
Chris menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tidurnya tampak tak nyaman. Ia mengigau meracau.
"Papa awas" teriak Chris dalam mimpinya.
Tak lama Chris akhirnya bangun menyudahi mimpi buruknya. Nafasnya terengah kemudian berdiri dari tidurnya dan melangkah ke arah balkon. Ia memandang langit gelap tanpa bintang yang hanya disinari cahaya rembulan yang tidak terlalu terang. Merenung dalam waktu yang lama mengenang lagi kejadian 8 tahun silam.
"Maafkan aku karena tidak bisa memberitahu yang sebenarnya sampai saat ini" sesal Chris meratap sendu.
Di tengah malam yang pekat, tiba-tiba Adira terbangun dari tidurnya seakan ada yang sengaja membangunkannya. Ia melirik waktu dalam ponselnya yang telah menunjukkan pukul 01.30 dinihari. Adira coba memejamkan matanya lagi namun tidak bisa. Karena bingung tidak tahu harus melakukan apa, Adira pun menarik handle lacinya dan mengambil sebuah album dari dalam sana. Lembar demi lembar dibukanya bergantian. Memang benar foto adalah bentuk fisik yang penuh kenangan. Adira tersenyum memandang foto kebersamaannya dengan sang ayah yang telah tiada. Tawa dan senyum ayahnya begitu tulus dan menyejukkan hati. Tibalah di foto terakhir. Ada robekan dasi bercorak garis coklat hitam di sisi foto. Adira ingat betul potongan dasi dalam genggamannya kini.
"Hanya ini satu-satunya petunjuk. Aku tidak akan memaafkan pelakunya jika ketemu. Jika dia tidak pergi saat itu, mungkin sekarang ayah masih ada disini" ucap Adira menatap nanar dasi di tangannya. Sampai hari ini ia belum menemukan petunjuk apapun mengenai identitas orang yang menabrak mobil ayahnya dimana ia juga ada di dalam mobil itu. Bedanya ia selamat dan ayahnya harus meregang nyawa dalam kecelakaan tragis itu.
...----------------------...
Di saat matahari semakin berani menyombongkan sinarnya, Adira masih lelap dalam tidurnya. Hari ini setelah dua minggu lamanya akhirnya ia memiliki waktu tidur yang cukup. Ditambah lagi minggu ini terasa sangat spesial karena ia bisa istirahat tanpa diganggu pekerjaan apapun. Adira tidak lagi dikejar deadline untuk desainnya. Ia bertekad akan memanfaatkan liburnya ini hanya dengan tidur sepanjang hari. Bahkan ajakannya teman-temannya untuk pergi ngemall tak digubrisnya sama sekali. Adira telah menolaknya dengan sangat tegas.
Memasuki pukul 09.00 pagi, Adira masih belum bangun juga. Namun tidurnya tiba-tiba terganggu dengan bunyi khas yang berasal dari ponselnya. Adira pun meraih malas ponselnya.
π"Hmm" dehem Adira.
π"Ini saya"
Seketika matanya melotot.
"Pak Chris. Ngapain sih dia nelpon. Ganggu banget"
π Ya pak ada apa?"
π Saya dengar ucapan kamu barusan"
Adira menelan salivanya. Sepertinya ia selalu ketahuan jika sedang bicara tidak baik tentang atasannya itu.
πIya pak maaf. Ada apa pak? Inikan hari minggu. Kerjaan saya sudah selesai semua termasuk desainnya sudah saya serahin dan pak Chris sudah terima. Biasanya kalau pak Chris telpon pasti ada..."
πSusttt ngomong mulu. Saya lagi di jalan. 10 menit lagi sampai. Kamu siap-siap dari sekarang. Kita masih punya satu kencan lagi"
"Hah" baru saja Adira ingin bicara namun Chris sudah mematikan sambungan telpon. "Aishh aku bisa stress beneran kalau begini" Adira buru-buru menenteng handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Baru selesai mandi, terdengar bunyi seseorang menekan bel mobil. Adira kelabakan setelah mengintip dari balik jendelanya. Sesuai ucapannnya tadi, kini mobil Chris sudah terparkir di depan rumah Adira. Dengan aksi terburu-buru Adira segera memakai baju yang sudah ia siapkan sebelumnya. Chris menekan lagi bel mobilnya dan lagi-lagi Adira terkejut. Rasanya jantungnya akan keluar dari tempatnya.
Adira membuang nafas panjang lalu mengatur tarikan nafasnya yang tidak stabil. Rasanya seperti dikejar hantu, ia bergerak tanpa henti sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Chris.
"Hahahh" ia menengadahkan kepala sambil menyandarkan pundaknya di jok mobil. Nafasnya ngos-ngosan. "Hah capek banget. Pak kenapa gak bilang dari semalam sih kalau mau kencan hari ini. Kan saya bisa siap-siap"
"Berantakan banget" celah Chris melihat rambut Adira yang belum di sisir dan masih basah.
"Ya iyalah berantakan. Saya belum ngapa-ngapain" Adira merogoh sisir dari dalam tas kecilnya. Sementara Chris menghidupkan mesin mobilnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Baru seperempat perjalanan, Chris memghentikan mobilnya mendadak. Hampir saja ia menabrak mobil yang melintas di depannya.
