain disini? Ini sudah malam. Sama siapa kamu kesini?"
"Udah kayak polisi kamu nanyanya. Aku kesini sama teman-teman. Itu mereka disana. Tapi kita udah mau bubar kok. Kamu anterin aku pulang ya"
"Mobil kamu?" setahu Chris, Emilly kalau kemana-mana selalu bawah mobil.
"Tadi aku dijemput jadi gak bawah mobil. Anterin aku ya" pinta Emilly bergelayut manja di pundak Chris.
Pukul 23.45
Adira meratakan diri dengan kasur di bawahnya dan membentangkan lebar tangannya. Matanya memandang langit kamar. Ia memandang dalam ke atas sana.
"Kenapa sekarang jadi ribet gini? Harusnya aku tidak sejujur itu. Tapi mau gimana lagi. Aku memang menikmati ciuman itu. Mana pak Chris pandai banget lagi kissnya. Sebenarnya ini memang kondisi tubuhku yang mengharuskan aku mencium balik pak Chris dengan penuh gairah begitu atau memang aku yang mau?" Adira membalikkan tubuhnya. "Haahh gimana caranya aku ngadepin pak Chris besok?" lanjutnya bingung seraya menggoyangkan kemudian menghentak-hentakkan kakinya di kasur.
"Eh tunggu kenapa aku gini sih? Harusnya aku marah. Marah banget malah. Jangan salah paham. Mudah banget dia ngomong gitu. Siapa coba yang gak salah paham kalau di kasih perhatian gitu? Di drakor yang aku tonton kalau cowok kiss si cewek, berarti si cowok cinta sama si cewek. Tapi mana mungkin pak Chris cinta sama aku. Pak Chriskan sudah punya pacar dan dia bilang cinta sama pacarnya itu. Hah tahu ah. Mending aku tidur. Kepalaku bisa pecah mikirin pak Chris terus padahal belum tentu pria kejam itu mikirin aku" Adira menarik selimut menutupi dirinya sampai dada dan menyudahi percakapan batinnya.
...----------------...
Chris menatap intens layar ponselnya. Matanya tak lepas dari kalimat singkat yang dikirimkannya pada Adira.
Adira kamu sudah sampai rumah?
Hubungi saya jika sudah sampai.
Pesan itu masih centang abu-abu dan itu artinya Adira belum membaca pesannya.
"Apa kamu sudah tidur, Adira?" ucap Chris sendu.
Di saat Chris mulai memejamkan mata, tiba-tiba pikirannya membawanya kembali ke percakapannnya dengan Emilly di mobil tadi.
* Aku mau kita menikah" pinta Emilly mendesak.
"Kenapa tiba-tiba kamu bahas tentang pernikahan?"
"Tujuan kita memang menikahkan. Ini tidak tiba-tiba. Pertanyaan kamu bikin aku kecewa. Kamu gak mau nikah sama aku?"
"Emilly gak gitu maksudku. Ya aneh saja. Kan kamu yang ngotot belum mau menikah. Kamu bilang mau berkarir dulu"
"Ya sekarang aku mau kita menikah tapi sepertinya kamu tidak mau. Sikap kamu akhir-akhir ini juga aneh. Kamu selalu punya alasan buat nolak kalau aku ajak jalan" ucap Emilly cemberut.
"Aneh gimana sih? Itu bukan alasan tapi sekarang di kantor memang lagi sibuk banyak kerjaan"
"Ya udah kamu mau nikah gak?"
"Ya kamu atur sajalah" balas Chris seadanya karena jika mau jujur, sebenarnya ia sedang memikirkan Adira sekarang. Ia tidak bisa fokus dengan yang Emilly katakan.
"Tu kan kamu jawabnya malesan gitu. Udahlah gak usah nikah" *