"Yahh lipstik ku" Adira meluruskan cermin dengan wajahnya. Benar saja lipstik yang tadi ia oles di bibir melenceng dari tempat yang seharusnya. "Pak, kok ngeremnya dadakan gitu. Jadi jelekkan saya"
"Berisik banget. Sini saya bersihin" Chris menyentuh wajah Adira.
"Gak usah" tolak Adira berpaling.
"Sini" Chris menguatkan tekanan tangannya di wajah Adira. "Cuman gini doank. Ngomelnya panjang banget" keluhnya menggunakan jarinya menghapus lipstik di sudut bibir Adira.
Perhatian seperti inilah yang membuat Adira melayang. Hal sepeleh tapi selalu bisa membuat darahnya berdesir seperti semilir angin yang menusuk kulit. Dilema dan kenyamanan seakan saling beriringan menghinggapi hatinya setiap saat. Adira tidak dapat menyangkalnya jika ia benar-benar menyukai Chris sebagai laki-laki. Ia telah meredam perasaannya begitu lama sampai akhirnya ia bisa sedekat ini dengan pria yang disukainya sejak lama. Namun sejak hari itu sampai saat ini, Chris tetap milik orang lain. Adira tidak punya kesempatan untuk memiliki ikatan dengan Chris.
"Pak"
"Sebenarnya pak Chris suka tidak sama saya?" tanya Adira memberanikan diri.
"Kerja kamu bagus. Tentu saja saya menyukai kamu" jawab Chris setelah diam beberapa saat.
"Bukan sebagai bawahan pak Chris tapi rasa suka antara laki-laki dan perempuan. Sebagai perempuan, apa pak Chris menyukai saya?" jantungnya berdetak lebih kencang. Adira tidak sabar sekaligus takut menanti jawaban Chris.
Chris menatap Adira dalam. Ia bergerak maju lalu mensejajarkan bibirnya tepat di muara bibir Adira.
"Saya sudah pernah memberitahu perasaan saya sama kamu"
Mata Adira berkedip cepat. Ia berusaha mengingat. Seingatnya Chris tidak pernah memberitahunya apapun. Jikapun pernah, Adira yakin pasti mengingatnya apalagi itu tentang perasaan Chris padanya.
"Kapan? Perasaan pak Chris gak pernah bilang apapun"
"Jangan pakai perasaan. Di ingat yang benar. Makanya jangan suka mabuk" ledek Chris kembali ke posisi duduknya semula.
"Jadi pak Chris ngomongnya pas saya lagi mabuk kemarin. Yah mana saya ingat pak. Coba sekarang pak Chris ngomong lagi"
"Gak mau" tolak Chris menekankan ucapannya.
Adira menarik kerah baju Chris lalu mengecup singkat bibir atasannya yang sangat menyebalkan.
"Beritahu saya tentang perasaan pak Chris. Apa pak Chris menyukai saya?" tanyanya lagi tersipu malu.
Chris pun tersenyum miring sembari mengulum bibirnya. Berganti detik berikutnya, Chris meraih kuat tengkuk Adira dan mendaratkan cumbuan mautnya.
"Pak" Adira menepuk pelan bahu Chris. "Kepala saya pusing"
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan jika kamu tidak mau kencan ini cepat berakhir" ujar Chris mengisyaratkan agar Adira menciumnya balik.
Sebenarnya Chris selalu merasa bersalah setiap kali mengecup bibir Adira. Ia tahu Adira akan kesakitan namun ia juga tidak dapat menahan hasratnya. Apalagi Adira seringkali memancingnya. Seperti sekarang, Chris sudah berusaha menahannya tapi Adira justru menciumnya lebih dulu. Namanya juga kucing dikasih ikan, ya di makan.
"Ini tempat apa pak?"
"Kamu sukakan?"
"Suka. Disini adem banget. Bersih juga. Banyak pohon. Hahh sejuk banget" puji Adira memejamkan mata menghirup udara segar.
Adira membentangkan lebar tangannya. Dan tak lama, Chris memeluk Adira dari belakang. Sontak bahu Adira terangkat begitu tangan Chris melingkar di pinggangnya.
"Pak, saya bukan pacar Chris beneran. Apa boleh seperti ini?" tanya Adira bimbang. Ia bingung karena Chris memperlakukannya seakan dirinya wanita yang sangat spesial.
Belum sempat Chris menjawab rasa penasaran Adira, tiba-tiba hujan turun. Begitulah daerah puncak, terkadang hujan turun tak terduga.
"Pak, hujan. Ayo kita berteduh disana"
Dengan sigap Chris menarik tangan Adira dan membawanya kembali dalam pelukannya. Hujan turun semakin deras. Dan kini tubuh keduanya telah basah kuyub.
"Adira Kayra, malam ini maukah kamu tidur dengan saya?"
----------------------
"Papa pelan-pelan. Ini bahaya pa" ucap Chris khawatir karena laju mobil yang di stir papanya semakin kencang.
"Pa awas pa. Ada mobil di depan"
Tabrakan maut itu tak terelakan. Mobil yang ditabrak itu berguling dan menghantam pembatas jalan.